
"I-ibu mu?" cicit Chery, dia coba mencerna apa yang di ucapkan Arjuna padanya dan memastikan kalau apa yang di dengar nya tidaklah salah.
"Apa maksud mu dengan mengatakan ikalau tu ibu mu?" sambung Chery sambil terus merjalan mengikuti kemana Arjuna menyeret tangannya.
"Kapten Arjuna, saya bisa menjelaskan hal ini, kami hanya ingin---" Sean mencoba menengahi kesalah pahaman Arjuna pada Chery saat ini.
"Diam! Aku hanya ingin bicara dan bertenya padanya, bukan dengan mu!" tunjuk Arjuna ke arah Sean.
"Sean, tidak apa-apa, beri kami waktu untuk bicara," pinta Chery.
"Tapi Cher---"
"Aku akan baik-baik saja, percayalah." Chery tersenyum di paksakan, sementara Sean harus merelakan Arjuna membawa Chery jauh dari pandangannya.
Chery hanya diam dan menurut saja saat Arjuna membawanya menaiki lift sampai ke lantai tertinggi gedung rumah sakit, mereka kini berada di landasan helikopter di rooftop gedung, rumah sakit itu memang tergolong rumah sakit mewah sehingga mempunyai landasan helipad sendiri untuk mengantarkan atau menerima pasien gawat darurat.
"Kau belum menjawab pertanyaan ku, apa pasien tadi benar ibu mu?" Chery tak sabar untuk menunggu jawaban Arjuna yang sejak tadi hanya diam dan seperti tak sudi menoleh ke arah Chery barang sedetik pun.
__ADS_1
"Ya, dia ibu ku, dan aku mohon pada mu untuk jauhi dia, jangan coba-coba untuk mengatakan hal-hal yang membuatnya drop." Jawab Arjuna, matanya memandang hamparan langit sore yang teduh namun tidak begitu gelap.
"Aku hanya ingin meminta maaf padanya, itu saja. Dan jika itu ibu mu, lantas apakah Luna Arista, korban kecelakaan itu, adalah wanita yang pernah kau ceritakan pada ku saat di pulau? Apa dia wanita yang kau maksud itu?" wajah Chery seketika memucat, kakinya mundur beberapa langkah sampai punggungnya menghadang tembok, tangannya meraba-raba mencari pegangan, tubuhnya lemas seketika saat menerka-nerka dan menghubungkan apa yang saat ini sedang di alaminya.
Mendengar nama Luna di sebut, Arjuna menoleh ke arah Chery, meski dia terus menghindari kontak mata dengan gadis di hadapannya yang terlihat syok itu.
"Benar, Luna adalah calon istri ku yang kau renggut nyawanya si malam pernikahan kami, dan wanita tua yang tadi terbaring di ruang rawat itu adalah ibu kami, ibu yang membesarkan kami di panti, dia menjadi semakin rapuh dan terus sakit-sakitan semenjak kepergian putrinya, aku mohon pada mu, cukup kau ambil nyawa Luna, jangan ambil lagi nyawa ibu ku," suara Arjuna bergetar menahan sesak dan emosi dirinya.
"Aku hanya ingin minta maaf." Cicit Cery lirih, kepalanya tertunduk, air matanya berjatuhan ke ubin. Saat ini dia tak berani memandang wajah Arjuna yang entah seperti apa penampakannya, dia merebut kebahagiaan Arjuna, membuat calon istrinya pergi tepat di malam pernikahannya, andai pun dia di posisi Arjuna, dia tak akan mungkin bisa memaafkannya.
"Juna, aku bahkan tak punya muka untuk meminta maaf mu, aku merasa tak berhak atas itu, tapi aku sungguh tak tau tentang semua ini, aku benar-benar tak tau tentang kejadian yang sebenarnya kecelakaan itu, aku---"
"Sudahlah, biar persidangan saja yang menjawab semuanya, kau tak harus menjelaskannya pada ku, kau hanya harus menjelaskannya pada hakim saat sidang nanti." potong Arjuna.
"Juna, apa aku boleh bertanya satu hal pada mu?" tanya Chery yang kemudian hanya di jawab dengan anggukan lemah oleh Arjuna.
"Apa kamu sudah tau tentang ini dari sebelumnya, dan itu yang membuat sikap mu selalu tak baik pada ku di awal pertemuan kita?
