Dendam Cinta Sang Kapten

Dendam Cinta Sang Kapten
Apa kamu menghawatirkan ku?


__ADS_3

Saat terbangun, Chery mendapati dirinya berada di ranjang rumah sakit, Sean berdiri di tepi ranjang besi itu, ketika Chery mengerjapkan matanya berkali-kali, menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam matanya.


"Dion, dimana Dion?" Chery mulai teringat kembali keberadaan Dion, dia ingat kalau tadi dokter mengatakan bahwa Dion tidak bisa di selamatkan sesaat sebelum dirinya jatuh pingsan di depan ruangan unit gawat darurat tempat Dion di tangani tadi.


"Sabar ya Chery, ini mungkin salah satu ujian yang kembali harus kamu hadapi, percayalah,,, Tuhan memberi mu cobaan sebanyak ini karena kamu orang terpilih dan di percaya mampu untuk menghadapi semuanya." Kata Sean mencoba menenangkan.


Hanya suara tangis tertahan yang dapat di dengar di ruangan itu, tidak ada raungan keras atau teriakan memilukan yang keluar dari mulut Chery, sungguh gadis itu mersa sangat lelah, dia tak punya tenaga lagi untuk protes pada Tuhan dengan apa yang terjai pada hidupnya kini, kesedihan dan kesakitan datang silih berganti merundungnya tanpa ampun, tapi Chery kem,bali sadar diri kalau manusia hanyalah bidak catur takdir, permainan hidup sepenuhnya berada di tangan Tuhan, jika Tuhan menginginkan permainan takdir yang menyakitkan untuknya, lantas dia bisa apa?


"Asisten mu sudah di bawa oleh keluarganya dan akan di makamkan siang ini juga, tapi sepertinya kamu tak bisa ke sana sekarang ini, akan sangat riskan, para wartawan pasti banyak berkumpul di sana?" ujar Sean.


"Aku harus ke sana, aku harus memberikan penghormatan terakhir pada Dion, dia orang terdekat ku selama ini." Chery turun dari ranjangnya dan bersiap untuk pergi.


"Oke aku akan menemani mu, jika itu memang mau mu." Sean tentu saja bisa mengerti dengan apa yang di rasakan oleh Chery saat ini, betapapun dia melarangnya untuk pergi karena khawatir dengan keadaannya, namun Dion adalah salah satu orang yang paling penting untuk perjalanan hidup Chery, sehingga pasti Chery ingin menemani saat-saat terakhir Dion.


Benar saja, di suasana pemakaman Dion para wartawan sudah berkumpul ramai, mereka sudah dapat memprediksi kalau Chery pasti akan hadir dalam upacara pemakaman, banyak hadir juga di sana para rekan artis yang hadir, karena Dion memang supel dan banyak berteman dengan mereka, namun saat melihat keberadaan Chery di sana, para artis yang dulu berlomba-lomba mendekati Chery demi untuk menaikan pamornya kini mereka seakan pura-pura tak mengenalinya, bahkan bebrapa di antaranya secara terang-terangan menatap Chery dengan pandangan sinis, dan seolah menertawakan kehancuran artis papan atas itu, untungnya Chery tak begitu ambil pusing dengan semua itu, dia terlalu kenyang di hadapkan dengan manusia-manusia munafik seperti mereka, jadi itu tak sedikit pun membuatnya sakit hati atau terganggu, selama mereka tak menyerangnya terlebih dahulu.


Di saat Sean sibuk menghalau para wartawan yang terus merangsek untuk mendekati dan mewawancara juga mengambil foto Chery tanpa tau waktu dan situasi, seorang pria mengeluarkan pisau lipat dan berusaha menikam Chery secara tiba-tiba, Chery yang tidak siap akan serangan itu hanya bisa diam membeku seperti terhipnotis, sementara orang-orang di sekitarnya yang menyadari akan hal itu, mereka langsung bereriak histeris sehingga membuat keadaan menjadi kacau, beruntungnya sebuah tangan kekar berhasil menarik Chery dan gadis malang yang hampir saja menjadi target sasaran pembunuhan orang tak di kenal itu menjauh dari kekacauan yang terjadi di pemakaman itu.

