Dendam Cinta Sang Kapten

Dendam Cinta Sang Kapten
Kenapa harus dibandingkan?


__ADS_3

"Rumah siapa ini?" tanya Chery saat mereka sampai di rumah dinas Arjuna.


"Masuklah tak perlu banyak tanya, atau kau lebih senang berada di luar?" ujar Arjuna dingin.


Chery buru-buru masuk ke dalam rumah itu karena takut kalau Arjuna benar-benar membiarkannya kedinginan di luar, menurut pengalamannya, perwira polisi itu sangat membencinya meski entah mengapa, dan sialnya saat ini hanya dia satu-satunya yang bisa dia andalkan untuk keselamatannya.


Mata gadis itu memimdai seluruh penjuru ruangan, tak ada satu pun bagian yang luput dari pandangan penuh keingin tahuannya.


Arjuna melemparkan handuk ke arah Chery yang masih berdiri di ruang tamu sederhana berukuran 5X5 meter itu, tak banyak barang tertata di sana, hanya ada satu set kursi kayu jati model jadul dan rak serba guna, yang tak ada gunanya sama sekali bagi Arjuna karena tak di jadikan tempat menyimpan apapun di sana.


"Ish, tak bisakah lebih sopan sedikit, harus banget di lempar, ya?" protes Chery menggerutu.


"Hey Nona, masih untung aku berbaik hati memberikan handuk untuk mengeringkan tubuhmu, masih saja kau protes, ah,,, sial, sepertinya aku salah sudah menyelamatkan mu,kenapa tak ku biarkan kau bersama para bandit itu saja di hutan." Balas Arjuna membalasnya dengan gerutuan panjang bak emek-emak sedang ngomel.


Chery terdiam meski dari sudut mata Arjuna dia dapat melihat dengan jelas kalau wanita itu memutar bola matanya jengah dalam diamnya, membuat rasa kesal Arjuna terhadap Chery semakin bertambah dan bertambah saja bahkan di setiap detiknya.


"Dasar, tak tahu terimakasih!" Arjuna kembali ke dalam.


Beberapa menit kemudian dia keluar lagi dan sudah mengganti pakaiannya, dengan pakaian kering, di tangannya ada sebuah kaos oblong dan celana olah raga miliknya yang akan dia pinjamkan pada Chery, bagaimana pun dia tak tak setega itu membiarkan seorang wanita kedingainan dalam balutan baju basah semalaman.


"Pakailah, kau tak mungkin akan bertahan semalaman dalam balutan baju yang basah kuyup, bukan?" Kali ini Arjuna tak melemparkan pakaian kering itu, dia menyodorkannya.


"Emhh,,," Chery ragu untuk menerima pakaian itu, dia sungguh tak pernah mengenakan pakaian orang lain selama hidupnya, bahkan meski pun itu baju Rey saat mereka berpacaran dulu.

__ADS_1


"Aku tak punya penyakit kulit, tak akan menularkan penyakit ke kulit mu, tapi kalau kau tak mau menerima kebaikan ku, kau boleh mengenakan pakaian basah mu, dan kau tidur di kursi katu sana!" tunjuk Arjuna ke kursi yang berada di ruang tamu.


Chery menerima baju yang di sodorkan lalu mencium untuk membauinya, membuat Arjuna tersinggung dengan tingkahnya itu.


"Hey Nona, aku memberikan mu pakaian bersih dan sudah di cuci, kau menghina ku di depan mata ku!" kesalnya.


"B-bukan begitu, aku alergi pada pewangi pakaian tertentu itu akan---"


"Terserah lah, kau mau pakai atau tidak, kau masuk angin atau apapun yang terjadi pada mu, yang penting aku sudah menunaikan tugas ku untuk menyelamatkan mu dari para bandit itu, selesai!" kesal Arjuna kembali ke kamarnya.


Tak ingin berdebat lebih jauh lagi, akhirnya Chery memutuskan untuk memakai pakaian yang di pinjamkan Arjuna padanya, lagi pula badannya kini sudah menggigil hebat dan bersin tak henti-hentinya, daya tahan tubuhnya memang tak bagus akibat kesibukannya dia tak pernah punya waktu untuk berolah raga, sehingga badannya rentan sekali terserang penyakit.


