
Prang!
Satu lagi perabotan mahal di rumah Agung harus hancur karena amukan Ines, wanita itu mengamuk dengan membabi buta menghancurkan apa saja yang ada di hadapanya saat mendengar kalau pernikahannya dengan Arjuna tidak bisa di langsungkan dalam waktu dekat karena Arjuna harus menjalani hukuman indisipliner.
"Apa gunanya pangkat dan jabatan mu ayah, jika untuk membuat harga diri anaknya tidak jatuh saja ayah tidak mampu, bagaimana aku menghadapi teman-teman ku dan semua orang saat mereka tahu kalau pernikahan ku di batalkan?" Teriak Ines di sertai raung tangisannya.
Agung hanya bisa membisu tak dapat menjawab tuntutan yang di tujukan putri kesayangannya pada dirinya, tidak ada yang salah dengan apa yang di katakan Ines saat ini, hanya saja Ines tak pernah tau bagaimana ayahnya memperjuangkan kebahagiaan untuk putrinya, dia bahkan rela mengemis pada atasannya demi agar penahanan Arjuna di tangguhkan, tentu saja itu semua dia lakukan bukan untuk menolong Arjuna, tapi demi petrinya agar tak harus menanggung malu karena pernikahan mereka yang harus di batalkan.
"Ayah akan menemui Tuan Hasan," kata Agung, jalan terakhir yang sebetulnya tidak ingin dia ambil, sebenarnya jika Hasan mau menyatakan pada publik kalau dia telah berdamai atau bahkan baik-baik saja dengan Arjuna, hal itu akan membuat Arjuna terbebas dari hukuman, namun Hasan pasti akan meminta syarat yang sangat besar padanya, namun sepertinya sekarang ini bukan saatnya untuk tawar menawar dan takut kehilangan demi kebahagiaan putrinya, bukankah semua yang dia punya dalam hidupnya ini hanya untuk putri satu-satunya itu? Lantas untuk apa semua yang di milikinya itu jika dia harus kehilangan senyum dan kepercayaan diri putrinya.
"Aku ikut!" Seru Ines, kali ini dia tak ingin mempercayakan urusan hidup dan matinya itu hanya pada ayahnya saja, dia berpikiran untuk terjun langsung untuk menyelamatkan harga dirinya sendiri.
Agung tak berani menolak ataupun mengiyakan, saat ini Agung dalam mode pasrah dan tidak bisa berbuat apa-apa dan tak punya taring lagi di hadapan putrinya.
***
__ADS_1
"Apa maksud mu, kenapa alurnya jadi lain seperti ini? Kenapa ada acara Arjuna harus di tahan segala rupa, sih?" Protes Chery pada Tores dan Berto.
"Salah dia sendiri, bikin masalah dengan ayah tiri mu, itu rencana dadakan yang paling aman menurut ku, kekasih mu itu ceroboh sekali, harusnya lusa semua bisa terselesaikan di acara prenikahan besar di mana banyak wartawan dan para pejabat tinggi akan datang dan berkumpul di sana, namun semuanya rencana harus hancur karena ulah bodohnya." Kesal Berto.
"Lantas berapa lama dia di tahan?" Chery terlihat sangat khawatir dengan kondisi Arjuna yang sampai kini masih berada dalam tahanan.
"Tenanglah, anggap saja ini sebagai bentuk balas dendam mu karena dia pernah membuat mu masuk tahanan juga, jadi setidaknya kalian impas." Ucap Berto santai.
Mendengar ucapan Berto yang terkesan sangat santai, Chery hanya bisa memberengut kesal.
Sementara di kantor polisi, Arjuna bersama Fajar sedang mengumpulkan semua bukti untuk menjerat Hasan dan Agung secara bersamaan karena di sinyalir mereka bersama-sama menjalankan bisnis ilegal itu dengan mengandalkan kekuasaan dan jabatan mereka.
Sementara untuk Sean, sepertinya dia akan di sisihkan dulu untuk tangani terakhir setelah Hasan dan Agung, sepertinya Arjuna tak ingin menjadikan penangkapan Sean di buat sederhana dan mudah.
Ya, Arjuna tidak benar-benar mendapat hukuman dan di tahan di sana, setelah Agung pergi meninggalkan pertemuan mereka karena merasa kecewa dengn keputusan atasannya itu, Berto datang menemui Arjuna dan atasannya, ternyata semua ini merupakan sekenario para petinggi itu, Berto dan atasannya memang sudah berklaborasi sejak lama untuk membongkar kejahatan bisnis hitam Hasan yang menggurita di tanah air, termasuk mereka juga ingin melakukan 'bersih-bersih' di lingkungan kepolisian yang terlibat dengan bisnis haram Hasan seperti Agung salah satunya.
__ADS_1
Tak dapat di bayangkan jika orang-orang seperti Hasan dan Agung ini menguasai negeri dan berhasil memenangkan pemilihan, tentu saja negeri ini akan sangat kacau dengan pemmpin yang berjiwa iblis seperti Hasan dan antek-anteknya seperti Agung yang hanya mementingkan kepentingan dirinya sendiri dan juga keluarga tanpa mau peduli dengan urusan selain itu.
***
"Imbalan apa yang akan kau berikan padaku jika aku bersedia berdamai dengan calon menantu mu yang kurang ajar itu?" Tantang Hasan saat Agung baru saja selesai mengutarakan tujuan pertemuannya dengan Hasan.
"Aku berikan saham ku di pertambangan!" Ujar Agung dengan berat hati.
"Cih, setelah kau tau saham akan anjok karena kebakaran dan demo masyarakat di sana, kau berikan itu semua pada ku?" Decih Hasan.
"Investasi ku di bisnis obat-obatan mu aku berikan pada mu," Kata Agung lagi putus asa.
"Investasi mu kau bilang? Hey, uang investasi mu sudah tidak ada lagi, investasi mu yang mana yang kau maksud?" Hasan tertawa mengejek.
"Apa maksud mu, investasi ku sudah tidak ada? Aku tidak merasa pernah mengambilnya?" Agung terkejut dengan pernyataan Hasan.
__ADS_1
"Sebaiknya kau tanyakan hal itu pada putri mu." Hasan menoleh pasa Ines yang wajahnya langsung berubah pias, dan serba salah.