
"Kau lihat Jar? Satu persatu orang yang mungkin bisa di jadikan saksi dalam kasus ini seperti sengaja di hilangkan, siapa lagi yang mampu melakukan ini semua selain keluarga tirani sekelas orang tua Chery si artis sombong itu, demi menutupi dan menyelamatkan kelakuan anaknya mereka bahkan mengorbankan banyak nyawa untuk ini, tapi aku bersumpah kalau aku tak akan tinggal diam untuk semua ini." geram Arjuna berasumsi.
Setelah dia mendapatkan keterangan dari penjaga piket tahanan saat kejadian Herman di larikan ke rumah sakit kemarin, katanya ada tamu yang menemui Herman hari itu, bahkan mereka terlihat akrab mengobrol, tamunitu juga sepertinya membawakan Herman cemilan, namun selang beberapa menit kemudian Herman kejang-kejang, karena Herman juga mempunyai riwayat penyakit epilepsi, para penjaga mengira kalau penyakit Herman kambuh, namun setelah di larikan ke rumah sakit ternyata ada racun di tubuh Herman.
Atas keterangan itu lah, kecurigaan Arjuna semakin menguat, semua hal seakan saling terkoneksi, saat Chery datang ke kantor polisi, tiba-tiba Herman keracunan, begitu pun saat dirinya ingin meminta keterangan Parman, dia tiba-tiba di temukan tewas gantung diri, ini terlalu aneh.
"Lapor Ndan, ini data orang-orang yang mengikuti kita saat hendak ke kampung halaman Pak tua yang tewas gantung diri itu." Fajar mengerahkan beberapa lembar kertas di sertai beberapa lembar foto.
"Mereka preman dari luar pulau, sepertinya ada orang yang sengaja memakai jasa preman dari luar pulau agar wajahnya tidak familiar bagi para polisi di sini, karena kalau menggunakan preman lokal sini akan sangat mudah mengenalinya." sambung Fajar melanjutkan laporannya.
"Ada informasi lain?" tanya Arjuna membolak-balikan kertas dan foto di tangannya.
"Emh,,, menurut info dari orang kepercayaan kita, dua orang dari mereka itu pekerja kilang minyak yang sedang cuti, dan minggu depan akan kembali bertugas ke lepas pantai di luar pulau." Terang Fajar agak hati-hati menyampaikan informasi ini, karena dia yakin keterangannya kalai ini akan semakin menyudutkan artis idolanya, namun keterangan ini pun tak mungkin dia sembunyikan dari atasannya.
"Aku sudah menduganya, pasti ada hubungannya dengan Hasan Basri, kilang minyak. Hmmm,,, siapa lagi kalau bukan anak buah pria tiran itu." Gumam Arjuna sambil memainkan kertas dan foto di tangannya, kali ini pikirannya tak akan meleset lagi, jelas semua kejadian beruntut ini ada kaitannya dengan Cheri dan keluarganya.
"Pindahkan Herman ke rumah sakit yang tidak di ketahui orang, aku akan mengurus prosedurnya." Titah Arjuna, kali ini dia tak boleh kehilangan kesempatannya kali ini dan membiarkan saksi kuncinya terbunuh sia-sia lagi seperti sebelumnya.
__ADS_1
"Siap Ndan, laksanakan!" Fajar segera menjalankan perintah Arjuna tanpa banyak bertanya lagi, sekian tahun menjadi ajudan Arjuna membuat pria itu sudah sangat paham dengan keinginan atasannya, dan kemana dia harus membawa Herman.
Sementara di tempat lain, Chery terlihat mondar-mandir tak jelas menunggu kedatangan Dion sang asisten yang sejak kemarin saat dia hendak ke kantor polisi, pria kematu itu menghilang dengan alasan ada kepentingan yang sangat mendadak.
Kegiatan syuting kali ini sudah lumayan tenang karena peran Meta kini sudah di gantikan oleh artis lain, tantangan Chery kali ini hanya tinggal Rey yang masih menjadi pasangan mainnya.
Akhirnya orang yang di tunggunya sejak tadi datang juga, Chery segera menarik pergelangan tangan Dion yang datang tepat saat waktu istirahat syutingnya.
"Ada apa sih, Cher!" protes Dion menggeliat, mencoba melepaskan lengannya dari genggaman kuat Chery.
"Jelasin sama gue kenapa lo berbohong masalah pak Herman?" todong Chery yang langsung menanyakan hal itu pada manajer plus plusnya itu.
