
Entah siapa yang salah dalam hal ini, hanya saja satu hal yang tak bisa di pungkiri oleh keduanya adalah, mereka sama-sama menikmati ciuman itu, dan semua terjadi tanpa paksaan dari pihak mana pun.
Suasana kikuk langsung terasa di antara mereka berdua, sikap canggung di antara keduanya pun tak bisa lagi di sembunyikan.
"Maaf, aku tak bermaksud--" kata Arjuna, ucapannya terhenti untuk mencari kata yang tepat guna di sampaikan pada Chery, akan sangat kejam rasanya jika dia harus mengatkan kalau alasan dia mencium Chery karena melihat wajah kekasihnya di sosok gadis itu, tapi saat ini dia tak punya alasan lain atas apa yang baru saja di lakukannya.
"Ah, tak usah terlalu di pikirkan, lupakan saja!" jawab Chery gugup, dia hanya berpikir tak adil rasanya jika dia harus membiarkan Arjuna di liputi rasa bersalah sendirian, sementara kejadian tadi tak akan terjadi jika dirinya menolaknya, alih-alih menolak justru dirinya menikmatinya.
Namun tentu saja dia pun harus punya harga diri sebagai seorang wanita, salah satu jurus terakhirnya adalah berusaha seolah-olah hal itu hanya sebuah kecelakaan dan berharap mereka dapat sama-sama melupakannya, meskipun sepertinya itu akan sangat membekas di hati dan pikiran Chery.
"Emhh, iya,,, lupakan saja!" timpal Arjuna, entah mengapa ada rasa kecewa di hatinya saat Chery mengatakan untuk melupakan saja hal yang baru saja terjadi, seolah itu sama sekali tak ada artinya sama sekali bagi gadis itu.
'Oh ayolah, benar kata gadis itu, aku hanya perlu untuk melupakannya, tak ada yang istmewa dari semuanya itu.' Kata Arjuna kepada hatinya yang seakan protes dan menolak untuk menganggap hal itu tak istimewa sama sekali, Arjuna tak pernah seperti ini, dia tak pernah bermain-main dengan seorang wanita, hanya ada Luna dalam hatinya, namun kenapa tiba-tiba saat ini dia begitu mudahnya luluh dalam pesona seorang Chery?
"Benar, tak ada pilihan lain selain untuk melupakan hal tadi, apalagi kau punya calon istri dan hampir menikah, maafkan aku juga!" Chery tersenyum kaku.
Arjuna terdiam kembali, dari raut wajahnya menunjukan kalau dia tak ingin membahas tentang masalah pribadinya, dia selalu membatasi diri dengan benteng yang sangat tinggi jika mulai bicara menyerempet masalah kehidupan pribadinya, terutama soal pendamping.
"Kapten...Kapten,,,Komandan!" terdengar suara teriakan dari luar, memanggil Arjuna.
__ADS_1
Arjuna keluar dari gubuk di ikuti Chery mengekor di belakangnya, mencari tahu siapa yang saat ini sedang berteriak-teriak memanggilnya.
Rupanya Tores dan juga dua orang anggota lainnya yang kini sedang berdiri sambil berteriak-teriak memaggilnya sejak tadi.
"Kami di sini!" kata Arjuna, membuat ke-tiga orang anak buahnya itu menoleh secara bersamaan ke arahnya.
"Kapten, syukurlah anda berdua baik-baik saja, kami sangat khawatir karena menerima informasi kalau jalan alternatif ini terkena longsor semalam, dan menutup akses untuk ke kota, jadi kami menyusul anda berdua tadi siang, kami sangat khawatis saat hanya menemukan sepeda motor anda yang tertutup tanah." Terang Tores menampilkan wajah leganya karena atasannya dan juga Chery kini dalam keadaan baik baik saja dan tak kurang suatu apapun.
"Ayolah sini, kalian pasti lelah mencari kami seharian, masuklah, besok pagi kita melanjutkan perjalanan lagi." Ajak Chery yang tak tega melihat tiga orang anggota yang mencarinya itu terlihat kelelahan dan basah kuyup.
"Terima kasih nona, eh Chery," Tores meralat ucapannya saat Chery memelototinya, berulang kali Chery mengingatkan ajudan Arjuna itu untuk memanggilnya dengan sebutan Chery saja tanpa ada embel-embel nona atau apapun karena selain dia merasa risih dengan panggilan itu, dia juga sudah menganggap Tores sebagai temannya, jadi sebagai teman bukankah tak usah sungkan untuk saling memanggil nama masing-masing, pikirnya.
"Jangan salah paham Ndan, itu--- Chery eh, kekasih anda sendiri yang meminta saya untuk memanggilnya seperti itu," terang Tores seperti ketakutn.
"Tak masalah, lagi pula dia bukan kekasih ku, kau telah salah paham selama ini." Kata Arjuna.
"Bu-bukan kekasih anda? Tapi---"
"Itu semua hanya pikiran mu saja, kau yang menyimpulkan sendiri kalau kami sepasang kekasih." Elak Arjuna.
