
Penyambutan yang lumayan mendebarkan dan menguras emosi, belum saja rasa lelahnya akibat perjalanan hilang, sudah di suguhkan kejadian yang hampir menghilangkan nyawanya, sepertinya keindahan tugasnya kali ini tak akan mudah.
Sampailah mereka berdua di rumah dinas yang memang di sediakan untuk kepala polisi yang menjabat, rumah dengan berukuran setara tipe 45 itu memang tidak terlalu luas, memiliki dua kamar tidur dan bangunannya pun sederhana, mungkin untuk ukuran rumah kepala polisi di kota itu termasuk paling menyedihkan, namun Arjuna tak mempermasalahkan mengenai itu, baginya ada tempat untuknya sekedar berteduh dan beristirahat saja sudah sukur.
Rumah itu jaraknya sekitar 30 menit menuju kantor, dan 2 jam perjalanan menuju pusat kota, tak ada tetangga di dekat rumah itu, rumah lainnya berjarak sekitar 10 km dari rumah dinas yang akan di tempatinya itu, ah,,,, lengkaplah sudah, sepertinya itu memang tempat pembuangan, dan sialnya saat ini Arjuna yang sedang mendapat giliran di buang.
"Tores, apa suasana malam di sini memang se-sepi ini?" tanya Arjuna, dia begitu kaget dengan suasana malam di tempat kerja barunya ini, sepanjang perjalanan dari bandara ke rumah dinas ini seperti tak ada orang yang keluar rumah, bahkan seperti tak ada tanda-tanda kehidupan di sana.
"Tidak ada yang berani keluar rumah malam-malam Ndan, karena di sini banyak bandit yang tak akan segan merpok bahkan membunuh orang yang berkeliaran malam-malam." Terang Tores.
"Apa tidak ada anggota kita yang patroli? Bukankah sudah menjadi tugas kita menjaga keamanan warga masyarakat?" heran Arjuna.
"Emh,,, itu banyak anggota yang tidak berani, komandan kita juga akhirnya menghapus patroli malam demi keselamatan anggota, sudah banyak anggota yang tewas di tangan para bandit," beber Tores.
"Kenapa justru memberi jalan dan membiarkan mereka untuk lebih merajalela, seolah-olah mereka itu pemilik wilayah yang tak boleh ada yang mengusik, lantas untuk apa ada petugas di sini kalau tak bisa memberikan keamanan untuk warga sekitar, bukankah tugas polisi memberantas kejahatan, bukannya membiarkan dan seolah menutup mata atas kejahatan yang terjadi," gerutu Arjuna, sementara Tores hanya diam mendengarkan semua ocehan dan sikap tak setuju yang di tunjukkan Arjuna saat ini.
__ADS_1
Mungkin saking emosinya Arjuna sampai lupa, kalau tak ada faedahnya sama sekali dia mengomel pada Tores, karena dia hanya anggota berpangkat paling rendah yang tugasnya kini hanya sebagai ajudan dirinya.
"Ah sorry, mungkin aku hanya kelelahan perjalanan dan kejadian di hutan tadi membuat ku kaget, aku tak marah pada mu, hanya kesal dengan apa yang terjadi di sini, baiklah sebaiknya kita istirahat saja, besok kita masih harus apel pagi." Untungnya Arjuna buru-buru menyadari kekeliruannya, jika tak sepantasnya dia mengoceh pada ajudan barunya itu.
Rumah dinas itu terlihat lama tak di isi meski sepertinya baru di bersihkan sebelum dirinya datang, bau rumah kosong tercium jelas, dan memang ternyata para kepala polisi swbelumnya tak ada yang tinggal di rumah dinas itu, mereka memilih menyewa rumah di kota dan datangnke kantor sesekali saja jika di perlukan, pantas saja kejahatan di sana merajalela, pimpinan kantor polisi yang seharusnya memberi contoh yang baik bagi para anggotanya itu saja tak bisa di andalkan, pikir Arjuna.
