
"Ndan, sepertinya ada yang tidak beres dengan Chery." Kata Tores yakin.
"Hmm, aku tau. Matanya benar-benar jelas menunjukkan semua itu." Arjuna mengangguk, setuju dengan pendapat Tores.
"Kau tetap awasi Chery, aku akan mencari tau tentang pengacara sialan itu." Kesal Arjuna tak dapat lagi menyembunyikan kemarahannya.
Beberapa jam yang lalu saat mereka berada di apartemen, Chery masih menunjukkan sikap bviasa saja saat berdua dengannya, jika sekarang tiba-tiba saja berubah, jelas itu ada sesuatu hal yang tidak beres, namun Arjuna masih harus menyelidiki semuanya.
Di tempat lain,
Sean mengajak Chery ke apartemennya,
"Sementara kamu tinggal di sini dulu, ada sesuatu yang harus aku negosiasikan dengan ayah tiri mu, jangan bertindak bodoh selama aku tak ada di sini, dan di depan akan ada anak buah ku yang menjaga, jika butuh apa-apa, katakan saja padanya." Ujar Sean menunjuk ke arah pintu dimana dua orang pria kekar berdiri di sisi kanan dan kiri pintu utama.
"Apa lagi yang kau ingin perbuat pada ku?"
"Dalam waktu dekat ini mungkin tidak ada, tapi entah kalau negosiasi ku dengan Hasan kacau, mungkin kau akan ku jadikan alat pembayaran ku pada Hasan, atau malah akan ku makan sendiri, yaaa lihat situasi nanti lah!" kata Sean cuek, dia sudah tak lagi berpura-pura memasang wajah baik di hadapan Chery.
"Apa kedatangan mu dalam setiap masalah ku semua sudah di rencanakan?" Chery sungguh ingin tau apa yang terjadi sebenarnya.
__ADS_1
"Tentu saja, apa kau gila aku mempertaruhkan nama baik ku sebagai pengacara ternama hanya untuk menjadi pembela mu yang jelas-jelas sedang menjadi musuh publik, kalau aku tak ada udang di balik batu, mana mungkin aku mati-matian menyelamatkan mu." Sean menyeringai.
"Apa yang kau inginkan dari ku?"
"Bukan dari mu, tapi dari Hasan lebih tepatnya, dan belum saatnya untuk kau tau." Sean memberi kode pada dua anak buahnya untuk waspada dan menjaga Chery di sana, bagaimanapun dia yakin kalau Arjuna tak akan menyerah begitu saja, banyak kemungkinan yang akan di lakukan Arjuna demi menemui Chery, meski dia belum bisa menebak langkah apa akan di ambil Arjuna untuk hal itu.
Sean melajukan kendaraannya menuju kediaman Hasan, tiket emas sudah di genggamannya, hanya tinggal beberapa langkah lagi untuk mendapatkan semua apa yang di inginkannya selama ini, bisnis hitam dan juga jabatan di pemerintahan jika Hasan menang dalam pemilihan sehingga itu bisa di jadikannya sebagai alat kamuflase dirinya dalam menjalankan bisnis haramnya.
Sean tersenyum sinis saat dirinya bertemu dengan Ines di pelataran rumah Hasan, sepertinya tanpa sengaja mereka datang dalam waktu yang bersamaan, saat itu Ines memang sudah memikirkan matang-matang dan memutuskan untuk keluar dari lingkaran setan bisnis haram Hasan karena dia ingin menunjukkan pada Arjuna kalau dia sungguh-sungguh dan serius memilih Arjuna sebagai pasangan hidupnya.
"Halo sayang, kenapa kamu terlihat semakin cantik saja, aku merindukan tubuh mu, apa kamu juga merasakan hal yang sama?" seloroh Sean, tangannya terulur hendak menjawil dagu Ines, namun putri petinggi polisi itu berhasil menepisnya.
"Waw, melihat betapa bencinya kamu pada ku, sepertinya rasa cinta mu pada ku masih teramat besar, seharusnya kamu tak perlu mengakhiri pernikahan kita, tersiksa kan, pisah dari ku?" ejek Sean.
