Dendam Cinta Sang Kapten

Dendam Cinta Sang Kapten
Gagal move on


__ADS_3

"Kamu dari apartemen seruni?" Tanya Arjuna sambil menatap tajam wajah Ines yang terlihat semakin gelagapan dan kebingungan saat harus menjawab pertanyaan Arjuna yang di lontarkan padanya.


"Ah, emh-- tidak, itu aku sejak tadi di rumah, hanya saja saat aku merasa bosan, aku pergi untuk mencari angin, tiba-tiba di jalan asam lambung ku kambuh." Ines sungguh pembohong yang buruk, karena sekilas saja mendengar penjelasan wanita itu, semua orang pasti akan dapat dengan mudah menyimpulkan kalau dia sedang berbohong, hanya saja Arjuna sengaja berpura-pura percaya dengan apa yang di katakan Ines untuk saat ini, tak ada untungnya juga untuk memaksa wanita itu mengatakan yang sebenarnya terjadi, karena seberapapun Arjuna berusaha Ines tak akan berkata jujur, jadi dari pada malah membuat permasalahan baru dengan putri atasannya itu, lebih baik dia memperlihatkan wajah setuju degan jawaban yang di berikan Ines padanya.


"Oo," hanya tanggapan singkat itu yang bisa Arjuna tampakkan untuk menutupi rasa penasarannya.


Sesampainya di rumah dinas malam itu, Arjuna langsung di sambut Fajar dengan berondongan pertanyaan yang sepertinya dia tahan sejak tadi.


"Kak, ada masalah apa, kenapa sekarang tak pernah lagi cerita pada ku mengenai kasus yang kakak tangani, kenapa nomor-nonor tadi yang kakak suruh lacak semua berada di satu titik yang sama, yaitu kediaman Hasan Basri?" Fajar menumpahkan pertanyaan yang memenuhi dadanya, Arjuna yang dulu selalu terbuka dan mengatakan apapun masalah yang sedang di hadapinya , kini terkesan agak menjauh dan tertutup, komandan yang sudah di anggapnya sebagai kakaknya sendiri itu pun tak pernah lagi melibatkan dirinya dalam beberapa kasus yang di tanganinya, Arjuna kini lebih sering bekerja sendirian.


"Banyak sekali pertanyaan mu Jar, aku sampai bingung harus menjawab yang mana." Ujar Arjuna sambil mendudukan dirinya di kursi ruang tengah, memilih posisi berhadapan dengan Fajar yang duduk di seberangnya.


"Kak, apa kakak masih menyimpan dendam pada Chery Arleta, dan masih menargetkannya? Kak, ayolah, pengadilan bahkan sudah memutuskan untuk membebaskannya, berhenti mengusiknya, dia sudah hancur, aku bahkan merasa berdosa karena ikut andil dalam kehancuran karir dan hidupnya." Kata Fajar memelas.


"Aku memang sudah memutuskan untuk berhenti dan tak lagi menargetkan Chery dalam pengungkapan kasus Luna, tapi aku mempunyai target lain dalam hal ini." jawab Arjuna.


"Kak, sudahlah. Cukup sampai di sini saja, aku tak mau dendam itu malah membawa kakak ke jurang kehancuran untuk diri kakak sendiri." Fajar merasa mempunyai perasaan kurang baik dengan 'Target lain' yang Arjuna tuju.


"Apa yang aku lakukan mungkin tak akan menghidupkan kembali Luna, namun setidaknya aku bisa menebus kesalahan ku dan juga dosa mu pada wanita yang sebelumnya menjadi target salah sasaran ku, namun kali ini aku yakin aku akan tepat sasaran."


**


Di apartemen Chery,


"Apa kamu sakit Sean? Kenapa kamu berada di rumah sakit tadi?" Tanya Chery penasaranm karena itu terlalu kebetulan buatnya.


"Aku baru menjenguk seseorang di sana," jawab Sean, sejak perjalanan mereka dari rumah sakit, wajah Sean terus bermuram durja, dia juga terlihat lebih banyak bengong dan terdiam, sungguh tak seperti biasanya.


"Apa kamu sedang ada masalah?" tanya Chery lagi penasaran karena sikap Sean sungguh tak seperti biasanya.

__ADS_1


"Apa kamu pernah mencintai seseorang yang tak mungkin untuk di miliki?" Alih-alih menjawab pertanyaan Chery, Sean justru malah melempar pertanyaan pada gadis itu.


"Apa anda sedang patah hati, pak duda tampan? Katakan, wanita bodoh mana yang membuat mu patah hati seperti ini?" goda Chery, membuat Sean mau tidak mau menyunggingkan senyumnya karena merasa geli dengan godaan Chery itu.


"Berarti kamu termasuk kategori wanita bodoh itu, karena sejak awal kamu sudahmembuat ku patah hati dengan penolakan mu." Sean balas menggoda Chery.


"Maaf, bahkan sampai sekarang hati ku masih 'forbidden' untuk mu. Aku masih setia dengan pilihan hati ku." Tegas Chery benar-benar tak ingin di antara mereka tak ada hubungan lain selain antara pengacara dan kliennya.


"Aku tau, kamu mencintai kapten Arjuna, begitu pun sebaliknya, aku dapat melihat kalian saling mencintai." Ujar Sean santai.


"Kamu tau? Apa se-kentara itu, ya?" Chery membelalakan matanya tak percaya.


