Dendam Cinta Sang Kapten

Dendam Cinta Sang Kapten
Semesta merestui


__ADS_3

Plakkk!


Sebuah tamparan mendarat di pipi mulus Chery, saat baru saja dirinya melakukan adegan berpelukan dengan Rey yang merupakan mantan kekasihnya itu, membuat wanita cantik itu menghentikan adegan syutingnya karena merasakan pipinya perih dan panas.


"Gue berhenti syuting kalo pemainnya gak profesional begini, dia nampar gue dengan emosi!" Tunjuk Chery pada Meta yang menatapnya dengan santai dan penuh dengan senyum kemenangan di hatinya.


Bukan hanya Rey yang tiba-tiba menjadi lawan mainnya, namun pemeran antagonis yang di ceritakan bermusuhan dengannya yang sedari awal di rahasiakan namanya oleh produser dan sutradaranya itu Ternyata tak lain dan tak bukan adalah Meta, kekasih baru Rey dan merupakan anak produsernya, tentu saja film ini membuat Chery harus menghadapi dua manusia yang menguras banyak emosi jiwanya bukan hanya dalam peran saja namun juga dalam kehidupannya di luar syuting yang mau tak mau hampir seharian penuh harus berhadapa dengan manusia yang kini menjadi musuh tak hanya dalam film tapi juga dalam kehidupan nyatanya.


Chery yakin kalau ini semua sudah di atur oleh Meta, dia yang selalu tak suka padanya, tak suka akan kecemerlangan kariernya, tak suka akan puja puji masyarakat yang selalu menyanjung namanya itu selalu saja mencari-cari cara agar bisa bermasalah dengan dirinya, apalagi hal itu di tunjang dengan posisi dirinya yang merupakan anak dari produser ternama tanah air dimana hampir semua film bergengsi akan bersinggungan dengan perusahaan ayahnya, hal itu menjadi jalan mulus bagi Meta untuk melakukan apapun yang ingin dia lakukan dengan artis ayahnya yang tidak dia sukai.


Untungnya nama besar Chery di dunia hiburan tanah air juga membuat dirinya menjadi artis vvip di perusahaan milik Kamil, sehingga tentu saja Meta tidak bisa begitu leluasa menindas Chery sebagai mana dia biasa menindas artis-artis lain yang menurutnya menggoda Rey sang kekasih, karena bisa di pastikan Kamil akan kehilangan aset besar perusahaannya jika sampai Chery mogok syuting seperti sekarang ini.


"Siapa yang gak profesional di sini? Gue beradegan sesuai skrip," bantah Meta.


"Met, harusnya kamu tidak menamparnya dengan sungguhan, liat pipi Chery sampai merah begitu, itu namanya penganiyayaan!" Dion yang menunggu di luar lokasi langsung berlari menghampiri artisnya.


"Ya lu laporin aja ke polisi cong, kalo memang lu pikir itu penganiayaan, artis lu aja yang lebay, lemah segitu aja ngeluh, manja!" Meta terus saja mengata-ngatai Chery sehingga membuat Chery panas juga.


"Oke, gue minta break syuting karena gue mau ke rumah sakit untuk visum dan melaporkan penganiayaan yang gue terima saat ini!" Chery segera meninggalkan lokasi syuting.

__ADS_1


"Cher,,, gak gini caranya, aku minta maaf atas nama Meta, tolong jangan perpanjang masalah," Rey mengejar Chery.


"Jangan ikut campur, lebih baik kau ajari kekasih mu itu untuk cara berlakon yang benar, jangan mengambil kesempatan meluapkan marahnya berkedok skrip dan profesionalisme!" Chery menepis tangan Rey yang mencoba meraih pergelangan tangan Chery, namun bersamaan dengan itu juga Meta langsung menarik baju Rey untuk tetap bersamanya dan tidak dekat-dekat dengan mantan kekasihnya.


"Apaan sih yang, aku kan cuma ingin dia tak memperpanjang masalah ini, lagian ini juga demi kamu!" kesal Rey karena merasa langkahnya di halang-halangi Meta.


"Biarin aja dia laporan polisi, aku bahkan akan menunggu dia di kantor polisi, bersama para wartawan, aku akan melihat bagaimana laporannya di tolak dan akan ku permalukan di depan para awak media, biar dia tau rasa!" kesal Meta.


Entah apa yang membuat Meta begitu membenci Chery, padahal kalau di runtut dari masalah yang mereka miliki saat ini, semua kesalahan ada pada dirinya, secara dia yang merebut Rey dari tangan Chery, menjadi orang ketiga dan perusak hubungan Chery dan Rey, meskipun Chery sudah brlapang dada dengan memilih putus dengan Rey dan tak lagi melakukan kontak apapun dengan pria itu, namun kebencian Meta terhadap Chery tak pernah hilang, bahkan setiap hari sepertinya semakin menjadi.


