Dendam Cinta Sang Kapten

Dendam Cinta Sang Kapten
Skor 2-1


__ADS_3

"Matilah kau!"


Arjuna yang tak menyadari serangan diam-diam yang mengarah padanya pun sudah tak punya waktu lagi untuk mengelak dari hantaman parang pria yang bersikap pengecut karena menyerang di saat kedua belah pihak setuju untuk menarik pasukan masing-masing itu.


Chery yang sejak tadi memperhatikan aksi Arjuna dari kejauhan dengan penuh kagum langsung menyadari kalau bahaya sedang mengancam pria yang menjadi pusat perhatiannya itu langsung berdiri, secepat kilat dia merampas glock yang berada di pinggang Tores dan mengarahkannya ke pria yang hebdak menyerang Arjuna dari balik punggungnya itu.


"Juna awas!" teriak Chery.


Dor!


Satu tembakan tepat mengenai tangan kanan pria tinggi besar yang sedang mengacungkan parangbke arah kepala Arjuna membuat parang berukuran besar itu terpental karena lepas dari genggaman pria tadi, Arjuna yang beberapa saat sempat terkesima dengan apa yang baru saja di alaminya itu langsung berbalik dan melihat seorang pria di belakangnya sedang mengerang kesakitan sambil memegangi lengan kanannya yang baru saja teetembus timah panas yang di muntahkan Chery padanya.


Ribo berlati mendekat, "Aku akan menanganinya," Ribo membawa pria itu pergi menjauh dwngan berbagai makian kasar keluar dari mulutnya.


"Berengsek, apa kau seorang pria? Siapa yang mengajari mu menyerang secara diam-diam, kau ingin menjadi seperti seorang pengecut, huh?" maki Ribo, tak peduli pria yang di bawanya itu merintih kesakitan, Ribo malah menambahkan beberapa kali pukulan ke lengan pria tadi yang terluka membuat pria itu semakin menjerit kesakitan.


Arjuna melirik dengan tatapan dingin sekilas ke arah Chery, lantas membuang kembali pandangannya jauh ke berbalikan arah dimana Chery masih berdiri mematung.


"Cepat bawa semua orang yang terluka ke dalam balai desa untuk di obati, dan ingat untuk tetap waspada!" teriak Arjuna.

__ADS_1


Tak sepatah kata pun terlontar dari mulut pria itu, bahkan hanya sekedar ucapan terimakasih.


"Nona, anda baik-baik saja?" tanya Tores.


"Aku baik-baik saja, kamu yang tidak baik-baik saja saat ini, ayo aku bantu membawa mu masuk ke dalam untuk pengobatan." Jawab Chery seraya berusaha membantu mengangkat tubuh lemah Tores.


Namun baru tiga atau empat langkah mereka berjalan, Arjuna mengambil alih tubuh Tores dan melepaskan tangan Chery yang melingkar di pinggang ajudannya itu.


Chery baru saja hendak mengucapkan sepatah kata, namun Arjuna seperti tak menghiraukan keberadaannya, dia hanya berlalu begitu saja ke dalam balai desa dan menganggap Chery hanya angin lalu.


Chery menggeleng, namun dia hanya bisa berjalan lunglai di belakang pria dingin itu megikutinya berjalan ke dalam ruangan, bahkan setelah dirinya menyelamatkan hidupnya pun, sikap pria itu tetap dingin dan acuh tak acuh padanya.


"Serahkan kembali pada ku!" Ketus Arjuna dengan tangan menengadah ke hadapan Chery yang bengong.


"Ini?" Chery mengangkat glock yang tadi dia rampas dari pinggang Tores dan dia gunakan untuk menyelamatkan Arjuna.


"Ckkk," Arjuna hanya berdecak kesal sambil merampas dengan kasar senjata itu dari tangan Chery.


"Kau pikir kau siapa berani beraninya menggunakan senjata secara sembarangan, apa kau sengaja ingi membunuh ku? Bagaimana kalau tadi tembakan mu meleset dan mengenai kepala ku, ceroboh!" bentak Arjuna dengan suara keras sehingga hampir semua orang melihat ke arah Chery yang wajahnya kini memerah karena merasa marah bercampur malu karena setelah dia menyelamatkan nyawa nya, pria itu bukannya berterimakasih padanya, namun malah memakinya dengan suara kencang di hadapan banyak orang seakan sengaja mempermalukan dirinya.

