
Hari ini, tepat di hari ke lima Chery di tahan, dia di panggil dan di bawa keluar dari tahanan, seorang opsir wanita membawanya ke ruangan Arjuna, hati Chery berdebat tidak menentu saat membaca papan nama yang tertempel di pintu ruangan yang akan di masukinya itu. Chery belum mempersiapkan diri untuk bertemu Arjuna, tapi untungnya di ruangan itu juga sudah Ada Sean yang menyambutnya dengan senyum merekah.
"Sean," panggil Chery.
Sean menepuk kursi kosong di sebelahnya, seraya mengisyaratkan untuk gadis itu duduk di sampingnya, sementara Arjuna yang sejak tadi pura-pura sibuk dengan berkas di tangannya hanya bisa mencuri pandang lewat ujung matanya saja.
"Berkasnya sudah lengkap dan sesuai, selama penyidikan berlangsung klien anda bisa menjadi tahanan kota, saya harap anda dan klien anda bisa kooperatif dan bersedia datang kapan pun jika kami membutuhkan informasi atau apapun yang berkaitan dengan kasus ini." Arjuna menyerahkan kembali berkas persetujuan penangguhan tahanan Chery yang baru saja dia tanda tangani, tentu saja semua itu sudah sesuai prosedur hukum yang berlaku, dan bagi seorang Sean Malik, hal itu merupakan sesuatu yang mudah.
"Kami mengerti, dan bukankah saya juga sudah mengatakan pada anda, kalau saya bersedia menjadi jaminan jika sampai klien saya berusaha melarikan diri," jawab Sean lugas.
"Baiklah, kalau anda memang sudah berani menjaminkan diri anda seperti itu, saya percaya." Kata Arjuna dingin.
"Tentu saja saya harus berani melakukan itu, karena orang-orang yang seharusnya melindungi Chery nyatanyabterlalu pengecut untuk melakukan itu, dia tidak punya siapa pun sekarang, bahkan orang yang dia harapkan untuk melindunginya malah---"
"Sean cukup." Cegah Chery menghentikan ucapan Sean, dia tak mau Sean membuka cerita tentang tangisnya malam itu di pesta.
"Apa maksud anda?" Arjuna menatap nyalang ke arah Sean, dia merasa kalau pria itu sedang menyindir dirinya, atau mungkin perasaan dirinya yang sedang sensitif saja.
"Tidak ada maksud lain, saya hanya mengatakan yang sebenarnya, bukankah memang nasib dia sangat memprihatinkan, selama lima hari di tahan, tak ada keluarga atau orang terdekatnya yang datang bahkan hanya untuk sekedar menjenguk, apa anda merasa saya salah bicara, atau mungkin perkataan saya menyinggung anda?" tanya Sean dengan wajah yang di buat se-polos mungkin, namun hal itu justru terasa seperti sebuah sindiran yang di sengaja untuk mengejeknya bagi Arjuna.
__ADS_1
"Tidak!" tegas Arjuna, sungguh Arjuna saat ini merasa sedang di permainkan Sean, dan dia tidak suka dengan ke-tidak berdayaannya ini.
Chery pun di buat seperti tak bisa berbuat apa-apa untuk menghentikan ocehan Sean, sehingga di mata Arjuna Chery terkesan sekongkol ingin memojokan dirinya.
Untuk pertamakalinya mereka bertatap muka tapi tak saling sapa, dalam satu ruangan, tapi mereka seperti asing, tak satupun di antara Arjuna maupun Chery yang mau menurunkan ego, namun kedua sama-sama tersiksa oleh rasa cinta dan benci yang sama besarnya.
Arjuna menatap nanar pintu yang masih terbuka lebar tempat dimana tadi Chery di bawa pergi Sean keluar dari ruangannya dan juga keluar dari ruang tahanan dimana selama lima hari terakhir ini dia masih bisa mengawasi dan menatap gadis itu meskipun dari kejauhan, dia akan sangat merasa kehilangan dan merindukan gadis itu, ternyata dia tak bisa benar-benar membencinya sekuat apapun dirinya berusaha.
**
"Kamu bisa tinggal di sini dulu untuk sementara, ini apartemen ku, dan kamu bisa memakainya, terlalu berbahaya jika kamu tinggal di apartemen mu, akan banyak wartawan yang mengetahuinya, kantor ku juga tak jauh dari daerah sini, jadi kalau ada apa-apa, kamu jangan sungkan untuk menghubungi ku." Sean memberikan kartu akses apartemennya.
"Kamu tinggal di kantor? Aku tak masalah dengan para wartawan itu, aku sudah biasa menghadapi hal sepeti itu." Ujar Chery, dia merasa tak enak hati jika gara-gara dirinya Sean harus tinggal di kantornya karena apartemennya yang hanya memiliki satu kamar itu di pakai olehnya.
