
Malam amal
Arjuna melangkah dengan sangat tegap menuju convention hall yang merupakan tempat acara berlangsung, tamu-tamu dari kalangan atas memenuhi tempat itu, bau-bau pejabat dan para petinggi juga para konglomerat negeri atau yang saat ini lebih sering di sebut para sultan sibuk menunjukkan kekayaan dirinya dengan memberikan pundi-pundi yang bukan hanya sekedar berniat amal, tapi untuk menunjukkan di kasta mana mereka berada.
"Selamat datang, terimakasih sudah berkenan hadir dalam acara ini." Rasyid Malik yang merupakan tuan rumah acara itu menyambut dan menyapa para tamu yang hadir, termasuk saat Ines datang dengan bergelayut mesra di lengan Arjuna yang tubuh kekarnya di balut dengan setelan jas berwarna senada dengan gaun yang di pakai Ines malam itu.
"Maaf Tuan Rasyid, ayah tidak bisa hadir malam ini karena ada acara lain yang bersamaan waktunya dengan acara anda," ujar Ines ramah.
"Ah, tak apa, ayah mu sudah menelpon ku danmemberitahu secara langsung, silahkan masuk, para anak muda berada di ujung sana, akan sangat membosankan jika kalian bergabung dengan para tetua di sini," Rasyid menunjuk ke area out door yang para tamunya di dominasi oleh kalangan para pengusaha muda, dengan Sean dan Chery yang mewakili Rayid untuk menyambut para tamu di area itu.
Langkah Arjuna seketika terasa berat, enggan rasanya harus menyaksikan sang pujaan hati berdampingan dengan pria lain, apalagi dengan pemberitaan yang cukup ramai, dan baik Sean maupun Chery tak aad yang menyanggah ataupun mengiyakan berita kedekatan mereka itu, seakan mereka sengaja menggantung jawaban mereka untuk masyaratak danjuga dirinya yang sangat ingin tahu kebenaran tentang berita itu.
"Sayang, apa kamu baik-baik saja?" Ines menoleh ke wajah Arjuna yang tampak sedikit grogi.
"Ah, emhh, aku baik-baik saja, hanya sedikit grogi, karena baru pernah mendatangi acara seperti ini," kilah Arjuna.
"Di masa depan kamu akan sering menemani ku menghadiri acara-acara semacam ini, dan mungkin kamu juga akan lebih sering berjumpa dengan mereka, jika ternyata mereka benar-benar pacaran," Ines menunjuk ke arah Sean dan Chery yang tak bosan-bosannya menyinggingkan senyum ramah mereka kepada para tamu yang hadir, menunjukkan kalau mereka adalah tuan rumah yang ramah.
"Itu tak ada hubungannya dengan ku sama sekali!" ucap Arjuna dingin, membayangkan tentang apa yang di ucapkan Ines barusan membuat darahnya berdesir dan hatinya terasa panas.
"Kenapa kamu harus se-marah itu, padahal aku hanya bercanda, sayang!" oceh Ines.
__ADS_1
"Itu tak termasuk bercandaan lagi, karena kamu terus mengulang kata-kata itu pada ku, seolah aku memang ada hubungan khusus dengannya." ketus Arjuna.
"Oke,,oke, maafkan aku." Ines mengalah.
"Selamat datang, nona Ines dan Kapten Arjuna, senang bisa bertemu anda berdua di acara ini," Sean beramah tamah, sementara Chery yang mendampingi di sisi kirinya hanya melempar senyum tanpa berbicara sepatah kata pun, lagi pula kapasitasnya di sini hanya sebagai pendamping Sean saja, tak masalah jika Chery tidak ikut bersosialisasi dengan tamu yang lain, apa lagi Chery juga cukup awam di bidang bisnis atau politik, jadi dia tidak bisa banyak ikut mengobrol dengan para tamu yang mayoritas pengusaha, pejabat dan politikus itu.
Seperti saat ini, saat acara penggalangan dana di mulai, Chery memilih untuk duduk menyendiri di pojok, sementara Sean berbaur dengan para tamu dan keluarga besarnya, dia berdalih lelah dan hanya ingin duduk untuk menghindari terjebak dalam topik perbincangan yang tak dia mengerti, Chery lebih memilih duduk menyendiri sambil sesekali matanya berkeliaran mencuri-curi pandang sosok tampan yang tadi datang bersama Ines.
Arjuna sangat tampan dalam balutan formalnya malam itu, membuat Chery tadi hampir saja lepas kendali dan ingin berhambur ke pelukannya, jika saja dia tak ingat sudah berjanji pada Sean untuk membantunya mendapatkan kembali mantan istrinya.
