
Perubahan aneh pada sikap Arjuna tak hanya berhenti sampai di situ saja, pagi harinya Chery di kejutkan kembali oleh sarapan yang sepertinya di buat oleh Arjuna, sepiring nasi goreng dengan toping telor ceplok lengkap dengan irisan timun dan tomat di atasnya, selembar memo juga terselip di bawah gelas berisi air mineral.
'Tak usah mengantarkan makan siang ke kantor, aku akan pulang untuk makan siang di rumah.'
"Oh Tuhan, apa lagi ini! Apa pria itu benar-benar sakit? Kenapa dia tiba- tiba berubah jadi so sweet seperti ini?" gumam Cheri merasa tubuhnya merinding melihat catatan yang di tinggalkan Arjuna di meja, dia tak habis pikir, bagaimana bisa pria dingin itu tiba-tiba berubah menjadi semanis ini.
Di sisi lain, Chery juga merasa geer, secara selama ini dirinya memang belum pernah di perlakukan sweet seperti itu oleh seorang pria, bahkan oleh Rey sekalipun saat mereka masih menjadi pasangan kekasih.
Chery juga akhirnya menyadari kalau Rey mendekatinya dan kemudian menjalin hubungan dengannya hanya karena ingin numpang ketenaran dari Chery saja, Rey yang merupakan artis pendatang baru itu dalam waktu yang sekejap saja naik di jajaran artis tingkat atas, dan ketika Meta yang merupakan anak produser ternama menggodanya, tanpa pikir panjang lagi Rey berselingkuh dan lantas memutuskan untuk berpisah dengan Chery yang selama ini sudah membantu membesarkan namanya, karena bagi Rey, Meta sepertinya akan lebih menjanjikan dalam perjalanan kariernya, dia bisa meminta dan memiliki banyak peran bagus dalam setiap film atau drama yang di produseri oleh Kamil, ayahnya Meta.
Tak banyak yang Chery lakukan siang ini, dia hanya mandi dan menunggu kedatangan Arjuna bak seorang istri yang menunggu kepulangan suaminya, semua pekerjaan rumah bahkan sudah selesai di kerjakan oleh Arjuna, entah jam berapa pria itu melakukannya, yang jelas, saat Chery terbangun keadaan rumah sudah rapi dan bersih.
Deru suara mesin motor yang berhenti di pekarangan rumah membuyarkan lamunan Chery, ini memang sudah masuk waktu istirahat dan jam makan siang, tapi kenapa jantung Chery tiba-tiba berdetak cepat dan tak karuan, sungguh ini tidak seperti biasanya, bahkan mereka sudah beberapa hari bersama dan rasa canggung yang aneh ini baru dia rasakan sekarang?
"Oh please Chery, jangan baper, akan sangat berat menyukai seseorang, yang hatinya masih terpaut dengan cinta lamanya, jangan ambil resiko!' " gumam Chery pada dirinya, sepertinya dia mulai menyadari kalau dirinya benar-benar terbawa perasaan, bersaing dengan seseorang yang sudah tidak ada lagi di dunia ini akan lebih sulit di banding dengan wanita yang masih berwujud, kita tak akan pernah tau dan mengukur di mana letak kekurangan dan kelebihan kita di banding orang itu, apalagi Chery sama sekali tak mengenal sosok perempuan yang di cintai Arjuna itu.
"Chery, apa kamu tidur?" Panggilan lembut dari luar kamar dan ketukan pelan di pintu kamarnya semakin membuat jantung Chery menggedor-gedor dinding dadanya seakan memaksa ingin melompat keluar.
"Kamu pasti belum pernah memakan makanan khas daerah sini, aku memesannya khusus pada ibunya Tores untuk mu,"
Arjuna menata rantang susun di atas meja, wadah-wadah berisi berbagai makanan seperti papeda, ikan kuah kuning, ikan asap, lengkap dengan bubur sagu sebagai makanan penutupnya semua tersaji di atas meja.
"Kamu memesan ini semua?" Chery hampir ternganga, mereka hanya berdua tapi makanan yang tersaji di atas meja seperti hidangan untuk arisan RT.
"Mumpung di sini, kemarin kan kita sudah wisata adat budaya, nah,,, sekarang giliran wisata kulinernya." Seloroh Arjuna sangat beda dengan tempramen Arjuna yang sebelumnya selalu dingin, ketus dan angkuh, siang ini bahkan Arjuna mengambilkan beberapa makanan untuk di coba Chery, tak ada marah, tak ada sinis, seakan si pria gunung es itu sudah mencair tanpa di sadarinya.
Chery yang di selimuti rasa kebingungan dan kepenasaran itu akhirnya tak dapat menahan diri untuk bertanya pada Arjuna, dia tak ingin kalau sampai dirinya mensalah artikan perubahan sikap Arjuna yang menjadi semanis ini padanya.
__ADS_1
"Ar-juna, apa aku boleh bertanya sesuatu pada mu?" tanya Chery ragu-ragu, dia tak ingin merusak suasana makan siang mereka yang damai untuk pertama kalinya ini oleh pertanyaannya, karena biasanya acara makan bersama mereka pasti akan berakhir dengan rasa kesal dan marah di antara salah satunya, atau bahkan kedua belah pihak.
"Hem, tentu."
"Apa kamu sehat dan baik-baik saja?"
"Maksud mu? Tentu saja aku sehat, dan aku baik-baik saja!"
"Tapi, kenapa aku rasa kamu berbeda, kamu tak memusuhi ku lagi?"