"Aku ingin bertemu dengan keluarga korban yang aku tabrak itu. Aku ingin meminta maaf." Kata Chery, setelah tau kejadian sebenarnya, dia sungguh di hantui rasa bersalah di setiap detiknya.
"Namanya Luna, seorang guru taman kanak-kanak, dia gadis yatim piatu, dan keluarga terdekatnya adalah pengurus panti yang selama ini telah membesarkannya, namanya bu Ami, biasa di panggil Bunda oleh anak-anak asuhnya termasuk Luna, namun saat aku ingin menemuinya di panti kemarin, kata mereka beliau saat ini sedang di rawat di rumah sakit." Urai Sean.
"Aku ingin bertemu dengannya, tolong antarkan aku padanya, aku ingin meminta maaf, dan juga ingin berkunjung ke makam wanita yang aku tabrak itu. Kamu bisa menolongku, bukan?" Chery menatap Sean dengan tatapan penuh permohonan.
__ADS_1
"Tapi---" saat ini Sean benar-benar ragu, apa dia harus menceritakan pada Chery kalau gadis yang dia tabrak adalah calon istri Arjuna, sungguh Sean tak tega menceritakan semua itu, dengan semua beban berat yang di tanggug Chery dan perjalanan pahit yang dia lalui, rasanya Sean tak sampai hati untuk memberitahukan semua itu, apalagi dia teringat betapa hancurnya Chery saat melihat Arjuna yang sedang bersama Ines di pesta malam itu, meski Chery tak pernah bercerita apapun tentang hubungan dirinya dan Arjuna dan bahkan terkesan menyembunyikan hal itu darinya, namun Sean bisa melihat betapa Chery sangat mencintai Arjuna, begitu pun sebaliknya, hanya saja mereka seperti terjebak dalam situasi yang serba sulit dan rumit saat ini.
"Katakan di rumah sakit mana beliau di rawat, aku akan pergi sendiri ke sana jika kamu tak mau mengantarkan ku, aku juga sadar kalau aku sudah banyak merepotkan mu, aku bisa mengerti jika kamu tak mau mengantar ku."
"Bukan begitu, tapi--- akh oke, oke aku akan antar kamu. Ayo!" Sean putus asa, dia merasa serba salah dalam hal ini, jika dirinya tak mengantar Chery, gadis itu pasti akan nekat pergi sendiri dan dia tidak bisa membiarkan itu terjadi.
Setelah Sean mendapat izin dari kepala rumah sakit yang merupakan teman dari ayahnya, dia dan Chery di izinkan untuk menemui Ami di ruang rawatnya.
Chery membuka kaca mata hitam dan topinya, namun dia tidak melepas maskernya, saat memasuki ruang rawat wanita paruh baya itu, Chery saat ini memang tengah menjadi sorotan publik, jadi Sean memintanya untuk menyembunyikan jati dirinya jika di ruang publik.
Kaki Chery terasa berat dan tubuhnya bergetar saat melihat tubuh wanita tua yang tergolek lemas tak berdaya di atas ranjang rumah sakit, dia masuk ke ruangan itu sendirian dan meminta Sean untuk menunggunya di luar, dia ingin bertemu secara pribadi dengan wanita tua itu.
"Selamat sore bunda," sapa Chery saat tiba-tiba Ami membuka matanya perlahan karena merasa ada orang lain di ruangannya, Ami memang mulai berangsur baik dan sudah keluar dari ruang icu namun keadaannya masih lemah, wanita itu hanya mengedipkan mata sambil menarik lengkungan bibirnya memberikan senyuman untuk Chery, gadis yang tidak di kenalnya.
"Bunda, saya datang untuk meminta maaf. Karena saya sudah--"
"Chery, apa yang kau lakukan di sini!" bentak Arjuna dari arah pintu ruang rawat, Sean yang berjaga di depan pintu tak mampu menahan Arjuna untuk masuk ke ruangan itu dan akhirnya memergoki Chery di sana, akhirnya ketakutan Sean terjadi, dan ini akan semakin rumit di samping akan semakin menyiksa batin Chery nantinya jika sampai dia tau hal yang sebenarnya.
"A-Arjuna," Chery tak kalah kaget dengan kehadiran Arjuna di sana.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan pada ibu ku? Tolong cepat keluar dari sini!" Arjuna menyeret paksa lengan Chery untuk keluar dari ruangan itu, sungguh Arjuna tak mau jika sampai Chery berkata yang tidak-tidak dan berakibat kesehatan bundanya itu menjadi drop kembali.
"I-ibu mu?" cicit Chery, dia coba mencerna apa yang di ucapkan Arjuna padanya dan memastikan kalau apa yang di dengar nya tidaklah salah.