Dendam Cinta Sang Kapten

Dendam Cinta Sang Kapten
Benang Kusut


__ADS_3

"Kak, aku perhatikan sepertinya mobil double cabin putih itu mengikuti kita dari semenjak kita berangkat, apa aku parno ya?" ujar Fajar sambil sesekali memperhatikan spion melihat ke arah mobil double cabin yang berada jauh di belakangnya namun masih terlihat di spionnya dan Fajar merasa kalau mobil itu mengikuti mereka sejak dari ibukota.


Arjuna menoleh ke belakang, dia teringat sesuatu, saat dirinya ke kios pak tua bersama Sigit sepertinya dia melihat mobil itu di antara kerumunan banyak warga yang melihat kejadian bunuh diri Parman, lantas saat dirinya ke rumah sakit untuk menemui Bela ke dua kalinya juga sepertinya dia melihat mobil itu di parkiran rumah sakit tak jauh dari mobilnya, tadinya dia tak begitu memperhatikan hanya melihat sepintas lalu, lagi pula bukan kah tempat-tempat yang dia kunjungi adalah tempat umum jadi semua itu di rasanya sangat wajar.


Namun setetelah mendengar ucapan ajudannya barusan sepertinya dia pun mulai menyimpan kecurigaan yang sama pada mobil berwarna putih itu.


"Ah, sial!" gumam Arjuna lirih.


"Kenapa kak?" Fajar menoleh ke arah atasannya yang duduk tepat di sampingnya.


"Sepertinya aku mulai kehilangan fokus ku, untung kau memberitahu ku, sepertinya mobil itu memang sudah lama mengikuti ku, ganti acara, cari hotel terdekat, kita menginap dulu malam ini." Titah Arjuna tiba-tiba mengganti rencana sebelumnya.


Hal ini bukan hal baru bagi Fajar, atasannya itu di kenal dengan seribu cara, selalu ada plan A dan plan B saat melaksanakan suatu misi, jadi semua tak akan terpatok pada satu rencana, semua dapat berubah sewaktu-waktu.


Akhirnya beberapa ratus meter dari sana mereka menemukan sebuah hotel yang memang tak terlalu mewah, namun sepertinya lumayan nyaman, jarak menuju ke kampung halaman pak Parman masih sekitar kurang lebih dua jam perjalanan menggunakan mobil, jadi Arjuna memutuskan untuk berhenti dulu di sana.


"Kak, mobil itu ada di parkiran juga," ujar Fajar sambil matanya terus menuju ke arah luar jendela, Arjuna sengaja meminta kamar yang menghadap ke arah parkiran, sehingga dia bisa mengamati apa saja yang terjadi di luar hotel yang tak terlalu besar itu, dari jendela kamar yang di sewanya bisa melihat parkiran hoter yang tidak terlalu luas itu.


"Berapa orang?"


"Yang turun dan masuk ke dalam dua orang dan yang di mobil satu orang." Teranmg Fajar.


"Sudah kau cek plat mobilnya?"


"Tidak terdaftar, sepertinya palsu." Jawab Fajar sambil mengotak atik ponsel pintar di tangannya, ajudan Arjuna yang satu ini memang selain jeli dalam menangani kasus, dia juga sangat lihai dengan apapun yang berurusan dengan IT, sehingga Arjuna sangat senang dan puas dengan kinerja Fajar yang selalu bisa membantu pekerjaannya.


"Aku akan melanjutkan perjalanan sendirian, kau tetap tinggal di sini untuk mengecoh mereka, setelah urusan ku selesai, aku akan kembali ke sini dan pulang kembali bersama mu, kabari aku setiap pergerakan yang terjadi di sini." Arjuna menggendong ransel kecilnya untuk di bawa pergi.


"Naik apa kak?"


"Aku sudah menghubungi salah satu anggota polsek kenalan ku, dia akan menjemputku di ujung jalan, dia akan meminjamkan motor patrolinya."

__ADS_1


"Oke kak, hati-hati."


Fajar sungguh tau porsi dan posisinya, dia percaya sepenuhnya dengan Arjuna kalau dia bisa menjalankan rencananya, karena tugas dia di hotel itu pun sangat penting, dia harus bisa mengendalikan keadaan di hotel dan memastikan kalau para penumpang mobil putih itu tidak menyadari dengan kepergian Arjuna dari sana.


"Besok sore aku akan kembali ke sini," pamit Arjuna setelah mengganti pakaian dengan celana jins dan jaket kulit hitam, tentu saja tak lupa topi dan masker rapat untuk mengelabui orang yang mungkin saja sedang mengintainya saat ini.


Semua berjalan sesuai rencana, Arjuna dapat keluar dari hotel malam itu melalui pintu samping hotel tanpa ada seorang pun yang curiga, petugas yang di hubungi Arjuna pun dengan suka rela meminjamkan motor patrolinya tanpa banyak bertanya apapun, dia tak ingin di cap lancang karena banyak bertanya urusan seorang perwira tinggi seperti Arjuna, sebagai anggota yangbiasa-biasa saja dia sudah cukup senang dan bangga bisa membantu Arjuna.


Perjalanan menuju kampung halaman Parman ternyata hanya di tempuh satu setengah jam perjalanan saja dengan menggunakan sepeda motor, berbekalkan aplikasi pencari dan petunjuk tujuan di ponselnya dia akhirnya bisa sampai di desa yang terbilang jauh dari pusat kota itu.


