
"Sean sialan!" umpat Arjuna saat dia sampai di kantornya lagi, dia terpaksa memilih pergi dari apartemen Chery saat dia kalah debat dengan Sean.
"Ada apa Ndan, sepertinya emosi anda sedang sangat buruk?" tanya Fajar yang mengantarkan beberapa laporan harian Arjuna yang tertunda beberapa hari karena komandannya itu sibuk mengurusi Chery dan mengambil hati Ines agar tak curiga.
Jujur saja Arjuna sangat lelah dengan sandiwara ini, dia harus menipu diri dan memendam perasannya untuk Cheryhanya demi pekerjaannya.
"Aku lelah dengan perasaan ku sendiri." Untuk pertama kalinya Arjuna mengeluh pada ajudannya itu, mungkin saat ini bebannya di rasa terlalu berat untuk di pikul seorang diri.
"Ndan, jatuh cinta itu bukan suatu hal dosa, jika anda tidak ingin bercerita pada ku perihal anda yang jatuh cinta pada Chery karena kedekatan ku dengan Mba Luna, anda tidak perlu khawatir, aku bisa mengerti itu semua, dan aku yakin begitu pun Mba Luna di sana."Fajar yang tadinya selalu menahan diri untuk pura-pura menutup mata dengan hubungan Arjuna dan Chery akhirnya angkat bicara.
"Hah? Dari mana kau tau aku dan Cheri ada---" Arjuna sedikit kaget dengan ucapan Fajar, tepat seperti yang di katakan Fajar padanya, karena kedekatan Fajar dan Luna yang bak adik kakak itu, membuat Arjuna akhirnya menutup diri untuk bercerita masalah percintaannya dengan Chery.
"Aku tak pernah percaya dengan kata orang, tapi aku selalu percaya dengan kata hati dan mata ku, aku merasakan dan melihat itu semua, hanya menunggu anda mengatakannya sendiri." Fajar menarik kursi di hadapan Arjuna dan menempatkan diri berhadap-hadapan dengan atasannya yang sudah jarang sekali berbicara dari hati ke hati seperti dulu, kecuali membicarakan masalah pekerjaan.
"Aku hanya tak ingin kau dan bunda mengira kalau aku berpaling terlalu cepat, perasaan itu datang begitu saja meski aku berulang kali menyangkal dan menolak perasaan itu, namun aku pun tak bisa mengendalikannya."
__ADS_1
"Kak, aku dan bunda adalah keluarga mu, kami tak akan menyalahkan mu jika kakak menemukan cinta dan kebahagiaan baru, kami akan turut berbahagia jika kakak bahagia," kata-kata Fajar kembali membuat hangat dada Arjuna yang belakangan ini selalu merasa sendiri dan kesepian.
"Kak, jika kakak mencintai Chery, makan kejar dia, perjuangkan, dan dapatkan dia, dan untuk masalah Ines-- aku yakin kakak tak mencintainya, namun aku juga yakin kakak bukan pria yang suka mempermainkan perasaan wanita, aku percaya dengan mu kak."
"Untuk masalah Ines, aku belum bisa bercerita pada siapapun, ini terlalu rumit biar aku menyelesaikannya sendiri." Arjuna memberi kode kalau dia tak ingin Fajar ikut campur lebih jauh tentang masalah Ines, karena tentu saja Arjuna sudah bisa mengukur bagaimana bahayanya jika terlibat dalam konsfirasi Berto, dia tak ingin membuat Fajar berada di posisi yang sulit.
"Baik kak, aku percaya, hanya saja aku ingin mengingatkan kakak, jangan terlalu kejam dengan diri mu sendiri, jangan terus memikirkan kebahagiaan orang-orang di sekitar mu, karena kakak juga perlu bahagia, ingat, kakak bukan malaikat!"
Arjuna tersenyum miring sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, mendengar kata-kata Fajar, benarkah dia sudah terlalu kejam dengan dirinya sendiri? Se-naif itu kah dirinya?
"Hmm, mungkin benar kata mu, aku telah kejam dengan diri ku sendiri, harusnya aku sadar, kalau aku bukan malaikat." Gumam Arjuna.
Tak selang berapa lama Ines datang menemui Arjuna, wanita itu baru berani menampakan wajahnya lagi setelah kejadian di rumah Rey malam itu.
