Dendam Cinta Sang Kapten

Dendam Cinta Sang Kapten
Hati yang Membatu


__ADS_3

"Pak polisi,, tolong katakan yang jelas, siapa yang akan anda pertemukan dengan ku di tahanan sana, jangan sok berteka teki seperti ini, dan lagi mengenai sopir ku, dia sudah berhenti, kini dia berada di kampung halamannya." Terang Chery seadanya.


"Jar, kau dengar? Herman berada di kampung halamannya katanya? Nona, seluruh masyarakat mungkin mengakui kalau akting anda itu bagus, tapi anda tak perlu ber akting di depan ku, aku tak akan tertipu dengan wajah sok polos anda!" cibir Arjuna.


"Ayo kita ke kampung halaman Herman kalau begitu, cih,,, sejak kapan kampung halaman Herman pindah ke penjara!" gerutu Arjuna.


Dua orang petugas jaga di depan bangunan tempat para tahanan menerima hukuman langsung berdiri dari tempat duduknya, dan memberi hormat pada Arjuna.


"Bawa tahanan bernama Herman kemari!" titah Arjuna.


"Siap Ndan, tapi maaf tahanan atas nama Herman baru saja dinlatikan ke rumah sakit sekitar dua puluh menit yang lalu, karena keracunan," lapor penjaga itu menerangkan.


"Apa? Kenapa tiba-tiba keracunan?" panik Arjuna.


"Di bawa ke rumah sakit mana dia?" tanya Arjuna.


Setelah mendapat keterangan ke mana Herman di bawa, Arjuna langsung berlari menuju parkiran depan, untuk mengambil mobilnya yang terpatkir di sana, tanpa di sadari Chery malah justru ikut mengekor di belakang Arjuna, bahkan dia ikut masuk ke dalam mobil suv milik perwira polisi itu.


"Kenapa kau malah ikut dengan ku?" tanya Arjuna baru sadar saat mereka sudah beberapa meter meninggalkan kantor polisi dan saat melihat spion ternyata Chery duduk di bangku penumpang belakang.

__ADS_1


"Aku juga ingin menemui Herman, aku penasaran, apa herman yang anda maksud adalah Herman sopir ku?" Chery beralasan, padahal sesungguhnya dia pun sedang merutuki kebodohannya saat ini, bisa bisanya dia malah ikut naik mobil polisi yang tak pernah bersikap baik padanya itu, sementara mobil miliknya di tinggal di kantor polisi.


"Ckk,,, merepotkan saja!" decak Arjuna, entah di tujukan untuk siapa ucapannya kini, bisa untuk Herman atau juga untuk Chery.


Sampailah mereka kini di depan sebuah rumah sakit milik kepolisian yang letaknya memang tak begitu jauh dari kantor, hanya memerlukan waktu sekitar kurang dari sepuluh menit menaiki kendaraan.


Fajar terlihat sudah ada di sana, karena di tinggal oleh Arjuna yang pergi menaiki mobil dengan Chery, Fajar menyusul menggunakan motor milik petugas jaga di tahanan, namun ternyata dia malah yang terlebih dahulu sampai di sana.


"Bagaimana Jar?" tanya Arjuna.


"Masih di tangani dokter di ruang emergency, Ndan." Jawab Fajar seraya menunjuk ke arah ruang IGD dengan sopan.


Jujur saja Chery masih belum bisa percaya dengan apa yang di katakan polisi yang ber-name tag Arjuna Bimantara di dada kanan nya itu, Chery sungguh tak akan lupa dengan nama polisi menyebalkan itu sampai kapan pun.


"Nona, apa anda kenal dengan pria bernama Herman Waluyo? Seperti ini wajahnya," dengan menahan kegeraman Arjuna memperlihatkan gambar Herman yang ada di ponselnya yang sia ambil saat di sel.


Arjuna merasa Chery saat ini sedang akting pura-pura bodoh, padahal Arjuna yakin kalau Chery tahu akan keberadaan Herman yang saat ini di sel, lagi pula mana mungkin dia tak tau jika mobil yang di pakai Herman untuk menabrak malam itu jelas-jelas mobil milik sang artis.


"I-itu memang sopir ku, tapi apa yang terjadi padanya, kenapa dia di penjara?" tanya Chery.

