
Namun alih-alih menjawab, tangis Chery malah semakin menjadi di dalam pelukan Sean, membuat duda keren itu kebingungan bagaimana harus menyikapi Chery saat ini.
"Chery, ada apa?" tanya Sean lagi.
"Tolong izinkan aku menangis di sini sebentar, aku tak mau ada orang lain yang melihat ku seperti ini, dan tolong jangan bertanya apapun pada ku." ujar Chery dalam isak tangisnya, meminta persetujuan Sean untuk meminjamkan dadanya sebentar saja untuknya menyembunyikan tangis yang sudah tidak bisa lagi dia tahan lagi, ini terlalu menyakitkan dan dia tak bisa menanggungnya.
Sean hanya bisa patuh dengan segala kebingungan dan rasa ibanya untuk Chery.
*Flash back
Tiga minggu yang lalu,
Arjuna sudah bersiap untuk kepindahan tugasnya kembali ke Ibukota, dia sudah siap untuk membuka hati dan memulai kehidupan baru dengan Chery, yang dia yakini kalau wanita itu benar-benar sosok yang sangat dia inginkan untuk menemaninya menjalani kehidupan.
Chery mampu membuat dirinya merasa baik-baik saja di kala dunianya terasa sangat hancur karena kehilangan Luna.
Chery mampu membuat Arjuna menatap indahnya dunia lagi dengan cara yang berbeda, meski hatinya mungkin tidak bisa sembuh sempurna karena kehilangan Luna, dan sosok Luna tak akan pernah terganti untuknya, tapi setidaknya Chery datang membawa suasana cinta baru untuknya, tak ada yang di sisihkan atau pun di gantikan, mereka punya porsi berbeda di hati Arjuna, jika Luna adalah cinta dan kebahagiaannya di masa lalu, maka Chery adalah cinta dan harapannya di masa depan.
Saat menunggu keberangkatan pesawatnya di bandara yang masih satu jam lagi, pikiran Arjuna melayang membayangkan bagaimana wajah bahagia Chery jika dirinya diam-diam ternyata sudah berada di Ibukota, dia ingin memberi kejutan untuk gadis terkasihnya itu, senyum bahkan tak pernah bisa lepas dari bibirnya.
Suara dering ponsel memudarkan lamunannya, tertulis nama Fajar di layar pipihnya, sangat jarang mantan ajudannya yang mungkin akan dia tarik menjadi ajudannya lagi itu saat dia kembali bertugas di Ibukota, menghubungi dirinya.
"Kak, apa sudah lihat email yang aku kirim seminggu yang lalu?" tanya Fajar.
__ADS_1
"Jaringan masih buruk di desa, aku belum bisa melihat email atau apapun, coba aku cek sekarang."
"Oke, aku mengakui diri ku kekalahan ku dari mu, kak." Kata Fajar sebelum dia mengakhiri obrolan mereka, suaranya terdengar lemah tak bersemangat, membuat Arjuna merasa penasaran email apa yang Fajar kirim padanya sehingga membuat dia terdengar seperti tertekan.
Sinyal yang buruk di desa memang membuat dirinya sulit untuk berkomunikasi dengan siapapun, hal itulah yang membuat dirinya juga kadang kewalahan menahan rasa rindunya pada Chery, dia harus ke kota dulu untuk sekedar mendengar suara gadis yang selalu di rindukannya itu.
Arjuna mencari email yang di kirimkan Fajar padanya seminggu yang lalu, ada banyak email masuk di ponselnya sehingga email dari Fajar tertimbun.
Ternyata isinya sebuah file video, video yang berdurasi sekitar delapan menit itu hanya mapu dia tonton beberapa menit saja, itupun sudah sangat menghancurkan hatinya, meluluh lantahkan semua dunianya yang baru saja terang kembali, setelah sekian lama berada dalam kegelapan duka dan marah.
Dua orang wanita yang di cintainya terlihat dalam satu frame yang sama, ini sama sekali bukan sebuah adegan yang ingin dia lihat dalam hidupnya, dimana ini lebih terlihat seperti mimpi buruk yang mungkin akan terus melekat dalam ingatannya.
Terlihat sebuah mobil sedan mewah melesat dan menabrak Luna yang saat itu hendak menyebrang, dengan ponsel yang dia tempelkan di telinga kirinya, Arjuna sangat yakin kalau saat itu Luna sedang berbicara dengan dirinya di telepon saat itu, Luna juga terlihat sibuk dengan beberapa barang bawaannya, belum lagi payung yang di bawanya menutupi arah datangnya mobil mewah itu, sepersekian detik kemudian mobil sedan mewah yang melaju kencang itu tiba-tiba menghantam tubuh Luna tanpa ampun, sungguh itu membuat hati Arjuna sakit dan ikut merasakan kesakitan Luna saat itu.
Arjuna tak kuat lagi menonton sisa adegan selanjutnya yang masih tersisa beberapa menit lagi. Segala perasaan dan pikirannya berkecamuk kacau, ada perasaan marah, sedih, kecewa, menyesal semua menjadi tekanan tersendiri di dadanya.
