
"Ayo, jangan sampai kita kemalaman di jalan," ajak Arjuna, padahal ini baru pukul setengah tujuh malam, tapi dia sangat bersemangat pergi ke acara pesta adat itu.
"Baju ku gak salah kostum kan? Gak ada baju lain soaalnya untuk acara resmi, hanya ada ini paking mending."
Arjuna hampir saja tersedak saat dirinya sedang minum dan melihat Chery keluar dari kamar dengan mengenakan midi dress warna perak simple namun elegan, meski tanpa polesan make up karena semua alat kecantikannya tidak ada, rambut yang di gulung ke atas seadanya, membuat gadis itu terlihat bersinar, sehingga membuat Arjuna sedikit terpaku memandangnya.
"Ah, itu--- tidak, udah oke kok," jawabnya menyembunyikan gugup, hampir saja dia akan keceplosan mengatakan kalau penampilan Chery malam ini sangat sempurna dan cantik.
Hanya memerlukan perjalanan sekitar empat puluh menit menggunakan motor, mereka kini sudah sampai di tempat acara, tepatnya di kediamn pemangku adat, Tores tak mengatakan secara terperinci mengenai pesta adat apa yang saat ini di gelar, hanya saja malam ini suasana kediaman pemangku adat ramai dengan pasangan muda dan tua.
Ini kali ke dua Arjuna datang ke tempat itu, sebelumnya dia sempat soan ke sana saat dia baru saja datang dan bertugas di sana, sudah menjadi adat jika orang baru atau pejabat baru akan datang memperkenalkan diri dan meminta izin pada pemangku adat setempat agar pekerjaannya yang pasti akan berhubungan dengan orang banyak akan lebih bersinergi dan masyarakat akan lebih mudah menerimanya jika hubungannya dengan ketua adat setempat terjalin dengan baik.
Begitu mereka berdua turun dari motor dan melangkah memasuki gapura yang di hias dengan bunga dan dedaunan beraneka rupa, sepasang pria dan wanita setengah baya menghampiri dan menyambut kedatangan mereka dengan ramah, jika si wanita tua itu langsung mengalungkan untaian bunga ke leher Arjuna dan Chery seperti ucapan atau sambutan selamat datang, lain halnya dengan si pria tua yang kini sibuk mengasapi tubuh Arjuna dan Chery yang hanya bisa diam dan pasrah karena menghormati adat mereka, bau asap dupa yang di bakar langsung menyeruak menembus penciuman saat pria itu memutari tubuh keduanya sambil komat-kamit membacakan mantra yang tak jelas rapalannya.
Setelah di rasa cukup, mereka di persilahkan untuk masuk melewati gapura, Chery menatap bingung ke arah Arjuna yang sama bingungnya namun berusaha untuk tetap cool.
"Aku tau apa yang kamu pikirkan dan apa yang ingin kamu tanyakan pada ku, jawabannya,,, aku juga sama tidak tahunya dengan mu, lebih baik kita ikuti saja rangkaian acaranya sebagai bentuk penghormatan pada pemangku adat yang sudah mengundang kita." Bisik Arjuna seperti bisa menebak apa yang ingin Chery tanyakan padanya.
"Hemh, benar juga, anggap saja ini wisata adat, tak masalah, ini seru dan unik." Mata Chery berbinar, dia cukup menikmati upacara adat yang berlangsung, bukankah kita harus saling menghormati adat dan budaya orang lain, lagi pula jarang-jarang dia mendapatkan moment berharga sepeti ini, andai dia membawa kameranya, dia akan banyak mengambil foto dan mengunggahnya di laman sosial media miliknya, tempat itu sungguh indah.
__ADS_1
Saat ini Arjuna dan Chery sedang mengantri di antara pasangan-pasangan lainnya yang hendak masuk ke sebuah tempat seperti ruangan out door yang di hias dengan berbagai bunga kering, jerami yang di gantung, dan obor di sekelilingnya, entah tempat apa itu mereka berdua hanya mengikuti saja dimana orang pada mengantri untuk masuk ke sana, mereka hanya berpikir mungkin disana akan menemukan tempat yang lebih menarik.
Ketika tiba giliran mereka untuk masuk ke tempat itu, lagi lagi pasangan pria dan wanita mencegat langkah mereka, kali ini pasangan itu terlihat jauh lebih berumur dari yang tadi mencegat mereka di gapura, pria yang memakai pakaian adat lengkap dan rambutnya sudah memutih semua dengan kulit yang sudah terlihat mengendur dan keriput di mana-mana itu ternyata di kenali Arjuna sebagai ketua adat yang pernah di temuinya beberapa waktu lalu.
"Salam, Datuk!" sapa Arjuna mengatupkan kedua tangannya di dada sebagai salam hormat yang biasa orang-orang di sana lakukan saat bertemu pria tua yang di panggil dengan sebutan Datuk itu.
"Ah, rupanya anda pak kepala polisi, ini---" pria itua itu menoleh ke arah Chery.
"Ini rekan saya Datuk," jawab Arjuna.
"Salam, nama saya Chery," Chery memperkenalkan diri dan mengatupkan tangan di dada, persis seperti yang di lakukan Arjuna tadi.
