Dendam Cinta Sang Kapten

Dendam Cinta Sang Kapten
Ada apa?


__ADS_3

"Tunggu, tapi kenapa tiba-tiba ada obat yang sama di sini? Lalu,,, sebenarnya aku penasaran bagaimana cara kamu melepaskan diri dari rumah Hasan, dan tiba-tiba menelpon Sean sesampainya di apartemen?" Arjuna mengajukan pertanyaan yang selama ini mengganggu pikirannya, namun belum sempat dia tanyakan pada Chery, mengingat kondisinya yang belum begitu stabil dan tak ingin di anggap mengorek luka, namun mendengar cerita bahwa Chery di suntik sesuatu oleh Hasan dan tubuhnya langsung terasa lemas, rasanya tidak mungkin untuk gadis itu melarikan diri dari sana.


"Untuk bagaimana cara aku keluar dan melepaskan diri dari Hasan, jujur aku tidak ingat sama sekali, dan aku juga tidak merasa menelpon Sean malam itu." Ujarnya seraya mengingat ingat kembali kejadian malam itu.


"Ndan, bukannya Chery meninggalkan ponselnya di tas, dan dia tidak membawanya?" kata Tores yang masih ingat jika tas Chery malam itu berada di genggaman Sean dan pengacara itu menunjukkan kalau barang-barang Chery di tinggal begitu saja di gedung tempat acara sehingga dia tak bisa menghubungi Chery dan membuat dia panik lalu menelpon Tores.


"Iya, aku tak membawa apapun saat itu, dan aku tak ingat jika aku menghubungi Sean malam itu, apa suntikan yang di berikan Hasan telah membuat aku benar-benar pikun?" Chery menggaruk-garuk kepalanya yang tak terasa gatal, dia semakin bingung dengan apa yang terjadi.


Sementara Arjuna juga semakin yakin kalau ada yang tidak beres dengan kejadian malam itu, terlalu banyak hal-hal yang di luar nalar dan logikanya.


Arjuna kemudian menghubungi Fajar, dia meminta untuk meretas kamera pengawas convention hall tempat acara malam amal berlangsung guna mengetahui lebih jelas apa yang terjadi pada malam itu.


Pucuk di cinta ulam pun tiba, tak selang berapa lama Sean datang ke tempat itu membawa beberapa bungkus makanan untuk Chery.


"Ada apa dengan cara kalian semua memndang ku seperti itu?" Sean memasang wajah bingung dan tak berdosanya karena kedatangannya mendapatkan sambutan aneh dari Tores dan Arjuna.


"Dari mana kau tau kalau Chery berada di apartemennya pada malam kejadian itu?" tanya Arjuna tak ingin membuang waktu lagi untuk segera menanyakan hal yang menjadi ganjalan di hatinya.


"Bukankah aku sudah bilang kalau Chery menghubungi ku malam itu, ada apa? Ada kejadian yang terlewatkan kah oleh ku?"Sean terlihat tenang.

__ADS_1


"Bukankah ponsel Chery tertinggal di tasnya, dan itu berada pada mu?" mata Arjuna memicing.


"Chery menelpon ponselnya sendiri menggunakan telepon apartemen, mana mungkin dia sedang mencari keberadaan ponselnya sendiri, karena aku penasaran, aku mengangkat teleponnya, dan dari sana Chery mengatakan kalau dia berada di sini, lantas aku menyusul ke sini, dan benar saja dia berada di sini, apa kau sedang mencurigai ku?" Sean juga membuktikan ucapannya denga menunjukkan bukti panggilan masuk pada malam itu di ponsel Chery, sehingga semua orang tak dapat lagi berkutik karena Sean mempunyai bukti yang valid untuk hal itu.


"Kau seorang pengacara yang mempunyai seribu alasan untuk mengelak, percuma menanyai mu." Arjuna melengos sebal karena merasa dirinya tak bisa membuktikan kecurigaannya terhadap Sean.


Arjuna yakin kalau kecurigaannya kali ini bukan karena rasa cemburu atau karena berdasarkan ketidak sukaan dirinya terhadap Sean saja, tapi sayangnya saat ini dia tidak punya bukti untuk memperkuat kecurigaannya itu.


"Juna, aku rasa sepertinya aku yang kehilangan beberapa memori dalam kepala ku, jangan mencurigai Sean seperti itu, dia menolong ku berulang kali, jika dia berniat jahat pada ku, cukup dengan membiarkan ku di hukum berat karena kasus itu, namun dia menjadikan dirinya penjamin untuk kebebasan ku,aku yakin dia tak akan berbuat jahat pada ku." Bela Chery.