__ADS_1


"Nona, ini bukan lokasi syuting, stop terus berakting bodoh di depan ku, sungguh menjijikan, anda membuat ku muak!" bentak Arjuna hingga membuat Chery terjingkat kaget dan ketakutan, dia bahkan tak tau apa yang menyebabkan perwira polisi itu marah dan memakinya secara terang-terangan.


"Maaf Ndan, izin biar saya yang menerangkan pada nona Chery," sela Fajar yang mulai mencium gelagat membahayakan dari atasannya, dia tak ingin atasannya itu terkena masalah nantinya jika sampai dia emosi dan melakukan hal yang tak di inginkan pada Chery.


"Bawa yang jauh, jangan sampai dia terlihat lagi di hadapan ku, pusing aku melihat tingkah sok polosnya itu!" Arjuna mengibas-ngiobaskan tangannya seraya mengusir Fajar dan Chery agar menjauh dan pergi dari hadapannya.


Fajar segera membawa Chery menjauh dari Arjuna yang juga belalu menuju depan ruang IGD untuk memantau keadaan tersangka yang konon katanya menabrak kekasihnya hingga Luna tak lagi bisa menemani hari-harinya yang kini terasa begitu sepi dan hampa itu.


Berdiri di depan ruang IGD yang pintunya tertutup seperti itu mengingatkan Arjuna saat dirinya bertemu dengan Luna untuk yang terakhir kalinya, itu pun kekasihnya itu sudah terbujur kaku tak bernyawa lagi, alih-alih merasa sedih, justru saat ini yang dia rasakan adalah kebencian pada Chery makin bertambah berjuta-juta kali lipat, aneh memang, di saat belum ada bukti apapun tentang kebenaran bahwa Chery pelaku atau penabrak kekasihnya, namun hatinya terasa begitu yakin seribu persen jika Chery adalah pelakunya, rasa marah dan kesal seperti yang di rasakannya kini bahkan tak begitu terasa saat dia berhadapan dengan Herman, jikapun saat itu dia sempat memukulinya, itu karena pelampiasan emosinya yang sebenarnya benar-benar tak sepenuhnya tertuju pada Herman, mungkin emosi karena bentuk kekecewaan pada keadaan.


Chery berlari menuju ke depan ruang IGD saat pintu ruangan itu terbuka, Fajar telah menceritakan perihal kasus yang di alami Herman, dan Chery tentu saja sangat kaget mendengar penjelasan dari Fajar, karena dia benar-benar tidak tahu menahu tentang kecelakaan yang di alami Herman itu.


Sungguh saat ini dia ingin menelepon Dion dan menanyakan apa yang sebenarnya terjadi pada sopirnya itu dan apa yang membuat dia merahasiakan hal sebesar ini pada dirinya.


"Bagaimana keadaannya Dok?" tanya Chery dengan raut cemas mendahului Arjuna yang baru saja membuka mulutnya hendak bertanya tapi Chery mendahuluinya.


"Keadaannya masih kritis, di tubuh pasien di temukan zat yang sangat mematikan, meski tak merenggut nyawanya, namun beberapa organ vital seperti otak dan ginjalnya mungkin akan mengalami gangguan, hanya keajaiban Tuhan yang bisa menyelamatkan nya, karena sat ini dia hanya bertahan karena alat bantu saja," terang dokter itu.


Lemas rasanya lutut Chery mendengar penjelasan dokternya itu, Herman yang hampir setiap hari setia mengantarnya kemanapun dia pergi kini malah terbaring tak berdaya, entah apa yang terjadi padanya sehingga pria yang di mata Chery baik itu harus mengalami hal se-tragis ini.

__ADS_1


"Tak usah pura-pura bersedih seperti itu, bukannya seharusnya anda merasa senang karena satu-satunya saksi kunci yang akan memberatkan anda kini sudah bukan lagi merupakan ancaman besar bagi anda, nona Chery Arleta!" ucap Arjuna saat melihat Chery berlinangan air mata karena merasa sangat prihatin dengan keadaan Herman di dalam sana, namun tak ada belas kasih bagi Arjuna untuk Chery yang dia yakini adalah pembunuh kekasihnya, hatinya sudah membatu dan hanya ada kebencian di sana.


__ADS_2