"Apa diam-diam kau sedang memperhatikan kekasih ku? Tak heran memang jika wajah tampan kekasih ku itu menarik perhatian banyak wanita, tapi kau harus tau diri, dia milik ku!" suara Ines mengagetkan Chery yang tertangkap basah sedang memandangi kekasih wanita itu dari kejauhan.
"Aku memperhatikan banyak pria tampan di depan sana, jangan terlalu berbangga diri, karena pria tampan di sini bukan hanya kekasih mu saja!"
Chery tersenyum mengejek.
"Ishhh, kau benar-benar tak tau malu, menjual diri pada pengacara mu demi sebuah kebebasan, dan kini masih sempat-sempatnya menggoda pria lain, kau benar-benar jal lang menyedihkan!" emosi Ines terpancing juga, membuat dia menumpahkan caciannya pada Chery secara membabi buta.
"Mohon di koreksi, aku tidak menjual diri ku pada pengacara ku yang tampan itu, namun Sean yang sejak awal menemui ku dan menawarkan bantuan pada ku meski aku tak pernah memintanya, tak heran sih, kalau buat ku, secara aku cantik dan menarik, jadi mungkin dia tertarik padaa ku, upsss,,,, jangan bilang kalau anda takut pacar anda tertarik pada ku karena anda merasa kalah cantik dari ku!" Chery seolah sengaja menyiramkan bensin pada api amarah Ines yang meluap-luap.
"Kurang ajar, dasar wanita tak tau diri!" umpat Ines dengan tangan yang terkepal di sisi kiri dan kanan tubuhnya menahan marah yang teramat sangat pada Chery yang seolah secara sengaja mengejeknya.
__ADS_1
"Apa yang terjadi di sini?" entah kapan darangnya, Arjuna dan Sean tiba-tiba sudah berada di antara perdebatan dua wanita yang entah memperebutkan apa itu.
"Tidak ada yang terjadi, hanya percakapan kecil antar wanita saja, Nona Ines merasa tidak percaya diri dengan---"
"Omong kosong, aku selalu percaya diri, apalagi jika itu di bandingkan dengan mu, aku lebih dari segalanya, aku wanita terhormat, sementara kau hanya artis yang karirnya sudah tamat dan berharap menaikkan status mu yang di cap sebagai pembunuh itu dengan cara menukar tubuh mu dengan kebebasan pada pengacara mu itu." Lagi-lagi Ines menyerang Chery dengan kata-kata tuduhannya yang tidak pantas di dengar.
"Nona, kata-kata anda sungguh tidak pantas untuk di ucapkan oleh seorang putri pejabat seperti anda, asal anda tau, Chery tak harus menjual atau menukar tubuhnya untuk kebebasan dirinya karena dia memang tidak sepenuhnya bersalah dalam hal ini, lagi pula tanpa dia menggoda ku, aku sudah tergoda dengannya sejak awal,"
Kata-kata Sean ternyata tak hanya menohok jantung Ines, tapi juga seakan memukul telak perasaan Arjuna yang langsung menarik Ines untuk menjauh dari Sean dan Chery, selain untuk mengakhiri pertengakaran di antara mereka, hal itu juga menghindari perasaannya agar tak semakin emosi karena ucapan provokasi Sean.
"Sepertinya kamu masih punya sedikit harapan untuk merebut hati mantan istri mu kembali, dia terlihat cemburu dengan kedekatan kita, tapi jangan jumawa dulu, saingan mu bukan kaleng-kaleng, dia Arjuna ku!" ledek Chery setelah Arjuna dan Ines menjauh.
"Haishh,,, kaamu juga harus hati-hati, karena Arjuna mu bisa saja tergoda dengan kecantikan mantan istri ku." Sean tak maau kalah.
"Ihhh, mana ada, jelas-jelas lebih cantik aku kemana-mana." Chery memutar bola matanya dan meninggalkan Sean yang tersenyum geli karena ulah konyol Chery yang berjalan menuju toilet.
Perasaan Chery sungguh terasa tak enak sangat melewati lorong toilet yang terasa sepi dan agak menjorok dari keramaian itu.
Benar saja, baru beberapa langkah Chery menyusuri lorong itu, sebuah tangan kekar menarik tubuhnya dan membekap mulutnya, lantas membawanya ke tempat yang jauh dari para tamu undangan.
"Lama tak jumpa, kau terlihat makin cantik saja, aku menahan diri dari tadi dan menunggu saat-saat seperti ini, saat dimana tidak ada orang lain dan hanya ada kita, kau membuat ku gila karena menahan semua rasa di dada ku ini, kau harus bertanggung jawab atas hal itu," ucap pria itu sambil menyeringai.
__ADS_1