
Ponsel Arjuna terus berdering, nama Ines terpampang di layar membuat Chery makin merasa tak enak hati karena sejak tadi Arjuna memilih untuk mengabaikan panggilan di teleponnya dan asik menyantap makanan pesanannya, tanpa terlihat tertarik sedikitpun untuk menoleh ke arah ponselnya sejak tadi terus menjerit-jerit di atas meja.
"Juna, apa tidak sebaiknya kamu terima dulu panggilan telepon itu, takutnya ada suatu hal yang penting yang terjadi pada kekasih mu." Ujar Chery, dia tak ingin semakin merasa bersalah jika ternyata terjadi hal buruk menimpa Ines dan Arjuna tidak menemani kekasihnya itu hanya karena menunggui dirinya.
Arjuna menaruh sendok yang berisi makanan, tangannya urung memasukan sesendok makanan itu ke dalam mulutnya saat Chery mengatakan hal itu, nafsu makannya tiba-tiba saja hilang seketika.
"Chery, aku dan Ines sebenarnya bukan---"
"Tidak usah repot-repot menjelaskan seperti apa hubungan kalian pada ku, bukan kapasitas ku untuk tahu seperti apa hubungan kalian, sejauh mana dan bagaimana, bukankah kita bukan siapa-siapa?" Chery menolak mendengarkan penjelasan Arjuna tentang hubungan pria itu dengan Ines, sungguh dia tak ingin mendengar tentang itu, apa yang terjadi antara Arjuna dan Ines biarlah menjadi urusan mereka yang tak harus dia tahu seperti apa kebenarannya, dan apa yang terjadi pada dirinya dan Arjuna serta tentang perasaannya pada pria itu biarlah menjadi urusannya sendiri, tanpa harus mengganggu hubungan Arjuna dan Ines, karena cintanya untuk Arjuna tak membutuhkan balasan, mengetahui kalau Arjuna mempunyai persaaan yang sma padanya sja itu sudah cukup baginya.
"Aku sudah bilang, kalau aku tak akan pergi kemana pun, aku akan tetap di sini menjaga mu, kamu tak bisa memaksa ku." Tolak Arjuna.
"Aku akan menemani mu ke rumah sakit, tolong jangan buat aku merasa menjadi wanita jahat karena menahan kekasih orang untuk menemui kekasihnya yang sedang sakit."Bujuk Chery.
Arjuna menatap Chery tak percaya, setulus dan sebersih itukah hati Chery? Pikirnya, padahal Chery bisa saja membiarkannya untuk tetap berada di sana menemaninya, tapi itu tidak Chery lakukan, dia malah memilih menawarkan diri untuk ikut menemaninya ke rumah sakit demi agar Arjuna mau menemui Ines, padahal jelas-jelas saat ini dia sedang menjadi sorotan publik, belum lagi di tambah ancaman yang terus datang padanya setiap saat, tidakkah resiko itu terlalu besar untuk dia ambil?
"Iya, aku akan menemani mu, ayo pergi, kita pakai mobil ku yang jarang di pakai agar tak menarik perhatian orang-orang." Chery memakai hoody dan kacamata hitamnya juga masker untuk mengantisipasi orang akan mengenali wajahnya.
"Kamu sungguh pantang menyerah membuat ku sangat sedih saat ini," ujar Arjuna yang akhirnya mengalah karena melihat kegigihan dan ketulusan Chery.
"Kenapa bersedih? Bukankah seharusnya kamu merasa bahagia karena akan bertemu dengan kekasih mu?" ledek Chery.
"Tentu saja aku bersedih, karena kamu terus mendorong ku untuk menjauh dari diri mu, memaksa aku untuk bersama orang lain." Suangut Arjuna.
__ADS_1
"Ines kekasih mu, bukan orang lain, yang orang lain di sini adalah aku."
"Tidak! Kamu bukan orang lain bagi ku, kamu adalah tujuan hidup ku mulai saat ini, tunggu aku untuk menyelesaikan semua urusan ku dan setelah itu aku akan berlari untuk menangkap mu lalu memenjarakan mu di dalam hati ku untuk selamanya."
"Arjuna, aku baru tau kalau kamu pria penggombal, apa kamu tak merasa malu merayu wanita lain sementara kekasih mu sedang terbaring sakit saat ini?" sindir Chery, yang sontak saja membuat wajah Arjuna memerah karena merasa malu.
Di loby rumah sakit,
"Sean?" panggil Chery.
Sean yang saat itu sedang berjalan dari arah koridor rumah sakit sedikit kaget saat seorang wanita berkaca mata hitam dan bermasker itu menyapanya, tentu saja Sean mengenali kalau itu suara Chery, apalagi wanita itu datang bersama Arjuna, tak bisa di pungkiri lagi kalau itu benar-benar Chery.
