Dendam Cinta Sang Kapten

Dendam Cinta Sang Kapten
Entah siapa yang salah,


__ADS_3

"Terimakasih, tapi sebaiknya kita tak usah bertemu lagi di lain waktu, kau terlalu tampan, aku takut jatuh cinta pada mu, hahaha!" goda Cheri di akhiri tawa renyahnya, membuat Arjuna menjadi serba salah mendengar ucapan polos Chery itu.


Gadis ini sukses membuat Arjuna yang sebelumnya selalu berhasil menindasnya dengan kejam itu kini terlihat gelagapan dan wajahnya terlaihat konyol akibat ucapan menggoda Chery.


"Jangan khawatir, kau bukan tipe ku!" kata Arjuna berusaha menenangkan dirinya.


"Benarkah? Oh aku sedih sekali, apa kau sudah menikah, kapten?" tanya Chery berbasa basi, dia tak tau harus membicarakan apa dengan pria kaku itu.


"Hampir, tapi--- Ah, sudahlah, lebih baik kita membicarakan hal lain saja." Arjuna mengelak dan berusaha menghindar dari pertanyaan Chery tentang kehidupan pribadinya.


"Oke, sorry!" Chery merasa Arjuna tidak nyaman dengan pertanyaannya, dia pun tak memaksakan pertanyaannya lagi, terlebih semua itu hanya sekedar basa basi nya saja, tak terlalu penting baginya tentang apapun status Arjuna, toh setelah ini mereka sepertinya tak akan bertemu lagi, mereka akan di pisahkan jarak yang begitu jauh.


"Ngomong-ngomong, di Ibukota pasti ramai berita tentang penculikan dan menghilangnya artis top di pulau terpencil ini, sayangnya kita tak bisa membaca berita heboh itu, tak ada saluran internet di sini," Arjuna benar-benar mencari topik pembicaraan yang sangat jauh dari urusan pribadinya, dia tak mau membuka luka hati yang sama sekali belum juga sembuh itu.


"Hmm, biarlah,,, aku tak peduli, lagi pula ponsel ku hilang entah kemana saat penculikan itu, mungkin masih tertinggal di sarang bandit yang kau lobi itu, tapi aku penasaran, sebenarnya apa yang kalian bicarakan dan sepakati saat itu sehingga ketua bandit itu menyerahkan ku begitu saja?" Chery tiba-tiba teringat saat Arjuna dengan mudahnya membebaskan dirinya dari Berto.


"Kepo!" Arjuna mengembalikan ucapan Chery padanya saat bertanya tentang apa yang di mimpikannya tadi dengan logat yang sama.


"Ishh, ternyata kau pendendam juga ya, orangnya," Chery pura-pura memberengut kesal, namun setelahnya mereka malah tertawa bersama, entah apa yang lucu, atau apa yang mereka tertawakan saat itu.

__ADS_1


"Kapten, kau terlihat seribu kali lebih tampan saat tersenyum," puji Chery sehingga membuat telinga Arjuna memerah dan terasa panas.


"Mulut mu terlalu berbahaya, jika pria lain pasti sudah tergoda dengan ucapan-ucapan manis mu, untungnya aku tak akan pernah terbuay dengan ucapan beracun mu itu,"


Saat mereka asik mengobrol untuk membunuh sepi, tiba-tiba suara gemuruh terdengar dari balik bukit, secara spontan Arjuna langsung mengapit tangan Chery untuk keluar dari gubuk itu, setelah mereka berada di luar baru lah mereka menyadari, ternyata benar saja tebing di balik gubuk itu telah longsor, material seperti batu, lumpur dan tanah hampir mengenai gubuk yang mereka tempati, namun Tuhan rupanya masih berbaik hati dan tak membiarkan gubuk itu terkena longsoran, sehingga mereka masih bisa berteduh di sana meski dalam keadaan waswas dan cemas takut longsor susulan kembali terjadi.


"Bukankah semalam juga terjadi longsor saat aku tak sadarkan diri, bagaimana kau menghadapinya, apa kau sama sekali tidak takut?" Arjuna membayangkan bagaimana Chery tadi malam menghadapi suasana seperti barusan seorang diri.


"Sedikit, tapi bukankah aku sudah mengatakan pada mu tadi, kalau aku tidak takut mati, aku justru malah menghawatirkan mu, keluarga mu pasti akan sangat kehilangan mu jika kau sampai mati di hutan karena longsor." Cengir Chery.


"Aku yatim piatu, aku hanya punya ibu angkat yang sangat baik dan mencintai ku." lirih Arjuna.


"Kau beruntung mempunyai ibu angkat sebaik itu, sayangi dia selagi ada, ibu ku masih hidup tapi terasa mati bagi ku, yahhh sudahlah, semua orang punya jalan hidup masing-masing, mungkin jalan hidup ku saja yang tak seberuntung orang kebanyakan!" ujar Chery putus asa, mencoba tersenyum dengan batin yang perih.


