
Arjuna berlari di lorong rumah sakit, pihak rumah sakit tadi mengabari kalau Bundanya dalam keadaan kritis saat ini.
Wanita tua pengurus panti yang sudah di anggap sebagai ibunya dan sering di panggilnya dengan sebutan bunda itu tergolek lemah tak berdaya, ruangan itu terasa sunyi, hanya terdengar sesekali suara mesin elektrokardiograf yang mengukur dan merekam aktivitas jantung pasien.
"Bunda mu terus memanggil nama Luna dan juga nama mu sejak tadi, sampai akhirnya beliau kelelahan, foto kalian bahkan masih di genggamnya dengan erat." Ujar dokter Bela, menunjuk tangan kanan Bunda Ami yang menggenggam selembar foto.
Perih rasanya melihat orang yang selama ini sudah di anggapnya sebagai ibu itu tersiksa karena kehilangan, sejak kematian Luna, kesehatan wanita tua itu memang sering kali drop, selain karena pikiran, mungkin itu semua juga karena faktor usia yang memang sudah sepuh.
"Bun, Juna di sini.Bunda sembuh ya, Juna gak pergi lagi, Juna udah berpindah tugas di dekat Bunda lagi." Bisik Arjuna, seraya membelai punggung tangan keriput ibunya.
Mendengar suara Arjuna, anak kesayangan yang paling di banggakannya, mata wanita tua itu perlahan terbuka, senyumnya merekah saat pandangannya tertumpu pada wajah tampan anak asuhnya yang kini sudah sukses menjadi perwira yang gagah.
"Luna--" bisik perempuan tua itu lirih, bahkan suaranya nyaris tak terdengar.
"Bunda jangan terus memikirkan Luna, dia sudah bahagia di surga. Bunda harus sehat, nanti kita ziarah ke tempat Luna sama-sama." Ujar Arjuna, dengan berurai air mata.
Mata wanita tua itu terpejam kembali setelah mendengar perkataan Arjuna barusan.
"Bela, apa yang terjadi dengan ibu ku?" panik Arjuna.
Dokter Bela langsung sigap dan memeriksa keadaan Bunda Ami.
"Beliau hanya tertidur, biarkan ibu mu istirahat." Kata bela setelah memeriksa dengan seksama keadaan pasiennya.
Hati Arjuna semakin berkecamuk, apalagi saat mendengar kata terakhir ibunya tadi, dia hanya menyebut nama Luna, sepertinya kepergian Luna yang tiba-tiba itu benar-benar menjadi pukulan berat bagi tubuh renta Ami.
Kemarahan pada diri Arjuna pada Chery sontak saja mencapai puncaknya saat ini, pria itu segera kembali ke kantor dengan membawa sejuta kemarahan di dadanya untuk Chery yang dia anggap sebagai penyebab semua rentetan kejadian menyakitkan ini.
"Fajar, berikan pada ku semua berkas bukti tentang kasus kecelakaan Luna, aku akan menindaknya sekarang juga, aku tak rela pembunuh itu tertawa dan bersikap sombong, sementara ibu ku terluka dan menangis karena kehilangan putri kesayangannya." Titah Arjuna saat dia baru saja sampai di kantor.
"Berkas Chery Arleta? A-anda akan membuka kasusnya?" gagap Fajar, bukan apa-apa, dia hanya menghawatirkan keselamatan atasannya itu, secara yang akan dia lawan adalah Hasan Basri, salah satu pejabat tinggi yang licik dan kuat di negeri ini.
__ADS_1
"Tapi Ndan,"
"Tenang saja, tak akan ada yang mencurigai kita, kita hanya akan bermain di balik layar, seperti halnya para tirani licik itu." Arjuna menatap kosong ke arah jendela ruang kerjanya, kemarahan membuatnya buta mata dan hati.
"Ndan, apa anda yakin?" tanya Fajar lagi terlihat sedikit khawatir.