"Mak, gue tau ya kalau pak Herman ada di penjara karena nabrak orang. Yang pengen gue tanya itu sejak kapan?" bentak Chery membuat Dion agak gelagapan dan kebingungan harus menjawab apa.
Tentu saja dia tak mungkin mengatakan kalau Herman sebenarnya di penjara menggantikan Chery yang sudah menabrak mati seseorang.
"I-tu sudah lama." Gagap Dion.
__ADS_1
"Maksudnya? Kapan, gue mau tau kapan waktunya!" desak Chery.
"Beberapa bulan yang lalu," Dion sudah sangat tertekan dengan pertanyaan Chery saat ini, dia takut kalau dia sampai salah bicara, salah-salah dirinya akan berurusan dengan Hasan dan Siska yang mewanti-wanti dirinya untuk menutup rapat masalah ini dari telinga Chery.
"Tak lama setelah kecelakaan yang kamu alami." Bohong Dion.
"Tapi, bukannya mobil gue itu rusak parah karena kecelakaan malam itu, makanya lo jual dan ganti mobil gue dengan yang sekarang, lalu kenapa setelah itu Pak Herman bisa kecelakaan dengan menggunakan mobil yang sama?" selidik Chery, dia sempat di perlihatkan foto-foto mobil yang di gunakan Herman saat kejadian dan juga dimana lokasi kejadian oleh Fajar lewat ponselnya, tadinya Fajar berharap menangkap gelagat gugup atau ketakutan dari wajah dan gesture Chery saat dia perlihatkan foto-foto itu jika kecurigaan Arjuna benar kalau malam itu sebenarnya Chey ada di lokasi kejadian. Namun sayangnya ekspresi yang di suguhkan Chery malah ekspresi kebingungan, membuat Fajar kembali meyakini keyakinan dalam hatinya kalau sebenarnya Chery tidak seperti yang Arjuna tuduhkan.
"Emh,, itu saat Pak Herman hendak membawa mobil mu dari bengkel Cher, sepertinya keadan mesinnya masih ada yang rusak jadi pak Herman tidak bisa mengendalikan kendaraannya malam itu dan dia menabrak seseorang sampai meninggal. Aku memang belum memberi tahu masalah ini pada mu karena memang Pak Herman sendiri yang melarang untuk menceritakannya pada siapapun, termasuk kamu Cher. Maaf!" Dion mengarang bebas demi menutupi kebohongannya.
Rupanya karangan bebas yang di ceritakan Dion padanya membuat Chery merasa percaya dengan cerita yang di sampaikan Dion, apalagi selama ini Dion selalu jujur padanya.
"Owh kasihan sekali, by the way,,, korban yang gue tabrak itu gimana keadaannya sekarang, apa gue udah bisa bertemu sama dia? Gue pengen say sorry secara langsung sama dia, sungguh malam itu gue gak sengaja, sampai saat ini gue masih gak bisa tidur kalau ingat kejadian itu." Keluh Chery yang tak pernah tau kalau korban yang di tabraknya sudah meninggal, dan dia adalah Luna, calon istri Arjuna, perwira polisi yang kini sangat membencinya.
"Tenang saja, secepatnya kita atur jadwal buat ketemu sama dia, lagian setiap bulannya aku selalu mengirimkan uang buat dia, sesuai permintaan mu, dia udah baik-baik saja." Kata Dion, tubuhnya sampai merinding saat mengatakan kalimat terakhir yang di ucapkannya barusan, jelas-jelas dia tau kalau korban yang di tabrak Chery sudah meninggal, tapi dia harus menutupi kebohongan dengan kebohongajn lainnya membuat dirinya merasa sangat merasa berdosa.
Sungguh dia tak berniat menutupi kebenaran ini dari Chery, andai saja dia punya keberanian, dia akan mengatakan semua yang terjadi pada artis asuhannya itu, namun ancaman Hasan tentang keselamatan keluarganya yang pastinya bukan main-main membuat nyali pria kemayu itu ciut, dia sungguh tau bagaimana kejamnya Hasan Basri, sehingga dia tak ingin mencari masalah dengan Ayah tiri dari Chery itu.
__ADS_1
Terdengar egois memang, demi keselamatan dirinya dan keluarganya dia justru menutup mata dan ikut berkolaborasi dalam kebohongan besar itu, namun itulah hidup, itu lah sisi lain sifat manusia yang terkadang akan menjadi sangat egois dan tak peduli dengan siapapun juga demi kepentingannya sendiri.