Dendam Cinta Sang Kapten

Dendam Cinta Sang Kapten
impas


__ADS_3

"Oke tenang,,,tenang Chery, tarik nafas, buang dan rileks, dia masih hidup!" Chery berbicara pada dirinya sendiri setelah memastikan kalau Arjuna masih bernyawa, meski tubuh pria itu se dingin es dan sedingin sikap dan hatinya, namun untungnya dia masihbbisa merasakan kalau nadinya masih berdenyut.


Chery segera mengambil senter kecil yang sejak tadi di genggam Arjuna, rasa takutnya tiba-tiba hilang begitu saja, dia berjalan ke dekat motor yang mereka tumpangi, dia ingat kalau Arjuna membawa ransel yang dia tinggalkan di dekat motornya tadi.


Chery membawa ransel besar yang di simpan di depan motor, meski agak kesusahan, dia tetap membawanya ke tempat mereka berteduh.


Persetan jika nanti Arjuna akan memarahinya dan bahkan ngamuk padanya saat pria itu tau dia membuka dan menggeledah ransel miliknya, dia hanya ingin melihat barangkali ada barang yang bisa dia gunakan.


benar saja, ransel besar itu seperti toserba saat dia bongkar, ada tiga botol air mineral ukuran satu literan, beberapa bungkus roti, biskuit, dan kotak P3K, banyak barang lain juga yang Chery tak tau apa, bahkan ada makanan ransum kaleng yang biasa di bawa prajurit saat berperang di sana, pria ini benar-benar prepare dalam segala hal, puji Chery dalam hatinya, tanpa sadar bibirnya membentuk lengkungan tipis.


Chery segera mengeluarkan kotak p3k dan juga satu botol air mineral. Dia juga membuka baju basah yang masih memekat di tubuh Arjuna, lantas dia menggantinya dengan t-shirt cadangan yang dia temukan dari dalam tas itu. Tak usah di ceritakan lagi bagaimana dia menahan pandangannya saat tubuh kekar bertela njang dada di hadapannya, sekuat tenaga otaknya tak ingin bertraveling, namun sungguh itu sangat menggoda imannya, ratusan tubuh pria tampan dan kekar bahkan hanya memakai pakaian dalam saja dia sering melihatnya, namun untuk kali ini rasanya beda, padahal Arjuna tak melakukan apapun, dia hanya diam tak sadarkan diri, bagaimana jika pria itu menggodanya?


Selesai melakukan kegiatan yang sungguh menantang imannya, dia membasuh dan membersihkan luka gigitan di tangan Arjuna dengan cairan antiseptik, lantas dia mengoleskan luka itu dengan salep luka lantas membalutnya dengan perban, setidaknya itu yang dia bisa saat ini, dia tak tau harus berbuat apa dengan luka gigitan hewan itu, dia bukan petugas medis, untung saja di kotak P3K milik Arjuna selengkap apotik K21, berbagai obat dari spray untuk keseleo, sampai obat mules ada di sana.

__ADS_1


Chery juga mengompres kening Arjuna dengan saputangan, untuk mengisi waktu dia bahkan membersihkan wajah Arjuna dari kotoran dan juga mengobati luka-luka kecil seperti luka bekas tergores, luka cakaran kuku anjing tadi dengan seksama, dia hanya tak tau harus berbuat apa, dari pada 'gabut' dia melakukan itu semua, lagi pula seperti biasa, dia tak bisa memejamkan matanya saat malam tiba.


"Hey Arjuna, nama mu Arjuna kan? Kenapa kau tak bangun dan marahi aku, biasanya kau sangat suka memarahi ku, aku tak tau alasan kau marah dan benci pada ku, dan sepertinya aku juga tak ingin tahu, hanya saja, sepertinya mendengarkan marah mu pada ku saat ini akan terasa lebih baik daripada kau hanya tidur tak sadarkan diri seperti ini, lihatlah, hujan sudah mulai reda, sepertinya hari juga sudah mulai pagi, dan kau masih terlelap, dasar pemalas!" Chery berbicara sendiri untuk mengapus kesepian dan membunuh ketakutannya karena sampai saat ini Arjuna belum juga tersadar dari pingsannya.


"Siapa yang kau katai pemalas itu?"


Chery terlonjak kaget, tiba-tiba Arjuna membuka matanya dan berkata lirih, sepertinya dia mendengar semua ucapannya tadi.


"K-kau, tentu saja kau, semalaman kau tidur sampai pagi ini!" gagap Chery, tak menduga jika Arjuna ternyata sudah siuman dari pingsannya.


