
Arjuna menginterogasi pelaku percobaan penyerangan Chery saat acara pemakaman Dion tempo hari, pria muda yang merupakan tersangka pelakunya itu keukeuh dengan alasannya, kalau dia hanyalah haters dari Chery yang memang tidak suka dengan segala yang di lakukan Chery sebagai public figur, sungguh itu membuat Arjuna merasa sedikit terbawa emosi, karena dia yakin kalau alasan sebenarnya bukan itu.
Belum lagi sebelumnya pelaku penyerangan yang mengakibatkan nyawa Dion melayang juga mengaku kalau apa yang di lakukannya hanyalah luapan amarah karena urusan pribadi dirinya dengan Dion yang sebelumnya pernah mempunyai hubungan terlarang.
Arjuna merasa kalau dua orang tersangka itu mempunyai motf lain selain yan mereka akui itu, dalih yang mereka akui hanyalah untuk menutupi motif yang sebenarnya, namun sayangnya Arjuna masih belum bisa membongkarnya.
"Ndan, miss Ines menunggu di ruangan kerja anda." Lapor Fajar.
"Katakan aku sibuk dan suruh dia untuk tak menunggu ku!" Arjuna tak peduli.
"Tapi di sana ada nona Chery juga menunggu anda," sambung Fajar.
"Chery? Apa yang yang dia lakukan di sini, mengapa gadis itu sangat bebal, berulang kali di beri tahu kalau keadaan sedang tak aman, masih saja keluyuran," oceh Arjuna yang langsung bangkit dari tempat duduknya dan keluar dari ruangan itu bergegas menuju ruangannya, membuat Fajar melongo di buatnya, bukankah saat tadi dia melaporkan ada Ines yang notabene aalah kekasih atasannya itu, Arjuna menolak untuk menemuinya, lantas mengapa saat mendengar nama Chery di sebut dia langsung bersemangat pergi, meskipun sambil ngomel-ngomel tak jelas.
"Sayang, akhirnya kamu datang juga, aku menunggu mu lama sekali di sini," Ines langsung berhambur menyambut kedatangan Arjuna di ruang kerjanya siang itu, wanita itu langsung bergelendot manja di lengan kiri Arjuna tanpa ada rasa malu, sementara Arjuna tampak sedikit risih dan serba salah karena selain mereka berdua, ada Chery dan juga Sean yang sedang berada di ruangan itu.
"Ines, tolong jangan seperti ini, ini di kantor." tegas Arjuna melepaskan tangannya dari gelayutan Ines.
"Memangnya kenapa kalau di kantor? Siapa yang berani menegur kita?" jawab Ines cuek.
"Ehemmm, apa kami mengganggu?" Sean berdeham agak keras seolah ingin menunjukkan keberadaannya dan Chery di ruangan itu.
"Tentu saja, apa anda tidak tahu kalau ini sudah masuk jam istirahat siang, aku dan kekasih ku ini sudah janjian untuk makan siang bersama." Sambar Ines dengan ketus.
"Oh maaf jika kami mengganggu kalian, tadinya aku hanya ingin bertanya mengenai kasus penyerangan terhadap klien saya."
__ADS_1
Chery yang merasa kesal dan hatinya terasa panas dengan kemesraan yang di tunjukkan Ines, meskipun Arjuna terlihat tak begitu meresponnya, akhirnya buka suara, "Sean, ayo pulang saja," Chery bangkit dari duduknya, dan bersiap mengajak Sean pergi dari ruangan itu.
"Maaf sudah menggangu acara makan siang anda berdua," lanjut Chery.
"Tunggu, kita bisa membicarakan masalah yang ingin kalian bahas sekalian makan siang dengan kami." Seakan tak rela jika Chery pergi begitu saja, Arjuna menawarkan hal gila dan tak masuk akal itu.
"Sayang, ini acara kita, kamu jarang ada waktu untuk ku, sekarang makan siang kita harus mengajak orang lain juga?" protes Ines.
"Tolong mengerti Ines, masalah ini sangat penting, dan memang perlu di bicarakan."
"Baiklah, memang hal lain selalu lebih penting dari aku." Rajuk Ines yang pada akhirnya menyetujui usulan Arjuna meski dengan berat hati.
"Tapi--- kita tidak bisa, sepertinya lain waktu saja," tolak Chery yang merasa ragu apa dirinya akan cukup kuat melihat Arjuna bersama Ines lebih lama lagi.
Sam halnya dengan Ines, saat ini Chery juga mau tidak mau hanya bisa pasrah dan mengikuti kemauan para pria ini.
"Pengacara terkenal tidak punya etika, tidak tahu malu, merusak acara makan siang orang lain untuk membahas pekerjaan!" cibir Ines sambil menoleh sinis ke arah Sean, sementara Sean yang merasa kalau Ines sedang mencibirnya hanya bisa cuek seolah tak mendengar cibiran Ines, justru Chery yang ikut mendengar cibiran itu yang malah tersulut emosi.
