
"Sebaiknya kau tanyakan hal itu pada putri mu." Hasan menoleh pasa Ines yang wajahnya langsung berubah pias, dan serba salah.
"Kenapa jadi Ines?" Tanya Agung lagi keheranan, karena se-tahunya, Ines tidak pernah mengetahui masalah investasi dirinya itu.
"Ya karena dia yang membuat Investasi mu hangus." Ujar Hasan dengan santainya sementara Ines kini mulai panik, sejak tadi dia hanya bisa meremas jari jemarinya sendiri untuk mengurasi kecemasannya, bagaimana dia bisa menjelaskan pada ayahnya tentang dirinya yang selama ini adalah pemakai obat terlarang, bahkan lebih dari itu dia juga ikut mengedarkan obat haram itu demi memenuhi kecanduannya dan juga gaya hidupnya yang hedon.
Lebih parahnya lagi uang investasi ayahnya di jadikan jaminan oleh Ines jika sewaktu-waktu dirinya ingin berhenti memasarkan obat-obat itu, karena ketika memutuskan untuk ikut terjun ke dunia hitam itu, tidak ada kata berhenti kecuali kematian atau ada jaminan dan perjanjian tertentu yang di sepakati seperti yag dilakukan Ines dan Hasan, yang menggunakan investasi ayahnya sebagai jaminan jika dirinya memilih untuk berhenti atau keluar dari lingkaran setan itu.
__ADS_1
"Ma-maafkan aku ayah," cicit Ines dengan suara bergetar.
"Jelaskan pada ayah, apa yang sebenarnya terjadi?" Bentak Agung mulai tak sabaran untuk mendengarkan pejelasan dari putrinya yang sepertinya tak berkeinginan untuk menjelaskan karena ketakutan pada dirinya yang terlihat menyeramkan karena di selimuti amarah.
"Oke, aku akan menjelaskan jika putri mu ini tak sanggup untuk bercerita, Jadi Ines sudah menjaminkan investasi mu agar dirinya bisa ikut menjadi distributor produk kita, karena dia memutuskan untuk berhenti, maka sesuai perjanjian, maka jaminannya hangus, ini surat perjanjiannya," Hasan mengeluarkan map berisi surat perjanjian yang di sepakati dirinya dan Ines saat dulu wanita itu meminta untu bergabung.
"Kau mungkin merasa sudah memberinya uang banyak, tapi kau tidak memberinya nark-oba, jangan katakan kalau kau tidak tahu bahwa anak mu ini pecandu? Pantas saja, dia berlari menemui ku karena dia tahu kalau hanya aku yang bisa memberinya kesenangan," Gelak tawa Hasan di akhir kalimat terdengar seperti ejekan dan hinaan sekaligus pukulan telak bagi Agung yang sungguh tidak mengetahui jika putrinya terjerembab dalam lembah hitam barang haram yang dia kelola dengan Hasan, sungguh Agung tak menyangka bahkan putrinya tidak hanya pemakai tapi juga ikut andil dalam perputaran pengedarannya.
__ADS_1
"Katakan kau itu tidak benar, nak!" Agung mengguncang tubuh Ines, berharap kalau apa yang di dengarnya melalui mulut Hasan kali ini hanyalah fitnah atau karangan Hasan belaka, namun Ines kini seperti batu, diam tidak bergeming, tidak ada penyangkalan maupun pengakuan keluar dari mulutnya.
"Ines, katakan kalau ini semua omong kosong!" teriak Agung, namun Ines hanya bisa menitikan air mata tanpa suara.
"Bajingan, aku yakin kalau ini semua akal-akalan mu menjerat putri ku menjadi seorang pecandu dan kemudian pengedar, sehingga kau bisa menguasai uang investasiku, kau bukan hanya licik, tapi juga sangat jahat,aku tak akan tinggal diam dengan semua masalah ini, kau yang mengibarkan bendera peperangan ini." Ancam Agung yang tetap mengira kalau hancurnya sang putri merupakan ulah Hasan yang sengaja menjeratnya.
"Kau pikir aku takut? Apa yang bisa kau lakukan? Kau ingin melaporkan masalah uang investasi mu di bisnis obat terlarang yang tiba-tiba hangus karena ulah anak mu yang menjadikan itu sebagai jaminan dirinya sebagai penjual obat terlarang? Kau lupa kalau bukan hanya aku dan kau yang akan hancur dalam hal ini, tapi putri mu juga, atau kau ingin kita bertiga berkumpul dan sama-sama berada di dalam tahanan?"Kata Hasan seolah menyadarkan Agung jika dalam hal ini dirinya lagi-lagi dalam posisi tidak bisa berbuat apa-apa, membongkar kejahatan Hasan sama dengan menjerumuskan dirinya pada lubang yang sama, karena dirinya menjalani bisnis yang sama dengan Hasan, selain itu putri semata wayangnya pu akan ikut terseret dalam pusaran masalah yang sama jika sampai kejahatan Hasan terkuak.
__ADS_1
"Aku pasti akan mendapatkan cara bagaimana bisa menjatuhkan mu tanpa aku atau anak ku ikut terjatuh bersama mu, kau tunggu dan nantikan saja saat-saat kehancuran mu!" Ancam Agung, yang awalnya berniat untuk meminta bantuan Hasan untuk berdamai dengan Arjuna demi tetap berlangsungnya pernikahan sang putri, namun ujung-ujungnya malah membuka perseteruan dan peperangan anatara dirinya dan Hasan, perseteruan antar dua orang petinggi yang sama-sama memegang kartu as masing-masing lawan itu sepertinya akan berlangsung sangat sengit, entah siapa yang akan di kalahkan terlebih dahulu, atau bahkan akan sama-sama kalah karena keduanya sama-sama bersalah?