
"Akting mu sungguh menjijikan!" geram Arjuna kesal, karena ulah Chery kini para anak buahnya yakin kalau Chery adalah kekasihnya.
"Komandan, jangan hawatir, kami juga akan menjaga nona, kita bisa menitipkan nona di balai desa nanti, di sana banyak anggota lain yang berjaga, saya rasa lebih aman dari pada di rumah sendirian." Lanjut Tores lagi.
Sepertinya Arjuna tak punya pilihan lain, menempatkan Chery di balai desa memang pilihan yang paling tepat dan paling aman.
"Baik, aku akan ke rumah untuk membawa perlengkapan, kalian ikut dengan ku, kira berangkat bersama-sama." Ajak Arjuna.
"Terimakasih Juna, aku senang bisa menemani mu bertugas." Kata Chery manja.
"Tutup mulut mu! Awas saja kalau nanti kau jadi beban di sana, aku sendiri yang akan menyerahkan mu ke tangan Ribo agar tubuh mu menjadi santapan mereka!" kesal Arjuna.
Wajah Arjuna terus menegang sejak tadi, selain memikirkan pertempuran yang akan dilakukannya melawan Kelompok Ribo, dia juga kesal karena ulah Chery yang tiba-tiba bertingkah seolah dirinya adalah kekasihnya hanya agar dirinya tak di tinggal sendirian, " Dasar wanita licik!" batinnya.
Setelah tadi Chery terpesona dengan dandanan kasual Arjuna dengan jaket kulit yang membalut tubuhnya, kini dia terpana saat Arjuna keluar dari kamarnya dengan seragam tempur lengkap dengan rompi anti peluru yang membuat tubuh atletisnya semakin gagah tak ada obat, jika sebelumnya bintang film holllywood Tom Cruise adalah pria paling tampan di matanya, sepertinya idolanya kini berubah menjadi Arjuna Bimantara, perwira polisi itu bahkan terlihat seribu kali lebih tampan di bandingkan Tom Cruise saat ini dalam balutan seragam tempurnya.
"Nona, kalau saya perempuan, saya akan merebut kekasih anda dari sisi anda bagaimana pun caranya," bisik Tores saat ,melihat mulut Chery yang setengah menganga karena tengah mengagumi ketampanan Arjuna.
"Coba saja kalau berani," jawab Chery.
"Tentu saja saya tidak berani karena sepertinya saya tak secantik nona jika saya perempuan, kalian bagai pasangan malaikat dan bidadari, sungguh serasi.
"Hemh,,, dia memang bagaikan malaikat, tapi malaikat pencabut nyawa yang selalu berusaha membuatnya mati karena tekanan darah tinggi setiap berbicara dengannya." gumamnya dalam hati.
"Apa yang kalian bicarakan, Tores, periksa kembali persiapan, dan ini peganglah!" Arjuna melemparkan sepucuk glock 19 ke arah Tores.
__ADS_1
"Ndan ini?" Tangan Tores sedikit bergetar saat Arjuna memberinya senjata seperti itu, anggota tingkat rendahan seperti dirinya paling hanya memegang senjata laras panjang, itu pun tak semua di izinkan memilikinya.
"Simpanlah untuk berjaga-jaga, kau nanti tak usah ikut kelapangan bersama ku, tugas mu berjaga di balai desa bersama beberapa anggota yang lain." kata Arjuna, yang merasa kalau Tores sepertinya belum terlalu siap untuk bertempur secara langsung di medan pertempuran, jadi menurutnya dia akan lebih aman untuk berjaga di balai desa.
Tentu saja ucapan Arjuna itu di tafsirkan lain oleh Tores, dia merasa kalau semua itu di lakukan Arjuna karena atasannya itu ingin dirinya menjaga Chery secara khusus.
"Baik, saya akan menjaga nona dengan segenap jiwa dan raga saya, Ndan!" Tores memberi hormat patuh pada Arjuna yang kini melongo kebingungan, ssementara Chery yang mengerti apa yang di pikirkan Toress hanya berusaha menahan tawanya.
"Terimakasih, ngomong-ngomong panggil saja saya Chery, nama mu Tor--"
"Tores nona, eh nona Chery,"
"Sudah sudah, ayo berangkat!" Arjuna merasakan pening di kepalanya melihat tingkah Chery dan Tores yang seperti setali tiga uang membuatnya merasa pusing.
Saat mereka hendak berangkat, dan baru saja Chery hendak melangkahkan kakinya ke atas motor, Arjuna melemparkan jaket kulit yang tadi di pakainya ke dada Chery.
"Omong kosong, jaket itu akan aku gunakan nanti saat di sana untuk cadangan, tapi aku lupa memasukannya ke dalam tas," kata Arjuna mencari-cari alasan.
Arjuna merasa sedikit kasihan melihat Chery yang hanya mengenakan celana Jins robek dan blouse tipis, padahal malam sangat dingin.