__ADS_1
"Tapi anda berdua terlihat akrab dan sangat serasi,,, oh saya tau, anda berdua pasti bertengkar lagi?" Tores tetap dengan pemikirannya sendiri, dia sungguh tidak rela jika harus mengakui kalau pikirannya salah, dan jika pun benar mereka bukan sepasang kekasih, maka dia akan memastikan Arjuna dan Chery akan segera menjadi sepasang kekasih.
"Tapi Chery, sepertinya anda tak bisa melanjutkan perjalanan ke kota, karena akses jalan benar-benar tertutup, kita hanya bisa kembali ke desa, sebaiknya menunggu perbaikan jembatan penghubung selesai di perbaiki baru kembali ke kota." Sambung Tores yang kini berpaling menoleh ke arah gadis yang pikirannya masih kosong dan tak menentu akibat insiden ciuman itu.
"Ah iya--- iya, aku setuju saja, selama itu tak merepotkan kalian semua." Jawab Chery terbata, dia bahkan tak menyimak apa yang di sampaikan Tores padanya barusan, rasa bibir Arjuna seolah masih menempel di bibirnya membuat dirinya tidak fokus dalam hal apapun selain sibuk dengan bayangan yang membuat tubuhnya merinding dan darahnya berdesir setiap kali mengingatnya.
"Baguslah!" Tores tersenyum penuh misteri, sepertinya banyak rencana yang akan dia lakukan untuk Arjuna dan Chery selama mereka menunggu perbaikan jembatan selesai, jika benar mereka berdua adalah pasangan kekasih yang sedang bertengkar saat ini, maka Tores akan mendamaikan mereka kembali, dan jika benar seperti apa yang di katakan Arjuna kalau mereka bukan pasangan kekasih, maka Tores akan membuat mereka menjadi pasangan kekasih, Tores sungguh terobsesi menyatukan mereka, di matanya kedua orang itu sangat cocok dan serasi, lagi pula terkadang Tores melihat ada tatapan lain di mata Arjuna dan Chery saat mereka saling memperhatikan dalam diam satu sama lain.
Sesuai rencana semalam, mereka kini kembali ke desa, tetapnya ke rumah dinas Arjuna karena akses untuk ke kota benar-benar tak bisa di lalui, tak sepatah kata pun terucap di antara Arjuna dan Chery di sepanjang perjalanan mereka kembali, meskipun mereka berada di atas motor yang sama, tangan Chery pun hanya berpegangan pada besi belakang motor, tidak berpegangan pada pinggang Arjuna sepeti sebelumnya.
Bahkan sampai mereka sampai di rumah dinas, kecanggungan dan kebisuan itu tetap terjadi di antara mereka berdua.
"Emh,,,Chery, kau akan berada di sini sekitar kurang lebih satu minggu sampai sepuluh hari sampai jembatan selesai di perbaiki, kita akan sering bertemu, aku rasa kita tak mungkin terus seperti ini, bisa kah aku meminta maaf sekali lagi atas kejadian kemarin dan meminta kita untuk bersikap biasa saja seperti sebelumnya?" merasa aneh dengan atmosfer di antara mereka, Arjuna akhirnya angkat bicara, mereka akan berada di satu atap yang sama, sehingga tak mungkin jika mereka terus mengindar dan saling diam, rumah dinas ini terlalu kecil, tak ada tempat untuk bersembunyi satu sama lain kecuali saling mengurung diri di kamar, dan itu sangat tidak mungkin, bukan.
Chery sedikit terpaku, itu dalah pertama kalinya Arjuna memanggil namanya dengan benar saat mengobrol dengannya, biasanya dia hanya menggunakan kata 'kau' dengan kasar saat ingin memanggilnya, mendengar Arjuna menyebut namanya membuat hatinya tiba-tiba menghangat, ada rasa lain yang dia rasakan, sepertinya Chery merasa tertarik dengan sosok perwira tampan itu. 'Oh ayolah Chery, jangan keterlaluan, itu hanya sebuah ciuman, lagi pula dia sudah punya kekasih dan hampir menikah, tolong jangan jadi pelakor,' batin Chery.
"Oke, aku juga memikirkan hal yang sama selama perjalanan, kita tak seharusnya secanggung ini, kita sudah sepakat untuk melupakan hal itu, tak ada yang perlu di maafkan, kita kembali ke mode awal, kau boleh memaki dan berbicara sinis seperti sebelumnya, hahaha,,," canda Chery mencairkan suasana dan mengalihkan hatinya dari perasaan yang tak seharusnya di rasakan pada Arjuna, dia harus membunuh perasaan itu sebelum semakin berkembang.
"Tentu saja, aku tak akan sungkan lagi, aku akan memaki dan berbicara lebih sinis dari sebelumnya, aku harap kau bisa bertahan tak menangis menerimanya," balas Arjuna yang juga di akhiri tawa canggungnya.
__ADS_1
"Maaf izin Ndan, sepertinya untuk beberapa hari ke depan saya tidur di rumah, tidak bisa menginap di sini, tapi saya pasti akan ke sini pagi-pagi sekali setiap harinya," Tores menyela perbincangan antara Arjuna dan Chery yang sama-sama berusaha berpura-pura bersikap biasa saja.