***


"Ada apa di luar Jar, kok rame sekali wartawan, apa akan ada kasus besar?" tanya Arjuna melongokan kepalanya dari balik jendela ruangan kerjanya yang menghadap ke pelataran kantor, di sana sudah banyak sekali para awak media yang standby, memang kejadian seperti itu bukan hal yang aneh bagi para polisi, biasanya kalau seperti itu akan ada kasus besar seperti kasus para artis dan pejabat.


"Itu Ndan, katanya Che-Chery akan datang melaporkan tindakan pengaiayaan yang di alaminya, kasian sekali, orang baik banyak yang menganiayaya dan malah ada juga yang mencurigainya melakukan kejahatan!" oceh Fajar yang lantas mendapat tatapan tajam dari atasannya yang merasa tersindir dengan ocehan Fajar di kalimat ajudannya yang terakhir.


"Kau sedang menyindir ku?"


"Siap Ndan, tidak! Mana berani saya!" elak Fajar berbohong, karena tentu saja sebenarnya dia memang sedang menyindir atasannya itu.

__ADS_1


"Akhirnya, semesta memberi ku jalan," gumam Arjuna menarik sudut bibirnya ke atas membentuk lengkungan senyum.


"Jalan apa Ndan maksudnya?" tanya Fajar polos.


"Ini kalau pepatah jawa bilang ' ulo marani gebug', Jar." Sambung Arjuna.


*(Ulo marani gebuk\= ular menghampiri pemukul. Atau dalam arti lain seseorang yang berbuat salah, tetapi malah mendatangi instansi berwajib, atau seseorang yang sedang di kejar-kejar tapi malah mendatangi orang yang mengejarnya.)


"Jangan di gebug atuh Ndan, kasian dia wanita, masa di gebug," ujar Fajar yang asli Sunda itu salah tangkap dengan yang di sampaikan oleh Arjuna yang sempat lama bertugas di daerah Jawa membuat dirinya merasa jatuh cinta dan nyaman dengan segala sesuatu tentang kebudayaan Jawa, dia bahkan sangat fasih berbahasa Jawa.


"Ishhh, siapa juga yang mau gebuk dia Jar, ngaco! Udahlah pokoknya sekarang kau berjaga di meja piket dan kabari aku jika dia sudah datang, aku akan menanganinya langsung, katakan juga pada petugas piket untuk berjaga saja di depan kantor, karena artis terkenal itu akan aku sambut hari ini." Ujar Arjuna lengkap dengan senyum smirknya, membuat Fajar merinding melihatnya, karena Arjuna terlihat sangat mengerikan dengan senyumnya itu.


"Ya tuhan,,, selamatkan Chery, artis idola hamba dari mara bahaya, amiin." Cicit Fajar tanpa di sadarinya, namun masih bisa terdengar jelas oleh Arjuna yang berdiri di hadapanya.


"Fajar!" bentak Arjuna.


"Siap Ndan, laksanakan!" jawab Fajar dengan memberi hormat terlebih dahulu pada atasannya sebelum dia memutar tubuhnya dan melaksanakan semua yang di perintahkan oleh Arjuna.


Tiga puluh menit berlalu, namun Fajar tak juga memberi tanda atau kabar kalau wanita yang selama ini sangat ingin di jumpainya itu sudah tiba di kantor, bukan untuk foto bersama atau meminta tanda tangannya, namun untuk melihat lebih dekat wanita yang di curigainya terlibat dalam kecelakaan nahas yang terjadi pada sang kekasih, apalagi menurut penyelidikan Fajar yang di sampaikan padanya, pada malam kejadian nahas itu Chery mengendarai mobilnya sendiri ke rumah orang tuanya, namun kenapa tiba-tiba Herman mengaku kalau dirinya yang mengantarkan Chery ke rumah orang tuanya.

__ADS_1


Di saat Arjuna membayangkan sikap apa yang akan dia tunjukan pada Chery siang ini, sebuah pesan dari Fajar masuk ke ponselnya, dia mengabarkan kalau Chery sudah berada di tempat pengaduan, bahkan Fajar mengirimkan bonus sebuah foto selfie dirinya yang sedang berpose dengan artis idolanya pada Arjuna yang sontak saja membuat Arjuna geram sendiri dengan tingkah ajudannya itu yang dalam foto itu terlihat sedang tersenyum lebar bersebelahan dengan Chery yang juga terlihat tersenyum ke arah kamera, wajahnya otomatis selalu tersenyum bila berhadapan dengan kamera, terlepas dari apapun yang sedang di alaminya.


__ADS_2