Dendam Cinta Sang Kapten

Dendam Cinta Sang Kapten
Pindah Tugas


__ADS_3

"Apa salah saya, Ndan?" tanya Arjuna mengangkat wajahnya menghadap atasannya setelah beberapa saat tertunduk membaca tulisan panjang pada kertas di tangannya itu.


"Tidak ada yang salah dengan mu, ini hanya mutasi atau rolling biasa saja, jangan terlalu banyak berpikir."


Rolling biasa saja? Tapi jelas-jelas di sana tertulis dia di pindahkan ke pulau yang jauh dari peradaban manusia, pulau terpencil yang di kelilingi hutan dan pegunungan, terang saja kalau Arjuna merasa dirinya sedang di buang atau bahkan dirinya sedang di beri hukuman atas kesalahan yang tak dia ketahui.


Belum lagi daerah itu terkenal dengan zona merah dimana tempat sarangnya para bandit dan pemberontak yang kejam yang tak segan-segan membunuh lawannya yang di anggap mengancam, yang lebih parah mereka sangat membenci dan memusuhi perugas keamanan seperti dirinya, bukankah itu berarti para atasannya sengaja membuang dirinya ke sana agar mati terbunuh di daerah konflik itu?


"Tapi ini di---"


Akh,,, rasanya Arjuna ingin memaki atasannya itu dan mempertanyakan atas dasar apa dirinya di pindahkan ke tempat se jauh itu, biasanya hanya orang-orang bermasalah atau yang tidak di sukai atasannya yang mendapat pemindahan ke pulau-pulau terpencil seperti ini, namun dirinya tak merasa membuat kesalahan dalam bekerja, dan juga tak merasa bermasah dengan para atasannya manapun.


"Di ingat lagi sumpah saat kau menjadi anggota, bukankah kau menyatakan kalau bersedia di tempatkan di mana pun, percayalah ini hanya pemindahan biasa." Lagi-lagi atasannya itu meyakinkan Arjuna kalau tak ada yang salah dan tak ada masalah dalam pemindahan tugas dirinya ke luar pulau saat ini.


Sebenarnya ini bukan pemindahan pertamanya, sebelumnya ia juga pernah di pindah tugaskan, namun masih di sekitaran dekat ibukota, dan bukan di buang ke pulau antah berantah.


Langkah Arjuna terlihat gontai, lemas dan tak bersemangat saat keluar dari ruang atasannya, Lagi-lagi dirinya sebagai anggota hanya bisa patuh pada keputusan atasannya, beginilah resiko pekerjaannya, harus siap di tempatkan dimana pun.


**


"Kak, kenapa tak mengajukan untuk mengajak ku juga ke sana," rengek Fajar saat ikut membereskan baju dan barang-barang Arjuna yang akan di bawa pindah ke tempat yang baru.

__ADS_1


"Sudahlah, posisi mu saat ini sudah bagus, aku juga tak ingin kau menjadi ajudan terlalu lama, kau berpotensi dan layak untuk mendapatkan karier lebih bagus dari pada terus menjadi ajudan ku." Ujar Arjuna.


Posisi Fajar memang kini naik menjadi salah satu staf di jajaran reskrim, setelah Arjuna resmi pindah tugas menjadi kepala polisi di daerah terpencil itu.


"Tapi kak, kakak sendirian di sana," lirih Fajar.


"Oh ayolah, aku tak sendirian di kantor polisi, banyak anggota di sana." Arjuna menampilkan senyum terbaiknya agar Fajar tak begitu berat melepasnya pergi, Arjuna tau Fajar sangat menyayanginya selayaknya kakaknya sendiri, namun seperti yang di katakannya tadi, Arjuna juga ingin Fajar lebih berkembang dalam pekerjaannya, tak hanya berdiri di belakangnya dan menjadi bayang-bayang dirinya saja.


"Lagi pula aku butuh kau untuk tetap di sini menjaga bunda, beliau sudah sering sakit-sakitan, aku titip bunda pada mu." Mata Arjuna hampir berkaca-kaca saat mengingat kaalau dirinya mungkin tak bisa lagi mengantar bunda Ami check up dan tak bisa sering-sering menengoknya di panti, agak berat memang, tapi kembali lagi ini sudah menjadi resiko tugasnya.


Sore ini Arjuna sudah di jadwalkan untuk berangkat, terbang ke tempat kerjanya yang baru, karena besok pagi akan menghadiri apel serah terima jabatan dari kepala polisi yang lama pada dirinya.


