
Wajah Chery terlihat tegang, saat dia memasuki ruang pertemuan di hotel yang sengaja dia sewa untuk konferensi pers mengenai kebebasan bersyaratnya dari kasus hukum yang sempat menjerat dirinya itu.
Ruangan yang sebenarnya sangat luas dan bisa menampung ratusan tamu itu kini terasa penuh sesak, wartawan berbagai media baik dari media cetak, televisi dan online berebut maju mencari posisi paling depan sehingga bisa menyorot wajah sang artis dengan jelas.
Menjadi pusat perhatian bagi banyak pasang mata memang sudah menjadi hal yang biasa bagi Chery, namun saat ini semuanya menjadi seakan berbeda, ratusan pasang mata itu seakan memandangnya dengan cara yang berbeda, jika biasanya pandangan mereka adalah pandangan memuja, berbeda dengan saat ini pandangan mereka seperti tengah menghakimi, menatap Chery seolah dia adalah musuh masyarakat yang berbahaya.
Apalagi saat melihat sosok Arjuna yang sudah hadir dan duduk di deretan kursi pembicara, hati Chery semakin kacau, karena alih-alih kehadiran Arjuna ditengarai bisa membuatnya lebih tenang justru malah sebaliknya, karena di sebelah Arjuna duduk dengan manis Ines mendampingi pria yang sejak tadi tanpa di sadarinya menatap ke arah Chery sampai lupa caranya berkedip.
Entah apa maksud Arjuna membawa Ines ke acara malam ini, padahal jelas-jelas Ines tak ada hubungannya dan tidak berkepentingan sama sekali dalam konferensi pers ini.
"Tores?" Arjuna menaikan sebelah alisnya sat melihat Tores berjalan di belakang Cheri dan menempatkan Chery untuk tepat di samping kanan Arjuna, sehingga posisi Arjuna saat ini di apit oleh Chery dan Ines yang duduk di sebelah kirinya (Sejahil itu memang si Tores).
"Malam Ndan, lama tak jumpa," sapa Tores penuh hormat. "Istrinya di jagain Ndan, nanti di ambil pengacara tampan itu, lho!" Tores membungkuk dan berbisik di telinga Arjuna, seraya mengingatkan Arjuna kalau dirinya pernah menikah secara adat dengan Chery saat di pulau.
Tentu saja Tores tau siapa Ines dan apa hubungannya dengan arjuna saat ini, itulah mengapa pria bertubuh gelap itu mengatakannya dengan cara berbisik agar orang lain tak ikut mendengar ucapannya pada Arjuna.
Namun Arjuna hanya bisa diam dam dan meraih botol air mineral di hadapannya, tenggorokannya mendadak kering setelah mendengar ucapan Tores barusan, bahkan saat tak sengaja ujung matanya menangkap wajah cantik Chery, dia terbayang kembali bagaimana panasnya ciuman mereka.
Acara berjalan dengan baik, tanya jawab maupun keterangan dari Sean selaku pengacara dan Arjuna selaku dari perwakilan kepolisian juga mampu memuaskan pertanyaan para wartawan yang selalu haus akan berita sensasional.
Namun saat di penghujung acara, dan saat semua orang membubarkan diri, sekelompok orang masuk ke dalam ruangan lantas melemparkan telor dan tomat busuk ke arah Chery sambil memaki-maki, membuat suasana menjadi riuh dan kacau, alih-alih menyelamatkan Ines yang juga menjadi sasaran lemparan telur dan tomat busuk, karena sama-sama berada di depan, Arjuna justru malah mendekap tubuh Chery dan membawanya pergi dari sana menembus kekacauan yang terjadi di ruangan itu.
__ADS_1
"Sebelah sini!" teriak Tores menunjuk lift yang terbuka, memberi kode pada Arjuna dan Chery untuk mengikuti langkahnya.
"Tores, kamar siapa ini?" tanya Chery saat Tores membawa mereka ke salah satu kamar di hotel itu.
"Aku sengaja membuka kamar ini untuk antisipasi, dalam keadaan darurat seperti ini bisa di pakai, kan. Karena tak mungkin keluar hotel, para penyerang mu bisa saja lebih banyak di sana." Kata Tores.
Arjuna menatap Chery dan Tores secara bergantian.
"Ah, aku lupa memberi tahu mu, Tores bodyguard ku sekarang, terimakasih sudah menyelamatkan ku, tapi untuk kedepannya kamu tidak usah repot-repot lagi, ada Tores yang menjaga ku. Oh iya, apa tak sebaiknya kamu menyelamatkan Ines? Kekasih mu itu pasti ketakutan di sana." Kata Chery yang tiba-tiba teringat Ines yang di tinggalkan Arjuna karena pria itu lebih memilih menyelamatkan dirinya.
"Aku melihat nona itu di selamatkan pak pengacara, tadi." Ujar Tores.
"Di selamatkan Sean? Tapi kemana mereka?" Chery mengernyit, namun Tores hanya mengangkat kedua bahunya.
"Siap, istri anda aman bersama ku, Ndan!" Tores memberi hormat pada Arjuna yang keluar kamar tanpa pamit pada Chery yang membelalak ke arah Tores yang cengengesan.
"Tores, jangan berkata seperti itu, aku tidak enak. Arjuna sudah punya kekasih, jangan sampai dia ribut gara-gara omong kosong mu itu." Protes Chery saat Arjuna pergi dari kamar.
