
Setelah menghabiskan dua batang rokok sambil menyendiri di samping kantornya yang sepi, Arjuna kini sudah lebih merasa tenang, dia sudah dapat mengendalikan dirinya sendiri, dia bahkan berniat untuk meminta maaf pada Chery, dia sadar kalau dirinya sepertinya sudah bersikap keterlaluan pada gadis itu, padahal Chery hanya ingin berbuat baik dan mungkin berusaha lebih akrab dengannya, tapi kenangannya bersama Luna seakan menjeratnya untuk tetap berada di sana dan tak merelakan dia untuk melangkah.
Arjuna kembali masuk ke ruangannya tapi tak ada Tores ataupun Chery lagi di sana, bahkan kotak makanan yang tadi katanya di buat untuk dirinya sudah tak ada lagi di atas meja kerjanya, dia masih ingat kalau dirinya meninggalkan kotak makanan yang sebetulnya membuat air liurnya ingin menetes itu di atas meja kerjanya, tadinya dia akan memakannya diam-diam, jika Tores dan Chery sudah tak berada di ruangannya, tapi sepertinya Chery benar-benar tersinggung dengan ucapannya sehingga dia membawa kembali makanan yang seharusnya di buat untuknya itu.
Arjuna berjalan lagi menuju ruangan dimana semalam Chery bercengkerama dengan para anggotanya, berharap gadis itu ada di sana, dia akan ikut bergabung dan berusaha untuk lebih mendekatkan dirinya dengan Chery, bagaimana pun, Chery sudah berusaha mati-matian untuk berbuat baik dan mengakrabkan diri padanya selama ini, dan dia selalu mengabaikannya.
Namun saat dia sampai di ruangan itu ternyata ruangan dalamkeadaan sepi, rasa penasaran menggelitik hatinya untuk mencari dimana keberadaan Chery, dia sudah membayangkan akan mengajak Chery mengobrol di ruangannya sambil meminum teh atau colkat panas di siang hari yang kebetulan sangat mendung ini.
"Tores, dimana Chery?" tanya Arjuna saat melihat Tores sedang membereskan berkas di ruang penyimpanan.
"Ah, nona Chery pulang Ndan, tadi wajahnya sangat sedih karena anda tak mau memakan makanan yang di bawanya, sepertinya dia sangat kecewa," ujar Tores dengan mimik wajah yang sengaja di buat semeyakinkan mungkin agar atasannya itu percaya dengan bualan lebay dirinya.
Chery memang terlihat kesal dengan Ajuna, tapi tak sampai sedih seperti yang di ceritakan Tores barusan, bahkan sebelum pulang Chery sempat memakan makanan jatah Arjuna karena dia bilang mubazir jika tidak ada yang memakannya, lagi pula suasana hati Chery saat ini sedang bahagia karena dia berhasil memasak hari ini.
"Pulang? Siapa yang antar? Tunggu-tunggu aku juga sampai lupa bertanya, bagaimana dia bisa datang kesini tadi, sementara kau berada di kantor seharian." Tanya Arjuna lagi.
"Nona Chery naik motor saya Ndan ke sini, dan pulang juga naik motor saya juga," Tores bersiap-siap mendapat semprotan Arjuna karena setelah ini Arjuna akan menyadari kalau ban motornya tidak benar-benar bocor.
"Jadi kalian sudah merencanakan ini semua? Dan masalah ban motor mu yang bocor itu hanya alasan agar motor bisa di pakai dia untuk ke sini? Tores, kau itu ajudan ku dan bukan ajudan dia, kenapa kau ikuti semua maunya dia?" kesal Arjuna yang langsung bergegas kembali ke ruangannya, baru saja dia ingin berbaikan dengan Chery dan memperbaiki sikapnya terhadap gadis itu agar menjadi lebih baik lagi, namun dia sudah di buat kesal karena kolaborasi Chery dan Tores yang sengaja menipunya.
Arjuna memilih untuk melanjutkan pekerjaannya dan tak berminat lagi untuk memikirkan Chery, namun itu hanya terjadi beberapa menit saja sebelukm hujan ternyata turun dengan derasnya, kepanya menoleh ke arah jendela ruang kerjanya dan menatap langit yang hitam juga hujan yang turun dengan derasnya, Arjuna langsung menyambar kunci mobil patroli yang tergantung di dinding ruang kerjanya dan menyusuri jalan satu-satunya yang mungkin di lalui Chery untuk pulang ke rumah dinas, menjalankan kendaraannya dengan sangat pelan, sambil memperhatikan sisi kiri dan kanan jalan, kalau-kalau ternyata Chery terjebak hujan dan berteduh disana, karna seharusnya Chery belum sampai ke rumah saat ini, menurut perkiraan Arjuna.
Tiiit,,,,tiiit,,,tiiiit,,,!
Arjuna membunyikan klakson mobilnya berkali-kali saat melihat sepeda motor yang di kendarai seorang gadis nekat menembus derasnya air hujan yang di tumpahkan dari langit, tentu saja arjuna tau kalau gadis nekat itu adalah Chery, dia sudah sangat hafal dengan fostur tubuh gadis cantik itu.
__ADS_1
"Berhenti!" Teriak Arjuna dari jendela mobil yang kacanya di buka setengah, namun alih-alih menghentikan laju kendaraannya, Chery justru malah semakin memutar tuas gas di tangan kanannya, sehingga kecepatan motor semakin melaju pesat.
"Chery, berhenti!" Teriak Arjuna lagi, kali ini dia memanggil namanya.
Merasa namanya di panggil, Chery yang tadinya merasa ketakutan karena mengira yang sedang mengejarnya itu adalah orang jahat atau bandit, dia menurunkan kecepatan dan menoleh ke arah mobil yang sedang mengejarnya itu.
