
Hampir dua bulan berlalu, namun Arjuna belum juga datang ke Ibukota untuk menyusulnya, ya,, mungkin memang namanya prosedur kerja dan kepindahan juga tidak bisa se-mudah dan se-cepat itu di lakukan, apalagi jika masih ada pekerjaan yang masih harus di selesaikan, karena lembaga tempat Arjuna bukan milik perseorangan, tapi milik pemerintah, sehingga meskipun dia memakai jalur khusus, tetap membutuhkan waktu.
Tak ada sehari pun yang Chery lewati tanpa mengingat kebersamaannya dengan Arjuna, setengah mati rasanya Chery mencari cara agar bisa menghubungi Arjuna, namun nomor ponsel yang pernah Arjuna berikan padanya saat mereka berpisah di bandara juga tidak bisa di hubungi, mungkin terkendala sinyal, pikir Chery, selama ini Arjuna juga hanya pernah dua kali meneleponnya, katanya saat itu dia sedang berada di kota sehingga bisa menghubunginya, mereka mengobrol bak anak abg yang sedang kasmaran dan saling mengungkapkan rasa rindu, obrolan terakhir, Arjuna mengatakan kalau surat-surat kepindahan dia ke Ibukota sudah selesai dan mungkin dalam bulan ini dia akan kembali bertugas di kota yang sama dengan Chery, hanya saja Arjuna tidak bisa menentukan tanggal pastinya.
"Cher, ada undangan ulang tahun pernikahan emas petinggi kepolisian, dateng gak? Lumayan, liat polisi-polisi ganteng, buat ngobatin kerinduan sama polisi mu yang tak kunjung datang." Dion menyerahkan selembar undangan mewah salah satu pejabat tinggi kepolisian yang akan merayakan anniversari pernikahan mereka yang ke 50.
Bukan hal yang aneh bagi para selebriti seperti dirinya mendapat undangan dari pejabat penting, meskipun tidak begitu akrab, bisa mengundang artis-artis top di acaranya merupakan gengsi tersendiri bagi para istri pejabat di sana.
"malam ini, ya? Oke, aku juga gak ada kerjaan, mungkin aku akan pergi, saatnya bersosialisasi, sekalian liat wajah-wajah munafik di negeri ini, hahaha," gelak Chery tertawa geli.
"Ibu mu dan Hasan mungkin akan berada di tempat itu juga," Dion mengingatkan.
"Yah mereka salah satu dari para munafik itu."
Pukul 8 malam Chery sudah berada di tempat acara, di sebuah ballroom hotel bintang 5 yang mewah, Chery yang datang sendirian itu di sambut dengan sangat baik oleh pemilik acara, banyak pejabat tinggi, tokoh-tokoh penting dan juga artis papan atas hadir di sana, termasuk juga Meta dan Rey yang juga ikut hadir di antara mereka, namun mereka tak sedikit pun saling menyapa meski mereka sempat berpapasan, setelah kejadian di restoran hotel saat itu memang Meta sepertinya kapok berurusan dengan Chery, apalagi dirinya juga terus di persalahkan oleh Kemal atas keluarnya Chery dari rumah produksi milik ayahnya itu, sehingga perusahaan Kemal harus merugi dalam jumlah nominal yang cukup banyak.
Saat Chery sedang berbasa-basi dengan kolega sesama artisnya yang lain, sepintas dia seperti melihat sosok Arjuna di tengah keramaian para tamu yang hadir, namun Chery segera menepis pikirannya sendiri, mana mungkin Arjuna hadir disana tapi dia tak mengabari dirinya jika pria itu sudah ada di Ibukota, mungkin ini karena efek dirinya yang terlalu merindukan Arjuna, pikirnya.
Chery kembali menikmati minuman yang berada di tangannya dan juga jamuan lainnya yang tersedia di sana, guna mengalihkan pikirannya yang tiba-tiba sangat merindukan sosok Arjuna.
Maya Hartono si tuan rumah pemilik acara tiba-tiba menghampiri Chery yang sedang berdiri sendirian di sisi ruangan yang agak sepi, dia tak tertarik mengobrol dengan para istri pejabat yang hanya saling menjilat atau pamer kekayaan.
__ADS_1
"Chery Arleta, kenapa kamu berdiri sendirian di tempat sepi seperti ini, ayah dan ibu mu sedang bersama suami dan anak ku di sana, ayo bergabung ke sana!" ajak Maya.
"Ah, itu--tidak usah, biar saya di sini saja." Tolak Chery, sungguh dia sangat malas bertemu dengan ayah tirinya saat ini.
"Sudahlah, ayo sekalian aku perkenalkan kamu pada anak ku." Ajak Maya lagi, kali ini wanita paruh baya yang masih terlihat cantik layaknya ibu-ibu pejabat yang wajahnya di rawat dengan perawatan mahal itu menarik tangan Chery agar mengikutinya ke meja dimana keluarganya dan keluarga Chery berkumpul.
Deg!
Jantung Chery tiba-tiba seakan berhenti berdetak saat melihat Arjuna berada di sana, duduk di antara para tamu kehormatan, namun anehnya Arjuna bersikap dingin dan seoalah tak pernah mengenal dan bertemu Chery sebelumnya.
'Ah, mungkin karena ini acara atasannya, dan dia harus jaga image di depan para senior dan atasannya, sehingga dia bersikap dingin dan seolah tak mengenal ku seperti itu.' Chery mencoba untuk berpikiran positif.
Meskipun tentu saja itu membuat Chery bingung dan sempat menahan nafasnya beberapa detik, saat ini dia benar-benar bingung harus bersikap seperti apa, Chery sangat ingin loncat dan memeluk Arjuna, tapi Arjuna bahkan tak melihat ke arahnya barang sedikit pun.