"Nona, tidak kah ucapan anda pada pengacara ku itu keterlaluan?" tegur Chery.
Aura kebencian dan ketegangan tiba-tiba saja menyeruak di salah satu meja rumah makan tempat mereka berempat kini makan siang bersama, hawa dingin sangat kental terasa saat ini di antara mereka.
"Chery, sudahlah," kata Sean.
"Tapi dia menghina mu, mengata-ngatai mu. Bagaimana bisa kamu diam saja di perlakukan seperti itu," Chery tetap merasa tak terima dengan perkataan Ines meskipun Sean tak begitu memperdulikannya.
__ADS_1
"Baiklah, apa yang ingin kalian bicarakan dengan ku?" merasa kesal karena Chery begitu membela Sean di depan matanya, Arjuna akhirnya angkat bicara untuk meredam perdebatan.
Akhirnya perdebatan itu mereda setelah mereka mulai serius membicarakan masalah kasus Dion dan juga kasus percobaan penyerangan pada Chery, membuat Ines merasa keberadaannya tersisih di sana dan dia pamit untuk ke toilet, tak lama kemudian Sean juga pamit untuk ke toilet, sehingga menyisakan Arjuna dan Chery saja di meja itu.
"Sejak kapan kau berpacaran dengan Sean?" tanya Arjuna dingin.
"Apa peduli mu, urus saja urusan mu dengan pacar mu yang arogan itu."Chery tak bisa menyembunyikan kekesalannya.
"Apa kau cemburu?" Arjuna menarik sudut bibirnya.
"Apa kamu akan melepaskannya jika aku merasa cemburu dengan kebersamaan kalian? Bukankah itu tak mungkin? Sampai saat ini aku tak tau apa tujuan mu mendekati ku dan memberi harapan pada ku, sementara kamu memiliki hubungan dengan Ines yang mungkin itu sudah terjadi saat kita dekat di pulau, aku bahkan tak tau siapa di antara aku dan Ines yang lebih dulu dekat dengan mu, aku tak menyangka kalau kamu seberengsek itu, namun bodohnya, aku bahkan masih mencintai pria berengsek seperti mu meski aku tau kita tidak mungkin, karena selain saat ini kamu sudah punya kekasih, aku juga sadar diri aku mempunyai kesalahan besar dan fatal yang tak mungkin bisa di maafkan oleh mu," kata Chery panjang lebar mengemukakan sedikit isi hatinya.
"Ada terlalu banyak kendala dan ketidak mungkinan untuk kita di dunia ini, aku pesimis kita dapat melaluinya, jadi aku rasa yang terbaik untuk kita berdua adalah seperti ini." Ujar Arjuna dengan tatapan kosongnya seolah dia sendiri pun tak setuju dengan apa yang baru saja di katakannya, namun itu kenyataan yang terpaksa harus di hadapinya.
"Apa aku boleh bertanya sesuatu pada mu?" Chery menatap lekat wajah Arjuna yang sejak tadi selalu melempar pandangannya jauh ke arah berlawanan dengan dimana Chery berada.
"Arjuna, terlepas dari semua yang terjadi pada kita, apa kamu pernah mencintai ku?" tanya Chery.
Arjuna terdiam sesaat, dia menimbang-nimbang apa yang yang harus di katakannya pada Chery saat ini agar tak membuat hubungan mereka semakin rumit, apalagi dirinya juga masih harus menyelesaikan misi dari Berto untuk terus bersama Ines.
"Jika aku mengatakan kalau aku tidak pernah mencintai mu, apa kau akan membenci ku?" untuk pertama kalinya sejak kebersamaan mereka di meja itu tatapan mereka saling beradu dan mengunci satu sama lain.
"Aku tidak pernah membenci mu, bahkan setelah apa yang baru saja kamu katakan pada ku, rasa ku masih sama untuk mu, tapi aku harus terima semua keputusan mu, aku tak pernah menyesal pernah mencintai mu, 'people come and go' siap tak siap aku harus bisa terima itu, aku turut bahagia apapun keputusan dan pilihan mu." Chery tersenyum samar, dan langsung terdiam karena Ines terlihat berjalan mendekati meja mereka kembali, dia sudah pernah merusak kebahagiaan Arjuna dengan Luna, dia tak ingin kembali melakukan hal yang sama pada hubungan Arjuna dan Ines, biarlah perasaannya untuk Arjuna dia jaga dan pelihara sendiri dalam hatinya.
Setidaknya hanya itu yang bisa dia lakukan untuk menebus semua kesalahan yang pernah dia lakukan pada Arjuna karena pernah merusak kebahagiaan Arjuna dan Luna di masa lalu.
__ADS_1