
"Selamat datang di tempat kami para bapak polisi, suatu kehormatan tersendiri bagi kami atas kunjungan anda semua," ucap salah seorang dari mereka yang sepertinya pimpinan para bandit itu, terlihat dari gayanya yang lebih percaya diri di antara empat lainnya.
"Apa begini cara anda menyambut tamu, tuan?" Arjuna tetap tenang, sementara ketiga anggotanya sudah bercucuran keringat dingin saking ketakutannya.
"Anda ingin di sambut dengan cara seperti apa pak Kapten Arjuna Bimantara?" timpalnya lagi menyebutkan nama lengkap Arjuna dengan fasihnya.
"Wah pengetahuan anda cukup bagus juga, kita bahkan belum sempat berkenalan, dan aku belum lama berada di sini, namun ternyata aku cukup terkenal juga ya, di antara kalian?" seloroh Arjuna sambil tersenyum miring.
"Cih, lumayan songong juga rupanya pak kepala polisi yang satu ini, apa dia belum pernah merasakan bagaimana panasnya muntahan peluru dari senjata rakitan kita jika bersarang di tubuhnya?" Pria itu terbahak mengejek dan di ikuti tawa ke empat anak buahnya yang lain.
"Mana saya berani tuan Berto, anda adalah pemimpin daerah barat yang di takuti, tapi saya tau kalau hati anda sebenarnya baik, ayo kita berbicara sambil ngopi, jamu lah tamu anda ini," kata Arjuna masih tetap tenang saat berbicara dengan pemimpin bandit daerah barat yang di kenal kejam itu.
"Ah, rupanya kau juga tau nama ku? Apa itu berarti aku terkenal juga di kalangan kalian?" Berto yang wajahnya di penuhi berewok menyeramkan itu menyeringai.
Tentu saja Arjuna sudah mempelajari siapa-siapa saja pemimpin bandit di daerah sana dari jurnal kepolisian yang dia baca, selain Berto yang menguasai daerah barat, ada juga ketua bandit dari daerah timur yang bernama Ribo, dan mereka adalah musuh bebuyutan, namun kabar buruknya, dari kedua kubu itu mereka sama-sama memusuhi polisi.
"Benar, anda mengalahkan popularitas selebriti tanah air, jika di daerah sini." Ujar Arjuna di akhiri tawa garingnya.
"Bawa mereka ke dalam!" titah Berto pada para anak buahnya.
Saat masuk ke dalam rumah yang terbuat dari bambu dan tak terlalu besar itu, nampak Chery yang tergolek tak sadarkan diri di sudut ruangan dengan kening yang masih mengeluarkan darah segar.
Meliahat hal itu entah mengapa Arjuna malah membayangkan kalau yang saat ini dalam pandangannya adalah Luna yang meminta pertolongannya, dia sampai beberapa kali menggelengkan kepalanya dan mengusap kasar wajahnya, guna menghilangkan bayangan anehnya itu.
__ADS_1
"Apa aku bisa berbicara berdua dengan mu, Berto?" Arjuna mulai melakukan keahliannya bernegosiasi, tak dapat di pungkiri, di jajaran kepolisian kantornya terdahulu, Arjuna adalah negosiator terbaik di ibukota, beberapa kasus penculikan dapat dia taklukan tanpa melukai korban maupun pelaku dengan negosiasinya yang cermat dan tepat sasaran.
Berto tampak berpikir sejenak,
"Aku hanya ingin berbicara, ambilah senjata ku dan geledah saja tubuh ku aku pastikan aku tak akan menyakiti mu, lagi pula kau petarung hebat, jika aku melawan mu dengan tangan kosong, sama saja aku menyerahkan nyawa ku dengan sukarela pada mu, percayalah, aku hanya ingin kita bicara saja." Ujar Arjuna si pemegang sabuk hitam taekwondo dan beberapa kali menjuarai tinju bebas di luar negeri sebagai perwakilan dari kepolisian itu merendah.
"Oke," Berto mengalah, dia juga lumayan penasaran, hal apa yang ingin Arjuna bicarakan dengannya.
Setelah anak buah Berto menggeledah tubuh Arjuna dan di pastikan kepala polisi itu tak membawa atau menyembunyikan senjata di manapun, dia di izinkan masuk ke sebuah ruangan menemui Berto untuk berbicara empat mata saja.
Hampir satu jam lamanya Arjuna dan Berto berbicara empat mata di dalam ruangan itu, sesekali terdengar seperti benda di lempar, gebrakan meja, namun rak seorang pun berani masuk ke ruangan itu, Berto sudah mewanti-wanti agar tak ada yang mengganggu pembicaraannya dengan Arjuna, sehingga anak buahnya hanya bisa berjaga-jaga dan waspada di dekat ruangan tempat bos mereka berdiskusi, jika ada hal yang bersifat mencurigakan, mereka tak segan untuk menggeruduk ruangan itu.
Arjuna dan Berto keluar dari ruangan itu, tak nampak bekas-bekas adu jotos atau apapun di antara mereka, bahkan baju mereka saja masih tampak rapi, tak kusut sedikit pun.
