Dendam Cinta Sang Kapten

Dendam Cinta Sang Kapten
Tamu tak di undang


__ADS_3

Arjuna menahan nafasnya beberapa detik saat dia membuka pintu untuk tamunya, perasaan kacau tak menentu pun langsung saja dia rasakan saat itu, sehingga Arjuna hanya bisa berdiri mematung menatap tiga orang tamu yang berkunjung ke rumahnya itu, tentu saja tamu yang sangat tidak dia harapkan kehadirannya.


"Selamat siang Ndan, kami mengantar tuan, ah, emh,, saudara ini ke sini karena mencari nona Chery." Ucap salah satu dari dua orang berseragam yang Arjuna kenali kalau itu adalah anggotanya, sementara satu orang pria yang katanya mencari keberadaan Chery juga tentu di kenalnya, hanya saja, Arjuna sama sekali tak mengharapkan kehadirannya di sini, setidaknya tidak secepat ini.


"Ah, ternyata anda, pak polisi ganteng, kita pernah bertemu di rumah sakit saat Chery ribut di klub!" suara pria yang di buat secentil itu, siapa lagi kalau bukan Dion.


Chery yang dari ruang makan samar-samar mendengar suara Dion, langsung berlari ke depan.


"Dion,,, bagaimana bisa sampai sini? Aku pikir kau tak akan mencari ku, mak!" Chery berhambur memeluk tubuh pria gemulai itu dan mereka saling tangis, beberapa hari terpisah mereka yang setiap hari selalu bersama itu saling melepas rindu.


"Hemmm,,," deham Arjuna, meskipun Dion pria yang melambai, namun dia tak rela jika Chery berpelukan seperti itu, apalagi itu di depan matanya langsung.


Chery melepas pelukannya, dan melirik ke arah Arjuna yang menunjukkan wajah datarnya.


"Chery, apa kamu baik-baik saja? Wajah mu, tangan mu, kaki mu, tubuh mu--" seperti biasa, Dion mengecek keadaan Chery, mulai dari meraba setiap bagian wajahnya, tangan dan juga kakinya, bahkan tubuhnya, namun semua itu tak berlaku jika di hadapan Arjuna, karena tangan Arjuna langsnung menarik Chery saat pria kemayu itu hendak meraba dan memeriksa tubuh Chery.


"Stop! Beraninya kau melecehkan seorang wanita di depan petugas!" tatapan mata Arjuna menyorot tajam, membuat Dion ketakutan.


"Sa-saya hanya ingin memeriksa dan memastikan keadaannya baik-baik saja,"


"Keadaannya sangat baik-baik saja seperti yang kau lihat saat ini, kau bukan dokter yang memeriksa tubuh pasiennya, stop mencari-cari alasan, kau tidak sopan!" semprot Arjuna.


"Juna,,,, tidak usah se-galak itu padanya, dia melihat ku telan jang saja tak akan mungkin tergoda, kecuali kamu yang telan jang di hadapannya," lerai Chery yang tahu kalau Arjuna sedang cemburu.


Tapi Arjuna malah melengos, dia bahkan bergegas ke luar menemui kedua anggotanya dan berbincang di sana, meninggalkan Chery yang tengah melepas rasa rindu dwngan asisten setianya, sungguh mata dan hatinya tidak sekuat itu untuk melihat keakraban yang di tunjukan dua mahluk berlainan jenis tapi berjiwa sama-sama perempuan itu.


Chery tercenung sesaat setelah mendengar semua yang di katakan Dion padanya, perannya sebagai pemain utama dalam film terbarunya bersama Rey di gantikan oleh Meta tanpa persetujuan darinya karena dirinya yang menghilang, bahkan gosip di ibu kota beredar kalau Chery meninggal akibat di culik dan di bunuh pemberontak negara di pulau ini.


"Banyak hal yang harus kamu selesaikan, sebaiknya kamu ikut aku pulang sekarang, anak buah ayah mu juga sebentar lagi akan kemari menjemput mu." Kata Dion lagi.


"Cih, ayah ku! Jangan pernah sebut Hasan sebagai ayah ku!" decih Chery, perutnya mual dan amarahnya selalu memuncak jika mengingat tentang pria tua yang di nikahi ibunya itu.

__ADS_1


"Cepatlah, aku sudah memesan 2 tiket untuk penerbangan malam ini, kita akan pulang berdua jika kamu tak mau pulang bersama para anak buah Hasan."


"Beri aku waktu untuk berbicara dengan Arjuna sebentar, bagaimana pun aku harus berpamitan dengan baik, dia sudah menyelamatkan hidup ku, dan juga memberi tumpangan hidup untuk ku." Chery menatap sendu ke arah luar pintu yang terbuka lebar, dimana Arjuna sedang asik berbicara serius dengan kedua anggotanya.


"Cher,,, apa kalian,,,,,?" goda Dion.


"Oh, hentikan omong kosong mu, kami belum sampai sana." Wajah Chery memerah.


"Chery wajah mu merah, dan apa artinya kami belum sampai sana? Kami? Kalian sedekat itu bahkan hanya baru beberapa hari bersama? Selera mu memang bukan kaleng-kaleng nona,,," Dion mengacungkan kedua jempol tangannya ke udara.


Sementara Chery hanya melengos pura-pura tak menanggapinya, dia hanya berjalan ke depan mendekati Arjuna.


"Juna, apa kita bisa bicara berdua?" panggil Chery.