**
Hari pertama Arjuna bekerja sebagai pimpinan di kantor kecil itu setelah serah terima jabatan, dia langsung membentuk beberapa kelompok untuk melakukan patroli malam dengan dia sebagai pemimpin patroli setiap malamnya, dia tau kalau anggotanya pasti tak akan menolak jika dirinya ikut turun ke lapangan, begitulah Arjuna, dia bukan pemimpin yang hanya memerintah tanpa dirinya ikut bergerak.
"Maaf Ndan, bukannya mau menolak tugas, namun kami masih menyayangi nyawa kami, kami tak ingin mati konyol di tangan para bandit mennyeramkan itu." Ujar salah satu anggota senior yang bisa di bilang usianya jauh lebih tua dari Arjuna, mungkin hanya tinggal beberapa tahun lagi akan purna tugas.
"Anda berbicara seperti bukan petugas saja, apa karena anda sudah sepuh sehingga mulai lupa sumpah kita sebagai anggota yang menjunjung tinggi kebenaran, keadilan, kemanusiaan dalam menegakkan hukum, tak boleh ada tempat untuk para penjahat di mana pun kecuali sel tahanan." Tegas Arjuna.
Kecewa? Tentu saja, itu yang sedang di rasakan Arjuna saat ini, karena merasa para anggotanya seakan tak punya semangat juang, atau karena terbiasa dengan kepemimpinan yang membiarkan kejahatan itu terjadi.
__ADS_1
"Ndan, kami punya anak istri yang masih membutuhkan ayahnya, membutuhkan suaminya, mungkin anda tak akan mengerti perasaan kami karena anda belum---"
"Karena aku belum menikah? Selemah itu kah keluarga kalian? Seharusnya sedari awal istri mu sudah tau resiko menjadi istri anggota, jika yang kalian takutkan adalah kematian, tak perlu patroli melawan para bandit, jika kematian itu memang sudah tertulis untuk kita dan kontrak kita dengan Tuhan sudah selesai di dunia ini, kalian sedang duduk bersantai dengan keluarga saja kematian itu akan datang, tak perlu takut, karena garis hidup dan nasib kita sudah tertulis jelas sebelum kita lahir ke dunia ini, kematian itu pasti datang pada setiap mahluk yang bernyawa."
Anggota yang tadi memprotes kebijakan akan tugas yang di berikan Arjuna pada anggotanya itu terdiam, entah karena mengerti dengan apa yang di ucapkan Arjuna, atau justru malah hatinya semakin dongkol namun tak bisa berbuat apa-apa karena yang di hadapinya adalah atasannya sendiri.
"Bagi kita sebagai anggota yang sudah di sumpah untuk mengabdi pada negara dan masyarakat, dunia ini seperti medan perang, dimana selama nyawa masih bersama raga, maka hidup kita hanya tentang bertarung melawan kejahatan demi penegakan hukum dan keadilan, yang kita butuhkan hanya kemampuan, kekuatan, dan keberanian. Ingat kembali, apa tujuan kalian menjadi anggota!" sambung Arjuna mengakhiri pembicaraannya dengan para anggotanya yang kini hanya bisa terdiam semuanya.
Arjuna melangkah meninggalkan aula menuju ke ruang kerjanya, langkahnya tegas dengan aura kepemimpinan yang menguar dari dirinya membuat semua orang yang berada di sana tidak berani bahkan hanya untuk sekedar menatapnya.
"Maaf izin Ndan, apa anda yakin dengan keputusan anda untuk ikut patroli?" Tanya Tores.
Sejujurnya Tores sangat kagum pada atasannya itu saat tadi mendengarkan Arjuna memberikan kata-kata yang tak hanya memberi para anggota di sana semangat, namun setidaknya sudah berhasil menumbuhkan kembali kepercayaan diri pada diri mereka dan mengingatkan kembali apa tugas mereka yang sebenarnya sebagai anggota, bukan hanya bermain kartu atau mengobrol santai di kantor tanpa mengerjakan pekerjaan apapun.
Tores tak ingin kehilangan pemimpin seperti Arjuna yang berhasil membuatnya kagum dan langsung menjadikannya panutan, dia tak ingin semangat Arjuna yang berkobar-kobar justru akan membawa petaka bahkan celaka untuk atasannya itu.
__ADS_1