
Botol air mineral yang berada di tangan Arjuna terjatuh ke tanah seketika saking kagetnya mendengar cerita pak tua itu.
"Se-sedan putih? Nomornya?" Gugup Arjuna.
"Nomor nya bapak masih ingat betul 333, karrna bapak memakai angka itu untuk masang judi togel keesokan harinya, tapi malah amsyong!" cerita pak tua itu mengalir begitu saja tak menyadari kalau dirinya kini sedang berbincang dengan Seorang perwira polisi, sekaligus kekasih korban yang dia ceritakan tergeletak dan tak di tolongnya itu.
"Sedan putih, 333?" ciri-ciri mobil dan plat nomor kendaraan yang di sebutkan sama persis dengan mobil milik Chery yang di pakai Herman saat malam kejadian.
"Bapak yakin ada dua wanita? Bukan satu wanita yang tergeletak di jalan?" tanya Arjuna lagi memastikan kalau keterangan pak tua itu valid adanya dan bukan mengada-ada.
"Dua, bapak yakin. Yang satu mukanya penuh darah, dan yang satu masih utuh cantik banget, tapi kenapa mas tanya-tanya masalah kecelakaan itu?" Pak Tua itu baru sadar kalau Arjuna dari tadi terus menatarnya tentang kejadian kecelakaan itu.
"S-saya suami korban, pak." Lirih Arjuna, mengaku kalau Luna adalah istrinya meski mereka belum sempat ijab kabul, bagaimana pun dalam hatinya Luna masih tetap terjaga sebagai kekasih, sebagai istri, sebagai adik, sebagai teman senasib dan seperjuangan karena sama-sama di besarkan di panti asuhan.
"Oh, saya turut berduka, maaf. Tapi korban yang mana? Kan ada dua, katanya menurut berita yang beredar korbannya meninggal," pak tua itu memperlihatkan ekspresi rasa bersalahnya, karena mungkin saja ceritanya sudah membuka luka lama lawan bicaranya.
"Tidak apa, saya sudah ikhlas dengan kepergian istri saya, tapi bagaimana dengan sopir yang menabrak, bapak lihat pria gempal si penabrak itu, apa dia tak menolong korban?" tanya Arjuna mempertanyakan keberadaan Herman malam itu.
"Pria? Tidak ada orang lain di sana selain dua wanita yang tergeletak di aspal itu, makanya saya langsung lari, mobil pun terlihat dalam keadaan kosong, karena pintu mobilnya terbuka lebar." Terangnya lagi, membuat Arjuna mulai menebak-nebak situasi yang terjadi.
"Baik, terima kasih atas keterangannya." Pamit Arjuna meninggalkan pak tua pemilik kios kecil di ujung jalan itu dengan tujuan untuk kembali ke kantor.
__ADS_1
Bruaakkk,,,
Pintu ruang kepala divisi lalu lintas di buka Arjuna dengan kasarnya, tanpa mengetuk pintu atau permisi terlebih dahulu, sungguh itu bukan kebiasaan Arjuna, meskipun kepala divisi lalu lintas jabatatannya setara dengan dirinya namun biasanya Arjuna selalu sopan saat memasuki ruangan orang lain meskipun itu ruangan bawahannya.
"Ada apa ini Jun?" Tanya Sigit yang merupakan kepala divisi lalu lintas.
"Katakan pada ku kenapa banyak yang di tutup-tutupi dari kasus kecelakaan kekasih ku?" Tanya Arjuna 'to the point' sambil berdiri tepat di depan meja Sigit, pria yang pangkatnya sama dengan Arjuna itu kini wajahnya terlihat berubah seperti agak gelisah namun berusaha sekuat tenaga untuk tetap bersikap santai seperti biasanya saat mengobrol dengan teman satu angkatannya itu.
"Apa maksud mu Jun, tentu saja tak ada yang di tutup-tutupi dari kasus kecelakaan Luna, bahkan karena kekasih mu sudah ku anggap sebagai keluarga, kami bekerja dengan cepat menuntaskan kasus ini, pelaku sudah langsung tertangkap, dan semua di gelar secara terbuka." Kilah Sigit yang mulai ketar-ketir dengan sikap yang di tunjukan Arjuna padanya tiba-tiba.
Sebuah pesan masuk ke ponsel Sigit, dia membuka pesan itu dan lalu meletakan kembali ponselnya di meja kerjanya, wajahnya yang tadi sempat pucat itu kini mulai di aliri darah kembali.
"katakan pada ku, apa yang sebenarnya terjadi, kita teman, apapun itu aku pasti akan membantu mu." Sigit menyodorkan sebotol air mineral yang dia ambil di kulkasnya dan mempersilakan Arjuna untuk duduk berhadapan dengannya.
