
Batin Arjuna bergejolak, dia tak tau apa yang harus di lakukannya saat ini, ucapan Chery padanya bahkan tak ada cacatnya sama sekali, semua yang di ucapkan gadis itu semuanya adalah kebenaran.
Benar jika dirinya membenci Chery, benar jika dirinya enggan untuk berterimakasih, benar jika kini dirinya hanya harus cepat pulih demi agar mereka tak lebih lama bersama, benar jika para anggotanya kini menunggunya, terlebih para anggota dan penduduk yang terluka, mereka membutuhkan bantuan medis segera, dan dia sudah menjanjikan untuk memberikan mereka tambahan bantuan medis, sayangnya insiden ini terjadi tanpa di duga.
Tapi untuk memakan makanan yang sudah di siapkan Chery, baginya itu juga tidak mungkin, dia terlalu gengsi untuk menerima kebaikan gadis itu.
"Berikan aku enertab!" kata Arjuna, dia tak mau memakan ransum nasi yang telah di panaskan Chery tadi.
*Enertab adalah bagian dari paket ransum tadi, sama-sama makanan untuk prajurit saat keadaan mendesak seperti perang atau berada di hutan, bentuknya seperti biskuit dengan ukuran sebesar telapak tangan anak balita, tekstrurnya kasar namun kaya akan nutrisi, sehingga jika hanya memakannya akan mengenyangkan perut seharian.
"Tapi kau sedang sakit, perut mu butuh makanan yang lebih lembut!" debat Chery.
"Aku tau apa yang aku butuhkan untuk tubuh ku!" ketus Arjuna keras kepala, sehingga Chery dengan terpaksa memberikan biskuit itu pada Arjuna.
"Mengejutkan, ternyata kau tau cara memasak ransum dan tau enertab," Arjuna senyum mengejek.
"Aku pernah syuting jadi prajurit wanita yang berada di medan peperangan, dan aku di beritahu makanan seperti itu, tapi aku tak pernah memakannya." terang Chery santai, dia sudah tak ambil pusing lagi dan seolah sudah terbiasa dengan sikap menyebalkan Arjuna.
"Harusnya sekali-kali kau beradegan syuting jadi anak kost yang memasak mie instan, sehingga tak menghancurkan dapur orang saat harus masak mie!" sindir Arjuna dengan tawa merendahkan.
"Ish, dalam keadaan hampir mati saja mulut mu masih mengeluarkan kata-kata yang tak layak di dengar, kau memang juara kalau urusan nyinyir!" sinis Chery lantas menyambar nasi yang sedianya hendak di berikan pada Arjuna, namun karena pria itu menolak untuk memakan makanan yang di siapkannya, akhirnya dia memakannya sendiri daripada mubazir, lagi pula perutnya memang terasa lapar saat ini, dia sudah tak memperdulikan apa-apa lagi, dia langsung makan dengan lahap.
"Hmm, lumayan enak juga," gumamnya yang barau pernah memakan makanan seperti itu.
Setelah selesai makan, Chery bangkit dari duduknya dan melangkahkan kakinya.
__ADS_1
"Kau mau kemana?" tegur Arjuna.
"Melihat-lihat sekitar dan menghirup udara segar, mengurus mu semalaman membuat ku sumpek!" jawab Chery acuh tak acuh
"Jika dalam sepuluh menit kau tak kembali, aku akan meninggalkan mu sendirian di hutan!" ancam Arjuna.
"Silahkan kalau tubuh mu sudah merasa mampu, lagi pula,,, lihatlah motor mu," Chery menunjuk ke arah motor yang tertutup tanah dan hanya menyisakan stangnya saja, rupanya semalam terjadi longsor lagi, bagaimana bisa dia tak mengetahuinya.
Memikirkan tentang longsor yang terjadi semalam, dia jadi sedikit membayangkan bagaimana keadaan Chery tadi malam, dia harus tetap terjaga menjaga dirinya, mengobatinya, sendirian di tengah hutan dan longsor yang bisa saja menimbun mereka berdua, kenapa pagi ini dia masih terlihat biasa saja, apa dia tidak merasa panik atau ketakutan? Atau dia sengaja menyembunyikan semua itu, secara dia seorang artis hebat yang bisa berperan dengan seribu wajah, tertawa dalam kesedihan tentu saja bukan hal yang sulit dia lakukan.
Tiba-tiba saja secuil penyesalan timbul di hatinya, tat kala dia melihat luka-luka kecil dirinya pun di obati oleh gadis itu, bahkan kuku- kuku tangannya telah terpotong rapi dan bersih, dia melakukan semua itu untuknya, padahal kata Tores gadis itu bahkan belum memejamkan matanya sama sekali selama dua malam ini, dan itu artinya ini malam ke tiga dia tidak tidur, namun dia malah terus memperlakukannya dengan sinis dan kasar.
Arjuna mencoba berdiri, sudah lewat sepuluh menit Cheri hilang dari pandangannya, dan gadis itu belum juga kembali, dia juga tak mengatakan akan pergi kemana, "Apakah gadis itu putus asa dan memutuskan untuk mengakhiri hidupnya gara-gara aku terus memperlakukannya dengan tidak baik?" pikir Arjuna.
