Dendam Cinta Sang Kapten

Dendam Cinta Sang Kapten
Firasat


__ADS_3

Disinilah kini Arjuna berada, di sebuah rumah sederhana bahkan bisa di bilang jauh dari kata layak, di pinggiran ibukota. Seorang wanita tua di temani dua orang anaknya yang juga keduanya adalah wanita sedang duduk saling berpelukan dengan mata mereka yang sembab dan ujungnya masih mengeluarkan bulir-bulir bening.


Mereka adalah istri dan anak-anak dari Parman. Beberapa tas besar sudah rapi bertumpuk di ruangan sempit itu.


"Permisi,!" sapa Arjuna melongok dari pintu yang setengah terbuka itu.


Ketiga peremuan berbeda generasi itu menoleh serempak ke arah suara, kedua anak perempuan yang berusia kira-kira sekitar belasan tahun itu terlihat ketakutan, terbukti dari keduanya yang langsung bersembunyi di di balik punggung ibunya.


"Ada apa, tuan?" Tanya ibu tua itu.


"Saya mencari ibu Marni," ujar Arjuna.


"Saya Marni, ada kepentingan apa tuan mencari saya?" ucap ibu tua itu tetap menjaga jarak.


"Anda istri dari pak Parman? Saya turut berduka atas kepergian suami anda, apa boleh kita berbincang sebentar?" kata Arjuna sopan.


"Maaf tak ada waktu, saya dan kedua aanak saya harus segera pergi, kami mengejar kereta karena akan pulang kampung, saya juga tidak ingin membicarakan tentang mendiang suami saya, tolong tuan, kami sedang berduka." Ibu tua bernama Marni itu lantas bergegas meninggalkan Arjuna kembali ke dalam rumah untuk membawa beberapa tas besar yang sudah di siapkan.


"Bu, beberapa jam sebelum kejadian saya bertemu pak Parman, dia baik-baik saja, apa yang terjadi?" Arjuna mengejar langkah bu Marni yang tergesa bersama kedua anak perempuannya.


"Tuan, suami saya terlilit utang pada banyak rentenir akibat kecanduan judi online, dan setiap hari banyak orang menagih utang ke rumah kami, saya rasa itu saja, saya tak ingin membuka lagi aib suami saya yang sudah meninggal." Bu Marni dan kedua anaknya menaiki angkutan umum yang seperti sudah menunggunya dan meninggalkan Arjuna sendirian di tepi jalan menatap kepergian ibu tua dengan kedua anaknya yang tak bersedia berbicara bajyak dengannya entah mengapa.

__ADS_1


Ah, mungkin kedatangannya memang di waktu yang tidak tepat, dirinya juga pernah merasakan di posisi si ibu, kehilangan orang yang di cintai membuat dirinya menjadi pribadi yang tertutup dan sensitif, pikir Arjuna.


Saat dirinya baru saja menghidupkan mesin mobilnya dan bersiap pergi dari tempat itu, seorang pemuda yang memakai rompi seperti tukang parkir mengetuk jendela mobilnya, Arjuna menurunkan kaca mobilnya dan memberikan selembar uang dua puluh ribuan, namun si tukang parkir itu memberikan uang lima ribuan yang di remas ke hadapannya.


"Tidak usah, ambil saja kembaliannya untuk mu," tolak Arjuna yang memang tak berniat meminta kembalian, namun pria itu tetap memberikan uang kumal karena di remas itu dengan memasukannya lewat jendela sehingga uang itu jatuh ke dekat kakinya, karena malas mengambil, akhirnya Arjuna hanya hanya menggelengkan kepalanya pelan sambil berlalu, "Pemuda yang aneh, mungkin dia benar-benar pekerja keras sehingga tak mau menerima uang lebih." Gumam Arjuna berpositif thinking.


Merasa semua penyelidikannya mengenai Parman sudah sia-sia, Arjuna memutuskan untuk pulang ke rumah dinasnya, dengan jabatan yang bisa hikatakan lumayan, dia memang mendapat fasilitas rumah dinas dari kantornya, sebenarnya dia agak malas untuk pulang ke rumah dinasnya itu, karena setiap sudut rumah di sana mengingatkan dirinya pada Luna, wanita itu yang menata semua perabotan di sana, memilih furniture karena rencananya setelah menikah mereka akan tinggal di rumah dinas itu, lama Arjuna berdiam diri di dalam mobil meski dia sudah berada di halaman rumah nya dan sudah mematikan mesin mobilnya, kakinya terasa sangat berat untuk turun dari mobil dan melangkahkan kaki masuk ke rumah penuh kenangan itu.


Arjuna menelungkupkan wajahnya di setiran mobilnya memandangi ujung loafer hitamnya yang mengkilap, namun matanya melihat gulungan uang lima ribuan yang di lemparkan tukang parkir muda tadi saat dirinya keluar dari kawasan rumah Parman.