"Baiklah, kau bisa menitipkannya di tubuhku jika kau lupa memasukannya ke dalam tas mu, aku akan membawakannya untukmu, izin untuk memakai jaket anda, Ndan!" goda Chery meniru gaya Tores saat berbicara dengan Arjuna, namun pria itu hanya bersikap datar tak bereaksi apapun.
Sekitar dua setengah jam melintasi hutan malam itu, menerobos dinginnya udara malam, akhirnya sekitar kurang lebih pukul 1 dini hari mereka sampai di desa, jika di daerah rumah dinas Arjuna jarang sekali rumah dan jaraknya sangat berjauhan, di desa itu terdapat lebih banyak rumah, ada sekitar duapuluh rumah yang jaraknya berdekatan di sekitar balai desa, meskipun sekelilingnya masih berupa hutan belantara yang menyeramkan, apalagi jika di lihat di malam hari seperti sekarang ini.
Para anggota yang berjaga dan berkumpul di balai desa segera mendekat ketika tau pimpinan mereka telah tiba, dua anggota yang sempat ikut membebaskan Cheri dari Berto menatapnya dengan tatapan aneh, "Bukankah itu wanita korban penculikan itu? Kenapa ada di sini bersama komandan?" bisik mereka.
__ADS_1
"Kalian sedang membicarakan pacar komandan?" Tanya Tores.
"Pacar komandan?" tanya mereka berdua serempak.
"Iya, kenapa? Jangan coba-coba naksir, dia sudah di titipkan pada ku untuk di jaga dari mata-mata jelalatan sepeti kalian, bahkan komandan memberi ku senjata khusus untuk menembak orang-orang yang mencoba mengganggu kekasihnya!" Tores menyibak sedikit seragamnya memperlihatkan glock yang terselip di pinggangnya.
Tak ingin ikut campur masalah atasannya, kedua orang itu akhirnya hanya biosa diam dan percaya dengan ucapan Tores, lagipula itu bukan urusan mereka, tak seharusnya mereka mempersulit diri dengan mencampuri urusan yang tak seharusnya mereka ikut campur dan malah akan membuat mereka berada dalam masalah karena berurusan dengan atasan mereka, sungguh mereka tak berani macam-macam dengan Arjuna, mereka melihat di depan mata mereka sendiri bagaimana Arjuna bisa menaklukan Berto, pimpinan bandit barat yang di takuti hanya dengan negosiasi kurang dari satu jam saja.
Semua anggota berkumpul di halaman balai desa yang lumayan luas, kali ini Arjuna memimpin pembicaraan untuk mengatur strategi dan tugas masing-masing anggota, Chery menatapnya dari kejauhan, aura pemimpin menguar begitu tajam membuat dirinya tak bisa mengalihkan pandangannya sedetik pun dari sosok Arjuna yang kini memakai setelan seragam serba hitam dan helm di kepalanya, sungguh penampilannya menghipnotis mata Chery sehingga dia bahkan merasa rugi jika matanya berkedip sekali saja.
Tores mendekat ke arahnya, "Ayo masuk nona, berbahaya berada di luar seperti ini,"
"Eh, kemana dia pergi?" tanya Chery saat melihat Arjuna hendak menaiki motornya.
"Oh, komandan hendak pergi ke pemukiman ujung sana, katanya ada tiga warga yang tertangkap oleh para bandit, dan Komandan akan menyelamatkannya." terang Tores.
Chery tiba-tiba berlari ke arah Arjuna, entah kegilaan apa yang kini di derita Chery hatinya merasa khawatir saat mendengar Arjuna akan melawan para bandit sadis.
"Juna,,,!" teriak Chery seolah-olah dirinya sedang syuting film perang, dan dia berperan sebagai istri prajurit yang akan di tinggal perang.
Arjuna menoleh dan mematikan mesin motornya saat melihatChery berlari ke arahnya.
"Ada apa? Apa kau tak malu di tonton orang banyak?" tanya Arjuna yang lupa kalau Chery adalah artis terkenal, di tonton orang banyak adalah makanannya sehari-hari.
"Aku hanya ingin mengatakan kalau kau harus berhati-hati dan kau harus pulang dalam keadaan sehat, tak kurang suatu apapun, ingat,,, ada aku yang menunggu mu di sini." Kata Chery, sepertinya dia mengutip dialog salah satu naskah film yang di lakoninya.
__ADS_1
Arjuna menggelengkan kepalanya tanpa ingin membalas tingkah gila Chery, dia hanya menyalakan kembali mesin motornya dan berlalu pergi, sungguh dirinya kini merutuki kebodohannya yang tadi malah berhenti dan mendengarkan ocehan gila Chery, bukankah seharusnya tadi dia pergi saja tak usah menghiraukan gadis yang sepertinya sudah berubah menjadi tak waras itu.