Dendam Cinta Sang Kapten

Dendam Cinta Sang Kapten
Ini bukan drama


__ADS_3

"Oh tidak, situasi ini bahkan lebih parah di bandingkan peperangan melawan para bandit sadis yang terjadi semalam di halaman balai desa," protes Chery pada Tuhan dalam hatinya.


Tak terbayangkan sebelumnya kalau dirinya akan terjebak dalam situasi yang mengharuskan dirinya bersama pria itu lagi dan lagi, ini penyiksaan batin! Keluh Chery.


Wajah tampan Arjuna memang memanjakan matanya, namun bagaimana dengan batinnya yang akan selalu tersiksa karena sikapnya yang kasar dan selalu sinis, sungguh Arjuna kini bagai sosok pangeran tampan berhati iblis bagi Chery.


Mata awas Arjuna mengedar ke segala penjuru, waspada dengan semua hal buruk yang mungkin saja terjadi, lawannya bukan hanya bandit dan hewan liar saat ini, namun juga alam, hal terakhir yang sungguh tak dapat di prediksi kapan datangnya dan tak dapat di ukur kekuatannya.


Mereka berteduh di bawah sebuah pohon jati yang di perkirakan usianya sudah lebih dari 50 tahunan, karena terlihat dari tingginya yang mungkin mencapai lebih dari 20 meter dan batang pohon ini cukup besar, sehingga di perlukan sekurangnya empat orang dewasa bergandengan tangan untuk mengukur kelilingnya, daunnya yang lebat dan rindang juga lumayan bisa melindungi tubuh Arjuna dan Chery yang kini duduk di pangkal pohonnya yang sudah membesar menyerupai kursi.


Hening, tak ada lagi suara yang mereka ucapkan satu sama lain, mereka hanya saling diam dalam kebisuan sambil mendengarkan suara hujan, angin, nyanyian binatang malam, dan sesekali petir yang menyambar dan hanya bisa menikmati dinginnya angin malam yang menembus tubuh mereka yang di balut pakaian yang sudah basah kuyup akibat di guyur air hujan.


Tak ada rasa takut sedikit pun dalam diri Chery, entah mengapa mengetahui ada sosok Arjuna di sampingnya dia merasa percaya diri dan berpikir kalau semua akan baik-baik saja.


Sampai pada suatu ketika,


Grrrrr!


Seekor anjing hutan dengan ukuran yang sangat besar tiba-tiba datang dan tepat berada di hadapan mereka, matanya menyala merah di kegelapan, binatang itu sepeti siap menerkam karena merasa ada mahluk lain yang sengaja ingin memasuki garis teritorialnya yang hanya boleh menjadi milik kawanannya saja, dan jika ada mahluk lain mereka akan menganggap itu sebagai ancaman bagi mereka.

__ADS_1


Suara geraman anjing hutan itu berhasil membuat nyali Chery sedikit ciut setelah sejak tadi mati-matian berusaha sok cool di hadapan Arjuna, gadis itu beringsut menggeserkan bokongnya merapat ke dekat Arjuna.


"Diam dan berusaha untuk tetap tenang, jangan melakukan gerakan yang tiba-tiba dan menarik perhatiannya." Kata Arjuna yang menyadari kalau sepertinya Chery sedikit ketakutan, karena ujung bajunya kini sedang di tarik oleh gadis itu.


"Hemm" jawab Chery sambil matanya terus mengawasi pergerakan binatang itu karena takut menyerang secara tiba-tiba.


Benar saja, sat Arjuna baru saja hendak mengeluarkan senjata dari balik punggungnya, anjing itu tiba-tiba saja melompat dan menyerang secara membabi buta ke pangkuan Arjuna, sementara Arjuna mati-matian menahan cakaran dan kepala binatang itu yang berusaha menggigitnya, saat itu keadaan menjadi kacau, Chery juga panik karena baru pernah menghadapi situasi seperti itu, dia sering berinteraksi dengan hewan-hewan peliharaan seperti anjing dan kucing, tapi mereka semua jinak, dan mahluk liar ini sangat mengerikan.


Melihat Arjuna yang sepertinya sedikit kewalahan, Chery secara tak sengaja melihat dahan kayu yang lumayan besar teronggok di tanah, tanpa membuang waktu lagi, dia mengambilnya, mengumpulkan semua keberanian, dia menghantamkan dahan itu membabi buta pada anjing yang sedang menyerang Arjuna, sehingga membuat hewan itu kesakitan dan menghentikan serangannya lantas pergi menjauh meninggalkan mereka.


Arjuna terduduk lemas di tanah, dia pikir nyawanya akan berakhir di hutan ini, betapa ironisnya bukan, dimana perwira terlatih seperti dia yang berhasil selamat dalam peperangan di daerah konflik, menang melawan bandit sadis, tapi harus mati karena seekor anjing hutan, itu akan sangat melukai harga dirinya tentu saja.


