Dendam Cinta Sang Kapten

Dendam Cinta Sang Kapten
mereka sepasang kekasih?


__ADS_3

Arjuna keluar dari kamar segera, dia ingin berbicara pada Tores dan menanyakan apa maksud dari perkataannya tadi, namun terlambat, karena Tores bahkan sudah pergi meninggalkan rumah dinas itu dengan menggunakan sepeda motornya, dia tak ingin mengganggu Arjuna dan Chery.


Terlambat bagi Arjuna untuk menjelaskan dan meluruskan pikiran konyol yang di miliki Tores, pria muda itu dengan cepatnya menghilang di bawah guyuran hujan yang mulai turun dengan derasnya, entah kemana perginya pria itu.


Mata Arjuna menatap ke arah pintu yang bahkan Tores lupa menutupnya saking buru-burunya dia pergi, tiba-tiba Arjuna merasa ada yang aneh dengajn pikirannya sendiri, sejak kapan dia peduli dengan pemikiran orang lain tentang dirinya? Bukankah selama ini dia selalu berprinsip kalau dia tak pernah peduli dengan pemikira orang lain, selama apa yang di lakukannya benar dan tak merugikan orang lain.


Arjuna mengendikan bahunya, saat ini dia hanya perlu kembali pada prinsip awalnya, tak perlu menerangkan apapun pada Tores tentang apa dan bagaimana hubungannya dengan Chery, karena itu tidaklah penting.


"Makanlah, aku tak mau kau sakit dan membuat ku semakin kerepotan karena mengurus mu, aku bukan pengangguran!" ucap Arjuna dari ambang pintu.


Sungguh saat ini Chery sangat ingin menolaknya dengan sobong, namun cacing perutnya tak bisa di ajaknya bekerja sama, mereka terus saja berteriak meraung-raung meminta makanan.


Dengan enggan akhirnya Chery bangkit dari tempat tidurnya, badannya sedikit terasa lebih baik meski masih sedikit pusing, tapi dia benar-benar harus makan, selain perutnya yang sangt kelaparan, dia juga harus segera sehat agar bisa segera kembali ke kota dan meninggalkan tempat terkutuk ini.


Chery mengambil tempat duduk yang bersebrangan dengan kursi yang di duduki Arjuna di meja makan itu, beberapa hidangan menggugah selera Chery, padahal masakan rumahan yang di masak Tores hanya masakan biasa saja, entah karena lapar atau karena selama ini dia tak pernah memakan makanan rumahan seperti ini, sehingga dia makan dengan lahapnya, dan itu membuat Arjuna menghentikan suapannya, matanya terus memperhatikan cara makan Chery dalam diam, dia seolah tak percaya kalau artis besar seperti Chery bisa se rakus itu.


"Tuan, kenapa anda tidak melanjutkan makan anda?" tanya Chery.


"Aku kenyang melihat kerakusan mu!" jawab Arjuna dingin.


Namun Chery tak ingin memperdulikan sikap sinis Arjuna, dia tahu kalau pria di depannya itu hanya ingin berdebat dengan nya, tapi itu tak akan terjadi lagi, Chery sudah membulatkan tekad untuk bersikap baik dan akan menahan segala sikap sinis yang di tunjukkan Arjuna padanya, karena dia ingin meminta bantuan pria itu untuk mengantarnya ke kota.


"Tuan, ada yang ingin aku bicarakan dengan anda," kata Chery lembut, mencoba berbicara baik-baik padanya.


"Aku bukan tuan mu!"


"Pak,"


"Apa aku setua itu? Kau menghina ku!" Arjuna melipat kedua tangannya di dada dengan pandangan yang lurus ke arah Chery yang kini seudah menyelesaikan makannya.


Chery menghela nafas beras dan panjang, mencoba nmeredam emosinya sendiri, dia tau kalau Arjuna sedang terus berusaha menguji kesabarannya.


"Baik, maaf kak,"

__ADS_1


"Aku bahkan tak sudi mempunyai adik seperti mu!"


"Komandan, ijinkan saya berbicara dengan anda." Chery masih terus mempertahankan kesabarannya.


"Kau bukan anggotaku, apa hak mu memanggil ku seperti itu?"


"Arjuna! apa kita bisa berbicara baik-baik?" Chery tak tahan lagi, nada bicaranya kini di buat agak naik dan tegas, sungguh dia merasa sedang di permainkan oleh Arjuna, seorang perwira polisi yang usianya jauh di atasnya namun di mata Chery sungguh bertingkah kekanakan.


"Apa kita seakrab itu? Kau memanggil nama ku dan berharap kita berbicara baik-baik?"


"Cukup! Oke, Sepertinya kau memang tak ingin berbicara baik-baik, aku hanya ingin meminta pertolongan mu, bukankah sebagai warga negara ini aku masih punya hal untuk meminta pertolongan pada aparat seperti anda? Tolong antarkan aku kembali ke kota, aku yakin anda juga tak ingin aku lama-lama berada di sini, bukan?" kedua tangan Chery mengepal di bawah meja menahan marah.


"Aku memang aparat, tapi saat ini aku sedang tidak bertugas, sebaiknya kau membuat laporan ke kantor dan mintalah anggota yang sedang betugas mengantarkan anda ke kota." Jawab Arjuna cuek dan dingin.


"Baik, terimakasih atas informasinya, apa aku boleh tau dimana kantor polisi terdekat? Atau sudikah kiranya anda mengantarkan saya ke sana?"