__ADS_1


Chery tak menyadari bagaimana cara dirinya bisa keluar dari tengah kepanikan orang yang berhamburan menyelamatkan diri dia hanya menutup matanya sepanjang perjalanan tadi, yang dia tahu, saat dia membuka matanya, kini dia berada di dalam sebuah mobil yang tidak dia kenali, itu bukan mobil Sean, Chery mulai ketakutan kalau dirinya mungkin sudah di culik oleh seseorang tak di kenal yang berniat mencelakainya, dengan perlahan Chery memberanikan diri menoleh ke arah orang yang berada di sampingnya.


"Ar-Arjuna," cicitnya, sungguh dia tak percaya dengan apa yang baru saja di lihatnya, bahkan berkali-kali dia mengucek matanya dan mencubit dirinya sendiri untuk meyakinkan dirinya kalau saat ini dirinya tidak sedang bermimpi.


"Juna, apa aku sudah mati, dan aku hanya arwah yang mengikuti mu, atau aku hanya sedang berhalusinasi melihat mu?" oceh Chery meraba bahu Arjuna, terus mencoba meyakinkan dirinya kalau pria yang berada di sebelahnya benar-benar Arjuna.


"Kau belum mati, dan kau juga tidak sedang berhalusinasi, tapi tau kah kau,kalau tindakan mu datang ke tempat ini sama saja mencari mati, apa kau benar-benar bosan hidup, huh?" teriak Arjuna marah, dia bahkan memukul setir yang berada di hadapannya untuk meluapkan amarahnya.


Sejujurnya dia bukan marah pada Chery, hanya saja dia merasa kesal dengan keadaan, rasa sakit karna kehilangan Luna belum sepenuhnya pulih, lantas mau jadi apa dirinya jika dia juga harus kehilangan orang yang di cintainya untuk ke dua kalinya.


Chery yang merasa kaget dengan reaksi marah Arjuna, alih-alih takut dia justru malah tersenyum,


"Cih, kau pikir dengan kau mati, itu akan menghidupkan kembali Luna? Atau kau sengaja ingin lari dari tanggung jawab di dunia ini dengan cara mati?" sinis Arjuna.


"Tapi kamu tak menjawab pertanyaan ku, kamu menyelamatkan ku, apa kamu menghawatirkan ku?"


"Aku seorang petugas, kebetulan aku sedang bertugas di pemakaman ini, aku akan menyelamatkan dan membantu siapapun yang harus aku bantu dan selamatkan, just it!"

__ADS_1


Dari kejauhan Sean terlihat berlari kebingungan mencari-cari keberadaan Chery yang menghilang, Arjuna langsung turun dari mobil dan menghampiri Sean.


"Dia di dalam," kata Arjuna menunjuk ke arah mobilnya.


Sean yang mengerti, kalau 'dia' yang di maksud Arjuna adalah Chery, langsung berhambur mendekati mobil dan membuka pintu mobil itu.


"Apa kamu tidak apa-apa? Kamu baik-baik saja?" Sean memeriksa keadaan Chery , meneliti tubuh gadis itu memastika kalau tak ada hal buruk yang terjadi pada kliennya itu.


Chery menggeleng, "Aku baik-baik saja."


Melihat Sean dan Chery saling berinteraksi dengan akrabnya, Arjuna merasa seperti ada belati yang menari-nari di dadanya, itu sakit.


"Terima kasih kapten, anda sudah menyelamatkannya, dan tentang tadi di rumah sakit juga, terimakasih sudah membawa Chery ke ruang rawat saat dia pingsan, andai tak ada kapten saya tidak tau bagaimana jadinya." ujar Sean.


Chery menoleh ke arah Arjuna, "Jadi yang tadi membawaku saat pingsan di rumah sakit kamu?"


"Maaf pak pengacara, sepertinya anda salah informasi, saya tidak melakukan itu." Elak Arjuna dengan wajah serba salah menyembunyikan kebohongan.

__ADS_1


"Oh, salah ya? Tadi dokter Bela mengatakan pada saya kalau anda yang membawa Chery ke ruanga rawat saat Chery pingsan." Sean menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal, karena informasi yang dia terima dari dokter jaga yaitu Bela saat itu Arjunalah yang membawa Chery.


"Aku berada di kantor sejak sidang di bubarkan tadi, maaf aku masih banyak urusan, aku permisi." Pamit Arjuna tak ingin memperpanjang lagi obrolan dengan Sean dan Chery sehingga mungkin saja bisa membuka rahasia kalau dirinya sering mengikuti Chery secara diam-diam.


__ADS_2