"Kapten, apa aku boleh meminjam bahu mu sebentar saja? Sepertinya bahu mu sangat kokoh untuk aku sandari, aku lelah, aku ingin bersandar dan menangis di sana," kata Chery sambil menggeser posisi duduknya lebih merapat ke tempat Arjuna yang sedang duduk di lantai tanah gubuk, tanpa menunggu persetujuan si empunya bahu, Chery langsung menyandarkan kepalanya di sana, entah kenapa dia sangat ingin menangis saat ini, mungkin karena perkataan menyentuh Arjuna tadi, sehingga terpaksa dia harus menampilkan sisi rapuhnya di hadapan Arjuna saat ini.


Sementara Arjuna terdiam tak menolak ataupun meng iyakan tindakan Chery, dia hanya bisa diam terpaku, menyaksikan ada perempuan lain yang kini bersandar di bahunya sambil menangis pilu, dia tak berusaha menyingkirkannya, bahkan batinnya lagi lagi terasa ikut nyeri, tak tega melihat Chery yang begitu rapuh bersandar padanya seperti mencari tempat perlindungan, tangan Arjuna terulur meraih bahu Chery dan merangkulnya,


"Menangislah, terkadang dengan menangis akan mengurangi beban dan kesakitan di hati mu." Lirih Arjuna mengeratkan rangkulannya.

__ADS_1


Obor kecil yang di buat Arjuna menjadi satu-satunya penerangan di gubuk itu, cahayanya semakin redup karena bahan bakarnya semakin berkurang, sehingga ruangan itu tak se-terang sebelumnya, dalam remang cahaya tiba-tiba Arjuna melihat wajah Luna di wajah Chery, membuat dirinya beberapa kali Arjuna mengucek matanya memastikan kalau gadis yang kini baru saja berhenti menangis itu bukanlah Luna, tapi Chery, namun sebanyak itu juga Arjuna tetap melihat wajah Luna di sana.


Entah karena Arjuna yang terlalu merindukan Luna, atau mungkin sebenarnya dia ada ketertarikan tersendiri pada Chery namun batinnya selalu menolak karena terisi penuh oleh sosok Luna, yang jelas Arjuna tiba-tiba memeluk tubuh Chery dengan eratnya, "Jangan bersedih lagi, ada aku. Ada aku di sini, tenanglah!" bisik Arjuna di telinga Chery dengan suara bergetar.


Cgery mendongak melihat Arjuna yang tiba-tiba bersikap aneh padanya, sorot mata Arjuna yang teduh justru seperti menghipnotis dan dengan mudahnya menyelinap di hati Chery yang sedang rapuh dan merasa kosong dalam dirinya.


"Juna? Apa yang kau katakan barusan?" tanya Chery memastikan kalau dirinya tak salah dengar dengan apa yang di sampaikan pria yang kini sesang memeluknya dengan erat seolah tak ingin lepas itu.


"Aku akan menjaga mu, jangan bersedih lagi." Kali ini ucapan Arjuna bahkan di akhiri dengan kecupan lembut di kening Chery yang kontan merasakan darahnya berdesir hebat menerima perlakuan manis Arjuna padanya.


Taak ada pikiran buruk apapun di pikiran Chery, tak ada pikiran kalau kini Arjuna sedang mengambil kesempatan dalam kerapuhannya, dia terbuay, dia terlena dan terbawa suasana.


Entah siapa yang memulainya, tiba-tiba bibir mereka sudah bertaut satu sama lain, di bawah remangnya cahaya obor yang hampir padam dan api yang meliuk-liuk terkena angin, mereka saling menikmati sentuhan, dua orang dewasa tanpa ikatan dan bahkan belum lama saling mengenal itu terhanyut dalam suasana.


Sampai akhirnya, "Ahh maaf, aku tak bermaksud---" Arjuna melepas ciuman panas mereka sebelum semuanya semakin melakukan hal yang terlalu jauh.


Arjuna meraup wajahnya dengan kasar, sungguh dia tak menyangka kalau dirinya akan kehilangan kendali seperti ini, dia merasa seperti menjadi pria berengsek saat ini, hanya karena dia melihat bayangan Luna di wajah Chery, dia memanfaatkan gadis itu, di mana Arjuna yang selalu memegang teguh kesetiaannya selama ini pada Luna, ini perselingkuhan pertamanya dari perasaan cintanya pada Luna, meski kekasihnya itu sudah tak ada lagi di dunia yang sama dengan dirinya.


"Maafkan aku Luna, aku bahkan menikmati ciuman gadis itu," sesal Arjuna dalam hatinya, ada rasa bersalah yang sama besarnya di hati Arjuna untuk Luna dan juga Chery.

__ADS_1


Sementara Chery hanya tertunduk malu, dia tak kalah merasa berengseknya saat ini, Chery merasa menjadi wanita paling murahan di muka bumi saat ini, karena berciuman dengan orang asing dengan mudahnya, dan sialnya dia juga menikmatinya dan jantungnya berdegup sangat kencang saat melakukaan itu semua, berbeda seperti ciuman yang dia lakukan saat syuting dengan lawan mainnya, semua hanya sekedar ciuman tanpa rasa, tapi ini berbeda, hatinya menghangat dan bergetar.


Entah siapa yang salah dalam hal ini, hanya saja satu hal yang tak bisa di pungkiri oleh keduanya adalah, mereka sama-sama menikmati ciuman itu, dan semua terjadi tanpa paksaan dari pihak mana pun.


__ADS_2