Mendengar itu Arjuna justru malah tersenyum sekilas, "Maaf, aku tak bermaksud seperti itu, aku salah. Aku sudah memikirkannya, dan aku menyadari, kalau aku sudah memperlakukan mu dengan sangat tidak baik, aku sungguh merasa menjadi orang yang picik, membalas semua kebaikan mu pada ku dengan sikap seperti itu, aku bahkan belum berterima kasih secara baik pada mu karena kamu beberapa kali menyelamatkan nyawa ku, kamu hebat, pemberani, terimakasih sudah menjadi penyelamat ku berkali-kali."
Chery sampai terbatuk dan hampir menyemburkan air yang sedang di minumnya saat mendengar kata-kata Arjuna, itu terdengar sangat aneh, dimana biasanya dia mendengar ucapan ketus dan sinis Arjuna, namun kini dia harus mendengar ucapan manis Arjuna yang jujur saja itu sukses membuat hati Chery meleleh.
'Ah elah, kenapa mesti ngomong kaya gitu sih, makin baper kan, gue!' racau Chery dalam hatinya.
"Eh, tidak begitu. Sudahlah jangan ungkit masalah itu, seperti yang aku ucapkan sebelumnya, aku hanya membalas hutang nyawa ku, bukankah itu artinya kita sudah impas, jadi sebaiknya jangan di bahas lagi." Elak Chery.
"Hmmm baiklah, tapi tetap saja, terimakasih, wanita pemberani!" Arjuna melemparkan senyumnya yang berhasil membuat Chery tersedak duri ikan sampai terbatuk-batuk.
Acara makan siang bersama yang seharusnya bisa di lewatkan dengan manis pun akhirnya harus buyar gara-gara Chery tersedak duri ikan dan membuat dia menangis kesakitan.
"Apa yang terjadi?" Panik Arjuna, dan dia langsung mengerti saat Chery menunjuk tulang ikan, gadis itu terlihat sangat kesakitan dan tak bisa berbicara.
Arjuna menuju dapur dan mengambil nasi, lalu di bentuk menjadi bola-bola kecil dengan tangannya.
"Telanlah, durinya akan hilang," sebuah bola nasi di suapkan Arjuna ke mulut Chery.
__ADS_1
Namun saat jarinya tanpa sengaja menyentuh bibir kenyal Chery, bayangan ciuman mereka di gubuk itu malah tergambar jelas di pelupuk matanya bak tayangan potongan film dewasa.
'Ah sial, kenapa aku malah mengingat hal memalukan itu, tapi sungguh rasanya masih sangat jelas sampai saat ini,' runtuk Arjuna dalam hatinya.
"Juna, sudah. Kamu memasukan terlalu banyak bola nasi ke mulut ku!" protes Chery, mulutnya hampir penuh karena Arjuna memasukan beberapa bola nasi ke dalamnya tanpa sadar.
"Oh, maaf. Aku terlalu panik, kamu menangis kesakitan seperti itu, aku tak tega," kilahnya, seraya menyodorkan gelas berisi air mineral untuk di minum Chery, dia juga memposisikan dirinya untuk duduk di sebelah Chery sambil membereskan makanan Chery yang berserakan, dia sibuk memisahkan daging ikan asap dari durinya untuk Chery makan, dia tidak mau Chery tersedak duri untuk ke dua kalinya.
"Tapi ini semua gara-gara kamu!" kesal Chery, matanya tak lepas dari kegiatan Arjuna yang sedang memilahkan daging ikan di piringnya, itu sungguh romantis dan membuat hatinya menghangat.
"Kenapa aku?"
"Iya, senyuman yang di lempar mu pada ku membuat aku tersedak duri ikan," ujar Chery dengan nada di buat manja, membuat Arjuna tiba-tiba merasa gemas sendiri melihatnya.
"Baiklah, maafkan aku. Sebagai permintaan maaf ku, aku akan menyuapi mu, agar kamu tak tersedak lagi," Arjuna mengangkat tangannya dan hendak menyuapkan daging ikan yang sudah di pilahnya dari duri, namun tangannya di tahan oleh tangan Chery yang menjegal tangan yang hampir saja sampai di depan mulutnya itu.
"Juna tolong, ini sangat tidak baik untuk jantung ku, tadi saat kamu hanya melempar senyum saja aku sampai tersedak, bagaimana jadinya kalau aku di suapi seperti ini oleh mu, aku bisa mendapat serangan jantung mendadak." Oceh Chery dengan wajah serius.
Sontak saja ucapan Chery itu membuat Arjuna terbahak, dia tak menyangka jika Chery se menyenangkan ini, sungguh dirinya sudah menyia-nyiakan waktu kebersamaan nya dengan Chery yang seharusnya di lalui dengan sangat ceria, namun nyatanya hanya terlewati dengan sia-sia dan penuh kebencian karena egonya.
Arjuna menatap sayu sambil menguntai senyum manisnya, wajahnya perlahan mendekat dan untuk kedua kalinya bibir mereka saling bertemu, tak ada sosok Luna yang dia lihat di hadapannya, kini dengan jelas dia melihat wajah cantik nan menggemaskan Chery, sehingga dia yakin kalau saat ini tak ada kekeliruan, dia memang menginginkan Chery, bahkan mungkin termasuk malam itu saat berada di gubuk, tanpa dia sadari dirinya memang sudah tertarik pada sosok Chery, namun hatinya terus menyangkalnya saat itu.
Prang!
Suara benda jatuh melepaskan ciuman mereka, entah sejak kapan ternyata Tores sudah berdiri di pintu dekat ruang makan menonton adegan dewasa atasanya dengan Chery, Arjuna lupa kalau dirinya juga mengundang Tores untuk makan bersama siang ini di rumah dinasnya.
"Mata saya tiba-tiba buta Ndan, saya tak bisa melihat apa-apa di sini.!" kata Tores membalikan badannya dan tangannya meraba-raba dinding berlagak seolah dirinya benar-benar tak bisa melihat.
__ADS_1