"Apa kau mulai takut memenuhi janji mu, untuk memborgol dan mengantarkan artis idola mu ke balik jeruji besi dengan tangan mu sendiri jika wanita itu terbukti bersalah, bukankah semua bukti telah kau temukan sendiri?" picing Arjuna membuat Fajar terlihat grogi karenanya.
Keesokan harinya,
Chery turun dari apartemennya untuk menuju parkiran yang berada di basement gedung, untuk berangkat syuting seperti biasa. Namun baru saja dirinya keluar dari lift, puluhan wartawan langsung menyerbunya, sepertinya mereka sudah menantikan kedatangannya sejak tadi, namun keamanan gedung apartemen Chery memang terkenal ketat, sehingga mereka tidak bisa maduk ke dalam.
Chery yang merasa tidak sedang dalam skandal atau masalah apapun dia hanya berusaha intuk terlihat tenang, terlebih dia juga tidak merasa berbuat kesalahan apapun.
"Chery, apa benar anda menabrak seseorang sepuluh bulan yang lalu?"
"Katanya anda dalam pengaruh obat terlarang saat itu, anda berkendara dalam keadan mabuk?"
"Apa anda tahu, wanita yang menjadi korban anda meninggal meninggal dunia?"
Semua pewarta berebut mengajukan pertanyaan yang bahkan Chery sendiri tak tau, dari mana dan bagaimana bisa para wartawan itu sampai tahu kecelakaan yang sudah lama terjadi dan sudah dia selesaikan secara kekeluargaan dengan korbannya itu.
"Emhh, kejadian itu sudah lama berlalu, dan sudah di selesaikan secara kekeluargaan, korbannya juga selamat tidak meninggal dunia seperti yang di tuduhkan, satu lagi, korban yang saya tabrak seorang laki-laki, bukan perempuan."Chery berusaha menerangkan apa yang terjadi untuk membela dirinya sendiri.
"Chery, anda yakin tidak berbohong? Jelas-jelas di video itu korban seorang perempuan." Potong beberapa wartawan yang tidak puas dengan jawaban Chery.
"Video? Video apa yang kalian bicarakan?" Chery bahkan belum melihat ponselnya sejak semalam, jadi dia belum tahu apa yang terjadi.
Saat dia mengeluarkan ponselnya, puluhan pesan dan panggilan tak terjawab muncul di layarnya, bahkan puluhan ribu notifikasi akun sosial medianya juga langsung muncul, Chery membuka pesan berisi video dari Dion, video berisi rekaman kecelakaan yang terjadi malam itu, dan kepingan puzle yang selama ini menghilang dari ingatannya kembali menyatu, dia langsung mengingat secara keseluruhan kejadian malam itu setelah melihat video itu sampai habis.
Wajah Chery memucat, ternyata wanita yang sering datang di setiap malamnya itu adalah wajah korban yang terekam jelas di ingatannya dan menempel di memorinya tak mau pergi, bayangan itu muncul karena dirinya telah membunuhnya.
__ADS_1
Belum habis rasa keterkejutannya, dua unit mobil polisi datang dan delapan orang polisi membubarkan kerumunan wartawan, termasuk Fajar dan Arjuna yang memimpin secara langsung kedatangan para anggotanya.
"Selamat pagi nona Chery Arleta, saya Arjuna Bimantara dari kesatuan pusat ingin menyampaikan surat penahanan anda atas tuduhan tabrak lari yang menyebabkan korban meninggal dunia dan juga percobaan penipuan hukum dengan menggantikan posisi anda sebagai terdakwa dan mengalihkannya pada orang lain," Arjuna berdiri di hadapan Chery sambil membawa beberapa lembar kertas, tatapannya terlihat asing, tak seperti tatapan Arjuna yang dia lihat saat di pulau yang penuh cinta, kali ini tatapannya sangat dingin dan seolah mereka tak pernah saling mengenal.
