
"Tenanglah, aku di sini. Apa yang kau takutkan?" ujar Arjuna dengan suara yang lembut, dia bahkan sampai lupa kalau dirinya bisa berbicara lembut seperti itu. Setelah kematian Luna, rasa-rasanya dirinya telah berubah menjadi pribadi yang dingin, ketus, dan sinis.
Mendengar suara Arjuna, spontan saja Chery langsung tersadar dan segera melepaskan pelukannya, masih dengan mimik menyedihkan yang tergambar jelas di wajah cantiknya, Chery berusaha menghapus air mata dengan punggung tangannya, dia berusaha menghapus jejak-jejak kesedihan dan ketakutan yang tersisa, sungguh mimpi itu selalu menyiksanya.
"Apa kau mimpi buruk?" Arjuna memberikan sebotol air mineral, dan Chery langsung menerima lantas meneguknya banyak-banyak, rasanya tubuhnya sangat lelah, bahkan keringat dingin membasahi tubuhnya di saat udara dingin seperti ini.
Chery mengangguk setelah dia selesai menenggak minumannya, emosinya sudah kembali stabil, ini bukan yang pertama kali, mimpi buruk ini sudah berlangsung lebih dari setengah tahun lamanya, kecelakaan di malam itu sungguh membuatnya tertekan, sayangnya ingatannya di malam itu sebagian seakan hilang dan tak terekam di memori otaknya, sehingga dia tidak begitu jelas dengan kejadian malam itu.
Yang dia ingat hanya dia mencoba melarikan diri dari rumah ayah tirinya yang berusaha memeluk dan menciumnya dengan paksa lantas dia menabrak seseorang, namun saat dia tersadar di rumah sakit, Dion dan ibunya mengatakan kalau korban kecelakaan malam itu selamat dan pria itu sekarang sudah kembali ke rumahnya, untuk selanjutnya Chery hanya di minta untuk tak mengungkit lagi tentang kecelakaan itu, Chery sempat bersikeras pada Dion dan ibunya kalau korbannya seorang wanita, tapi mereka juga keukeuh mengatakan kalau korbanya seorang pria, bahkan mereka menelepon pria itu untuk meyakinkan Chery, sehingga mau tidak mau Chery harus percaya kalau korban yang dia tabrak adalah seorang pria.
Namun anehnya setelah kejadian itu dirinya sering di hantui soosok wanita yang wajahnya berlumuran darah setiap dia memejamkan mata,
Membuatnya sampai harus berkonsultasi ke psikister untuk menghilangkan hal mengerikan yang psikiater bilang adalah trauma itu, sayangnya semua seolah tak ada hasilnya, sampai sekarang dirinya masih membutuhkan obat tidur dosis tinggi hanya agar dirinya bisa beristirahat dengan baik, jika tidak, bisa di pastikan wajah wanita berdarah-darah itu muncul di mimpinya seperti sekarang ini.
"Apa yang kau mimpikan sampai kau ketakutan seperti itu?" Arjuna penasaran.
"Kepo!" jawab Chery, tak berniat memberi tahu apa yang di alaminya pada pria itu, lagi pula paling juga pria itu akan menghakiminya dengan kata-kata menyebalkan plus menyakitkan baginya, jadi untuk apa berbagi cerita dengan manusia macam dia, gak penting! Pikir Chery.
"Ishhh,,,kau sangat menyebalkan!" desis Arjuna mengepalkan tangannya menahan kesal, tapi dia masih merasa iba dengan apa yang baru saja di lihatnya.
"Kau lebih menyebalkan!" balas Chery tak mau kalah.
"Apa kita bisa berbicara layaknya manusia normal pada umumnya?" tanya Arjuna.
__ADS_1
"Hey, haloooo,,, sejak awal kau yang bersikap tidak normal dan memperlakukan ku layaknya musuh negara yang sangat berbahaya, kenapa tiba-tiba kau berbicara seolsh-olah kau manusia paling normal di sini!" sembur Chery.
Arjuna lagi-lagi tak bisa membantah apa yang di ucapkan Chery, karena itu memang kenyataannya, dia yang sejak awal membuka pembicaraan tidak baik dengan gadis itu, bahkan jauh sebelum mereka terdampar di pulau kecil ini.
"Oke, anggap saja seperti itu. Kita bisa memulainya dari awal lagi dengan sedikit lebih baik," ucap Arjuna dengan entengnya.
"Oh, shiiiit,,, semudah itu? Manusia jenis apa sebenarnya kau ini, tak bisa mengucap maaf saat merasa bersalah, dan tak bisa mengucap terima kasih saat menerima kebaikan? Apa kau manusia?" marah Chery karena Arjuna dengan entengnya mengatakan anggap saja dirinya bersalah, itu berarti dia merasa bersalah tapi mulutnya tak mau meminta maaf padanya, itu keterlaluan, pantas saja Chery sampai mengumpat se kasar itu.
"Wanita macam apa yang ucapannya sekasar mulut mu itu?" Arjuna merengut kesal, seumur-umur baru Chery yang berani berkata kasar dan bahkan membentaknya seperti itu, Luna selalu memperlakukannya dengan lembut dan memanjakannya, membuatnya selalu merasa nyaman saat bersama Luna, namun Chery hampir di setiap ucapannya terdengar kasar dan kadang menyakitkan.