"Apa kau tak lihat di luar hujan sangat deras, jembatan penghubung desa juga ambruk akibat longsor kemarin, setelah hujan reda aku pasti akan mengantarkan mu ke sana, benar kata mu, aku memang tak ingin melihat mu berlama-lama di sini, jadi aku pasti akan mengantar mu setelah hujan reda."


"Emh, itu, apa aku boleh meminjam ponsel mu? Aku ingin menelepon asisten ku." kata Chery.


Arjuna berdiri dari tempat duduknya, "Bereskan dan cuci piring-piring kotor itu!" ucapnya lagi seraya pergi ke kamar untuk melanjutkan pekerjaanya.


"Siap Ndan!" kata Chery dengan riang dan memberi hormat, mengetahui dirinya akan segera pulang membuat suasana hatinya sangat bahagia seketika.


Namun Arjuna hanya membuang wajahnya melihat tingkah konyol Chery itu.


Tepat pukul 8 malam hujan sudah benar-benar reda, Arjuna keluar dari kamar dengan celana kain coklat tua di padukan dengan jaket kulit yang juga berwarna coklat membuat pria jangkung dan berperawakan atletis itu menjelma bak pangeran tampan yang gagah.


Chery di besarkan di industri hiburan sejak dirinya kecil, dia telah bertemu dengan banyak pria tampan berbagai tipe, mulai dari penyanyi, aktor, pengusaha, dan lain-lain, namun rasanya tidak ada pria yang auranya sekuat Arjuna, tatapannya bahkan bisa membuat telinganya tiba-tiba memerah.


"Apa yang kau lihat? Bukannya kau ingin kembali ke kota? Di luar hujan sudah reda, ayo. Jangan mencari-cari alasan untuk tetap tinggal di sini!" ujar pria yang selalu punya kata-kata pedas untuk menyakiti lawan bicaranya itu.


"Ah, oke. Let's go!" kata Chery sedikit gugup karena sepertinya dia tertangkapbasah sedang menatap Arjuna dengan pandangan penuh pujian.

__ADS_1


Baru beberapa meter Arjuna melajukan motornya, tiga motor menghadang jalannya, membuat dia segera menghentikan laju motornya karena dia sangat hafal kalau mereka adalah anak buahnya.


"Ada apa Tores?" Tanya Arjuna.


"Maaf mengganggu waktu anda, tapi ada keadaan darurat," Tores melirik ke arah Arjuna dan Chery, sungguh dirinya merasa tidak hati karena mengganggu acara atasannya, pikirnya.


"Jangan ngelantur, cepat katakan apa yang terjadi!" Arjuna sedikit banyak mengerti dengan maksud tatapan Tores barusan.


"Anak buah Ribo mengacau di desa bawah, banyak korban berjatuhan, kepala desa tadi datang ke pos melapor, saya tidak bisa menghubungi anda karena terkendala sinyal yang rusak mulai sore ini." Lapor Tores.


Arjuna menoleh ke belakang, Chery masih duduk di bangku penumpang di belakang punggungnya.


"Aku ada pekerjaan penting, sebaiknya kau tunggu di rumah, setelah pekerjaan selesai, aku akan mengantar mu ke kota." Ujarnya ragu-ragu.


"Mohon izin Ndan, rasanya terlalu berbahaya membiarkan nona berada di rumah sendirian, tidak ada yang tahu jika anggota Ribo akan datang merusuh ke sini," sela Tores.


Arjuna mulai bingung, sepertinya yang di katakan Tores ada benarnya,


"Tidak apa-apa, bertugaslah, aku akan menunggu di rumah." Kata Chery.


"Nona, apa anda tidak tahu, para bandit pimpinan Ribo itu sangat kejam dan sadis, mereka akan memperkosa secara beramai-ramai setiap wanita yang di jumpainya, mereka juga tak segan untuk membunuh, mereka mengumpulkan mayat-mayat manusia untuk mereka makan, mereka adalah kanibal, jika mereka turun gunung, bererti pasokan makanan mereka sudah habis, dan akan mencari manusia untuk di jadikan santapan dan cadangan makanan mereka." Cerita Tores membuat tubuh Cheri meremang dan tanpa sadar mencengkeram ujung jahitan jaket kulit yang di kenakan Arjuna, sungguh Chery sangat ketakutan.


"Tores cukup, jangan ceritakan dongeng omong kosong itu!" bentak Arjuna.


"Tapi itu benar Ndan," kata dua orang anak buahnya yang lain.


"Tapi tetap saja dia tidak bisa ikut, ini tugas, dan akan sangat berbahaya, lagi pula dia akan menjadi beban nantinya." Tolak Arjuna.


"Juna, aku takut. Aku gak mau di tinggalkan, aku mau ikut saja. Apa kamu tega kekasih mu di perkosa beramai-ramai dan di bunuh lalu di jadikan santapan mereka,?" Chery memanfaatkan pikiran Tores yang mengira dia adalah kekasih Arjuna, mendengar cerita mengerikan tadi, dia sungguh tak ingin tinggal di rumah dalam ketakutan.


Tores lantas melirik ke arah kedua rekannya, "Benarkan apa yang ku bilang pada kalian, itu kekasih komandan," bisik Tores.


Arjuna hanya bisa membelalak ke arah Chery yang kini memberinya tatapan tatapan memohon selayaknya seorang kekasih yang sedang merayu.

__ADS_1


"Akting mu sungguh menjijikan!" geram Arjuna kesal, karena ulah Chery kini para anak buahnya yakin kalau Chery adalah kekasihnya.


__ADS_2