Dendam Cinta Sang Kapten

Dendam Cinta Sang Kapten
Apa Salah Saya?


__ADS_3

Arjuna menghentikan langkahnya tepat di ambang pintu yang gagangnya telah berhasil dia tarik dan dia buka, dia berdiri mematung di sana beberapa detik tanpa berniat membalikkan tubuhnya.


Akan menjadi panjang urusannya jika Chery benar-benar melapor pada atasannya yang otoriter itu, dia akan mendapat masalah yang besar dan akan di ungkit terus dalam jangka waktu yang panjang di setiap pertemuan.


Senyum kemenangan terukir di bibir merah Chery saat Arjuna akhirnya memutuskan untuk membalikan tubuhnya dan kembali melangkah mendekati ranjang yang sedang di tiduri nya kini.


"Ah,,, good boy!" ledek Chery seraya mengacungkan ibu jarinya, meledek berbalut pujian terhadap pria yang setengah mati menahan marahnya itu.


"Apa mau mu?" ketus Arjuna, sungguh ini adalah situasi yang sangat tak di inginkannya, menjaga wanita yang di bencinya namun tak bisa berbuat apapun untuk menolaknya, 'dasar wanita licik!' geram batinnya.


"Aku hanya minta di belikan bubur ayam yang di perempatan kantor anda itu pak polisi, makanan rumah sakit sungguh tak enak dan tak bisa aku telan," pinta Chery dengan polosnya.


Arjuna mendesis, dadanya naik karena menahan oksigen di rongga parunya untuk melebur kemarahan yang harus tetap dia tahan karena saat ini dia sedang menjalankan tugas yang di berikan atasannya.


Arjuna lantas mengeluarkan ponselnya dan mengetik sesuatu di sana.


Sekitar setengah jam kemudian Fajar datang ke ruangan itu dengan membawa makanan yang di pesan sang artis.


"Oh, ternyata makanannya untuk anda nona, saya pikir Bunda yang di rawat Ndan, makanan kesuaannya sama persisi seperti kesukaan Bunda." Oceh Fajar.

__ADS_1


"Tak usah banyak basa-basi, cepat berikan makanannya pada artis junjungan mu itu, nanti dia mati karena kelaparan! Aku akan rugi karena belum sempat membalas perbuatannya." Tukas Arjuna dengan wajah yang masam, terlihat jelas kalau pria itu sedang merasa tak nyaman, kesal dan marah.


"Eh tunggu, membalas perbuatan ku? Apa yang sudah aku perbuat pada anda pak polisi, sepertinya ada sesuatu yang salah pada kepala anda, kenapa anda terus menyerang ku, mengatakan hal tidak baik tentang ku, tentang aku yang menampar Meta, dan pertengkaran Meta dengan ayahnya, kenapa anda melimpahkan kesalahan itu pada ku? Apa anda tau masalah yang sebenarnya? Lantas tentang kejadian semalam masalah aku memukul adik atasan mu, aku punya alasan sendiri, aku membela diri, kenapa seolah semua jadi aku yang salah!" sewot Chery, lama-lama telinganya panas juga mendengar ucapann sinis Arjuna padanya.


"Sudahlah, tak perlu bermain drama di sini, lakukanlah apapun yang ingin kau lakukan, katakan pembelaan sesuka mu, intinya kau manusia kebal hukum dan bebas melakukan apapun semau mu, tapi aku tak akan melepaskan mu dari perbuatan yang telah menyebabkan---" hampir saja Arjuna mengatakan hal selama ini ingin di katakannya itu, namun tiba-tiba Dion dan kedua orang tua Chery datang tepat pada waktunya di ruangan itu.


"Chery,,, ya ampun, kok gak bilang sih kalo mau dugem, kan bisa aku temenin, bahaya tau anak gadis keluyuran malem-malem!" Dion heboh semenjak dari pintu masuk, dia bahkan langsung nyelonong membuka pintu yang tertutup rapat itu.