Arjuna menoleh, perasaannya sungguh tidak enak saat ini, dia tau kalau suatu hari Chery pasti harus kembali ke kotanya, dia punya kehidupan sendiri dan tempat ini bukan yang terbaik untuknya, terlebih dirinya pun belum bisa memberinya kepastian akan kelanjutan hubungan mereka.


Kepulangan Chery ke tempat asalnya mu gkin itu yang terbaik untuknya, dan perpisahan ini juga mungkin yang terbaik juga bagi mereka, khususnya Arjuna, dimana dia bisa lebih bisa memikirkan semuanya dengan lebih jernih saat Chery tak ada di dekatnya, benarkan dia menginginkan gadis itu di hidupnya, atau hanya sekedar cinta sesaat saja.


"Oh ayolah, kita hanya berbicara, singkirkan pikiran-pikiran kotor mu!" Arjuna menyentil kening Chery saat gadis itu ternganga dan menutup mulutnya mendengar ajakan Arjuna yang memintanya mengobrol di kamar.


"Aku harus pulang!" Chery membuka pembicaraan setelah beberapa menit mereka hanya saling terdiam di kamar itu.


"Aku tau, kamu punya kehidupan sendiri, dan ini bukan kehidupan mu. Pulanglah, aku akan segera mencari dan menemui mu saat aku sudah menemukan jawaban ku atas perasaan ku pada mu." Pasrah Arjuna.


"Aku akan menunggu, kapan pun kamu mendapat jawaban itu datang dan temui aku, perasaan ku tak akan berubah, tapi jika hati mu bukan untuk aku, jangan pernah menemui ku sampai kapan pun, biar perasaan ini menjadi milik ku saja." Chery sedikit menundukan wajahnya menyembunyikan airmata yang mulai menggenang di kedua pelupuk matanya.


Chery tau ini akan terjadi, sesiap apapun dirinya menyiapkan diri untuk sebuah perpisahan dengan Arjuna, tapi rasa sakit itu tetap ada, meski tak ada status apapun dalam kedekatan mereka, namun entah mengapa Chery selalu merasa ada keterikatan batin dengan Arjuna, bahkan saat di hari pertama mereka bertemu saat di Ibukota.


"Kamu baik-baik saja?" Arjuna meraih bahu Chery dan memeluknya dengan erat, sementara Chery hanya menjawab pertanyaan Arjuna dengan deraian air mata di balik bahu kokoh pria itu, bagaimana pun 'no good in goodbye' (tidak ada yang baik-baik saja dalam sebuah perpisahan), tapi ini kenyataan yang harus di hadapi oleh mereka.


"Aku pastikan aku akan datang pada mu, tunggu aku, karena aku mulai yakin akan perasaan ku, jujur saja, saat ini berat bagi ku untuk melepas mu." Bisik Arjuna dengan suara tercekat.

__ADS_1


"Benarkah?" Chery mengurai pelukannya dan mencari kebohongan di mata Arjuna, namun yang dia lihat hanya ada kejujuran dan ketulusan.


"Hemh, aku akan segera menyusul mu, aku akan menemui seseorang yang mungkin bisa membantu ku untuk kembali bertugas di ibukota, dan kita bisa bersama lagi." Ucap Arjuna meyakinkan.


"Aku senang mendengarnya, dan aku pastikan aku akan menunggu mu." Mata Chery kembali berbinar memancarkan kebahagiaan, dia bahkan mencium pipi Arjuna beberapa kali saking bahagianya.


"Oke, sabar, ya. Tapi ada hal yang sangat ingin aku tanyakan pada mu, dan aku tak bisa menyimpannya aku tak akan pernah bisa tenang sebelum aku mendapat jawabannya dari mu." Wajah Arjuna berubah sangat serius.


"Apa itu?" Chery mengernyit menyatukan kedua alisnya.


"Aku ingin bertanya pada mu dan aku harap kamu menjawab ku dengan se-jujur-jujurnya."


"Cepat katakan, kamu membuat ku penasaran," Chery tak bisa menyembunyikan rasa kepenasarannya.


"Apa kamu pernah telan jang di depan asisten mu itu?" tanya Arjuna, sepertinya dia kepikiran dengan apa yang di ucapkan Chery tadi.


"Oh Tuhan, bagaimana bisa kamu mempertanyakan hal itu?" Chery terbahak mendengar pertanyaan konyol Arjuna.


"Chery,aku ingin jawaban mu, kenapa kamu malah tertawa, apa itu sangat lucu bagi mu? Membayangkan hal itu membuat ku ingin marah rasanya." Arjuna cemberut.


"Bahkan kamu membayangkannya? Oh, Juna,,, kenapa kamu bisa begitu imut seperti ini?" Chery mencubit pipi Arjuna yang masih cemberut.


"Chery!" Arjuna tidak sabar menunggu jawaban.


"Oke, oke,,, tentu saja aku tidak pernah telan jang di depan Dion, bagaimana pun, terlepas dari kebelokannya, dia tetap seorang pria, aku tetap punya batasan dengannya." Terang Chery.


"Aku tak suka kamu terlalu dekat dan bersentuhan fisik seperti tadi dengan dia, apalagi dia berani meraba-raba tubuh mu, itu membuat ku ingin marah."


"Siap pak Komandan tercinta, aku tunggu kamu di Ibu kota."


"Pasti, segera!"

__ADS_1


Tak terdengar lagi suara perbincangan di antara mereka, karena kini bibir mereka saling terpaut seraya tak ingin melewatkan momen perpisahan yang mungkin hanya sementara, karena Arjuna sudah meyakinkan hatinya dan membulatkan tekatnya untuk menyusul Cheri segera ke Ibu kota.


__ADS_2