Dendam Cinta Sang Kapten

Dendam Cinta Sang Kapten
Restu


__ADS_3

Dor!


Suara tembakan membuat semua penonton yang hadir menjadi kalang kabut menyelamatkan diri karena tak ingin terkena peluru nyasar, namun ada juga di antara mereka yang tetap bertahan untuknmenonton kelanjutan drama rumah tangga Hasan.


Hasan memegangi bahu kanannya yang berlumuran darah, ketika dia hendak mengarahkan senjatanya ke arah Chery, tanpa di duga, Siska merebut pistol di tangan Tores dan memuntahkan pelurunya terlebih dahulu ke arah Hasan, meski meleset dari incaran dimana tadinya Siska ingin mengarahkan pelurunya ke dada Hasan, namun itu sudah cukup untuk memberi pelajaran Hasan dan membuat tua bangka itu merasa kesakitan.


"Berengsek! Wanita sialan, ku bunuh kalian!" Geram Hasan, seraya berusaha mengambil kembali senjatanya yang tadi terlepas dari tangannya, namun rasa sakitnya membuat dia tidak sanggup untuk melakukan itu semua, sehingga dia hanya bisa meringis kesakitan sambil berpegangan pada dua anak buah yang membantu memapahnya.


Polisi segera mengamankan kerusuhan yang terjadi, mereka membekuk Siska yang terang-terangan menyerang Hasan dengan tembakan, petugas medis juga datang untuk membawa Hasan ke rumah sakit, sementara anak buah dan pengawal Hasan sebagian kocar-kacir melarikan diri, dan sebagian lagi di tangkap polisi karena kedapatan memiliki senjata api ilegal.

__ADS_1


Di tengah keriuhan dan kekacauan dan sebagian penonton memilih pergi, namun tak satu pun para wartawan yang meninggalkan lokasi karena merasa ini adalah berita spektakuler, mereka bertahan di sana bersama para penonton yang juga kepo dengan kelanjutan drama keluarga Hasan Basri ini.


Sean terlihat kebingungan harus berbuat apa, dia juga tidak ingin terlibat jika nanti Siska sampai buka suara jika dirinya terlibat dalam penculikan Siska dari rumah Hasan di pagi buta tadi, dia bahkan berusaha mencari celah untuk melarikan diri dari keributan ini, sepertinya dia ingin cuci tangan dan berusaha untuk tidak terlibat dalam masalah yang bisa saja merusak reputasinya sebagai pengacara handal tanah air.


"Tuan Sean Malik, anda tidak bisa pergi kemana pun!" Ajuna tiba-tiba datang an menghadang langkah Sean yang berusaha akan melarikan diri.


"Kau,,, kenapa kau tidak di tahan? Minggir, aku harus pergi!" Gagap Sean berusaha menyingkirkan Arjuna yang tak bergeming sedikitpun.


"Anda tidak bisa kemana-mana Sean Malik, anda adalah buruan interpol, dan mereka kini sudah berada di sini untuk menangkap anda!" Arjuna terenyum penuh kemenangan.

__ADS_1


Mendengar ucapan Arjuna para wartawan beralih menyoroti wajah Sean yang berusaha menutupi wajahnya dari para pemburu berita, dia juga terus-terusan berkoar kalau dirinya tidak bersalah dan ini merupakan fitnah juga salah tangkap.


Salah satu perwakilan dari interpol itu akhirnya membuka suara di hadapan media, dan menerangkan kalau Sean adalah salah satu anggota jaringan pengedar obat terlarang terbesar di beberapa negara, dan keberadaannya memang sangat di cari, mereka juga menunjukkan bukti-bukti yang menunjukkan dan memperkuat pernyataan mereka tentang keterlibatan Sean dalam jaringan pengedar nar-koba internasional itu, sehingga Sean tidak lagi dapat berkutik apalagi mengelak dari semua tuduhan.


Sean yang biasanya pintar dalam membela kliennya terlepas dari benar ataupun salah, semua kasus di tangannya sudah pasti akan menang, namun kali ini dia bahkan tidak dapat membela dirinya sendiri, tidak dapat menyelamatkan pamornya yang seorang pengacara hebat dan tidak pernah terkalahkan itu kini terpaksa harus mengakui kekasahan dirinya dengan tidak berdaya, keserakahan dirinya akan uang menjerumuskannya ke lembah nista yang membuat sega yang di milikinya hancur lebur dalam sekejap mata.


Dengan wajah tertunduk dan tangan terborgol, dia di giring oleng para petugas kepolisian dari interpol itu untuk di bawa dan di adili di luar negeri, entah hukuman apa yang akan dia terima di sana, semua kejahatan ada konsekuensinya, tidak ada penjahat yang bisa terbebas dari hukuman baik itu hukuman di dunia ataupun di akhirat kelak.


"Aku tak mengira jika aku akan terlibat dalam sebuah tragedi se-mengerikan ini, aku berharap ini hanya sebuah adegan syuting." Ujar Chery memeluk erat lengan Arjuna yang berdiri di sampingnya, dia bahkan tak mengira jika ibunya yang di anggapnya tak pernah menyayanginya dan hanya mementingkan uang dan kebahagiaannya itu bahkan berani menembak Hasan untuk melindungi dirinya yang akan menjadi sasaran penembakan Hasan tadi.

__ADS_1


"Aku ingin bertemu ibu!" Cicit Chery dengan mata berkaca-kaca, menyampaikan permintaannya pada Arjuna.


"Tentu saja, ayo temui ibu mu, sepertinya kita juga harus sekalian meminta restunya untuk pernikahan kita." Jawab Arjuna seraya memeluk pinggang ramping kekasihnya dan melindunginya dari serbuan wartawan yang mendekat dan ingin mewawancarainya.


__ADS_2