Setelah mengganti pakaian, dia kebingungan, Arjuna tak kunjung keluar dari kamarnya, dia bingung harus berbuat apa, perutnya lapar, namun dia tak tau harus makan apa, matanya juga ngantuk namun tak tau harus tidur di mana, dan lagi dia juga takut kalau mimpi yang biasa datang menghantuinya datang, dia tak punya siapa-siapa untuk di mintai tolong.


Membayangkan semua itu membuat perutnya semakin keroncongan, tak tahan dengan rasa laparnya, Chery memberanikan diri mengetuk pintu kamar Arjuna,


"Pak, Mas, Tuan!" panggilnya pelan.


Sekitar lima menit kemudian pintu kamar itu baru terbuka, wajah malas dan tak bersahabat di tunjukkan Arjuna dari balik pintu kamarnya, dia belum tidur, dia juga dengar suara ketukan pintu dan panggilan Chery, hanya saja dia terlalu malas bertatap wajah dengan wanita itu.


"Ada apa?" tanya Arjuna dingin dan sedikit ketus.


"Saya lapar, apa saya boleh meminta makanan atau minuman?" wajah Chery memelas, dia seakan berada di titik terendahnya, seorang artis papan atas yang biasa makan di restoran mewah itu bahkan kini sedang memohon belas kasihan hanya untuk makanan dan minuman demi dirinya tak kelaparan.

__ADS_1


"Carilah makanan di dapur, jangan bilang kau ingin aku melayani mu seperti asisten setengah pria mu itu?"


"Tidak, baiklah, terimakasih aku akan mencari makanan di dapur mu."


Chery pergi ke dapur dan mencari makanan di sana, di kulkas hanya ada air mineral, dan di lemari makananan hanya tersisa dua bungkus mie instan, persediaan makanan memang habis, dan Tores yang di tugaskan untuk berbelanja bahan makanan belum juga sampai ke rumah, dia mengabari Arjuna kalau jalan penghubung dari kota ke sana longsor akibat hujan yang begitu deras, bahkan jembatan utama ambruk, sehingga kendaraan tak bisa lewat, jalan alternatif lainnya lewat hutan hanya bisa di lalui dengan kendaraan roda dua, namun dalam keadaan hujan dan malam gelap seperti ini tak ada yang berani melewati jalan itu.


Chery memutuskan untuk mengambil satu botol air mineral dan meneguknya sampai tandas untuk mengisi perutnya.


Tak dapat mejamkan mata, karena perut masih minta di isi dan insomnia nya kambuh, dia tak membawa obat tidurnya, karena semua barangnya tertinggal di mobil yang kini masih berada di markas bandit itu.


Bau sesuatu yang enak dan menggugah selera membuat hidung Chery kembang kempis, tanpa sadar dia mengikuti arah bau harum makanan hangat itu.


Chery berdiri mematung di depan Arjuna yang sedang menyantap semangkuk mie instan yang masih mengepulkan asap sehingga membuat air liur Chery hampir menetes.


"Kenapa kau melihat ku seperti itu?" Arjuna menghentikan suapannya.


"A-apa aku boleh meminta makanan mu," mata Chery terus saja terkunci pada semangkuk mie yang sungguh mengugah seleranya itu.


"Bukankah aku sudah mengizinkan mu tadi?" Arjuna kembali menyuapkan sesendok mie ke mulutnya dengan cuek.


"Anu-- aku-- tidak bisa memasaknya," lirih Chery, semua kebutuhannya dari A sampai Z di siapkan oleh asistennya, dia tak pernah di ijinkan untuk mengerjakan pekerjaan apapun selain syuting, sehingga tak heran sampai se usinya yang hampir menginjak 23 tahun dirinya tak bisa melakukan hal-hal dasar seperti membuat mie instan atau sekedar mendadar telur.


"Ya Tuhan,,, manusia macam apa kau ini sekedar memasak mie instan saja kau tak becus, kau tinggal baca di balik kemasanya ada cara memasaknya, atau jangan-jangan kau juga buta huruf?" Arjuna membelalak kaget, bagaimana bisa seorang wanita tak bisa memasak hal sepele seperti mie instan, sementara Luna dulu sepertinya tak ada satu pun masakan yang tak bisa dia masak, dia ahli dalam membuat masakan, sehingga perutnya selalu di manjakan dengan makanan-makanan enak hasil masakannya.

__ADS_1


'Ah, kenapa aku harus membandingkan wanita ini dengan Luna? Jelas dia tak layak untuk di bandingkan dengan Luna ku.' Batin Arjuna protes dengan apa yang ada dalam benaknya sendiri.


__ADS_2