"Atasan anda sudah mengatakan pada ku kalau anda di tugaskan untuk menjaga putri kami, tapi sekarang sudah tiak di perlukan lagi, karena kami akan menjaganya sendiri." Ujar Hasan seraya mengunci tatapan matanya dengan mata Arjuna yang juga kini sedang menatapnya penuh kebencian yang di sembunyikan.


"Baik, terimakasih sudah meringankan tugas saya, permisi!" Arjuna bergesas meninggalkan ruangan yang kini penuh dengan orang-orang yang menurutnya penuh kejahatan, kelicikan dan kemunafikan, membuat dia tak ingin berlama-lama berada di ruangan itu, Arjuna bahkan tak ingin menghirup udara yang sama dengan pejabat yang dia tahu begitu banyak kebusukannya namun mempunyai dukungan besar dari para petinggi di jajaran kepolisian itu.


Mungkin untuk masalah-masalah lain yang tak melibatkan dirinya Arjuna bisa diam, tapi untuk kasus kematian Luna, sampai kapan pundia tak aka pernah berhenti mengusutnya, karena dia yakin kalau ini penuh rekayasa, hanya tinggal menunggu waktu untuk mengetahui kebenarannya dan dia tak akan melepaskannya dari jerat hukum meski nyawanya yang menjadi taruhanya.


"Eh tunggu! Kau belum selesai mengatakan apa yang sebenarnya aku perbuat pada mu, aku yang sudah menyebabkan apa?" teriak Chery berharap Arjuna menghentikan langkahnya dan kembali untuk menjelaskan kesalahan apa yang di perbuatnya sampai pria tampan itu sangat membencinya.


Namun sayangnya Arjuna bahkan tak memperdulikan teriakan Chery padanya, dia tetap melanjutkan langkahnya meninggalkan ruangan itu sejauh mungkin, bahkan untuk menoleh pun dia tak sudi.


"Ndan, nona Chery memanggil anda," bisik Fajar.

__ADS_1


"Apa kau tak dengar kalau keluarganya tak menginginkan kita ada di sana? Atau kalau kau masih ingin berada di sana, kembali lah!"


"Siap Ndan, tidak berani!" ucap Fajar yang lantas mengatupkan bibirnya tak lagi berani bersuara.


Kejutan bagi Arjuna tak sampai di sana, sepertinya Tuhan belum selesai menguji kesabarannya akhir-akhir ini, karena dia baru saja sampai ke kantor, salah satu ajudan atasannya mengabarkan kalau dirinya di panggil ke ruangan atasannya itu.


"Maaf Ndan, saya sudah berusaha menjalankan tugas dari anda, hanya saja dari pihak keluarganya tidak menghendaki saya ada di sana," lapor Arjuna pada atasannya yang mengira pemanggilannya kali ini terkait dengan dirinya yang tidak menjalankan tugas yang di berikan untuk menjaga Cheri.


"Aku tau, duduklah. Ada hal penting yang harus aku sampaikan pada mu." Kata atasannya itu menunjuk kursi kosong di depan meja kerjanya.


Setelah di persilahkan Arjuna lantas duduk berhadapan dengan atasannya itu, beberapa saat hanya hening yang terasa di ruangan yang lumayan luas itu, sampai akhirnya sang atasan membuka suara.


"Arjuna, sebenarnya aku agak berat menyampaikan ini pada mu, karena kau adalah salah satu anggota terbaik ku, namun kau tau bagaimana pekerjaan kita, harus siap di tempatkan di mana pun dan dalam kondisi apapun, atasan meminta ku memberikan ini pada mu!"


Sebuah amplop di sodorkan atasannya pada Arjuna yang lantas menerima itu dengan hati yang harap-harap cemas.


Arjuna membaca amplop berisi dua lembar kertas di dalamnya dengan seksama.


"Apa salah saya, Ndan?" tanya Arjuna mengangkat wajahnya menghadap atasannya setelah beberapa saat tertunduk membaca tulisan panjang pada kertas di tangannya itu

__ADS_1


__ADS_2