Namun lain cerita dengan hari ini, tangkapan kakap sekelas kepala polisi yang sebenarnya paling di buru itu di lepaskan begitu saja, bahkan buruan wanita cantik yang mereka dapatkan dan belum sempat di apa-apakan juga malah di suruh untuk di bawa pergi sekalian oleh para polisi tangkapan mereka.
Entah apa yang di bicarakan dan di sepakati antara Arjuna dan Berto di dalam sana, sehingga Berto seperti mengalah begitu saja pada Arjuna, atau mungkin malah Berto meminta imbalan tertentu? Ah entahlah, hanya mereka berdua dan Tuhan saja yang tahu perihal apa saja yang mereka bicarakan.
"Biar aku saja!" kata Arjuna saat dua orang anggotanya hendak membopong tubuh Chery yang masih tak sadarkan diri, entah mengapa sungguh dalam bayangannya wanita itu adalah Luna, dan dia tak bisa membiarkan pria lain untuk menyentuh tubuh kekasihnya dalam bayangannya.
Arjuna mengangkat tubuh ramping Chery yang tergeletak di pojok ruangan tanpa kesulitan sedikit pun.
"Bangunlah, kita sudah berada jauh dari markas mereka, tubuh mu benar-benar berat!" kata Arjuna yang sejak tadi menyadari kalau Chery hanya pura-pura pingsan.
__ADS_1
"Cih, akting mu sungguh buruk, kenapa bisa menjadi artis sih? Cepatlah bangun atau ku tinggalkan kau di sini biar mereka menangkap mu kembali, kita akan menaiki motor," langkah Arjuna berhenti saat sudah berada di tempat mereka tertangkap tadi oleh kawanan Berto.
Chery membuka matanya, dia memang berpura-pura pingsan demi menghindari tindakan yang lebih brutal dari para bandit itu, sambil meringis menahan sakit di keningnya yang terasa nyut-nyutan karena luka akibat di pukul gagang senjata tadi.
"Dari jutaan polisi di dunia ini, kenapa harus kau yang menolong ku, apa Tuhan sengaja ingin membuat ku berhutang budi pada mu?" gerutu Chery, dia tak menununjukkan keterkejutannya lagi, karena rasa terkejutnya sudah dia rasakan saat sedikit mengintip dengan membuka sedikit matanya kala pura-pura pingsan tadi di dalam rumah itu.
Chery tak menyangka akan bertemu dengan Arjuna di tempat itu, rasanya tadi Chery ingin bangun dan berlari berhambur memeluk Arjuna kalau saja dia tak ingat sedang pura-pura pingsan.
"Manusia tak tau terima kasih, apa menurut mu aku pengen banget nyelametin kamu? TIDAK!" Arjuna menurunkan tubuh Chery dari pangkuannya.
"Cepat, naiklah, sebelum hari gelap dan hujan turun!" Ajak Arjuna seraya menyuruh Chery untuk duduk di jok belakang motor yang akan di kendarainya.
Langit sudah terlihat gelap, awan hitam sangat tebal dan siap menumpahkan air hujan, tak menunggu lama, hujan deras benar-benar turun, suasana jalanan menjadi sangat gelap dan licin, mereka hanya mengandalkan penerangan dari lampu motor, padahal hari belum begitu malam, masih pukul setengah enam sore.
"Apa kita berhenti dan mencari tempat berteduh dulu, Ndan?" kata salah seorang anggotanya.
"Lanjutkan saja perjalanan kita, akan lebih berbahaya jika kita berhenti di hutan, aku akan langsung ke rumah, kalian pulang dan beristirahatlah!" ujar Arjuna yang harus berpisah di persimpangan jalan hutan karena arah rumah mereka berbeda.
Arjuna menahan nafasnya saat kedua tangan Chery melingkar erat di pinggang sampai perutnya karena sepertinya wanita itu ketakutan dengan suara petir yang terus menyambar-nyambar, belum lagi rasa dingin yang menembus tulangnya akibat guyuran air hujan yang menerpa tubuhnya.
Ini kali pertama Arjuna berdekatan bahkan kontak fisik dengan lawan jenis selain Luna, selama dirinya berpacaran denga Luna, dia selalu menjaga jarak dengan perempuan manapun karena tak ingin itu menjadi masalah namtinya dengan Luna, meskipun Luna bukan tipe wanita pemarah dan pencemburu, namun Arjuna akan merasa bersalah dan sangat tidak merasa nyaman jika dia dekat dengan wanita lain selain Luna, dia tak pernah tau bagaimana harus berbicara dengan lawan jenis selain kekasihnya itu, ya selain bundanya tentu saja.
Biasanya arjuna akan berubah menjadi pribadi yang dingin dan tertutup jika berhadapan dengan wanita selain kekasihnya itu.
__ADS_1
Maka jika di tanya bagaimana perasaannya sekarang saat Chery memeluk erat pinggangnya, jawabannya adalah, pikirannya kacau, jantungnya bedegup kencang dan konsentrasinya hampir hilang, se-parah itu memang.