"Kau! Lancang sekali kau membuka pakaian ku!" tunjuk Arjuna ke arah Chery, dia berusaha bangkit dari posisinya, namun sepertinya tenaganya masih belum cukup kuat untuk itu sehingga tubuhnya kembali menyandar ke batang pohon seperti semula.


"Pakaian mu basah, lagi pula aku tak tertarik dengan tubuh mu, tubuh mu jelek aku gak suka dada bidang mu, aku gak suka otot di lengan mu aku juga tak suka kotak-kotak di perut mu," alih-alih mengatakan tidak suka justru apa yang di katakan Chery saat ini malah terdengar seperti sebuah pujian.

__ADS_1


"Kau--- seharusnya kau tak melakukan itu, bukankah kau bilang kalau kau akan membiarkan ku meskipun aku mati, kenapa tak kau biarkan saja aku mati kedinginan daripada aku harus memperlihatkan tubuh ku padamu, dasar mesum!" umpat Arjuna, dari perkataan Chery tadi sudah jelas berarti gadis itu melihat tubuhnya, untung saja dia masih mengenakan celanan yang sama seperti yang semalam dia kenakan, jadi dapat di pastikan kalau Chery hanya melihat tubuh atasnya saja.


"Tadinya memang aku ingin membiarkan mu mati, hanya saja setelah aku pikir lagi, saat kau hidup saja kau menakutkan seperti ini, tak dapat aku bayangkan bagaimana mengerikannya jika kau menjadi arwah gentayangan dan menghantui ku karena aku tak menolong mu, ihhh!" Chery bergidik ngeri.


"Ckkkk," Arjuna hanya bisa berdecak kesal, dia tak tau harus berkata apa pada gadis itu, apalagi tubuhnya juga masih terasa lemas, kepalanya pusing, dan dia tidak dalam keadaan mood yang baik untuk berdebat dengan Chery.


Chery membuka ransel itu lagi dan kini mengeluarkan ransum khusus prajurit yang berupa berbagai nasi dan lauk, ada beberapa pilihan rasa, ada nasi jamur, nasi ayam, nasi rendang, semua di bungkus dengan kantong plastik hampa udara, jadi untuk mengkonsumsi makanan ini hanya harus memanaskan bungkus plastinya di atas api kecil kompor rakitan yang sudah tersedia di dalamnya, dengan menggunakan lilin dan cawan kecil sebagai pemanasnya.


Setelah beberapa menit berlalu, dia membuka kemasan nasi ransum itu dan menyodorkannya ke hadapan Arjuna yang sejak tadi hanya diam menyaksikan apa yang di lakukan Chery dari posisinya menyandar, ternyata tidak dia duga seorang artis besar sekelas Chery bisa menyajikan ransum itu, entah dari mana dia belajar semua itu.


"Makanlah, setelah itu minum obat!" kata Chery, dia juga menyodorkan sebutir obat anti nyeri.


Namun Arjuna hanya memalingkan wajahnya ke arah berlawanan, dia benci dengan ketidak berdayaannya ini, selama ini dia selalu kuat dan gagah berani, kenapa tiba-tiba dia harus lemah di hadapan Chery, gadis yang sangat di bencinya, dia hanya boleh terlihat lemah dan manja di hadapan Luna, tidak di depan orang lain.

__ADS_1


"Hey kau, aku tau kau membenci ku, dan aku tak akan pernah bertanya lagi apa alasan mu membenci ku, tapi setidaknya penuhi janji mu untuk mengantar ku ke kota, jika kau tak cepat pulih, kita akan lebih lama terjebak di sini dan kau akan lebih lama melihat wajah ku yang selalu membuat mu marah itu." Kata Chery datar, dia juga tak ingin berdebat dengan orang yang sedang sakit seperti Arjuna saat ini.


"Oh iya, kau tak perlu sungkan atas sikap ku saat ini, kau juga tak perlu berterimakasih, aku hanya membayar hutang ku, dan kita sudah impas sekarang, kita tak berhutang apapun satu sama lainnya, untunglah Tuhan memberi ku kesempatan membayar lunas hutang ku secepat ini, sehingga aku tak perlu berjumpa dengan mu di lain waktu di masa depan hanya untuk membayar hutang budi ku pada mu, cepatlah makandan minum obatnya, setidaknya pikirkan para anggota mu yang saat ini menunggu mu." Chery melengos dan mengambil jarak agak menjauh dari Arjuna setelah mengatakan itu semua, dia hanya ingi memberi waktu dan ruang pada Arjuna kalau-kalau pria itu merasa sungkan saat harus makan di hadapannya, dia hanya ingin segera pulang, itu saja.


__ADS_2