Tangan kanan Arjuna dan Chery kini dalam genggaman pria tua yang yang langsung memejamkan matanya lantas komat-kamit merapalkan mantra, sesekali alisnya bertaut dan keningnya berkerut.
Pria tua itu membuka matanya dan menghela nafas sangat panjang juga berat, seperti sedang kekelahan atau semacam itu, Tangan Arjuna dan Chery masih dalam genggamannya, mata nya bergantian menatap wajah kedua orang muda di hadapannya yang terlihat pasrah dan bingung.
Tatapan pria tua itu kini terkunci pada mata Arjuna, menatapnya dengan sangat dalam.
"Banyak orang terjebak dengan dalam memory masa lalu, sehingga mengabaikan masa depan, kehilangan mu di masa lalu akan membuat mu kehilangan jati diri mu di masa depan, jika kau tak punya hati seluas samudera untuk memaafkan, terutama memaafkan diri mu sendiri, kau harus lebih percaya takdir, jangan sampai ego mu menguasai jiwa, sehingga kehilangan seseorang di masa lalu membuat diri mu lupa bahwa kau telah kehilangan jati diri mu sendiri." Ucap pria itu dengan lugas, ada sorot mata yang tak mampu Arjuna lawan dari pria tua itu meskipun hatinya ingin melawannya.
__ADS_1
Sungguh Arjuna ingin mengatakan bahwa tak ada seorang pun yang lebih tau tentang dirinya, tentang apa yang di rasakannya, tentang sakit dan kehilangannya selain dirinya sendiri, bahkan jika itu adalah pemangku adat yang sepertinya bisa menerawang sekilas tentang hidupnya, tapi Arjuna tak bisa mengatakan itu semua, semua hanya tertahan di dadanya, seperti ada batu besar yang menahan agar kata-kata itu tak keluar dari bibirnya, sehingga dia hanya bisa diam tanpa ekspresi apapun mendengar petuah sang ketua adat yang menurutnya sok tahu itu.
"Dan untuk kalian berdua, dengarkan dan ingatlah pesan ku ini selalu, abaikan rasa sakitnya, atau kalian tak akan pernah bahagia, karena kalian adalah kebahagiaan yang sempurna." pria itu melepaskan genggaman kedua tangan pasangan itu setelah dia menyelesaikan kalimat terakhirnya.
Belum habis kebingungan yang di alami Arjuna dan Chery, kini giliran wanita tua yang sejak tadi berdiri di samping ketua adat dan memegang nampan itu mendekati mereka berdua, menyodorkan nampan ke hadapan mereka, nampan yang berisi seperti persembahan, ada bunga, buah dan berbagai bumbu dapur dan sebagainya.
Arjuna dan Chery kemudian di minta untuk memakan buah yang baru pernah mereka lihat bentunya di seumur hidupnya, buah berwarna merah sebesar anggur itu sudah di bubuhi garam dan gula sebelumnya, merasa sudah terlanjur mengikuti prosesi sejauh itu, mereka lagi-lagi hanya bisa pasrah mengikuti permintaan aneh itu, buah itu rasanya campur aduk, asam, pahit, manis dan asin menjadi satu membuat Arjuna dan Chery bergidik saat memakannya, namun mereka tetap menelan semuanya sebagai bentuk penghormatan, akan tidak sopan dan sangat menyinggung jika mereka memuntahkannya.
Wanita tua itu tersenyum lega, tak seperti pria tua tadi yang terkesan tegas, wanita tua ini justru sangat ramah sinar matanya memancarkan keteduhan dan kehangatan saat memandangi kedua orang di hadapannya, sehingga hati Arjuna yang tadi sempat kesal karena ucapan pemangku adat, tiba-tiba melupakannya, berganti dengan perasaan nyaman dan tenang, sorot mata keibuan dan penuh kasih itu sepeti mampu melembutkan hati sekeras baja sekali pun.
"Kini kalian sudah terikat secara adat, rangkaian upacara terakhir yang kalian lakukan bermakna kalau di kehidupan selanjutnya pasangan yang terikat secara adat di harapkan akan mampu melalui hubungan baik dalam pahit, asam, asin dan manisnya kehidupan, kalian sungguh pasangan yang di berkati leluhur dan dewa." Ucap wanita itu dengan senyum hangatnya.
"What,,,!?" Arjuna dan Chery saling melempar pandangan keterkejutannya, sungguh mereka tak percaya dengan serangkaian kata yang baru saja mereka dengaar dari mulut wanita tua itu, apa maksudnya mereka terikat secara adat?
"Maaf bu, nyonya, ah-- sebenarnya ini upacara apa?" tanya Arjuna penasaran.
"Yang baru saja kalian ikuti adalah prosesi upacara pengikatan pasangan kekasih secara adat, setiap pasangan yang mengikuti prosesi acara ini, batin mereka akan terikat kuat, tapi tanpa prosesi ini pun, batin kalian sebenarnya sudah menyatu." Jawab wanita itu seraya pamit meninggalkan Arjuna dan Chery yang ternganga kaget dengan jawaban yang di dengarnya.
"TORES!!!" geram Arjuna kesal karena merasa di jebak oleh ajudannya itu.
__ADS_1