
Chery yang kini berada di dalam mobil menuju bandara kota di antar Arjuna dan Tores menoleh penuh curiga pada Arjuna yang asik mengemudi saat mereka melewati jembatan penghubung antar kota dan desa.
"Juna, Tores, bukankah kata kalian jembatan ini baru akan selesai pengerjaannya dalam waktu kurang lebih satu minggu sampai sepuluh hari? Lalu mengapa tak ada yang memberi tahu ku kalau jembatan ini sudah bisa di lewati?" Chery memicingkan matanya ke arah Arjuna yang pura-pura tak mendengar pertanyaan Chery barusan, sementara saat Chery menoleh ke arah Tores yang duduk di kursi penumpang belakang, dia buru-buru memejamkan mata berpura-pura tertidur di sisi Dion.
Tentu saja Arjuna dan Tores tau kalau jembatan itu sudah bisa di lewati dengan normal lagi sejak dua hari yang lalu, hanya saja mereka belum mau memberi tahukan itu pada Chery, karena takut kalau Chery ingin bergegas pulang, walaupun pada akhirnya sekarang pun Chery harus meninggalkan pulau dan berpisah dengan mereka.
"Nona,,,, Anda tega sekali meninggalkan komandan. Nona tega sekali meninggalkan kami, lantas bagaimana kalau kami rindu?" rengek Tores yang langsung mendapatkan pelototan maut dari Arjuna.
"Maksudnya, bagaimana kalau komandan rindu," ralat Tores.
"Suruh dia segera membeli tiket dan menyusul ku ke Ibukota." Kata Chery santai.
Tores hanya tersenyum getir, baru saja dia bahagia karena perjodohan yang di harapkannya benar-benar terjadi, namun tiba-tiba kedua pasangan perjodohan itu harus terpisah tiba-tiba, ini terlalu singkat, bahkan bunga-bunga cinnta baru saja mekar di antara hati mereka.
"Jaga komandan mu baik-baik, jangan biarkan dia bekerja sampai larut malam, pastikan dia sehat dan tidak kurang suatu apapun saat dia datang menemui ku suatu hari nanti." Pesan Chery pada Tores, pria berkulit gelap itu bahkan sampai berkaca-kaca melihat pelukan perpisahan antara Arjuna dan Chery, dan yang lebih menyedihkan lagi, Arjuna melarangnya untuk memeluk Chery sebagai ucapan selamat tinggal, padahal Chery sudah di anggap sebagai teman baiknya, dan entah kapan mereka bisa bertemu kembali.
Malam itu bandara kecil di kota di salah satu pulau terpencil itu menjadi saksi dimana sepasang kekasih yang terpaksa merelakan kebersamaan mereka, meski kebersamaan meeka hanya sebentar saja, namun banyak hal manis terjadi di pulau ini antara Arjuna dan Chery, ada benih-benih cinta yang tak sengaja mulai berbunga, semoga tak sampai layu karena jarak dan waktu.
Perpisahan yang bisa di bilang manis, tapi tetap menyakitkan untuk keduanya.
"Ndan, kenapa kita ke sini?" protes Tores saat merasa Arjuna mengambil rute yang salah untuk kembali ke desa.
"Aku ada sedikit perlu, untuk bertemu teman lama." Jawab Arjuna santai, sejak kepulangannya mengantar Chery ke bandara, Arjuna lebih banyak terdiam dan berpikir, sepertinya dia sedang memikirkan sesuatu yang sangat berat.
__ADS_1
Arjuna berhenti di sebuah rumah mewah, di pinggiran kota yang di jaga ketat oleh pasukan bersenjata, rumah mewah itu bahkan lebih besar di bandingkan kantor polisi tempatnya bekerja.
Setelah berbincang sebentar dengan para penjaga, dan mobil yang di tumpangi Arjuna dan Tores di periksa dengan sangat teliti, bahkan tubuh Arjuna dan Tores pun tak luput dari pemeriksaan, mereka menyita senjata milik Arjuna dan Tores untuk di amankan di pos penjagaan, dan hanya boleh di ambil kembali saat mereka telah selesai berkunjung.
"Ndan, kenapa saya yang asli anak pulau ini tidak tahu ada bangunan se mewah ini?" Tores terkagum-kagum saat beberapa orang penjaga mengantarkan mereka masuk ke dalam rumah yang ternyata di dalamnya menyerupai kantor itu.
Setelah menunggu beberapa saat, seseorang mendekat dan berkata, "Pak direktur memanggil anda." Ujarnya seraya mempersilahkan Arjuna untuk masuk, Tores mengekor Arjuna.
"Kau yakin akan ikut aku ke dalam?" tanya Arjuna, dan Tores hanya mengangguk, dia bahkan tidak tau siapa yang akan di temui oleh atasannya itu.
"Hidup mu tak akan pernah tenang setelah kau memutuskan untuk ikut aku ke dalam, gerak-gerik mu mungkin akan di pantau seumur hidup, apa kau siap?" tanya Arjuna lagi.
Merasa sudah terlanjur dan sudah sejauh ini, Tores mengangguk dengan sangat yakin "Saya siap,Ndan." Jawabnya.
"Mengerti, siap laksanakan, Ndan." Jawab Tores patuh.