Benar dugaannya selama ini, kalau Chery adalah pelaku penabrakan Luna yang mengakibatkan hilangnya nyawa calon istrinya itu, namunChery begitu licik, dia bahkan mengorbankan sopirnya yang tak berdosa untuk menanggung dosa yang di perbuatnya, bahkan dengan gamblangnya Chery juga pandai mengarang cerita sehingga membuat dirinya percaya dan yakin kalau orang yang di tabrak Chery adalah seorang pria dan masih hidup, betapa jahatnya dia, pikir Arjuna.
Satu hal yang lebih membuat Arjuna merasa bersalah dan marah adalah karena dia jatuh cinta dengan pembunuh calon istrinya itu, bagaimana dia menjelaskan ini pada Luna nantinya, bagaimana bisa dia memaafkan perasaannya ini, sungguh ini sangat rumit bahkan hampir membuat Arjuna nyaris gila di buatnya.
Arjuna memutuskan untuk membatalkan penerbangannya hari ini, dia tak memutuskan untuk kembali ke desa, karena di sana banyak hal yang mengingatkan dirinya akan kebersamaannya dengan Chery yang mungkin akan menambah rasa sakit dan rasa bersalahnya pada Luna.
Arjuna memilih untuk pergi ke rumah Berto, dia butuh seseorang yang mungkin memberinya 'advice' sebagai orang di pihak yang netral.
__ADS_1
Satu jam lebih Arjuna mengeluarkan segala unek-unek dan menceritakan apa yang terjadi pada Berto, yang hanya bisa diam menyimak dengan seksama apa yang di sampaikan Arjuna padanya, Berto paham kalau saat ini Arjuna hanya butuh di dengarkan, bukan di beri masukan, karena apapun masukan yang di berikan padanya akan sia-sia karena sepertinya Arjuna hanya meyakini apa yang ada di pikirannya saat ini, meskipun Berto menangkap banyak keganjilan dari cerita dan juga video yang dia lihat dari ponsel Arjuna sampai selesai.
Beberapa pria yang dia kenali sebagai anak buah Hasan tiba-tiba ada di lokasi hanya sepersekian menit saja, dari gambaran itu Berto bisa menyimpulkan kalau mereka berada di belakang mobil yang Chery tumpangi, kemudian salah satu dari mereka terlihat menghubungi seseorang, lantas dengan cekatan mereka mengamankan lokasi dengan membawa tubuh Chery yang tergolek lemas, selang berapa lama Herman sopir pribadi Chery juga langsung berada di sana dan berperan seolah-olah dia pelaku penabrakan, dia menelpon polisi dan juga ambulan.
"Kau sudah menonton videonya secara utuh?" tanya Berto saat Arjuna terlihat sudah mulah tenang dan sepertinya sudah selesai bercerita.
Arjuna menggeleng. "Jangan paksa aku untuk melihat hal mngerikan itu lagi."
"Tapi kau tak bisa menyimpuklan sebuah kejahatan hanya dari sepenggal adegan yang bahkan tidak sepenuhnya kau lihat, aku hanya ingin mengatakan pada mu kalau ada baiknya kau tonton dulu videonya sampai selesai, dan setelah itu kita bicara lagi, sekarang kau istirahat dulu saja, tenangkan pikiran mu, kejahatan dan kebaikan itu tak akan pernah tertukar sampai kapan pun." Ujar Berto menepuk pundak Arjuna dan membiarkannya sendirian.
Sesuai saran Berto, akhirnya Arjuna memberanikan diri untuk membuka kembali video itu, video hasil retasan Fajar di kamera pengawas jalan yang saat itu di nyatakan rusak.
Benar kata Berto, Arjuna sudah yakin denga pemikirannya sendiri, sehingga saat dia menonton videonya sampai selesai pun, itu tak merubah pemikirannya dimana dia tetap merasa kalau Chery adalah satu-satunya orang yang patut di persalahkan atas kepergian Luna.
Keesokan harinya Berto mulai mengajaknya berbicara kembali, "Kau sudah menontonnya sampai selesai?" lantas di jawab dengan anggukan lemah Arjuna.
Melihat adegan dalam video itu seolah membuka dan mengorek kembali luka lama yang belum sepenuhnya kering, dan itu sangat menyakitkan.
"Bagaimana kesimpulan mu setelah melihatnya sampai selesai?"
"Chery, wanita itu sungguh keji, dia menghalalkan sehala cara demi mempertahankan popularitasnya dan demi terhindar dari jerat hukum, dia bahkan mengorbankan sopirnya yang tak berdosa untuk mengambil alih hukumannya." geram Arjuna, sorot matanya penuh kebencian mendalam.
"Apa kau yakin, lantas bagaimana caranya orang tak sadarkan diri bisa mengatur semua kebohongan dengan begitu sempurna?" tanya Berto lagi.
__ADS_1
"Aku yakin wanita seperti dia mampu melakukan apapun demi karir dan gengsinya, tapi aku bersumpah kalau dia tak akan pernah lepas dari jerat hukum yang harus di terimanya, bahkan aku juga bisa menghancurkan karir yang di bangunnya selama puluhan tahun yang dia bangga-banggakan itu hanya dalam waktu sekejap mata saja!" geram Arjuna penuh amarah, tak ada lagi rasa rindu yang membuatnya ingin segera bertemu dengajn Chery, yang ada hanya rasa tak sabar ingin segera bertemu Chery untuk membalas dendam atas semua kejahatan yang di lakukan Chery padanya Luna dan padanya.