__ADS_1
"Bisa di katakan begitu." Jawab Arjuna dingin.
"Apa hubungan kita saat itu adalah suatu hal yang nyata, atau hanya bagian kecil balas dendam mu pada ku?" tiba-tiba Chery merasa kalau romansa antara dirinya dengan Arjuna yang terjadi di pulau adalah sebuah kepalsuan.
Tentu saja pertanyaan itu semakin melukai hati Arjuna, tidak kah Chery bisa membedakan antara tulus dan kebohongan? Dirinya sudah cukup tersiksa dengan rasa cinta yang tak mungkinnya untuk Chery saat ini, mengapa di katakan tidak mungkin, karena dia akan merasa sangat kejam pada Luna, bagaimana bisa dirinya mencintai wanita yang sudah membunuh calon istrinya, namun tiba-tiba Chery meragukan perasaannya? Tidak kah itu terlalu kejam?
"Nona,,, kau terlalu lama hidup dalam dunia kebohongan sampai tak bisa membedakan mana tulus mana dusta, aku rasa sebagai artis yang telah lama berkecimpung di duania tipu-tipu seperti itu kau bisa menilai apa perasan ku padamu itu tulus, atau hanya sebuah kebohongan." Ajuna tak menjawab pertanyaan Chery, namun dia seakan menggantung jawabannya, dia membebaskan Chery untuk menilai dirinya seperti apapun yang dia pikirkan.
Dia memang mencintai Chery, dan itu tulus dari dalam hatinya, namun saat melihat Sean yang bisa percaya dan sigap melindungi Chery dalam masalah ini, dia merasa tak pantas untuk menjadi pendamping Chery, dan bahkan dia mempertanyakan perasaannya sendiri, benarkah dia mencintai Chery?
"Juna, terlepas dari tulus atau tidaknya perasaan mu padaku, aku hanya ingin mengatakan pada mu, kalau apa yang aku rasakan dan aku katakan pada mu tentang perasaan ku tidak ada kebohongan sedikit pun, aku jatuh cinta pada mu, dan aku memang sayang pada mu." Chery mengutarakan perasaanya sekali lagi, bukan untuk mencari simpati, bukan untuk mempengaruhi dan mengemis maaf dari Arjuna tapi dia hanya ingin mengatakan itu, dan berharap apa yang dia rasakan, adalah hal yang sama dengan yang Arjuna rasakan, meskipun mereka tak mungkin lagi bersama, selain karena permasalahan rumit yang terjadi di antara mereka, bukankah Arjuna juga sudah mempunyai pendamping lain, ya,,, sudah ada Ines di sisinya yang mungkin bisa menjadi pengobat lukanya karena kehilangan Luna, bukankah jika dirinya tetap bersama Arjuna itu sama saja akan terus mengorek luka Arjuna lebih dalam, karena dirinya secara tidak langsung akan terus mengingatkan Arjuna pada kematian Luna yang tragis.
"Chery,,,mari kita lupakan apa yang pernah terjadi pada kita, mari kita jalani kehidupan kita masing-masing, biarkan apa yang terjadi pada kita sebelumnya menjadi satu hal yang hanya ingin kita simpan dalam hati dan tidak mengungkitnya lagi, meski tanpa bermaksud untuk melupakannya." Pinta Arjuna, pria itu sudah berada di titik dimana dia tak punya jalan untuk menjalin hubungan dengan gadis yang di cintainya, maka mengakhiri semuanya terasa lebih masuk akal baginya untuk saat ini.
Chery tersenyum perih, "Oke, maaf untuk waktu mu yang terbuang ketika kamu bersama ku, aku harap kamu menemukan kebagahiaan mu di kemudian hari, sampaikan salam dan maaf ku pada ibu mu, maaf sudah menciptakan luka di kehidupan kalian."
"Selamat berjuang di persidangan, aku yakin kau akan mampu melewatinya, Sean Malik pengacara hebat, dia pasti akan berhasil membantu mu." Ujar Arjuna, kini dia tak lagi peduli dengan hasil persidangan, jauh di lubuk hatinya bahkan di berharap Sean bisa membuat Chery terbebas dari segala tuduhan dan membuktikan kalau Chery tidak sepenuhnya bersalah, karena akan sangat menyakitkan baginya jika sampai harus melihat kembali Chery di balik jeruji besi.
__ADS_1