Begitu pintu ruangan di buka, rahang Tores seakan hendak lepas dari tempatnya karena dia menganga dengan lebarnya, seseorang yang hanya bisa dia lihat gambarnya kini berada di hadapan matanya secara langsung, dialah Berto, si ketua bandit blok barat yang di takuti, begitu banyak pertanyaan yang berjejal di kepalanya saat ini, mengapa Arjuna terlihat sangat akrab dengan ketua bandit itu, dan kenapa Berto di panggil direktur? Namun sayangnya pertanyaan itu tak bisa dia ungkapkan, dia hanya bisa menahan semua itu sambil memasang telinga dengan baik menyimak obrolan atasannya dengan Berto, yang terdengar sangat serius itu.
Perlahan, dari obrolan itu, Tores sudah bisa menarik kesimpulan, ternyata Berto adalah salah satu petinggi badan intelejen yang di tugaskan menyamar menjadi bandit di pulau itu selama bertahun-tahun untuk tetap mengendalikan keamanan pulau dari para pemberontak negara yang berkedok bandit pemangsa manusia, atau kelompok bandit Ribo, karena orang-orang yang di culik Ribo bukan untuk di makan seperti gosip yang terjadi di masyarakat, melainkan untuk di cuci otaknya agar menjadi pengikutnya, Ribo terobsesi untuk mendirikan negara dan dia menjadi pemimpinnya, sehingga Berto di turunkan ke pulau itu untuk memata-matai pergerakan Ribo dengan berpura-pura menjadai rival banditnya.
"Hahaha,,, aku sudah mengira kalau kau ada hubungan dengan gadis itu, tapi ku sarankan kau untuk berhati-hati dengan ayah tirinya, Hasan Basri terlalu licik." Tawa berto menggelegar memenuhi ruangan membuat tubuh Tores merinding mendengar tawa pria berbrewok tebal itu.
Berto terbahak saat Arjuna yang kebetulan pernah bertemu beberapa kali dengan Berto saat dia di tugaskan di negara konflik beberapa tahun silam, hubungan mereka cukup baik, bahkan Arjuna pernah menyelamatkannya saat pria itu tertembak di bahunya, Arjuna yang mengantarkannya ke rumah sakit dan menungguinya sampai sembuh di sana.
__ADS_1
Arjuna tau kalau Berto kenal baik dengan petinggi kepolisian, jadi dia meminta bantuan Berto untuk agar dirinya bisa bertugas kembali di Ibukota.
"Kau memang sialan, aku pernah menawarkan mu jabatan bagus di kepolisian, bahkan uang, namun kau menolaknya, dan kau dua kali meminta bantuan ku demi gadis itu, ini bukan permintaan sederhana, pertama kau mengacaukan rencana ku untuk mengganggu pencalonan Hasan Basri dengan menculik anak tirinya, namun kau malah memintanya, sekarang demi gadis itu juga kau meminta ku untuk mengemis pada atasan mu agar kau di kembalikan ke ibukota, kau berengsek!" ujar Berto menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Oh ayolah, tak harus sampai mengemis, aku tau, permintaan mu pasti akan langsung di turuti oleh atasan ku. Siapa yang berani melawan Berto!" sanjung Arjuna.
"Kau penjilat, tadinya aku akan menjodohkan mu dengan anaknya Agung Hartono, tapi kau sudah mempunyai calon mu sendiri, ya sudah lah." Kata Berto mengangkat bahunya acuh.
"Jendral Agung Hartono?" tanya Arjuna menyebut nama salah satu petinggi kepolisian yang berpengaruh, dan di jawab dengan anggukan Berto.
"Ah, kenapa menjodohkan ku dengan anak petinggi kepolisian yang tidak beres seperti itu?" protes Arjuna.
"Tentu saja karena aku punya misi, tapi aku bisa menjodohkan pria lain untuknya, aaah dia,, dia ajudan mu bukan? Aku akan melatihnya menjadi anak didik ku." Tunjuk Berto ke arah Tores yang sejak tadi menjadi pendengar setia.
"Dia masih polos, jangan di ganggu!" ujar Arjuna.
"Aku akan buat dia tak polos lagi, sedikit bercorak, lagi pula kau tak akan tau, karena kau akan meninggalkannya di sini, bukankah kau akan mengejar cinta mu? Cih,, menjijikan polisi macam apa kau, bukannya mengejar maling malah mengejar cinta!" ejek Berto.
"Justru karena Nona Chery sudah mencuri hati komandan, makanya di kejarlah nona kemanapun dia lari," celetuk Tores tak kuasa menahan ocehannya.
"Siapa yang meminta mu untuk berbicara? Lancang sekali kau, apa kau pikir karena sudah berada di sini kau merasa akrab dengan ku, huh?" bentak Berto membuat tubuh Tores langsung menggigil ketakutan dan menyesali tindakan bodohnya barusan.
"Jangan ganggu dia Berto, dia akan terkencing-kencing di sini kau bentak seperti itu, cepatlah kau urus kepindahan tugas ku." Arjuna tak kuasa menahan tawanya sekaligus merasa kasihan dengan Tores yang wajahnya langsung pucat karena di bentak Berto yang sebenarnya hanya main-main saja.
__ADS_1