
"Bagaimana, kau dengar percakapan ku dengan agung tadi saat di acara?" Tanya Berto pada Arjuna saat dia sampai di markas, rupanya saat dia berbicara dengan Agung tadi, secara diam-diam dia menghubungi Arjuna untuk ikut meñdengarkan obrolannya dari sini.
"Hemmm," angguk Arjuna.
"Kau bisa menyimpulkannya? Apa pikiran kita sama?" Tanya Berto.
"Aku rasa Sean sengaja di pungut menjadi menantunya untuk dia jadikan senjata dalam melawan Hasan." Tebak Arjuna.
"Ishhh, kenapa bahasanya di pungut apa gak ada kata lain yang lebih layak gitu?" Protes Chery.
"Hey, dia memang di pungut, setelah Agung kehilangan calon menantu sehebat dan se-keren aku!" Arjuna membusungkan dadanya seraya membanggakan dirinya sendiri.
"Haissh, segitu bangganya jadi calon suami gak jadinya Ines, apa kamu sekarang menyesal, batal menikah dengannya?" Sinis Chery, merasa cemburu.
__ADS_1
"Ishh kalian ini, apa tidak bisa berhenti pamer kemesraan sebentar saja, situasi sedang genting ini!" Cibir Berto.
"baiklah, aku rasa untuk beberapa hari ke depan, kita hanya menunggu pergerakan mereka saja, selebihnya kita hanya berperan sebagai penggembira saja dan membuat acara penutupan pesta dengan meriah." Kata Arjuna.
"Pesta? Ada pesta apa lagi kah?" Tores kebingungan.
"Pesta hancurnya kekuasaan Hasan dan Agung, juga tergulingnya Sean sebagai pengacara hebar dan terkenal di tanah air," Arjuna menyeringai, di balas kekehan Berto.
**
Tepat seperti tebakan Arjuna dan Berto, beberapa hari setelah pagelaran acara pernikahan, media di guncang dengan berita penggelapan dana yang di lakukan oleh Hasan yang mencuat ke permukaan, tentu saja hal itu membuat geger seluruh pelosok negeri, bagaimana tidak, hal itu muncul ke permukaan di saat detik-detik kampanye pemilihan presiden hampir selesai, dan untuk saat ini antusiasme masyarakat untuk memilihnya sangat tinggi, namun tiba-tiba Hasan di terpa berita yang sangat mencoreng nama baiknya, membuat popularitasnya menurun drastis, padahal untuk persiapan pencalonan dirinya untuk maju ke kursi nomor satu di tanah air itu hanya tinggal selangkah lagi, dan biaya yang dia keluarkan juga tidaklah sedikit, beberapa sponsor yang tadinya mendukung Hasan pun mencabut dukungannya saat tau Hasan terlibat kasus yang sangat sensitif di tanah air, yaitu korupsi, mereka tak ingin namanya ikut terseret dalam pusaran masalah yang sedang di hadapi Hasan.
Sejatinya begitulah sifat manusia, saat kita berada di atas, banyak orang mendekat dan mengaku teman bahkan saudara kita, namun saat kita berada dalam kesulitan, bahkan setan pun tak sudi mendekati kita, apalagi manusia.
__ADS_1
"Sial, ini pasti ulah Agung, siapa lagi yang mengetahui masalah keuangan yayasan itu kalau bukan dia, Awas saja, aku akan balik menghancurkan kesombongannya." Geram Hasan, bahkan sebuah gelas berisi wine terbang begitu saja dan hancur saat beradu dengan dinding kokoh yang menjadi pembatas antara ruang tengah dan ruang makan rumahnya.
"Ada apa ini, kenapa berantakan seperti ini?" Tanya Siska yang baru saja datang dari luar.
"Apa peduli mu, yang kau tau hanya keluyuran menghabiskan uang dan berpesta dengan teman-teman mu, menyesal aku menikahi mu, tak berguna!" Umpat Hasan melampiaskan kekesalan dan kemarahannya pada Siska.
"hey, aku pergi bukan untuk sekedar bersenang-senang, aku menjadi tim sukses mu di garis paling depan, wawancara kesana kemari untuk meminda dukungan untuk mu dan mengharumkan nama mu di mana-mana, lantas kau bilang aku tidak berguna dan menyesal telah menikahi ku?" Teriak Siska tidak terima.
"Ya, aku menyesal telah menikahi mu, tadinya aku pikir dengan menikahi mu aku bisa mendapatkan tubuh anak mu dengan mudah, namun ternyata anak mu sok jual mahal pada ku, tidak murahan seperti ibunya yang rela melebarkan kakinya hanya demi uang dan kemewahan!" Cibir Hasan lagi terus saja enghina Siska yang wajahnya sontak saja memerah karena ,arah, dia tidak menyangka jika di balik pernikahannya dengan Hasan ini, ada keinginan bejat Hasan, yaitu ingin memiliki putrinya juga, sebejat apapun Siska dia tetap seorang ibu, saat suaminya terang-terangan mengatakan ingin memiliki tubuh putrinya,. Darahnya spontan mendidih, belum lagihinaan yang Hasan lontarkan padanya yang mampu membuat telinganya panas.
Siska mengeluarkan sepucuk senjata dari dalam tasnmya yangs selalu dia bawa kemana pun, sebagai istri dari pejabat, dia memang sengaja memiliki pistol untuk berjaga-jaga, jika selama ini dia tidak pernah enggunakan senjata itu sama sekali, mungkin sudah waktunya untuk menggunakan senjata itu untuk membunuh seseorang, pikirannya sudah gelap di tutupi awan hitam kemarahan dan angkara, sehingga dia tiodak mampu untuk berpikiran jernih lagi.
"Hasan!" Panggil Siska pada suaminya yang berjarak lumayan dekat dengan dirinya itu, dia lantas menodongkan senjatanya tepat mengarah ke dada Hasan.
__ADS_1