"Omong kosong apa? Bukankah kalian memang suami istri yang sah secara adat," jawab Tores cuek.
"Ayolah, itu sudah berlalu, aku dan Arjuna itu tidak mungkin, banyak kertidak mungkinan di antara kami berdua, apalagi aku yang menghancurkan cinta dan kebahagiaannya dengan Luna, aku membuatnya gagal menikah dan berbahagia dengan cinta sejatinya." Ratap Chery dengan wajah sedih.
__ADS_1
"Cinta sejati? Kenapa aku merasa kalau kau adalah cinta sejati komandan yang sebenarnya, hanya saja kalian tidak saling mengenal lebih awal dan meski kalian bertemu di saat-saat terburuk dalam hidup kalian, namun benih-benih cinta itu tetap tumbuh di antara puing-puing kehancuran hati kalian masing-masing, tidak kah kau sadar jika sebenarnya Tuhan sedang berusaha menyatukan kalian lewat ujian berat ini?"
"Ishh,, lama tak bertemu kau makin pandai berbicara saja rupanya," Chery tersenyum getir, dan berusaha menghindari obrolan tentang dirinya dan Arjuna yang rasanya malah semakin membuat hatinya seolah tersayat perih.
Tak ada yang salah dari semua ucapan Tores, semua kemungkinan yang di pikirkan Tores itu bisa saja ada benarnya, hanya saja Chery tak ingin terlalu terbuay dalam sebuah kemungkinan, karena kepastian lebih di butuhkannya untuk saat ini.
Setengah jam berlalu, bel pintu kamar hotel berbunyi, saat di buka, Arjuna, Ines dan Sean berada di sana, mereka bergegas masuk.
"Kalian semua baik-baik saja?" tanya Chery,
"Tentu saja komandan baik-baik saja, nona--- kau terlalu menyepelekan kemampuan komandan." Sambar Tores yang mengerti jika yang di khawatirkan Chery saat ini adalah keadaan Arjuna.
"Apa kau tak lulus pelajaran bahasa Indonesia? Jelas-jelas aku tanya keadaan mereka, aku menggunakan kata KALIAN, itu berarti mereka bertiga!" Chery akhirnya nyolot karena Ines menatapnya dengan tatapan yang penuh tanya dan kurang enak akibat ucapan Tores yang selalu berwajah datar tanpa dosa meski telah mengucapkan kata-kata yang hampir memancing huru-hara.
"Haisshh, benar kata mamak ku, senjata orang merasa salah itu akan nge-gas, nyolot macam ini." Telunjuk Tores bahkan kini mengarah ke arah Chery yang wajahnya berubah menjadi merah padamkarena marah dan malu bercampur menjadi satu akibat ocehan Tores, begitu juga dengan Arjuna yang kini salah tingkah melihat perdebatan antara Tores dan Chery yang meributkan tentang dirinya, apalagi Ines kini menatap penuh tanya ke arahnya seolah meminta penjelasan atas apa yang baru saja di dengarnya itu.
"Sudahlah, jangan dengarkan ocehan ngawur Bodyguard konyol itu," menyadari keadaan menjadi tidak enak, Sean akhirnya angkat bicara, seraya melotot ke arah Tores yang masih santai dengan minuman kaleng bersoda di tangannya.
"Jika merasa kurang nyaman, bagaimana kalau aku bukakan kamar lain untuk kalian, apa kalian setuju?" sambung Sean pada Arjuna dan Ines, dia tak ingin berada di suasana canggung dan tidak mengenakan ini lebih lama lagi, sementara sepertinya mereka akan tetap berada di kamar itu sampai dini hari atau mungkin sampai pagi demi menghindari wartawan dan orang-orang yang masih berkerumun danmenunggui Chery di depan hotel.
"Tidak---iya," Arjuna dan Ines menjawab secara serempak, namun sayangnya dengan jawaban yang berbeda, jika Ines setuju dan mengiyakan untuk membuka kamar lain dengan kekasihnya itu, sementara Arjuna menolak dan memilih untuk tetap berada di kamar yang sama bersama Chery dan lain-lain, meskipun yang lainnya tidak begitu penting bagi Arjuna, karena sejatinya dia juga tidak ingin meninggalkan Chery satu kamar bersama Sean tanpa pengawasan dirinya.
__ADS_1
"Kita akan tetap di sini, kau tak keberatan kan, Tores? Ada banyak hal yang ingin aku bicarakan dengan mu." Ujar Arjuna pada Tores, mengingat tadi Tores di awal mengatakan kalau kamar ini dia yang menyewanya, jadi Arjuna meminta izin dan persetujuan Tores untuk tetap tinggal di kamar itu.
"Tentu saja, kita bisa main kartu sepanjang malam untuk membunuh bosan, seperti waktu di kantor polisi waktu itu, nona masih ingat, kan? Yang waktu itu malam-malam ada yang datang menjemput, tapi pura-pura ambil berkas ketinggalan?" oceh Tores lagi seakan tidak ada puasnya membuat Arjuna dan Chery merasa malu dan tak enak hati dengan Ines dan Sean yang juga berada di kamar itu dan hanya menjadi pendengar setia akan cerita Tores yang tentu saja mereka tidak mengerti sama sekali apa yang sedang menjadi topik pembicaraan Tores itu.