Dendam Cinta Sang Kapten

Dendam Cinta Sang Kapten
Sebuah pilihan


__ADS_3

"Lepaskan aku, tolong!" Teriak Chery, mencoba berontak dan melepaskan diri dari ikatan yang melilit di kedua tangan dan kakinya.


Saat ini Chery berada di sebuah ruangan sempit dan gelap, ruangan tanpa jendela dan lubang angin itu pun membuat Chery merasa pengap, dia masih sangat ingat saat Sean mengajak dirinya keluar dari apartemen dan membawanya ke tempat ini, dia tak tahu di mana keberadaannya kini, karena saat dirinya menaiki mobil matanya di tutup dan tak di perkenankan untuk melihat maupun banyak bertanya tentang kemana tujuan meeka pergi, dan di sini lah hasilnya, di ruangan sempit, pengap dan gelap Chery berada.


"Sean, keluarkan aku dari sini, tolong!" Lelah berteriak, kini Chery hanya bisa memanggil Sean dengan sisa-sisa suara dan tenaga yang dia punya.


"Berisik, telinga ku hampir tuli karena mendengar teriakan mu sepanjang hari, sekarang makan lah, tuan Sean mewanti-wanti agar kau tetap hidup," seorang pria berperawakan tinggi besar dengan njenggot yang panjang sampai dada melemparkan bungkusan plastik berisi nasi bungkus.


Chery mengerjap beberapa kali karena silau, saat cahaya masuk melalui pintu ruangan yang terbuka, dari celah pintu yang terbuka itu Chery bisa melihat ada beberapa orang pria berjaga di depan ruang tempatnya di sekap.


"Apa kau tuli? Kau dengar apa yang ku ucapkan pada mu, huh?" Bentak pria itu.


"Heh, apa kau buta? Bagaimana aku bisa makan, apa kau tak lihat kedua tangan ku di ikat seperti ini?" Chery balik membentak pria itu tanpa terlihat merasa takut sedikit pun.


"Sialan, berani-beraninya kau melebarkan mata mu ke arah ku, bosan hidup rupanya," nyaris saja pria itu mendaratkan telapak tangannya yang sudah melayang di udara.


"Sedikit saja tangan mu menyentuhnya, ku pastikan tangan mu hancur sampai ke tulang-tulangnya!" Teriak seorang pria yang sontak saja membuat pria sangar tadi mengurungkan niatnya dan wajahnya kini terlihat ketakutan.


"M-maafkan saya tuan," cicitnya tergagap.

__ADS_1


Bugh!


Sebuah tinjuan keras tepat mengenai perut atas pria itu, membuat pria yang tadi seolah dengan gagahnya membentak dan mengancam Chery dengan arogan nya terlihat tak bisa berkutik saat di hadapan pria setengah baya yang berhasil menonjok perutnya tanpa ingin dia membalasnya meski jika mereka berduel saat itu, jelas dia akan menang telak dari pria di hadapannya itu.


"Hasan," gumam Chery yang mersa sedikit terkejut, mengapa tiba-tiba ada ayah tirinya di sana.


"Ya, ini aku. Apa kau merindukan ku? Mulai sat ini kau akan menjadi milik ku seutuhnya." Hasan menyeringai.


"Apa maksud mu?" Chery memundurkan bahunya saat Hasan mencoba meraihnya.


"Sean, pengacara serakah itu menukar mu dengan beberapa wilayah jaringan bisnis hitam ku, dia pikir aku tak tau kalau dia ingin mengambil alih bisnis yang aku rintis sejak puluhan tahun lalu ini? Sudahlah, biar saja dia bermain-main dulu, yang penting aku sudah mendapatkan mu, tanpa harus menggunakan tangan ku," ujar Hasan terkekeh.


"Hahaha, makilah sesuka mu, toh itu tak akan merubah apa-apa, kau tetap akan menjadi milik ku, dan tak akan ada yang menolong mu, bahkan kapten polisi itu, karena surat pemindah tugasnya ke daerah konflik di luar negeri mungkin akan dia terima hari ini, sayang sekali kalian tak akan sempat mengucapkan salam perpisahan, aku tak yakin dia akan selamat di antara hujan peluru di tempat tugasnya yang baru nanti!" Tawa Hasan menggelegar memenuhi seluruh ruangan sempit itu.