"Tentu saja, aku tak akan seperti sseorang yang mengaku kalau dirinya menyayangi mu tapi tega melempar video kecelakaan itu pada media dan membuat mu hancur seperti ini!" sinis Sean menyindir Arjuna.


"Apa maksud mu?" geram Arjuna menahan marah.


"Sudahlah, aku sudah tau semua, Arjuna sudah mengatakan semuanya pada ku, dan aku sudah memaafkannya, itu semua sudah berlalu, kalian orang-orang baik dan selalu melindungi ku, aku berterima kasih, tapi tolong jangan saling bertengkar seperti ini, tak perlu saling mencurigai." Chery menengahi perdebatan antara Sean dan Arjuna.


Sungguh Chery tak ingin dua pria yang berjasa salam hidunya itu harus bermusuhan dan saling mencurigai hanya karena kesalah fahaman yang terjadi akibat dirinya.


"Tapi--" bantah Arjuna,

__ADS_1


"Sudahlah Juna, jangan di perpanjang lagi, ini semua sudah cukup, aku ingin tenang, jangan tambah permasalahan lagi!" tegas Chery, membuat Arjuna akhirnya mau tidak mau mengalah, bukan karena dia tak lagi menaruh curiga pada Sean, namun lebih karena dia menghargai keinginan Chery yang memang membutuhkan ketenangan pada saat ini.


"Sean, bisa antar aku ke rumah sakit untuk bertemu dokter ku?" pinta Chery tiba-tiba.


"Aku bisa mengantar mu, kenapa harus dia?" protes Arjuna.


"Kenapa tak boleh aku? Bukankah itu berarti kalau dia lebih nyaman dan percaya pada ku, dari pada dengan mu?" Sean tersenyum penuh kemenangan.


"Ada hal yang harus aku bicarakan dengan Sean, aku mohon kamu mengerti," Chery meyakinkan Arjuna yang tampak tidak rela jika Sean harus pergi dengan gadis pujaannya.


Pembicaraan masalah apa yang ingin Chery lakukan dengan Sean sehingga tak melibatkan dirinya, tanya Arjuna dalam hati, merasa kecewa dengan keputusan Chery yang lebih memilih pergi bersama Sean, di banding dirinya yang mengantarkan ke rumah sakit, namun lagi-lagi Arjuna hanya bisa menelan kekecewaannya sendiri, dengan membiarkan Chery dengan keputusannya.


"Sean, kita mampir ke resto cepat saji di ujung jalan sana!" tunjuk Chery ke sebuah bangunan resto ayam goreng terkenal yang tak pernah sepi pengunjung itu.


Tak biasanya Chery memilih tempat yang terbilang sangat ramai itu, bahkan sat Sean menawarkan untuk layanan drive thru, Chery menolaknya dengan alasan ingin makan di luar sesekali.


"Sean, aku ingin menanyakan sesuatu pada mu, apa malam itu aku benar-benar menghubungi ponsel ku, sehingga kamu tau keberadaan ku?" tanya Chery dengan nada bicara santai.


"Tentu saja, apa kamu pikir aku berbohong? Kamu mencurigai ku seperti halnya kapten gila itu? Kamu termakan hasutannya rupanya, buat apa aku berbohong masalah itu, bukankah kamu juga sudah katakan tadi, kalau aku punya niat jahat pada mu, aku tak akan membela mu dalam kasus itu." Sean seperti merasa tersinggung dengan pertanyaan Chery yang seolah meragukan dirinya.

__ADS_1


"Tapi masalahnya, aku tak pernah hafal dengan nomor ponsel ku sendiri selama ini, dan obat ini, obat yang kamu bilang di minum oleh ku saat malam itu, ini bukan obat ku, jika sekilas ini memang sama, tapi dosis yang biasa aku minum bukan yang ini, ini bukan obat yang biasa aku minum, ada apa dengan semua ini, Sean?" Chery mengeluarkan dua botol obat yang sekilas sangat sama, namun jika di perhatikan lebih teliti, dosis dari kedua botol itu berbeda.


"Apa yang terjadi pada malam itu? Ada apa dengan semua kebohongan ini?" kali ini Chery berbicara dengan tegas dan penuh intimidasi.


__ADS_2