Segala macam pikiran buruk memenuhi kepalanya, apalagi ini sudah hampir setengah jam berlalu, untuk yang pertama kalinya dia menghawatirkan wanita lain selain Luna dan bunda Ami.
Baru beberapa langkah meninggalkan pohon jati raksasa yang menjadi tempat berteduhnya, Chery muncul dari balik pepohonan,
"Mau kemana? Jadi beneran mau ninggalin aku?" tanya Chery mengingat ancaman Arjuna tadi yang akan meninggalkan dirinya jika tak kembali dalam sepuluh menit.
"Kau pergi lebih dari sepuluh menit, jadi aku berniat pergi sendiri melanjutkan perjalanan tanpa mu. Sepertinya kau betah berada di hutan!" bohong Arjuna, terlalu gengsi mengakui kalau dirinya sebenarnya tadi berniat mencari Chery karena merasa khawatir.
"Kita gak bisa melanjutkan perjalanan, sepertinya kita terjebak, aku sudah melihat-lihat longsor semalam menutup akses untuk ke kota maupun untuk kembali ke tempat asal kita, belum lagi motor mu juga tidak bisa di gunakan, jalan satu-satunya mungkin kita jalan kaki, tapi kondisi mu tidak memungkinkan saat ini. Mungkin kita harus pasrah menunggu bantuan datang, atau kau beristirahat beberapa saat sampai tenaga pulih baru melanjutkan perjalanan." Urai Chery panjang lebar.
"Aku kuat, ayo lanjutkan perjalanan!" ajak Arjuna, tentu saja dia tak ingin kehilangan muka, dengan status dirinya yang seorang komandan tak boleh selemah itu, apalagi di hadapan Chery, bisa-bisa gadis itu mengejek dan menyepelekannya, pikirnya.
__ADS_1
"Tidak, kau belum cukup kuat, setidaknya satu malam lagi kau harus beristirahat, aku tak mau di tengah jalan kau merepotkan ku lagi seperti semalam." tolak Chery yang langsung membuat harga diri Arjuna meluncur bebas, Chery akhirnya bisa mengembalikan kata-kata yang di ucapkan Arjuna padanya kata 'merepotkan' biasanya milik arjuna untuk menekan Chery, tapi kali ini, dia mendapatkannya dari gadis itu, ternyata sangattidak enak rasanya di anggap beban dan merepotkan oleh orang lain.
"Jangan meremehkan ku, aku masih kuat." Kata Arjuna membela diri.
"Jangan memaksakan diri, aku sudah melihat-lihat, ada gubuk kecil tak jauh dari sini, kita bisa beristirahat dan menginap semalam lagi di sana, langit juga sudah semakin gelap, sepertinya akan kembali turun hujan." Ujar Chery yang rupanya kepergiannya tadi untuk melihat-lihat keadaan sekitarnya.
Arjuna terdiam, dia tak merespon apapun dari usul Chery, biasanya dia yang selalu memerintah dan membuat rencana, mengapa tiba-tiba sekarang dirinya tak berdaya di bawah perintah dan rencana seorang gadis bernama Chery yang mungkin sudah merenggut nyawa calon istrinya malam itu.
"Ayo!" ajak Chery.
Bagai kerbau yang di cocok hidungnya, Arjuna mengekor Chery meski dengan enggan, dapat dilihat olehnya gadis itu bahkan berusaha mengangkat ransel besar miliknya dengan kesusahan, dia tidak mengizinkan dirinya mengangkat tas besar itu.
"Berikan pada ku, itu ransel ku, biar aku yang membawanya." Pinta Arjuna tak ingin kehilangan harga dirinya karena Chery membawakan tas besar miliknya, dia sungguh mengutuk anjing sialan yang telah menggigitnya dan membuat badannya selemah ini sekarang.
"Kau hanya perlu membawa tubuh mu dengan baik, masalah ransel ini biar aku saja, fokus saja untuk cepat sembuh agar kita cepat-cepat tak saling bertemu lagi." Jawab Chery cuek.
"Cih, kau pikir aku senang terjebak dengan mu seperti ini, aku pasti pulih secepatnya, ini hanya gigitan anjing, aku bahkan pernah tertembak dua kali dan aku masih tetap hidup!"
"Ya syukurlah, aku harap kau masih punya keberuntungan itu, agar kau tetap hidup!"
"Apa kau mendoakan ku agar aku mati?" Arjuna melebarkan matanya dengan kesal, namun Chery hanya tersenyum jahil dpan tak peduli.
"Disini, ini lebih baik dari pada kita berteduh di bawah pohon tadi." Kata Chery saat mereka berada di depan gubuk kecil entah milik siapa, sepertinya itu tempat peristirahatan para bandit jika sedang beroperasi, karena di dalam gubuk itu terdapat sebuah bale-bale beralaskan tikar, lumayan untuk sekedar meluruskan punggung.
"Bagaimana?" sambung Chery meminta pendapat Arjuna.
__ADS_1
"Terserah lah, bukankah kau yang mengatur semuanya, aku hanya di anggap pasien tak berguna dan lemah di sini." Kesal Arjuna mendudukan dirinya di bale-bale dan merebahkan diri, rasanya sangat nyaman bisa berbaring di sana meskipun tanpa kasur di atasnya, semalaman duduk membuat pinggangnya terasa pegal.