Aplikasi penunjuk arah itu berhenti di depan sebuah rumah lumayan besar, meski tak mewah, tapi halaman rumah itu sangat luas, bangunanya juga terbilang kokoh dan layak, ada sebuah mobil pick up dan dua unit motor matic juga terparkir di halaman rumah itu.


Arjuna sempat tertegun sebentar melihat rumah itu, bukan maksud untuk mengecilkan, hanya saja kalau benar itu rumah Parman, bukannya dia terlilit hutang dan kesulitan ekonomi sehingga memutuskan untuk mengakhiri hidupnya? Belum lagi rumah tinggal mereka di ibu kota juga bisa dikatakan sangat sederhana bahkan tidak layak.


"Cari siapa pak polisi?" Tanya seorang ibu muda yang sepertinya hendak ke ladang karena membawa perlengkapan alat pertanian di tangannya pagi itu, dia tergelitik untuk bertanya pada sosok asing yang menaiki motor patroli namun terlihat seperti kebingungan itu, begitulah orang desa, mereka selalu ramah pada siapapun.


"Maaf, apa itu benar rumahnya pak Parman?" Arjuna menunjuk ke arah rumah berhalaman luas itu.


"Kecelakaan?" beo Arjuna memastikan kalau dirinya tak salah dengar.


"Iya, kata bu Marni beliau meninggal karena tertabrak, bahkan jasadnya saja di kuburkan di kota tidak di bawa ke sini."


"Oo, saya malah belum tau tentang kecelakaan pak Parman, terima kasih atas informasinya bu, dan itu kendaraan yang biasa di pakai pak Parman, kan?" pancing Arjuna.


"Ah iya, itu kendaraannya pak Parman, di pakai kalau sedang pulang kampung, ada satu buah truk juga untuk mengangkut hasil panen ke kota." Terangnya lagi. "Biasanya dua minggu sekali pak Parman pulang untuk mengecek sawah dan kebunnya, lalu bagi-bagi sembako pada warga, apalagi setelah pandemi begini bantuannya sangat berarti bagi kami, kini warga bakal merasa kehilangan," ujarnya.


Tak selang berapa lama dari itu, seorang pria yang Arjuna masih ingat adalah si tukang parkir muda yang memberinya catatan kecil di gulung uang itu keluar dari rumah yang di tengarai sebagai rumah milik Parman itu.


"Itu---?"


"Oh, itu calon mantu pak Pak parman, tunangannya Ira anak sulung pak Parman, namanya Rendi, dia juga biasa menyupiri truk pak Parman, anak kampung sebelah."

__ADS_1


"Baik bu trimakasih, saya permisi."


Tanpa membuang waktu lagi Arjuna langsung memaukan motornya ke halaman rumah itu menghampiri Rendi.


Melihat ada orang asing masuk dan menghampirinya pria muda itu berniat untuk kembali ke dalam rumah, namun Arjuna langsung memanggilnya.


"Rendi, kita harus bicara!" ujar Arjuna menghentikan langkah pemuda itu.


"Masukan motor anda ke dalam garasi!" ujar pria itu menunjuk sebuah ruangan di samping rumah luas itu, mata pria itu terus bergerak ke sana kemari memperhatikan sekeliling, seperti takut kalau ada yang mengintainya.


"Kenapa kau memberi pesan tulisan itu?"


"Karena hati sayamengatakan kalau anda polisi yang jujur." Jawabnya.


Mereka kini berbicara di samping rumah, di atas sebuah kursi kayu panjang.


"Dari mana kau tau aku seorang polisi?" Arjuna mengernyit.


"Dari stiker di mobil anda, tadinya saya hanya menebak-nebak saja, tapi ternyata memang benar, buktinya sekarang anda ke sini dengan motor patroli polisi." Jawabnya lagi meski agak terdengar konyol.


"Apa yang terjadi denga pak Parman?"


"Calon mertua saya di bunuh, istri dan anak-anaknya juga di ancam untuk tak berbicara pada siapapun, kami bahkan tak di perbolehkan untuk kembali ke kota."


"Siapa yang melakukannya dan kenapa?"


"Saya tak tau pasti siapa yang membunuh, hanya saja pak Parman tak mungkin bunuh diri, saya melihat ada beberapa orang tinggi besar beramput cepak keluar dari kios dan berteriak meminta tolong mengatakan kalau pak Parman bunuh diri." Urainya dengan mata berkaca-kaca.


"Lantas siapa yang mengancam kalian?"


"Beberapa orang preman langsung mendatangi rumah ibu, dan mengancamnya, saat saya masuk dan mengatakan akan melaporkan mereka pada polisi, mereka hanya menertawakan saya dan berkata kalau polisi pun tak akan bisa berbuat apa-apa, benar saja saat saya melapor ke polsek terdekat mereka menolak laporan saya dengan alasan saya mengada-ada dantak ada saksi, padahal banyak yang menyaksikan mereka mengancam ibu di rumah, namun mereka seolah menutup mata dan telinga."

__ADS_1


"Oke, untuk sementara tinggal saja dulu di sini sampai semuanya aman, jangan berbuat gegabah dan ikuti saja dulu maunya mereka, demi keselamatan kalian semua, masalah ini biar aku pelajari dan aku selidiki, aku minta nomor mu dan tolong untuk tak membicarakan hal ini pada seiapapun, termasuk pertemuan kita sekarang ini." Hanya itu yang bisa Arjuna katakan pada pria muda bernama Rendi itu, setidaknya dia sudah bisa sedikit mengurai masalah yang bak benang kusut ini.


__ADS_2