
Arjuna dan Chery hanya bisa saling berpandangan, sungguh mereka tak menyangka jika adegan dewasa mereka harus tertangkap basah oleh Tores, entah bagaimana mereka harus menyembunyikan wajah mereka saat bertemu Tores di kemudian hari.
Baru saja Arjuna menyusul Tores dan hendak memanggil ajudannya itu untuk kembali dan makan siang bersama, tapi terdengar suara motor yang menjauh, menandakan kalau Tores sepertinya tak ingin berada di rumah itu lebih lama lagi, mungkin kejadian yang baru saja di lihatnya itu membuat dirinya sedikit syok, meskipun itu membahagiakan dan sesuai seperti apa yang di harapkannya, tetap saja pria muda konyol itu juga bisa merasa malu, sekaligus takut karena di anggap sudah merusak momen kebahagiaan atasannya.
"Kenapa gak bilang kalau Tores juga akan kesini?" Chery mrnatap arjuna penuh tanya.
"Aku lupa, padahal aku yang memintanya untuk datang ke sini, tadi." Arjuna hanya menyunggingkan nyengir tanpa dosa.
"Lalu apa alasan mu juga lupa, saat tadi tiba-tiba mencium ku lagi?" goda Chery.
"Oh, kalau itu aku hilaf," Arjuna ngeles.
"Hilaf kok, sampai di ulang dua kali!" cibir Chery.
"Lantas kenapa kamu juga merespon, kalau kamu tidak mau, pasti menolak, atau paling tidak menghindar, kan?" balas Arjuna berusaha membela diri.
"Ishhh,,, di cium cowok ganteng kaya kamu, mana rela aku menolak, itu namanya rezeki." Kata Chery dengan santainya.
"Dasar kamunya aja yang mau-an!" Arjuna menggusak pucuk kepala Chery, entah mengapa hatinya seakan terasa tak begitu suka begitu mendengar jawaban Chery tadi, jika itu Arjuna yang sebelumnya, pasti dia sudah bad mood dan bersikap sinis plus marah-marah tak jelas pada Chery, namun Arjuna yang sekarang ini sudah berubah,, dia tak mau egois lagi, terlebih bukankah antara dirinya dan Chery memang tidak ada ikatan apapun, jadi rasanya akan sangat lucu jika dia marah hanya karena alasan Chery akan bersedia di cium oleh sembarang pria dengan alasan yang penting ganteng.
__ADS_1
"Tenang aja, keriteria cowok ganteng di mata ku sampai saat ini cuma ada satu kandidat, dan itu kamu, pak Kapten, yang lain mah, lewat!" seperti tau apa yang sedang di pikirkan Arjuna saat ini, Cheri buru-buru meralat ucapannya agar tak menjadi salah paham antara dirinya dan pria ngambekan itu.
"Mulut mu itu pintar sekali menggombal, sudah berapa puluh pria ganteng yang kamu rayu seperti itu?" Arjuna memicingkan matanya.
"Cuma kamu, bukankah sudah aku katakan, kalau sampai saat ini pria terganteng menurut ku cuma kamu, sayangnya si ganteng ini gak suka aku, tapi suka cium-cium aku, hayo,,, sebenarnya kamu naksir aku, kan?" ledek Chery lagi membuat telinga Arjuna terasa panas dan memerah, tapi dia tak bisa berkata apa-apa, tak ada yang bisa di lakukannya selain terdiam.
"Arjuna! Apa kamu suka aku?" merasa tak mendapatkan jawaban dari pria yang di ajaknya berbicara, Chery akhirnya memberanikan diri untuk menanyakan perasaan Arjuna terhadapnya.
Chery besar di lingkungan bebas dan terbuka, sehingga baginya bukan suatu hal yang tabu jika seorang perempuan mempertanyakan bahkan menyatakan cintanya pada pria, terlebih Arjuna sudah dua kali menciumnya, atau lebih tepatnya sudah dua kali mereka berciuman, jika untuk kejadian yang pertama mungkin bisa di sebut kesalahan atau kehilafan, tapi kalau terjadi ke dua kalinya bohong besar jika lagi-lagi harus bertameng kan pada kata hilaf.
"Emh,,, aku---" Arjuna terlihat bingung saat ingin menjawab pertanyaan Chery, kata 'Ya, aku suka kamu' itusudah ada di mulutnya, namun entah mengapa seakan tertahan begitu saja di tenggorokannya sehingga dia tak bisa mengurtarakan semua itu.
"Oke, tak apa. Aku tau, masih ada ragu dalam hati mu, bahkan itu terlihat sangat jelas dari cara mu memandang ku, aku tak ingin kamu terburu-buru menentukan perasaan mu pada ku, aku mengerti dengan apa yang kamu alami bersama pasangan mu sebelumnya, selesaikan dulu saja perasaan mu, sembuhkan, itu pasti sangat menyakitkan, tapi jika kamu percaya pada ku, aku bersedia membantu mu untuk menyembuhkan luka hati mu, karena sepertinya aku mulai jatuh cinta pada mu, pak Kapten." Kata Chery blak-blakan, membuat Arjuna semakin gelagapan menerima serangan kata-kata yang jauh dari kata menyakitkan namun mampu tembus langsung ke dadanya, bahkan jantungnya terasa seperti berhenti berdetak sepersekian detik saat mendengar pengakuan blak-blakan Chery.