"Kenapa kamu berada di sini? Apa kamu sakit?" Sean mengangkat tangannya hendak menempelkan punggung tangannya di kening Chery untuk memeriksa suhu badan Chery, namun Arjuna yang melihat itu langsung menepis tangan Sean.
"Dia baik-baik saja!" ketus Arjuna.
"Apa kamu tak tau betapa bahayanya keluyuran ke tempat umum seperti ini?" sambung Sean pada Chery dengan nada bicara yang terdengar agak tinggi, mungkin Sean merasa khawatir jika Chery mendapat serangan tiba-tiba lagi dari orang tak dikenal seperti sebelumnya.
"Aku yang mengaj--" belum saja Arjuna selesai menjawab kata-kata Sean yang terlihat agak emosi saat berbicara dengan Chery, tiba-tiba Ines datang di dorong dengan kursi roda oleh seorang perawat menuju ke arahnya.
"Sayang,,, aku pikir kamu tak akan datang," seru Ines tersenyum lebar saat melihat sosok Arjuna di hadapannya.
"Ada apa dengan kalian?" Ines melihat wajah bete Sean dan Arjuna secara bergantian dengan tatapan bingung.
__ADS_1
"Tidak ada apa-apa, ayo pulang!" ketus Sean sembari meraih pergelangan tangan kanan Chery dan membawanya pergi dari loby rumah sakit itu meninggalkan Arjuna yang hanya bisa pasrah tidak bisa mencegah kepergian Chery dan hanya bisa menatap punggung gadis itu hingga makin menjauh ke arah pintu keluar rumah sakit.
"Orang aneh!" gerutu Ines.
"Siapa?" tanya Arjuna.
"Pengacara itu." Jawab Ines dengan bola matanya yang di buat memutar tanda dia tak suka dengan Sean.
"Apa kamu pernah punya masalah dengan Sean? Sepertinya kamu begitu membencinya?" Tanya Arjuna merasa heran karena tiap kali bertemu Sean, sikap Ines tak pernah ramah sama sekali pada pengacara ternama itu.
"Tidak, mana ada aku kenal dia, ishhh!" Ines meringis jijik.
"Sakit apa kamu?" Tanya Arjuna, tiba-tiba teringat dengan bagaimana hebohnya Ines menelpon dirinya di setiap menit tak henti-henti, seperti sedang dalam keadaan gawat darurat, namun kenyataannya saat dia terpaksa datang untuk melihat keadaan Ines, wanita itu tampak baik-baik saja dan bahkan wajahnya sudah terlihat segar kembali, padahal dirinya sudah mengorbankan kebersamaannya dengan Chery, belum lagi akhirnya Chery di bawa pergi Sean, memikirkan itu semua dirinya merasa sangat kesal dan gondok seperti sedang di permainkan.
"Aku--aku anu, asam lambung ku kumat tadi, tapi sekarang sudah baik-baik saja." gagap Ines, sepertinya dia menyadari klau Arjuna terlihat sangat terpaksa mendatanginya ke rumah sakit.
"Aku ganggu pekerjaan kamu ya, maafin aku Yang, tapi aku gak tau lagi harus minta tolong siapa, jangan marah ya..." rengek Ines merasa tak punya cara lagi selain merayu Arjuna karena dia tahu kalau dirinya sudah mengganggu Arjuna dan kini sudah membuatnya kesal.
"Ya sudah lah, tak ada yang menginginkan dirinya sakit, aku antar kamu pulang, sekalian aku minta maaf pada ayah mu karena tadi tidak bisa ikut makan malam bersama." Arjuna mendorong kursi roda Ines untuk membawanya pulang.
Sebenarnya kejadian ini agak janggal di hati Arjuna, bukankah Ines harusnya sedang makan malam dengan keluarganya, lantas bagaimana ceritanya wanita itu bisa masuk rumah sakit tanpa ada satu pu keluarganya yang tahu akan hal itu, dan malah menghubunginya.
Namun Arjuna tak ingin terlalu ambil pusing dengan masalah itu, lagi pula itu tak penting untuknya, dia juga tak peduli dengan apa yang di lakukan oleh wanita itu.
__ADS_1
"Nona, ini kunci mobil yang anda minta, untuk mobil yang tadi anda pakai dan tertinggal di basement apartemen seruni, nanti saya akan segera mengambilnya." Seorang pria setengah baya yang di ketahui Arjuna sebagai sopir keluarga Ines menyodorkan sebuah kunci mobil, namun yang membuat Arjuna terkaget-kaget adalah perkataan sang sopir bahwa mobil Ines tertinggal di basement apartemen seruni, dan bukankah itu apartemen tempat Chery tinggal? Untuk apa Ines berada di sana tadi? Arjuna juga tak pernah tahu kalau Ines mempunyai unit apartemen di sana.
"Kamu dari apartemen seruni?" Tanya Arjuna sambil menatap tajam wajah Ines yang terlihat semakin gelagapan dan kebingungan saat harus menjawab pertanyaan Arjuna yang di lontarkan padanya.