"Chery, perkenalkan ini suami ku, dan ini putri semata wayang ku Ines dan ini calon menantu ku, calon suami Ines."
Dunia terasa gelap seketika saat Maya memperkenalkan satu persatu anggota keluarganya, dan yang membuat dunia Chery seakan berhenti secara tiba-tiba adalah saat Maya memperkenalkan calon menantunya, yang mana dengan jelas dia menunjuk ke arah Arjuna.
"Ar-ju-na." Cicit Chery lemah, dia masih merasa syok dan tidak yakin atas apa yang baru saja di dengarnya.
"Kalian saling mengenal, sayang?" Ines melirik manja ke arah Arjuna yang juga menatapnya dengan penuh kasih.
__ADS_1
'Sayang?!' panggilan Ines yang memanggil Arjuna dengan sebutan sayang terdengar bagai kilatan petir yang menyambar tepat di telinga Chery, dan menghancurkan hatinya seketika, membuat Chery yang selalu pemberani dan blak-blakan dalam segala hal itu tiba-tiba membisu, lidahnya terasa kelu dan tak bisa berbicara sepatah kata pun.
"Kami menyelamatkan nona ini saat dia di culik oleh bandit di pulau tempat ku bertugas, hanya sebatas itu, aku hanya menjalankan tugas ku saja, tidak lebih." Jawab Arjuna seolah sengaja menaburi garam pada hati Chery yang kini terluka.
"Ah kamu hebat sayang, kamu berhasil menyelamatkan artis besar sekaligus anak pejabat penting, ayah,,, seharusnya calon suami ku ini mendapatkan kenaikan pangkat atas keberhasilannya," Ines kini giliran melirik manja pada ayahnya.
"Itu sudah tugas ku, mau artis, anak pejabat atau anak dewa sekali pun, semuanya sama di mata ku, tak ada yang istimewa." Entah apa yang terjadi pada Arjuna, tiga minggu yang lalu saat trakhir kali pria itu menelpon Chery, dia masih mengatakan rindu dan menyatakan cintanya, namun kenapa tiba-tiba sekarang seperti ini, ini pasti ada yang salah, pikir Chery. Atau mungkin dirinya adalah korban PHP Arjuna, apa mungkin Arjuna adalah pria berengsek yang sering menggoda dan merayu wanita, dan dia menjadi korbannya?
"Terimakasih pak komandan, atas kebaikan anda yang telah menyelamatkan saya, semoga kebaikan pak komandan di balas Tuhan yang maha esa." Dengan suara yang sedikit bergetar akhirnya Chery bisa sedikit berkata-kata.
Merasa tak sanggup lagi berada di antara Arjuna dan orang-orang yang hanya membuatnya sakit, Chery pamit untuk menemui teman-temannya, yang nyatanya itu hanya sebuah alasan saja, dia ingin bergegas menjauh dari sana karena dadanya terasa sesak, matanya terasa panas, sepertinya dia sudah tak bisa lagi menahan tangisnya, dan dia tak ingin menangis di hadapan mereka, di hadapan orang-orang yang membuatnya sakit dan terluka.
Setengah berlari Chery menuju balkon ballroom yang terlihat sepi, dia hanya ingin menangis saat ini, itu saja dia tak mengiginkan hal lain.
Chery menghela napas sangat panjang saat sampai di balkon, langit malam yang begitu cerah penuh bintang sungguh ironi dengan keadaan hatinya yang mendung dan di penuhi awan hitam, sungguh dia berharap kalau semua ini hanya mimpi, sebuah mimpi buruk yang bahkan lebih menyeramkan di banding penampakan wanita penuh darah itu, Chery memegang erat besi pembatas balkon, kakinya kini terasa lemas seperti jeli, dia ingin berteriak, apa salah dan dosanya pada Arjuna sehingga pria yang di cintainya dan mengaku kalau dia juga mempunyai perasaan yang sama padanya itu tiba-tiba berubah, tiba-tiba menjadi asing, tiba-tiba menjadi calon suami orang lain, semua sungguh tiba-tiba.
Sebuah tangan menepuk bahunya dari belakang, demi Tuhan Chery berharap kalau itu adalah Arjuna yang menyusulnya dan mengatakan kalau ini semua hanya sebuah prank yang sengaja dia buat untuk membuat dirinya marah dan kesal, namun saat Chery memutar tungkai kakinya dan memutar tubuhnya, Arjuna yang dia harapkan menyusul dirinya dan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi justru dari kejauhan terlihat sedang berdansa dengan Ines di tengah riuh tepuk tangan para tamu, yang seolah menertewakan dan bersorak sorai atas sakit yang dia rasakan saat ini.
"Chery, kamu baik-baik saja?" tanya pria yang kini berada tepat di hadapannya, namun sama sekali tak Chery hiraukan itu membuat Chery tersadar kalau ada orang lain di depannya kini.
"Sean?" cicit Chery terbata, air matanya kini bahkan sudah menganak sungai dipipinya.
__ADS_1
"Apa yang terjadi, apa ada yang mengganggu mu, atau ada yang menyakiti mu?" tanya Sean, dia sangat iba dengan Chery yang terlihat begitu hancur, Sean bahkan memberanikan diri untuk memeluk tubuh Chery yang sepertinya sangat rapuh saat ini, karena setahunya perempuan hanya butuh pelukan saat dia sedang bersedih.
Namun alih-alih menjawab, tangis Chery malah semakin menjadi di dalam pelukan Sean, membuat duda keren itu kebingungan bagaimana harus menyikapi Chery saat ini.