"Kau baik-baik saja?" tanya Chery mendekat, namun Arjuna merentangkan tangannya ke depan seolah memberi isyarat kalau dirinya tak ingin di dekati oleh gadis itu.


"Tapi tangan mu," Cheri menunjuk ke arah lengan Arjuna, seragam lengan panjangnya robek, dan kulitnya koyak terlihat mengeluarkan darah segar, sepertinya dia terkena gigitan mahluk tadi.


"Aku sudah pernah mengalami luka lebih parah dari ini, dan aku masih tetap hidup sampai sekarang, tidak usah sok peduli pada ku!" jawabnya seraya kembali berdiri dan duduk di tempat tadi mereka berteduh.


"Baiklah, aku tak akan peduli pada mu bahkan jika tangan mu harus busuk dan di amputasi akibat gigitan binatang itu." Chery terpancing emosinya.

__ADS_1


Lagi-lagi pria itu bertingkah sombong dan arogan setelah di selamatkan oleh dirinya, dua kali dirinya menyelamatkan nyawanya, dan sebanyak itu pula dirinya di maki setelahnya, mahluk sesabar apapun pasti akan marah jika di perlakukan seperti itu, pikir Chery. Seperti ada gumpalan besar di tenggorokannya kini, rasanya sesak dan sakit, marah yang tak tersalurkan membuat dirinya merasa 'gondok' sendiri.


Malam semakin larut, keduanya sengaja saling menghindar untuk berinteraksi, saling mengabaikan, saling memunggungi seolah-olah mereka sendirian di hutan itu, sampai pada akhirnya tiba-tiba Chery mendengar suara erangan tertahan dari balik punggungnya, khawatir suara hewan yang datang lagi, Cheri sedikit menolehkan kepalanya memeriksa apa yang terjadi di belakangnya.


Tak ada hewan buas atau apapun di sana, hanya ada Arjuna yang wajahnya memucat memegangi tangannya yang terluka, bibirnya membiru dan tubuhnya terlihat menggigil, punggungnya bersandar tanpa tenaga ke batang pohon jati yang besar itu.


Chery membuang pandangannya dan kembali menatap ke lawan arah, pria itu terlalu sombong, untuk apa dia menolongnya, cukup dua kali dirinya menyelamatkan pria menyebalkan itu, dia tak mau kebaikannya akan di balas dengan kata-kata menyakitkan dari mulut beracun Arjuna, sakit hatinya bahkan belum hilang sampai detik ini.


Ingin rasanya Chery menutup telinganya dari suara erangan kesakitan Arjuna yang jaraknya hanya beberapa jengkal saja darinya, sisi kemanusiaannya tergerak, tapi separuh dari dirinya menolak, siapa tadi yang bersumpah serapah tak akan menolongnya meski tangan Arjuna busuk dan buntung sekalipun, lantas kalau tiba-tiba dirinya menolong pria itu, apa tidak menjatuhkan harga dirinya sendiri?


"Tidak,,,tidak,,, pria sombong dan berlidah tajam, sepertinya dia memang pantas mendapatkan itu semua, biarkan saja, toh dia juga pasti akan menolak dengan kasar jika di tolong oleh ku!" gumam Chery dalam hatinya.


Lama kelamaan suara erangan itu akhirnya melemah dan hilang, di dorong oleh rasa kepenasarannya, Chery membalikan tubuhnya menghadap Arjuna yang kini kedua matanya tertutup rapat.


"Hey kau, apa kau tidur? Atau kau ma-mati?" gugup Chery menggoyang tubuh Arjuna pelan dengan ujung jari telunjuknya.


Tak ada respon apapun dari Arjuna, pria itu tetap terpejam.


"Hey kau, Juna,,, jangan bercanda, jangan mempermainkan ku, Arjuna, apa kau sedang menakuti ku? Ini tidak lucu sama sekali, bangunlah!" Chery mengguncang tubuh Arjuna lebih kencang, tapi tetap tak ada jawaban dari pria itu, dia tetap diam.

__ADS_1


Menyadari ada yang tidak beres dengan tubuh Arjuna saat ini, Chery menjadi semakin panik, dia tak tau apa yang harus dia lakukan, dan sebagai catatan, dia berada di tengah hutan tengah malam seperti ini, dan hujan masih turun dengan derasnya, kurang menderita dan kurang menyedihkan apa lagi coba?


Bagai mana bisa Tuhan sekejam ini menempatkan dirinya di keadaan se rumit ini, setidaknya Tuhan jangan membuat seting berada di hutan belantara seperti ini untuk kisahnya kali ini, sungguh Chery berharap kalau ini hanya sebuah syuting adegan drama, tapi sayangnya ini kehidupan nyata, bukan drama yang dia bisa protes pada sutradara jika adegan tidak sesuai dengan kehendaknya, sutradaranya untuk kali ini tak bisa di protes, karena itu garis takdir yang harus di jalaninya dari Tuhan.


__ADS_2