"Tutup mulut mu! Kita sepakat untuk tak mengungkit semua itu lagi, hal terbodoh yang pernah aku lakukan adalah percaya dan terbuay dengan bujuk rayu mu yang ternyata hanya memanfaatkan ku saja, untungnya aku sudah menemukan calon suami yang bisa membawa ku ke arah yang benar sekarang, aku akan memulai hidup yang lebih baik dengan Arjuna, bukan dengan pria bajing-an seperti mu!" hampir saja Ines lepas kendali dan melu-dahi wajah Sean yang sangat di bencinya itu.
"hahaha,,,Arjuna, kau pikir dia mencintai mu? Oh iya, katakan pada calon suami mu itu, untuk tidak ikut campur dalam urusan ku, karena jika tidak, kau lebih tau siapa dan bagaimana aku!" ancam Sean.
"Berani kau usik dia, ku bongkar kebusukan mu, ayo kita hancur bersama!" Ines mengancam balik membuat Sean hanya bisa melengos dan melanjutkan langkanya menuju pintu utama kediaman Hasan, meninggalkan Ines yang berjalan beberapa langkah di belakangnya.
__ADS_1
Keesokan harinya di kantor Arjuna, wajah pria itu tampak bermuram durja karena sampai saat ini dia belum juga mendapatkan informasi tentang dimana keberadaan Chery, dan seperti biasa di tengah kekalutannya, Ines selalu datang di waktu-waktu yang tidak tepat.
"Ines, bukankah aku sudah mengatakan pada mu untuk tidak menemui ku sebelum kamu benar-benar berhenti bersentuhan dengan barang haram, tolonglah, bukankah kita sudah sepakat," ujar Arjuna terlihat malas saat melihat Ines tiba-tiba hadir lagi di hadapannya setelah beberapa hari hidupnya terasa nyaman tanpa gangguan wanita itu.
"Aku sudah memutuskan untuk berhenti, kamu bisa pegang ucapan ku. Lagi pula, kedatangan ku kesini untuk membicarakan hal yang penting dengan mu." Ines menarik kursi di hadapan Arjuna dan mendaratkan bo-kongnya di sana.
"Maaf, saat ini aku sedang tak ingin membicarakan hal apapun, aku sedang lelah." Tolak Arjuna, menghindar dari obrolan dengan Ines, dia merasa kalau Ines pasti hendak menagih janjinya untuk kembali bersama dengan dirinya karena Ines menyatakan diri sudah berhenti memakai obat-obatan terlarang, sementara saat ini Arjuna belum mempunyai alasan lain untuik mengulur waktu, kepalanya sedang tidak bisa di ajak berpikir mencari solusi, karena sibuk memikirkan Chery.
"Ini bukan tentang kita, tapi tentang Sean Malik!" tegas Ines.
Mendengar nama Sean di sebut, wajah Arjuna menjadi terlihat antusias, "Sean?" beonya.
"Hemh, Sean. Ada masalah apa antara kamu dan Sean?" tanya Ines.
"Emmhhh,,," Arjuna kebingungan untuk menjelaskan permasalahan antara dirinya dan Sean, tak mungkin juga untuknya mengatakan jika permasalahan antara dirinya dan Sean adalah tentang Chery.
"Aku harap kamu berhenti berurusan dengan dia, Sean tak se sederhana yang kamu kira, percayalah, dia sangat berbahaya, kamu tidak akan mampu melawannya, orang-orang di belakangnya sangat kuat dan mengerikan." Kata Ines mencoba mengingatkan.
"Maksud mu?" Arjuna menjadi smakin tertarik dengan topik pembicaraan yang di sampaikan Ines, sehingga dia mulai bisa mengerti alur misi yang di berikan Berto padanya, sepertinya ada banyak rahasia tersimpan dari Ines baik itu tentang Hasan maupun Sean, ini akan sangat seru, pikir Arjuna tersenyum samar.
__ADS_1