Chery terdiam kaku, dia bahkan tak punya kata apapun untuk membela dirinya sendiri, Arjuna yang dulu biasanya menjadi orang pertama dan paling terdepan untuk menyelamatkannya dari bahaya bahkan kematian justru kini seakan sengaja menenggelamkannya di lautan tanpa pelampung, Chery sendirian, kesepian, dan seperti berada di ambang kematian.
"Fajar, bawa dia!" merasa tak mendapat respon apapun dari Chery, akhirnya Arjuna memerintahkan Fajar untuk memborgol dan membawa aris idolanya sesuai dengn janjinya.
Kilatan lampu blitz kamera menghujani detik demi detik penangkapan artis terkenal papan atas itu, ini akan menjadi berita terpanas dan menjadi ladang uang untuk para wartawan, namun sebaliknya ini adalah titik hancurnya seorang Chery Arleta, dimana karier yang dia bangun dengan darah dan keringat selama puluhan tahun harus hancur dan berakhir hari itu.
Tak ada perlawanan sedikit pun dari Chery, dia merasa hancur dalam segala hal saat ini, orang yang sangat di cintainya menjadi pemimpin dalam penangkapan dirinya, belum lagi dia sempat membaca pesan dari sang ibu yang berisi 'Jangan libatkan aku dan ayah tiri mu dalam kasus mu, Hasan sedang maju di pencalonan, kau akan merusak reputasinya.'
Inikah akhir hidup seorang artis besar Chery Arleta, yang saat berjaya di puja, namun saat terpuruk di hina dan di tinggalkan begitu saja.
Bagai kerbau di cocok hidung, Chery hanya bisa menurut dan pasrah kemana para petugas membawanya, sesekali Arjuna mencuri pandang lewat ujung matanya, memastikan keadan Chery yang pasti tak baik-baik saja saat ini, namun tak sekali pun Chery mengarahkan pandangannya pada Arjuna, tatapannya terlihat kosong, dan dia bersumpah untuk tak akan meminta apalagi memohon bantuan apapun pada Arjuna.
"Kau masih punya waktu untuk mengakui semuanya, dan aku akan membantu mu agar hukuman mu lebih ringan." kata Arjuna saat Chery berhasil di giring ke tahanan oleh Fajar tadi.
"Terimakasih, lebih baik aku mati, dari pada aku harus mengemis belas kasihan dari mu, aku tak sudi mempunyai hutang budi pada mu lagi." ketus Chery dingin.
"Tapi nyatanya kau masih punya hutang satu nyawa pada ku, Chery Arleta!" Arjuna tersenyum miring.
"Bukankah kita sudah impas?" Chery mengernyit.
"Tidak, kau masih berhutang pada ku." Arjuna bergegas meninggalkan ruang tahanan, hatinya tak cukup kuat jika berlama-lama melihat Chery dalam keadaan hancur seperti itu, meskipun itu karena ulahnya dan keinginannya.
"Awasi tahanan itu dengan baik, 1x24 jam tidak boleh lengah, pastikan kondisinya selalu baik, dan jangan sampai ada tahanan lain yang berani menyentuhnya, apalagi sampai berani menyakitinya, pastikan makanannya tepat waktu, kalian paham?" Ucap Arjuna memperingatkan para petugas piket di ruang tahanan.
Hatinya tidak merasa tenang dan bahagia sedikitpun, meski dia telah memenuhi janjinya untuk memberikan keadilan bagi Luna.
Hatinya terasa sakit dan terluka, sungguh ini tak sesederhana seperti yang dia pikirkan, Arjuna tak pernah mengira kalau akan ada hal-hal yang tak sesuai dengan apa yang dia harapkan dalam sebuah pencapaian keinginannya, pencapaian yang sama sekali tak membuatnya merasa bangga, sama sekali tak membuatnya merasa hebat, sebaliknya pencapaian itu justru seperti berbalik menyiksa batinnya sendiri.
__ADS_1
Arjuna sampai beberapa kali bertanya pada hatinya, 'apa benar ini yang di inginkannya?'