Dendam Cinta Sang Kapten

Dendam Cinta Sang Kapten
Uji nyali


__ADS_3

Ines tak dapat berbuat banyak dengan keputusan yang Arjuna ambil untuk hubungan mereka, bagaimana pun dia memang harus menerima keputusan itu, karena kesalahan memang berada di dirinya.


Ines menepati keputusan akhir mereka dengan tidak menghubungi atau menemui Arjuna, dia juga bertekat untuk berhenti dan pergi dari lingkaran setan yang kini seakan menjeratnya agar dia bisa cepat kembali bersama Arjuna kembali, entah apa yang membuat hatinya menjadi begitu terpaut dengan Arjuna, padahal bukantidak dia sadari, dia angat menyadarinya kalau Arjuna tidak begitu mencintainya, atau bahkanbisa di katakan seperti tak menyimpan perasaan lebih pada dirinya selain karena hubungan terpaksa dan rasa sungkan terhadap ayahnya, namun Ines tak ingin memperdulikan semua itu, dia merasa kalau Arjuna adalah orang yang tepat untuk di jadikan pasangan, tentu saja dia punya alasan untuk itu semua.


Hidup Arjuna terasa tenang dan nyaman tanpa gangguan Ines di masa reses hubungan mereka, beruntung Ines mau menyetujui ide yang sebenarnya Arjuna pun merasa ragu kalau putri atasannya itu mau setuju, namun ternyata Ines menyetujuinya tanpa drama apapun.


Sore ini sepulang kantor Arjuna berniat untuk menemui Chery di apartemennya, tadi sore Tores mengatakan kalau Chery sepertinya sedang drop, gadis itu tidak keluar kamar sejak selesai makan siang, dan tak menghiraukan panggilannya.


"Dimana dia?" Arjuna langsung menerobos ke dalam ruang tengah apartemen saat Tores membukakan pintu untuknya, dia langsung mencari keberadaan Chery.


"Masih di kamar, dia tak mau menjawab panggilan ku." Tores menunjuk ke arah pintu kamar Chery yang tertutup rapat.


"Chery, buka pintunya, ini aku," seru Arjuna sambil mengetuk-ngetuk pintu kamar itu pelan beberapa kali.


Tak ada sahutan apapun dari dalam kamar, hanya hening, membuat Arjuna dan Tores semakin hawatir akan keadaan Chery di dalam sana.


"Chery, aku akan mendobrak pintu kamar mu jika dalam tiga menit kamu tak juga membukakan pintu!" ancam Arjuna.


Tiga menit terasa begitu lama, namun Chery masih belum menunjukkan tanda-tanda kalau dia akan membukakan pintu kamarnya.


"Oke,,, aku akan segera membuka paksa pintu kamar mu, tolong jangan berada di dekat pintu!" ujar Arjuna lagi memberi aba-aba kalau dia akan membuka paksa kamar Chery.


Bruakkkk!


Pintu kamar terbuka setelah Arjuna dan Tores berusaha mendobrak beberapa kali, pintu kokoh itu akhirnya menyerah bertahan pada engselnya karena perpaduan dua kekuatan pria yang mendorongnya dengan paksa.

__ADS_1


"Chery?" Arjuna dan Tores saling melempar pandangannya saat melihat Chery tak ada di ruangan itu, kamarnya tidak terlalu luas, sehingga Arjuna dapat melihat sekelilingnya dengan jelas kalau Chery tak ada di ruangan itu, bahkan kasur king sizenya itu terlihat masih rapih tak ada tanda-tanda bekas di pakai.


Suara air keran mengalihkan perhatian mereka berdua, dan menyimpulkan kalau Chery sepertinya berada di kamar mandi.


"Sebaiknya anda masuk ke dalam sana sendirian, Ndan. Biar saya menunggu di sini saja!" kata Tores.


"Tentu saja, aku juga tak akan mengizinkan kau untuk ikut masuk ke sana!"


Arjuna langsung melangkahkan kakinya menuju pintu kamar mandi yang berada di kamar itu, beruntung pintunya tidak terkunci dari dalam, sehingga Arjuna bisa masuk tanpa kesulitan. Tampak Chery duduk di lantai kamar mandi dengan shower yang menyala dan air yang mengguyur tubuhnya, entah sejak kapan itu terjadi, yang jelas itu pasti sudah berlangsung lama, terlihat dari wajah Chery yang memucat, bibir yang membiru dan telapak tangan yang berkerut karena terlalu lama terkena air.


"Ah, sial! Chery, apa yang terjadi?" Arjuna bergegas mendekati Chery yang hanya meliriknya sekilas dengan tatapan yang sulit di artikan.