"Saksi? Tapi menurut olah TKP tak ada saksi lain di sana selain tersangka yang memang tak melarikan diri kemana pun, bahkan dia juga yang menghubungi pihak kepolisian, melaporkan kejadian itu." Sigit mengerutkan keningnya.
"Tapi aku yakin saksi ini jujur, kau tau kalau intuisi ku tentang menilai ucapan seseorang selalu benar?" ujar Arjuna meyakinkan.
"Oke, kau memang hebat di bidang itu, tapi--- ya sudah begini saja, bagaimana kalau kita datangi saja lagi saksi mu itu, biar aku juga ikut bertenya padanya, barangkali ternyata ada fakta yang memang belum terungkap, mengingat cctv di sekitar sana saat itu mengalami gangguan, aku rasa kalau ada saksi malah bisa di kembangkan."
"Oke kita akan menemuinya sepulang kerja nanti, untuk sekarang, aku ingin tahu data kecelakaan di malam yang sama dengan Luna, adakah kecelakaan lain yang di alami seorang artis bernama Chery Arleta?" Arjuna tiba-tiba teringat tentang perbincangannya dengan Bela di rumah sakit tadi.
__ADS_1
"Chery Arleta, kecelakaan? Ah kau gila, artis besar seperti dia dengan ayah seorang pejabat ternama pasti akan geger se tanah air jika dia mengalami kecelakaan, kau tau, Chery Arleta ngupil di mini market aja jadi berita apa lagi kecelakaan, ngaco!" Sigit terkekeh.
"Jadi, ada laporan tentang kecelakaan dia atau tidak malam itu?" Tanya Arjuna sekali lagi.
"Tidak ada, sudah ku bilang kalau ada pasti sudah heboh se jagat raya kalau dia mengalami kecelakaan, lagi pula sejak kapan kau jadi fans Chery Arleta, selera mu memang selalu oke!" seloroh Sigit meninju pelan bahu Arjuna yang tak menghiraukan candaan temannya itu, kepalanya justru kini semakin berpikir keras mengenai semua hal ini.
"Oh ya, apa tak sebaiknya kita menemui saksi ku sekarang saja? Aku benar-benar ingin masalah ini segera tuntas dan aku bisa tenang." Ajak Arjuna yang berubah pikiran untuk menemui pak tua itu saat ini juga dengan mengajak serta Sigit agar dirinya tak di tuduh mengada-ada.
"Oke, aku rasa lebih cepat lebih baik, aku juga tak mau ada keraguan mengenai ku, dan kau bisa kembali fokus melanjutkan hidup dengan tenang, aku tau kau sakit meski aku tak mungkin mampu jika harus mengalami hal yang sama seperti yang kau alami, tapi aku yakin Luna juga ingin kau tetap mel;anjutkan hidup mu dengan tenang dan baik." Sigit bangkit dari duduknya seraya menepuk pelan bahu Arjuna.
Wajah Arjuna tiba-tiba menjadi panik, dia buru-buru turun dari mobil nya saat baru saja sampai di dekat kios kecil milik pak tua yang tadi siang di datanginya itu.
Sigit berlari mengejar Arjuna yang mendekat ke arah kios yang sudah di kerumuni banyak orang dan ada beberapa anggota kepolisian juga yang sedang memasang garis polisi di sekitar kios agar orang-orang yang penasaran dan berkerumun disekitar sana tak mendekat ke arah kios.
"Ada apa ini?" Tanya Arjuna pada polisi yang di ketahui adalah bawahannya di bagian reskrim.
"Siap ndan, kasus bunuh diri." Jawab anggota polisi itu seraya memberi hormat pada Arjuna dan Sigit yang saat itu datang ke sana, mereka bahkan bingung karena tiba-tiba para atasan mereka datang ke TKP yang bisa di katakan kasus kecil, biasanya atasan mereka langsung saja jarang ikut datang, tapi ini dua kepala divisi datang di sana secara bersamaan.
"Bunuh diri?" Arjuna melompat melewati garis pembatas yang di pasang di pintu masuk kios.
Pak tua yang tadi dengan ceria bercerita dengan dirinya itu kini tergantung di besi atap kios dengan seutas tali, kakinya mengambang tak menyentuh tanah mata dan mulutnya yang terbuka juga bagian leher yang membiru.
__ADS_1
Rasanya sulit di percaya, pak tua itu bahkan bercerita dengannya seperti tak ada beban pikiran apapun, tak terlihat seperti orang yang tertekan atau mempunyai banyak masalah, namun beberapa jam kemudian dia tewas gantung diri? Ini terlalu aneh.