"Tidak, apa yang kau lakukan pada Arjuna, jangan ganggu dia, kau sudah mendapatkan ku, kenapa kau masih mengusiknya, bajing-an?" Teriak Chery putus asa, membayangkan Arjuna di pindahkan ke tempat yang mungkin tak bisa di jangkaunya dan mungkin tak bisa lagi bertemu dengannya membuat Chery langsung lemas, seluruh tubuhnya terasa seperti tak bertulang.


"Oh,betapa aku merasa iri dengan polisi itu, bahkan kau dalam keadaan seperti ini, masih saja memikirkan keselamatan pria itu, harusnya kau berterima kasih pada ku, aku mengambil inisiatif untuk memindahkan dia jauh, karena jika dia tetap berada di sini, aku tak yakin kau mampu menerima kenyataan dengan apa yang terjadi pada dia," Hasan terlihat sangat puas saat melihat Chery begitu terpuruk dan sedih dengan berita tentang Arjuna yang di bawanya.


"Apa maksud dengan ucapan mu itu?" Chery mengerutkan keningnya.

__ADS_1


"Tak usah terlalu menyimpan perasaan cinta pada polisi itu, belum tentu dia juga mempunyai perasaan yang sama besarnya dengan apa yang kau rasakan, jika dia memang mencinta mu, jelas dia akan memilih pindah tugas, kecuali kalau kau memang tak berarti apa-apa untuknya." Hasan meninggalkan ruangan tempat penyekapan Chery dengan hati yang puas dan bahagia, sementara di kepala Chery kini penuh tanda tanya, atas ucapan misterius Hasan barusan.


**


Sementara di kantor kepolisian pusat, Arjuna yang di panggil dan kini berada di ruang kerja atasannya terlihat sedang memelototi selembar kertas yang sejak yadi bolak-balik di bacanya, surat pemindah tugasan dirinya, yang di tanda tangani oleh pejabat tertinggi di kantornya, dan Arjuna yakin kali ini Berto pun tak akan bisa menolongnya lagi.


"Ini sudah keputusan atasan tertinggi kita, di sana membutuhkan pasukan tambahan, sementara kau pernah punya pengalaman berada di daerah konflik, jadi kami rasa itu tak akan begitu menyulitkan mu." Ujar Agung yang di beri mandat untuk menyampaikan surat itu kepada Arjuna, mengingat kedekatan Arjuna dengan putrinya.


"Maaf Ndan, tapi ini terlalu mendadak." Arjuna tak bisa menyembunyikan rasa kalutnya, belum saja Chery di temukan keberadaannya, kini dirinya harus pindah tugas, rasanya tak mungkin dia pergi begitu saja meninggalkan rentetan masalah yang belum di selesaikannya.


"Aku mengerti, pasti kau merasa berat berpisah dengan putri ku, aku pun merasa kasihan jika kalian harus berpisah jauh, sebenarnya aku punya solusi untuk ini semua agar kau tak jadi pindah tugas."


Mendengar ada sedikit harapan, mata Arjuna kembali berkilat, apapun itu asal dia bisa tetap berada di sisni dan menemukan keberadaan Chery, dia pasti akan setuju dengan semua syaratnya.


"Menikahlah segera dengan putri ku, dan aku akan menghadap pada atsan untuk membatalkan pemindah tugas mu." Kata Agung yang lebih terdengar seperti dentuman granat di telinga Arjuna saking mengejutkannya.


"Me- menikah?" beo Arjuna.


"Ya, aku rasa itu satu-satunya solusi, aku akan mengatkan pada atasan kalau pernikahan kalian akan dilangsungkan dalam waktu dekat, dan selebihnya biar aku yang melobi, bagaimana, apa kau setuju dengan usul ku?" tanya Agung.

__ADS_1


__ADS_2