"Apa yang kau lakukan? Tak bisa kah kau tak membuat ku khawatir barang sebentar saja!" gerutu Arjuna mengangkat tubuh lemah gadis dengan pakaian yang sudah basah kuyup itu.


"Tores, siapkan teh hangat untuknya, aku akan menggantikan bajunya." Titah Arjuna tak menghiraukan ucapan Chery yang memintanya untuk meninggalkan dirinya sendiri.


Arjuna segera mengeringkan tubuh Chery dengan handuk, Chery menahan tangan Arjuna saat pria itu hendak membuka kancing blouse yang di pakainya, namun tentu saja tenaganya kalah dengan tenaga Arjuna yang tetap membuka satu demi satu kancing baju Chery.


"Diamlah, aku harus mengganti pakaian mu, kalau tidak kamu akan masuk angin, sudah dewasa, tapi masih mainan air seperti bocah!" omel Arjuna di sela dirinya mempreteli baju Chery satu demi satu, jangan di tanya bagaimana perasaannya, sebagai pria normal, tentu saja itu membuat jantungnya berdetak seribu kali lebih cepat dari biasanya, namun dia harus bisa tetap menahan diri, ini memang pengalaman pertama dia meng unboxing pakaian seorang wanita, namun ini harus di lakukan karena keadaan darurat, sementara Chery tentu saja sama halnya seperti Arjuna, selain menahyan malu, dia juga harus menahan detak jantungnya yang berdetak lebih kencang dari biasanya, namun dengan tubuhnya yang lemas seperti ini, dia bisa apa, selain pasrah?


Kegiatan uji nyali bagi Arjuna itu akhirnya selesai juga, dia berhasil melewati tantangan melawan napsunya sendiri,


"Apa yang terjadi?" kali ini Arjuna sudah membaringkan tubuh lunglai Chery di kasurnya.


"Aku sudah mulai ingat beberapa part saat Hasan berusaha menculik ku, dia menyuntikan sesuatu pada tubuh ku, aku tak tau apa itu, yang jelas itu membuat tubuh ku menjadi lemas dan pikiran ku menjadi berhalusinasi meskipun sesekali aku sadar saat aku berusaha tetap fokus," Chery menceritakan apa yang di alaminya di sana, membuat Arjuna mengeraskan rahangnya karena yakin kalau Hasan telah menyuntikan obat terlarang pada tubuh Chery.

__ADS_1


"Sudah dua hari ini aku merasa badan ku menggigil tapi di dalam tubuh ku juga merasa kepanasan, sendi-sendi tubuh ku juga terasa sakit, sepertinya itu efek dari obat yang di suntikan Hasan, aku tak berani bercerita pada siapapun, aku hanya bisa menahannya sambil mengguyur tubuh ku, dengan begitu aku tidak begitu tersiksa meski tak banyak membantu." Terang Chery menceritakan alasan dirinya berada di dalam kamar mandi.


Arjuna merasa miris mendengar penuturan Chery yang menelan penderitaannya seorang diri.


"Kamu terlihat sangat lelah, apa tidak sebaiknya kamu meminum obat mu agar kamu bisa beristirahat?" usul Arjuna karena merasa kasihan dengan keadaan Chery.


"Obat?" Chery bertanya balik.


"Iya, obat yang biasa kamu minum agar kamu bisa tidur, yang di resepkan dokter mu." Terang Arjuna.


"Tapi aku sudah berhenti minum obat itu, dokter sudah meminta ku berhenti untuk mengkonsumsi obat itu perlahan, dan aku sudah berhasil melewatinya selama sebulan ini," kata Chery.


"Tunggu, satu bulan? Tapi saat malam itu bukankah kamu tertidur karena meminum obat itu?" Arjuna mengingat-ingat kejadian malam itu saat Sean mengatakan kalau Chery baru saja meminum obat itu dan lalu tertidur.


"Aku bahkan sudah tidak menyimpan obatnya, sejak sebulan lalu." Chery mengernyit.


Tores yang kebetulan malam itu juga ada di sana dan mendengar sendiri pernyataan Sean, dan juga melihat botol obat itu di nakas samping ranjang Chery langsung bergegas memeriksa laci nakas.


"Ini, kau masih menyimpan obat mu disini, dan masih penuh." Tores mengacungkan botol obat tidur yang dulu biasa Chery minum.


"Demi Tuhan, aku sudah tak pernah meminum obat itu lagi dan juga tak menyimpannya." Chery merampas botol obat di tangan Tores dan memeriksanya dengan teliti.


"Ndan, apa mungkin efek narko-ba membuat Chery menjadi pikun?" bisik Tores pada Arjuna yang sejak tadi hanya terdiam.


Ada pikiran lain yang menyelinap di kepala Arjuna saat ini, dan dia bertekat untuk membuat semuanya menjadi jelas malam ini juga.

__ADS_1


__ADS_2