__ADS_1


"Kau masih bisa berteriak dengan lantang pada ku, itu tandanya kepala mu tak aku hancurkan dengan peluru itu, dan kau masih hidup sampai sekarang, sebagai informasi, akusudah menjadi anggota perbakin sejak aku berusia lima belas tahun, silahkan cek keanggotaan ku di sana pak komandan, tentu saja aku tak akan ceroboh menggunakan senjata jika aku tak tau cara menggunakannya, kita bisa beradu kemampuan lain waktu!" balas Chery dengan marah.


Arjuna terdiam, saat mendengar ucapan Chery, begitu pun orang-orang yang berada di ruangan itu langsung memalingkan pandangan mereka seolah mereka tak melihat dan mendengar pertengkaran pemimpin mereka dengan kekasihnya (menurut pikiran mereka).


"Jangan khawatir, anda tak perlu berterima kasih pada ku, karena aku aku pernah berhutang 2 kali penyelamatan mu, maka anggap saja ini cicilan pembayaran ku, kita hanya selisih satu poin, kapten. Semoga masih ada waktu untuk ku membayar impas semuanya pada mu, aku tak suka berhutang budi pada orang lain!" sambung Chery.


Sungguh hatinya sangat terasa sakit dengan perlakuan Arjuna padanya, sampai tak terasa airmatanya turun tanpa permisi meluncur bebas di pipi mulusnya, biasanya dia tak pernah se cengeng ini, segala penderitaan dan kesedihan sudah dia alami selama hidupnya, mulai dari di kucilkan teman sejak kecil, di ekploitasi oleh ibunya secara habis-habisan dan di jadikan mesin pencetak uang, di tinggalkan kekasih karena memilih berselingkuh dengan anak bos, di bius dan menjadi korban percobaan pemerokosaan ayah tirinya, terakhir di culik bandit dan berakhir terjebak di situasi kacau seperti ini di pulau terpencil dengan pria tak punya hati seperti Arjuna, bahkan saat melewati itu semua dia hampir tak pernah menangis, namun kali ini semua berada di batas kemampuannya menahan emosi, hatinya lelah, sakit dan ingin marah.


Tores yang berada di tengah pertikaian anatara Arjuna dan Chery merasa menjadi satu satunya manusia yang paling tertekan di bumi ini,


"Nona, jangan menangis, mungkin komandan hanya khawatir terjadi apa-apa pada diri nona saat tadi nona menyelamatkannya," kata Tores mencoba meredam amarah dan kesedihan Chery, dia tak tau permasalahan apa yang terjadi anatara Arjuna dan Chery, namun bagaimana pun dia tak tega melihat Chery yang jelas-jelas semua orang tau telah menyelamatkan nyawa atasannya, namun Arjuna malah balik memarahinya.


Tak ada sepatah kata pun keluar dari mulut Arjuna, dia hanya bergegas ke luar ruangan dan duduk di kursi bambu yang terdapat di depan bangunan itu, menghela nafas panjang dan dalam, lantas mengeluarkan sebatang rokok dan membakarnya, dia bukan perokok, namun saat pikirannya sedang kacau biasanya rokok akan menjadi pelariannya.


Asap putih itu mengepul di sekitar wajahnya, Arjuna tak tau apa yang dia rasakan saat ini, semuanya terlalu mustahil dan seolah mengejek dirinya, tentu saja itu terlalu mustahil dimana dia harus mengakui kalau nyawanya di selamatkan oleh seorang wanita, dan yang seolah mengejek dirinya adalah wanita itu adalah wanita yang sangat di bencinya, wanita yang mungkin sudah merenggut nyawa calon istrinya, memikirkan itu semua membuat kepalanya berdengung hebat, lantas jika ternyata bukti menunjukkan kalau wanita itu benar-benar penabrak Luna malam itu, apa dia harus memafkannya hanya karena malam ini dia pun menyelamatkan nyawanya?


"Tidak, aku tak pernah minta untuk di selamatkan oleh wanita itu, jika dia memang pelakunya, aku harus tetap menyeretnya ke penjara sesulit apapun itu, aku pernah menyelamatkan nyawanya 2 kali, dan seharusnya aku tak berhutang apapun padanya, aku tak boleh lemah." Gumam Arjuna seakan sedang berdebat dengan suara hatinya sendiri.


Arjuna tetap pada pendiriannya untuk tak akan melemah dan menjadi lunak pada orang yang telah merenggut nyawa Luna dan merenggut kebahagiaannya.

__ADS_1


__ADS_2