Arjuna memungutnya, meskipun gaji dari jabatannya sebagai perwira polisi tidak sedikit, namun dia selalu menghargai uang, tak pernah menghambur-hamburkannya dan selalu bersikap sederhana seperti yang sering Luna ajarkan padanya, dia ingin mereka hidup sederhana. Arjuna memungut uang lima ribuan itu, "lima ribu juga bisa bermanfaat bagi orang yang membutuhkan," lagi lagi Arjuna teringat kata-kata Luna saat dirinya mengabaikan uang kembalian yang jatuh dan Luna langsung memungutnya sambil berkata seperti itu.


"Tolong keluarga pak Parman!" tulisannya seperti itu.


Arjuna langsung terhenyak, siapa yang menulis pesan seperti itu padanya, dan kenapa tulisan itu di tujukan padanya secara diam-diam seperti itu?


Tanpa pikir panjang lagi, Arjuna langsung menghidupkan mobilnya dan kembali menuju tempat dimana si tukang parkir muda itu memberinya catatan kecil ini.


Sampai di tempat tadi Arjuna justru malah kebingungan sendiri, dia tak tau mencari siapa, namanya dia tak tau, wajahnya juga hanya samar-samar saja dia ingat karena dia tak begitu memperhatikan pria muda tadi, yang dia ingat jelas hanya dia memakai rompi tukang parkir, itu saja.


Puluhan orang sudah Arjuna tanyai tentang keberadan tukang parkir yang di maksudnya, namun tak satu pun cocok dengan ciri-ciri yang samar-samar di ingatnya, karena kalau dia tidak salah lihat, ada bekas luka di pipi kirinya, dan tukang parkir di sana rata-rata tak tau saat Arjuna mempertanyakan rekan mereka dengan ciri-ciri yang Arjuna sebutkan.

__ADS_1


"Tidak ada tukang parkir yang mempunyai bekas luka seperti yang bapak sebutkan tadi, saya sudah sekitar lima belas tahun jadi juru parkir di daerah sini, mungkin bukan tukang parkir sini pak, atau tukang parkir ilegal, karena semua juru parkir resmi di darah sini saya kenal," ujar pria berumur sekitar 40 tahunan itu menjelaskan, menurut orang-orang di daerah sana pria itu kepala juru parkir kawasan itu, jadi Arjuna mencoba menanyainya.


"Oke, terimakasih atas informasinya," ucap Arjuna mengakhiri pencariannya, kini dia beralih mengambil ponsel dari dalam saku celananya, lalu menghubungi Fajar sang ajudan.


Arjuna menanyakan alamat kampung halaman Parman, dia akan menyusul mereka malam ini juga, lagi pula besok hari sabtu dan dia libur.


Fajar bersedia mencarikan alamat rumah pak Parman di kampung halamannya dengan catatan dirinya harus ikut kesana bersama sang atasan.


Sebenarnya Arjuna sudah menolaknya dengan keras, apalagi ini adalah urusan pribadinya, dia tak mau melibatkan Fajar atau siapapun dalam masalahnya, namun mengingat Fajar selama ini selalu setia padanya, dan anak itu juga pasti tak akan tinggal diam untuk mencari tau apa yang di lakukannya, akhirnya Arjuna bersedia mengajak ajudan setianya itu, Fajar bukan hanya seorang ajudan, dia juga sudah layaknya adik bagi dirinya dan juga Luna, jadi apapun masalah yang di hadapinya Fajar akan selalu tau.


"Kak, kenapa tiba-tiba mencari keluarga pak Parman di kampung?" tanya Fajar yang terbiasa memanggil sebutan kak pada Arjuna sesuai permintaan bosnya itu jika mereka tidak sedang bertugas.


Tadinya berat untuk Arjuna memberitahukan masalah ini, namun pada akhirnya Arjuna menceritakan semua tentang kecurigaannya, tentang kesaksian Parman sebelum di temukan bunuh diri, tentang cerita dokter Bela yang tiba-tiba berubah, dan terakhir tentang tulisan yang dia temukan dalam uang lima ribuan yang di berikan oleh orang tak di kenal padanya.


"Kak, aku harap kakak bisa melibatkan aku dalam semua penyelidikan ini, aku juga ingin membantu menegakan keadilan untuk kak Luna, apapun resikonya, aku siap, kak." ujar Fajar di sela dirinya mengemudi menuju kampung halaman Parman malam itu.


Sementara Arjuna tidak menjawab apapun, firasatnya mengatakan kalau apa yang di hadapinya saat ini tak se sederhana yang di bayangkan, dia merasa kalau orang yang di hadapinya saat ini bukan lah orang sembarangan, jadi dia tak ingin gegabah menyetujui permintaan Fajar itu, salah-salah dirinya malah akan mencelakakan orang yang tak berdosa karena ikut membantunya.


"Kak..." Panggil Fajar yang menunggu persetujuan atasan yang sudah di anggapnya sebagai kakak itu, hanya denga Arjuna dia merasa di manusiakan saat menjadi ajudan, sebelum-sebelumnya boro-boro dia di anggap saudara, di anggap manusia saja tidak, oleh atasannya, makanya dia se sayang itu dan se hormat itu pada Arjuna.


"Aku pikir-pikir dulu," jawab Arjuna menghela nafas panjangnya.

__ADS_1


__ADS_2