"Jun, kamu tak mengangkat telpon ku beberapa hari terakhir ini, apa kamu masih marah? Demi Tuhan aku tak ada hubungan apapun dengan Rey, kamu lihat di sana ada kekasih Rey juga, kan?" Ines berusaha menjelaskan, dia beranggapan kalau Arjuna marah padanya, padahal penjelasan seperti apapun tak akan berguna bagi Arjuna, karena dia tak peduli akan semua itu.
__ADS_1
"Aku sibuk, dan jarang memegang ponsel, pemilihan presiden semakin dekat, tentu ayah mu juga tau kalau anggota seperti kami akan sangat sibuk." Kilah Arjuna beralasan, sehingga membuat Ines tak bisa berdebat lebih jauh lagi jika Arjuna sudah beralasan dengan tameng pekerjaan.
"Baiklah, aku berjanji akan pelan-pelan berhenti mrnggunakan barang haram itu, namun tentu saja itu tak bisa langsung, perlu waktu dan bertahap, kamu mau kan, mendukung ku?" bujuk Ines.
"Kau tak perlu berjanji untuk ku, berjanjilah untyk diri mu sendiri, karena apa yang kau lakukan tak ada hubungannya dengan ku, namun badan mu sendirilah yang di rugikan oleh kebiadaan buruk mu itu, berhenti atau tidak, itu tergantung kemauan mu, aku tak ingin kau berhenti karena aku, tapi karena diri mu sendiri yang menyadari kalau hal itu tak ada manfaatnya sama sekali." Tentu saja untuk hal ini Arjuna tidak sedang bersandiwara atau berpura-pura menasehati, sebagai abdi negara yang memang berperang dengan narko-ba, tentu saja dia berkewajiban mengingatkan orang-orang kalau hal itu salah, sukur-sukur bisa berhenti dan kembali ke jalan yang benar.
Namun tentu saja Arjuna juga tak ingin Ines berhenti karena dirinya atau karena orang lain, namun karena dirinya sendiri yangnmemang ingin berhenti dan menyadari kalau apa yang di lakukannya itu salah dan merugikan dirinya sendiri.
"Tolong lebih menghargai dan mencintai diri mu sendiri, bagaimana orang lain bisa mencintai mu jika kau sendiri menyiksa diri mu sendiri dengan sengaja." Sambung Arjuna.
"Aku akan mencoba dan berusaha," lirih Ines.
"Nes, mari kita saling menenangkan diri, kita istirahat dulu ya, nanti jika kamu sudah benar-benar pulih, kamu bisa menemui ku lagi." Kata Arjuna yang sontak saja membuat Ines terperangah.
"Apa ini berarti kamu minta kita break, atau bahkan putus? Arjuna, aku tidak mau pisah dari kamu," Ines berlari ke arah kursi kebesaran Arjuna dan memeluk erat tubuh Arjuna yang terlihat risih di perlakukan seperti itu.
__ADS_1
"Ines, ini semua demi kebaikan mu sendiri, jujur saja, aku tak bisa bberpura-pura menutup mata saat kau melakukan tindakan yang bertentangan dengan hukum, jadi selama kamu masih belum berhenti menghunakan barang terlarang itu, jangan temui aku, jangan buat aku merasa bersalah dan menjadi penghianat atas seragam ku ini karena melindungi orang yang jelas-jelas bersalah." Alasan ini tentu saja bagai sekali dayung dua tiga pulau terlampaui, selain dirinya bisa fokus menjaga dan melindungi Chery, secara tidak langsung dia juga memberi keleluasaan pada Ines untuk bisa berpikir dan menentukan sikap apakah dia benar-benar mau berhenti atau tetap berada di lingkaran setan itu.
Sebenarnya berhenti ataupun memutuskan untuk tetap menjadi pemakai tidak serta merta membuat Arjuna berubah pikiran untuk memalingkan hati dari Chery, hanya saja bukankah itu akan lebih baik jika Ines berhenti, selain baik untuk diri Ines sendiri, itu juga akan membuat gonjang ganjing pada bisnis hitam Hasan, karena dengan berhentinya Chery yang notabene penjual ke kalangaan artis dan selebriti tanah air yang di kenal royal dan pembeliannya selalu bagus, pasti akan membuat Hasan kebakaran jenggot, dan Arjuna sudah menyusun rencana untuk menghadapi semua itu, istilah kata, pilihan Arjuna dalam hal ini hanya untung, atau untung banyak, tak ada ruginya sama sekali.