Dendam Cinta Sang Kapten

Dendam Cinta Sang Kapten
Mantu penghianat


__ADS_3

Tuduhan dan ancaman Sean mengenai dia yang mengatakan akan mendatangkan Siska di sana sontak saja membuat Hasan tiba-tiba keluar keringat dingin dan wajahnya pucat seperti tidak di aliri darah, jika ancaman Sean itu benar terjadi, maka habislah dia, tamatlah riwayatnya, apalagi ini di hadapan banyak orang, ratusan media juga meliput mereka.


"Kalaupun istri ku berada di sini, aku yakin dia akan menyangkal telah melakukan semua kejahatan yang telah dia lakukan, namun aku siap mrmbuktikannya meski harus melalui jalur hukum dan melawan istri ku sendiri, ini demi sebuah kebenaran!" Kelit Hasan mencoba mencari celah untuk menyelamatkan dirinya dari serangan telak Sean di depan lautan manusia yang menonton pertunjukan perseteruan Hasan dan Sean itu.


"Anda tau saya, sebagai seorang pengacara profesional, tidak mungkin melayangkan tuduhan tanpa bukti, aku tak akan asal bicara, apalagi mengenai hal se-serius ini." Ujar Sean percaya diri karena merasa dirinya mulai memegang kendali atas keadaan dan berhasil mengintimidasi Hasan yang terlihat tertekan dengan pernyataannya itu.


"Akan ku berikan beberapa wilayah untuk mu, atau jika perlu akan ku serahkan semua wilayah ku pada mu, tapi jangan buat keadaan menjadikacau, setidaknya sampai pemilihan di laksanakan." Bisik Hasan yang mulai terdesak dan merasa terpojok dengan ancaman Sean, mau tidak mau dia harus bisa membuat Sean berhenti berulah, kalau tidak dia akan hancur se hancur-hancurnya saat ini juga.

__ADS_1


Kehilangan salah satu bisnis ilegalnya yang meskipun sangat berkontribusi besar terhadap perekonomian dirinya, sepertinya akan menjadi sebuah kehilangan kecil jika di bandingkan dia harus kehilangan harga diri dan kepercayaannya di mata semua orang saat ini, apalagi jika dirinya harus kehilangan kesempatan dalam pemilihan yang sudah menghabiskan uang yang tidak sedikit, juga waktu, tenaga dan pemikiran di sepanjang waktu, sungguh Hasan tidak ingn semua itu menjadi sia-sia.


Sean tersenyum culas, akhirnya, apa yang di harapkan oleh dirinya dari aksinya ini tercapai juga, bukan karena permintaan Agung dia mau menjalankan semua ini, namun semua karena Sean yakin kalau Hasn pasti akan memberinya opsi seperti ini, beruntung dia punya mertua yang bisa di jadikannya senjata dan batu loncatan untuk mendapatkan semua keinginannya ini, menguasai pasar obat terlarang paling besar di tanah air.


"Apa Anda yakin, tuan?"


Sementara Agung yang menonton di antara manusia yang berjubel sedikit merasa heran karena menantunya itu tak juga mengeluarkan Siska untuk di jadikan tembakan terakhir guna mematikan Hasan di deoan publik.

__ADS_1


"Baiklah, karena ini adalah acara anda, saya tidak ingin mengganggu lagi, saya kira kita akan membicarakannya di luar acara ini, bagaimana pun saya masih menghormati anda, semoga anda tidak berkelit dari semua permasalahan." Dengan santai dan gampangnya Sean berubah haluan dan tidak lagi menyerang Hasan yang ssudah menjanjikan akan memberikan apa yang di inginkannya.


"Lantas bagaimana dengan bukti yang tadi anda katakan? Bukankah anda tadi bersikeras akan menghadirkan istri saya danb juga menunjukkan bukti kebersalahan saya di muka umum?" Giliran Hasan yang seolah menantang Sean.


"Saya hanya menggertak, untuk lebih membuktikan jika apa yang anda ucapkan adalah benr adanya, saya salut pada anda yang tidak takut sedikit pun dengan ancaman saya, dan itu membuktikan kalau anda memang jujur, anda layak menjadi pemimpin di negeri ini, maaf jika saya dan teman-teman sudah membuat prank di acara ini, hanya ingin menunjukkan betapa hebatnya anda pada semua orang di sini." Ujar Sean yang langsung di sambut sorak sorai oleh para simpatisan yang tadi seolah tegang akibat perseteruan sengit di atas panggung, namun saat Sean mengataka kalau itu semua hanya prank atau lelucon yang sengaja di suguhkan sebagai bagian dari rangkaian acara siang itu, semua penonton yang berada di sana langsung bersorak sorai, bertepuk tangan mereka merasa puas dan terhibur dengan pertunjukkan yang di sajikan Hasan.


Berbanding terbalik dengan apa yang kini tengah di rasakan Agung, wajahnya memerah karena sangat marah, karena menantunya justru berani menghianatinya tepat di depan wajahnya, seolah dia sengaja mengejeknya, seolah-olah mengikuti sekenarionya, namun ternyata di tengah permainan dia jusru membelot dan bergandengan tangan Hasan yang seharusnya menjadi target sasarannya, padahal untuk melakukan semua itu, Agung sudah memberikan saham tambang minyak dan juga bebrapa aset berharga sebagai bayaran Sean, meskipun itu menantunya sendiri, namun ternyata dirinya di tipu mentah-mentah.

__ADS_1


Ingin rasanya Agung memaki dirinya sendiri yang begitu bodohnya di perdaya oleh Sean dengan mudahnya, sehingga dia harus kehilangan banyak aset berharganya dan juga keinginannya untuk menjatuhkan Hasan tidak terealisasi sama sekali. Karma datang terlalu cepat pada Agung kali ini.


__ADS_2