"Manusia seperti mu akan ngelunjak jika terus di biarkan menindas ku tanpa perlawanan."
"Oke oke, aku--- aku minta maaf." ucapnya sangat lirih.
"Aku sudah mengatakannya, jangan memancing keributan lagi, bersikaplah selayaknya manusia normal." Arjuna enggan mengulangi perkataan maafnya.
Namun Chery tak mempermasalahkannya, sejatinya Chery bukan orang pendendam, hanya saja dia juga tak akan tinggal diam jika dirinya di tindas, namun jika dia di perlakukan dengan baik, dia akan membalasnya dengan lebih baik lagi begitupun berlaku sebaliknya.
"Ulurkan tangan mu!" ujar Chery.
"A-apa?" gugup Arjuna tak mau melakukan apa yang di perintahkan Chery.
"Perban mu basah, sepertinya terkena air tadi, sini aku ganti, agar luka mu cepat kering." Chery meraih kotak P3K dan mengeluarkan obat-obatan yang di perlukannya.
__ADS_1
Arjuna terus saja memperhatikan Chery yang dengan serius membersihkan dan mengolesilukanya dengan obat, lantas membalutnya dengan kain kasa yang baru, wanita ini tidak bertutur kata dan bersikap lemah lembut seperti saat Luna memperlakuakan dirinya, namun sikap tegas dan kadang terkesan kasar yang di tunjukkan Chery tak urung bisa membuatnya perlahan menyerah dan mengikis dinding ego yang di bangunnya sendiri.
Seperti saat ini, sebenarnya dia bisa saja mengobati dan mengganti perbannya sendiri, itu hal yang mudah baginya, tapi entah mengapa justru dia membiarkan Chery merawat lukanya dengan sukarela tanpa penolakan darinya.
"Selesai!" seloroh Chery begitu berhasil menempelkan plester terakhir di atas kain kasa yang menutupi luka gigitannya.
"Saat sampai di kota nanti, kau harus memeriksakan diri ke rumah sakit, siapa tau kau terkena rabies atau bahkan terkena virus anjing gila!" sambungnya sambil terkekeh, hanya butuh beberapa menit saja gadis itu sudah melupakan permusuhannya setelah Arjuna mengajaknya berkonsiliasi beberapa menit lalu, terlihat kalau gadis itu seakan tak menyimpan dendam sama sekali padanya.
"Apa kau lapar?" tanya Arjuna,
Chery menggeleng, "Perut ku masih kenyang dengan makanan bergizi prajurit perang tadi pagi, aku hanya ingin membuat minuman hangat, sepertinya tadi aku menemukan termos kecil di ransel mu, semoga airnya masih panas."
Beberapa menit kemudian, Chery membawa dua cangkir kecil yang berasal dari tutup termos yang juga bisa berfungsi sebagai cangkir itu.
Chery memberikan susu coklat dan seduhan kopi sachet untuknya, untungnya air di termos itu masih lumayan panas dan bisa sedikit mengurangi dingin mereka malam ini.
"Kata Tores kau tak kuat minum kopi, jadi aku buatkan susu coklat." ujar Chery, dia bahkan masih mengingat ucapan Tores tentang komandannya yang perutnya sensitif dengan kopi.
"Kau bisa menyeduh kopi dan susu? Hebat!" ledek Arjuna.
"Haish, itu hanya tinggal di beri air panas dan di aduk, tak seribet masak mie instan, by the way,,, itu mie instan pertama yang aku makan, setelah puluhan tahun, terakhir aku memakannya saat kelas 6 sekolah dasar, itu pun harus sembunyi-sembunyi agar ibu ku tidak mengetahuinya, katanya itu tidak sehat dan akan membuat badan ku cepat melar sehingga tak ada yang mau memakai ku sebagai bintang film lagi nanti!" Chery tersenyum getir saat bercerita hal itu, betapa banyak hal yang harus di korbankannya hanya demi menjadi artis dan menghasilkan uang banyak, dimana hasilnya pun sebagian besar di nikmati oleh ibunya untuk bersenang-senang dan bergaya bak sosialita.
"Aku akan membuatkan mu mie instan yang sangat enak lain waktu jika kita ada kesempatan untuk bertemu lagi, da aku tak akan memberi tahu ibu mu," kata Arjuna mencoba menghibur Chery yang mulai terlihat melow lagi, sungguh Arjuna seperti bisa merasakan kepedihan yang di rasakan Chery, karena setiap kali wajah gadis itu murung dan matanya berkaca-kaca, entah mengapa ada seperti rasa nyeri dan getaran hebat di dalam dadanya, namun dia tak bisa mengartikan perasaan apa itu, dia hanya menebak kalau itu semua hanya karena Chery yang pintas mengekpresikan perasaannya layaknnya dia sedang berlakon sehingga membuat dia terhanyut dalam peran yang dimainkan gadis itu, sungguh dia tak mau mengakui kalau dia menyimpan perasaan lain pada gadis cantik yang saat ini menjadi teman satu-satunya dirinya di tempat itu.
__ADS_1
"Terimakasih, tapi sebaiknya kita tak usah bertemu lagi di lain waktu, kau terlalu tampan, aku takut jatuh cinta pada mu, haha!" goda Cheri di akhiri tawa renyahnya, membuat Arjuna menjadi serba salah mendengar ucapan polos Chery itu.