Arjuna menggenggam tangan Chery, mencari kekuatan di tengah perdebatan dan pergolakan batinnya, dia jatuh cinta pada Chery, namun dia juga belum bisa melepaskan Luna dari hatinya, sementara dia juga tidak bisa menjalani hubungan dengan Chery sementara masih ada bayang-bayang Luna dalam hatinya, itu akan hanya saling melukai nantinya.
"Juna, hidup itu tentang bahagia, jika memang kamu merasa bahagia dengannya, maka hiduplah dalam segala kenangan tentangnya, dan berbahagialah dengan pilihan hidup mu, karena kebahagiaan hati dan hidup mu hanya kamu sendiri yang tau," ujar Chery tenang.
"Tapi, aku tak bermaksud untuk menyakiti atau berniat mempermainkan mu," Arjuna sungguh merasa tak enak hati dengan kelapangan hati Chery yang sepertinya menaruh harap padanya, tapi gadis itu juga bisa berlapang dada untuk mengalah demi kebahagiaannya.
__ADS_1
"Jangan terbebani oleh pernyataan cinta ku pada mu, tentang perasaan suka ku pada mu, aku tak akan menyesalinya jika pun cinta ku hanya bertepuk sebelah tangan pada mu, tak masalah,, yang penting aku sudah mengatakannya pada mu dan aku bahagia bisa jatuh cinta pada mu." Ujar Chery lagi semakin membuat Arjuna merasa bersalah dengan apa yang terjadi di antara mereka saat ini dia seolah menjadi penyebab keadaan rumit ini, andai saja saat itu dia bisa menahan diri untuk tak menciumnya, mungkin ceritanya tak akan seperti ini.
"Chery,,," alih-alih merasa bersalah, namun wajah Arjuna kembali mendekat dan hendak mencium bibir Chery kembali, bibir gadis itu seakan memiliki magnet tersendiri bagi Arjuna, namun kali ini Chery memalingkan wajahnya guna menghindari ciuman itu terjadi.
"Kamu pria ganteng ter-berengsek yang pernah aku kenal, tak berani mengakui perasaan cinta mu pada ku, tapi nyali mu sangat besar untuk mencium ku." Sindir Chery.
Cup!
Sebagai gantinya Chery mencium pipi Arjuna secara tiba-tiba, "Aku mencium mu karena aku suka pada mu, dan kamu boleh mencium ku jika kamu sudah tau alasan mengapa kamu mencium ku!" cengir Chery, perkataannya sungguh sangat menohok harga diri Arjuna yang secara tidak langsung mengatakan kalau Arjuna adalah pria yang plin-plan dan bisa menentukan perasaannya sendiri.
"Aku akan melakukannya lebih dari itu suatu hari nanti, saat aku sudah benar-benar yakin kalau hati ku hanya terarah pada mu," meski sedikit merasa kesal, namun Arjuna tau, meskipun Chery sudah dengan gamblang menyatakan perasaan sukanya, namun gadis itu memang pintar, dia tetap ingin punya 'nilai' di mata Arjuna.
"Aku akan selalu menunggu saat itu tiba, pak Kapten, santai saja, aku bukan orang yang mudah jatuh cinta dan berpaling, waktu mu masih sangat panjang untuk memutuskan hal itu," Chery mengedipkan sebelah matanya dengan genit ke arah Arjuna.
"Oh shiiiit,, Chery kamu membuat ku ingin cepat-cepat menentukan perasaan ku pada mu," geram Arjuna menahan rasa gemas dengan tingkah Chery yang sengaja menggodanya dengan terang-terangan.
"Tak usah terburu-buru, karena aku akan rela menunggu!" goda Chery lagi.
Tok,,,, tok,,,, tok!
__ADS_1
Ketukan pintu di ruang tamu menghentikan obrolan seru mereka yang belum beranjak dari meja makan sejak tadi, Arjuna bergegas berjalan ke ruang tamunya, jarang sekali ada orang berkunjung ke rumah dinasnya ini kecuali Tores, dan biasanya dia akan langsung masuk lewat pintu samping, seperti biasanya, sehingga kejadian dia menangkap basah Arjuna dan Chery berciuman itu terjadi.
Arjuna menahan nafasnya beberapa detik saat dia membuka pintu untuk tamunya, perasaan kacau tak menentu pun langsung saja dia rasakan saat itu, sehingga Arjuna hanya bisa berdiri mematung menatap tiga orang tamu yang berkunjung ke rumahnya itu, tentu saja tamu yang sangat tidak dia harapkan kehadirannya.