"Arjuna, aku pikir bandit," ucapnya sambil mengusap wajahnya yang basah kuyup, dan menepikan motornya.
Arjuna juga menghentikan kendaraannya dan mengambil payung di bawah jok mobil, lantas bergegas turun.
"Bandit kau bilang? Apa kau tak lihat tulisan polisi di kap depan mobil?" kesal Arjuna.
"Ya bisa saja, mereka kan suka merampas kendaraan milik orang lain, seperti van yang saat itu aku tumpangi bersama kru," bantah Chery.
"Motor Tores?"
"Aku akan menaikannya ke bak belakang mobil, kau tunggu saja di dalam," Arjuna mulai menuntun motor milik Tores untuk di naikan ke bak belakang mobil patroli.
Namun Chery tak mengindahkan perintah Arjuna, gadis itu justru menaruh payung yang di berikan Arjuna dan membantu Arjuna yang terlihat sedikit kesusahan menaikan motor matic sendirian ke atas bak mobil.
"Ckk, kau sungguh keras kepala, aku menyuruh mu menunggu di dalam, rapi kau masih saja ngeyel." Decak Arjuna seakan kehabisan kata-kata lagi untuk berbicara dengan Chery yang dirasanya selalu membantah perintahnya, tak patuh dan menurut semua perkataannyaa seperti Luna.
Arjuna mengambil payung yang di geletakan begitu saja oleh Cheri tadi, dan memayungi Chery, dia juga merapatkan tubuhnya pada Chery berusaha melindungi tubuh gadis itu dari tetesan air hujan yang turun deras, meskipun tubuh mereka sudah sama-sama basah sejak tadi.
Sepanjang perjalanan pulang mereka hanya saling terdiam, sibuk dengan pikiran mereka sendiri-sendiri, jika Chery sibuk bertanya-tanya mengapa tiba-tiba Arjuna si pria sedingin es itu selalu bersikap seolah memusuhi dan tak peduli padanya, padahal jelas-jelas selama ini dia selalu menghawatirkannya, meski dengan caranya sendiri, pria itu selalu pintar mengelak seolah-olah itu semua bukanlah bentuk kepeduliannya.
__ADS_1
Sementara itu, Arjuna juga sedang mencari-cari jawaban dalam hatinya, mengapa dirinya selalu tak dapat mengendalikan perasaan crmas dan khawatir pada gadis di sebelahnya itu, padahal jelas-jelas gadis itu bukan siapa-siapanya, dia juga menolak untuk di katakan kallau dia menaruh hati pada Chery, 'Oh tidak, please,,, dia sama sekali bukan tipe ku, aku tak mungkin jatuh cinta padanya, jangan,,,jangan sampai,' setidaknya penyangkalan seperti itu yang di katakan oleh hatinya, tapi tidak dengan kenyataannya, karena tanpa di sadarinya kini justru dia sedang asik menatap wajah Chery yang teelihat menggemaskan dan seksi dalam keadaan basah kuyup seperti itu.
"Pak Komandan, sebaiknya anda memperhatikan jalan, jangan melihat ku terus menerus, anda bisa jatuh cinta nanti pada ku," ujar Chery saat dirinya menyadari kalau Arjuna sejak tadi menatap dirinya secara diam-diam.
"A-aku tidak sedang melihat mu, aku hanya sedang meregangkan leher ku yang agak kaku," Arjuna melemparkan pandangannya kembali ke depan, kembali menatap jalanan dengan santai setelah mengatakan itu.
Chery hanya menahan tawanya, saat melihat Arjuna yang tampak kikuk karena teetangkap basah sedang memandanginya.
Sampai di rumah, setelah Chery mengganti pakaiannya dengan pakaian kering, secangkir kopi dan secangkir coklat panas yang masih mengepulkan asap di atas meja makan menggoda dirinya, "Apakah ini untuk ku?" tanya Chery pada Arjuna yang juga baru saja keluar dari kamarnya dan menuju meja makan.
"Hem" angguk Arjuna.
"Terimakasih, untuk kopinya, dan terimakasih juga karena kamu tadi udah berbaik hati menyusul ku, jujur saja aku tadi ketakutan dan kebingungan saat pulang, kalau aku berteduh takut ada orang jahat datang, makanya aku nekat menerobos hujan, untung ada kamu," kata Chery.
"Hanya ucapan terimakasih?" Arjuna mengangkat sebelah alisnya, dia tak mengelak lagi seperti biasanya saat Chery mengatakan kalau dia datang untuk menyusulnya.
"Oh ayolah pak Komandan, saat ini aku tak punya apa-apa selain ucapan terimakasih."
"Kamu bisa membuatkan ku mie instan seperti yang tadi kamu bawa ke kantor untuk makan siang." Kata Arjuna dengan santainya.
Beberapa saat Chery hanya bisa terdiam mematung mendengar ucapan Arjuna, dia meminta di buatkan mie instan sementara tadi siang saja dia menolak untuk memakannya, dan satu lagi 'kamu' sungguh dia tak sedang salah dengar, Arjuna menyebutnya dengan kata kamu, bukan dengan sebutan 'kau' seperti biasanya.
"Cepatlah, aku lapar. Bukankah kamu ingin berterimakasih pada penolong mu ini?"
'Fix, Arjuna sepertinya demam karena efek kehujanan, makanya dia berubah aneh seperti ini,' ucap Chery dalam hatinya, sambil melemparkan pandangan aneh ke arah Arjuna dan bergegas melangkah ke arah dapur menyiapkan satu-satunya masakan yang di kuasainya, mie instan.
__ADS_1