"Oh iya kak, aku ada sesuatu, aku berhasil meretas cctv jalan tempat kak Luna kecelakaan, gambarnya masih aku olah, nanti aku kirimkan kalau sudah selesai, semoga itu akan menjadi petunjuk baru untuk pengungkapan keadilan bagi kak Luna."


"Hati-hati dan jaga diri di sana, kak. Semoga kakak selalu di lindungi Tuhan." hanya itu yang bisa Fajar sampaikan, membayangkan Arjuna harus berada di daerah rawan konflik, membuat dirinya memikirkan hal-hal yang sangat mengerikan untuk di bayangkan.


Mereka berpisah di bandara, tak ada orang lain yang mengantarkan kepergiannya selain Fajar, tak ada Luna yang biasanya memeluknya dengan erat jika mengantarkan dirinya yang akan tugas ke luar kota, meski hanya satu atau dua hari saja.


Ah, Luna,,, bayangan wajah manis itu menghiasi pelupuk mata Arjuna saat dia duduk menyandar sendiri di kursi pesawat yang membawanya jauh dari semua kenanganntentang mereka, kemarin dia sempat mendatangi makamnya dan berpamitan, entah untuk berapa lama dirinya tak bisa berziarah ke makamnya, hanya sekedar melepas rindu yang tak lagi bisa sampaikan, namun hanya bisa di ungkapkan lewat kerelaan hati yang masih berat dia lakukan, karena rela tak semudah kata.


Tidak ada perpisahan yang baik-baik saja, apalagi untuk perpisahan yang di alami Arjuna, meski telah sekian bulan berlalu, ada hati dan perasaan yang luluh lantah saat semua kebahagiaan di paksa untuk selesai, butuh waktu untuk mengumpulkannkembali kepingan-kepingan hati yang hancur, bahkan Arjuna kehilangan harap kalau takdir akan membawa kebahagiaan yang baru baginya.

__ADS_1


Belum puas rasanya Arjuna mencintai Luna, sepertinya tak akan ada yang bisa menggantikan posisi Luna di hatinya karena Arjuna tak ingin mencintai orang lain selain Luna.


Lamunannya terhenti saat pramugari memberitahukan kalau pesawat akan segera mendarat di bandara tujuan, hampir tiga jam berada di udara di temani oleh bayangan manis Luna membuatnya seperti merasa Luna berada di sampingnya saat ini, menemaninya di sepanjang perjalanan.


Seorang opsir polisi menjemputnya di bandara, pria muda yang sepertinya baru lulus beberapa tahun dari pendidikan, usianya juga sepertinya beberapa tahun di bawah Fajar.


"Malam Ndan, selamat datang, saya Tores siap melayani anda, selama anda bertugas di sini." Sambut pria muda berkulit gelap dan berbibir tebal dengan rambut ikal itu menyambut kedatangan Arjuna, sepertinya pria bernama Tores itu akan menggantikan tugas Fajar sebelumnya sebagai ajudan.


"Malam Tores, terimakasih, semoga kita bisa bekerja sama ke depannya dengan baik, apa kau asli dari daerah sini?" tanya Arjuna saat mereka berada di dalam mobil jip yang mereka tumpangi malam itu.


"Ya, saya asli dari daerah sini, Ndan." Jawab Tores sambil terus serius menyetir di jalanan sepi di tepi sebuah hutan itu.


Sesekali mata Tores menyapu kanan dan kiri jalan memastikan kalau perjalanan mereka aman.


Baru setengah jam perjalanan, saat mereka semakin masuk ke dalam hutan,


"Awas, Ndan!" Teriak Tores menarik lengan kanan Arjuna agar mendekat ke arahnya.


Sebuah anak panah melesat tepat di samping jendela mobil tempat Arjuna duduk, untung saja anak panah itu tidak tembus, hanya membuat kaca jendela mobil retak.


"Shhhiiit,,,!" Maki Arjuna kaget bercampur marah.

__ADS_1


Baru saja dirinya tiba di tempat baru itu sudah di suguhi kejadian yang menegangkan yang hampir saja mengancam nyawanya.


Jika di dunia ini ada dua cara manusia dalam menghadapi kematiannya, yang pertama menunggu kematian itu datang, dan yang ke dua sengaja mendatanginya, sepertinya Arjuna kini termasuk golongan yang ke dua, lebih tepatnya di paksa untuk mendatangi kematian.


__ADS_2