"Hanya orang buta yang tak dapat melihat 'love language' di antara kalian, meskipun keduanya sama-sama memunafikan diri satu sama lain."


Wajah Chery memerah, dia tak tau jika ternyata perasaan cintanya pada Arjuna semudah itu bisa di tangkap oleh Sean dan mungkin saja bisa di tangkap juga oleh orang lain, tiba-tiba saat ini dia merasa bodoh dan malu.


"Tidak sepenuhnya salah sih, tadinya aku berniat menggoda mu dan mendapatkan mu, namun ternyata kamu tak seperti artis-artis lainnya yang bisa di ajak macem-macem." Cengir Sean.


"Wah, pak duda, kamu punya niat busuk ternyata!" Chery melemparkan bantal sofa ke wajah Sean.


"Hahaha,,, niatnya aku akan berhenti mengejar kembali mantan istri ku jika aku bisa mendapatkan mu, tapi ternyata takdir menggariskan ku untuk tetap mengejar cinta mantan istri, sepertinya aku gagal move on."


Wajah Sean terlihat kembali muram saat mengingat kejadian beberapa jam yang lalu,


Beberapa jam sebelumnya...


Selesai mengerjakan tugas kantornya, Sean berniat untuk melihat keadaan Chery di apartemennya, entahlah dia seperti punya kewajiban moral untuk melindungi gadis malang itu meskipun dalam hal ini statusnya hanya sebagai pengacaranya, tidak lebih, Sean juga tau kalau Chery tak menyimpan perasaan lebih untuknya, tapi untuk saat ini Sean merasa harus tetap berhubungan dengan Chery sebagai apapun itu, ada hal-hal yang mengharuskan dia untuk tetap berada di dekat Chery yang tak bisa dia jelaskan alasannya pada gadis itu.


Namun betapa terkejutnya Sean saat sedang berada di basement apartemen Chery untuk memarkirkan kendaraannya, dia melihat dua orang pria sedang mencorat coret mobil suv hitam yang dia kenali merupakan mobil milik Arjuna, karena beberapa kali pernah melihat Arjuna mengendarai mobil itu.

__ADS_1


Bukan coretan yang bernada ancaman dan kata-kata kotor yang yang terdapat di body mobil itu yang membuat Sean terkejut, melainkan seorang wanita yang terlihat tengah berdiri di belakang dua pria yang terus menyemprotkan cat di permukaan mobil.


Sean langsung turun dari mobilnya dan menghampiri mereka,


"Ines!" panggil Sean, dan wanita itu terlihat sangat terkejut karena tak menyangka jika perbuatanya akan di pergoki seseorang, padahal rasa-rasanya dia sudah sangat berhati-hati.


"Kamu memakai barang-barang haram itu lagi?" Tanya Sean sambil menatap tajam mata Ines yang terdapat cekungan hitam yang cukup jelas di bawahnya.


"Apa peduli mu, jangan ganggu urusan ku!" ketus Ines, dan kembali fokus memerintah ke dua orang pria di hadapannya untuk terus melanjutkan perintahnya.


"Hentikan, ada cctv di sini, ini tindakan melanggar hukum, kalian bisa di pidanakan." Ancam Sean.


"Aku sudah mensterilkan kamera pengawas di sini, lagi pula, siapa yang berani menangkap ku, apa itu kau?" pandangan Ines begitu merendahkan.


"Ines, berhenti melakukan kegilaan, aku tak mau sesuatu yang buruk terjadi pada mu!" Sean menarik lengan Ines.


"Lepaskan aku! Tolong jaga sikap mu, aku bukan lagi siapa-siapa mu, dan katakan pada kekasih mu, jangan pernah ganggu calon suami ku, kalau hidupnya ingin tenang." Ines menarik tangannya dengan kasar dan melepaskan diri dari genggaman tangan Sean.


"Ines, aku mohon. Aku mencintai mu dan tak ingin hal buruk terjadi pada mu!"


"Arrggh,,, omong kosong dengan cinta, nyatanya cinta kita sudah gagal dan sudah selesai." Ines terus berontak dan menjauh karena Sean terus berusaha menggapainya.


"Aku tak pernah merasa gagal dalam mencintai mu, sabar ku, sayang ku, tulus ku, sudah pernah ku berikan pada mu selama ini, kasih dan jutaan maaf juga sudah ikhlas ku berikan untuk mu, tapi sayangnya aku gagal membuat mu merasa cukup hanya dengan adanya aku." Ujar Sean dengan suara menahan perih.


"Maafkan aku, sebaiknya kau berhenti sampai di sini, lanjutkan saja kisah mu, dan aku lanjutkan kisah ku sendiri, aku sudah selesai di cerita mu, mari kita lupakan apa yang telah terjadi dan jalani hidup kita masing-masing." Pungkas Ines.


Namun tak lama setelah mengatakan itu wajah Ines tiba-tiba terlihat pucat dan sesaaat kemudian dia tak sadarkan diri di sana, untung saja Sean sigap menagan tubuh Ines agar tak jatuh ke lantai dan segera menggendongnya menuju mobil untuk membawa wanita itu ke rumah sakit agar mendapat pertolongan.


(Btw, maaf buat yang kecewa karena Sean ternyata pernah menikah sama Ines dan masih bucin sama mantan istrinya itu ya,,, ✌️🙏)

__ADS_1


__ADS_2