
"Ya Tuhan, anda berdua mengikuti upacara pengikatan kekasih secara adat? Komandan, warga asli suku sini menganggap mereka sudah sah sebagai suami istri jika sudah mengikuti upacara itu, mereka tidak perlu ke catatan sipil untuk mengesahkan pernikahan mereka, karena pemangku adat sudah mengakui pernikahan mereka semua, termasuk anda berdua," ujar Tores yang pagi ini sedang di interogasi Arjuna atas kejadian upacara adat semalam.
"Omong kosong, kami bukan warga asli sini, itu tidak berlaku bagi kami, dan hanya berlaku bagi kalian, tapi kenapa kau tak memberi tahu ku tentang upacara itu, apa kau sengaja menjebak kami?" tuduh Arjuna, dia sangat marah dengan kejadian semalam, entah mengapa dia merasa kalau Tores sebenarnya sengaja menjebak dirinya dan Chery, sehingga hampir saja dia melempar kepala Tores dengan gelas yang kini sedang di genggamnya.
"Tunggu dulu komandan, kemarin saya hanya mengatakan kalau anda di undang untuk menghadiri upacara adat itu, bukan untuk mengikuti prosesi upacara itu, bukankah seharusnya anda berdua hanya menjadi tamu disana, bukan jadi peserta upacara? Lalu, jika anda berdua malah mengikuti prosesi upacara itu, kenapa jadi saya yang salah," kelit Tores tak ingin di salahkan, meskipun jauh di lubuk hatinya dia memang menginginkan itu terjadi, dan ternyata memang semesta mengabulkan keinginannya itu.
Arjuna terdiam, dia berpikir, apa mungkin itu memang kecerobohannya sendiri, sehingga bukannya menjadi tamu namun malah jadi peserta, ah,,, sungguh peri bahasa malu bertanya sesat di jalan itu sungguh baru saja di sadari Arjuna sangat berguna penerapannya dalam kehidupan, andai saja semalam dari awal dia mau bertanya dan tak pasrah begitu saja mengikuti prosesi adat, mungkin tak akan menjadi seperti sekarang ini kejadiannya.
"Sudahlah, toh itu hanya upacara atau ritual bagi orang-orang yang mempercayainya, dan itu taak berlaku bagi orang-orang yang tak mempercayai nya seperti kita ini, bukankah semalam aku sudah bilang, anggap saja wisata adat dan tradisi kebudayaan, gak usah di ributkan." Chery yang merasa iba dengan nasib Tores yang terus di intimidasi oleh Arjuna akhirnya angkat bicara untuk menengahi perdebatan antara atasan dengan ajudannya itu yang tak satu pun mau mengalah.
"Tidak bisa begitu Cher, kalian itu sudah di persatukan secara adat, jadi sebenarnya kalian itu sudah menjadi---" Tores keukeuh dengan pendapatnya.
"Tores sudahlah, kau terusmemancing amarah bos mu, lihatlah wajahnya terlihat mengerikan seperti hendak memakan mu, sepertinya dia lapar, ayo cepat kita buatkan bos mu sarapan, kau ajari aku masak, ya!" Chery menarik paksa tangan Tores agar tak terus berada di dekat Arjuna dan terus menyulut emosi pria itu dengan segala argumen-argumen ngeyelnya yang tak jelas.
Bohong sih, sebenarnya kalau Chery tak ambil pusing dengan kejadian semalam seperti yang tadi dia ucapkan, semalaman dia juga sebenarnya tak bisa tidur memikirkan kejadian yang menurutnya konyol itu, apalagi saat mendengar ucapan ketua adat pada Arjuna, sepertinya pria tua itu bisa dengan mudah menyelami dan menebak apa yang di alami hati Arjuna, terlebih saat dirinya mengingat kembali kata-kata yang di ucapkan pria tua itu untuk dirinya dan juga Arjuna, 'Abaikan rasa sakitnya, atau kalian tak akan pernah merasa bahagia!' kata-kata itu terdengar dalam dan sarat akan makna, namun sampai saat ini Chery belum bisa mengartikan maksud di balik perkataan ketua adat itu.
"Nah, gitu dong, kalau sudah menikah dan menjadi istri memang harus bisa memanjakan perut suami." Ledek Tores saat Chery sibuk membantu pria berkulit gelap itu memasak di dapur.
__ADS_1
"Tores, kau akan benar-benar di lempar gelas jika sampai Arjuna mendengar ucapan mu itu, kami tidak ada hubungan apapun." Chery membelalak.
"Siapa bilang tidak ada hubungan apapun, kalian sudah sah sebagai suami istri,"
Chery hanya bisa diam tak meladeni ucapan Tores lagi, pria itu akan semakin menjadi-jadi meledeknya jika dirinya terus menanggapi ocehan jahilnya.
"Silahkan di coba Ndan, ini hasil masalakan ist-- eh nona Chery spesial buat anda." Hampir saja Tores keceplosan mengatakan masakan istri anda, namun Arjuna sepertinya menyadari Tores akan mengatakan itu, sehingga dia buru-buru menatap ajudannya itu dengan tatapan galak, sehingga Tores urung mengatakan itu.
"Aku mau ikut Tores melihat-lihat kantor polisi di sini," ucap Chery berniat meminta izin pada Arjuna, karena bagaimana pun dia menumpang di rumah itu dan tak enak rasanya jika dia pergi sesuka hati tanpa meminta izin si tuan rumah.
Mendapat jawaban seperti itu, Chery hanya bisa mengendikan bahunya cuek, menghadapi sikap Arjuna yang seperti ABG labil, yang sebentar marah, sebentar baik, sebentar cuek, sebentar dingin, gadis itu hanya bisa menyikapinya dengan masa bodo, jika dirinya terlalu memasukan sikap Arjuna ke dalam hati, bisa-bisa dirinya mati berdiri di pulau terpencil ini karena sikapnya yang membuat tekanan darah meninggi di setiap waktunya.
Hari sudah hampir magrib, tapi belum ada tanda-tanda Chery akan pulang ke rumah dinasnya, sungguuh dia tak ingin peduli dengan gadis itu, tapi entah mengapa dirinya yang kini duduk di kursi ruang tamu sambil memeriksa laporan kantornya setiap beberapa menit sekali terus saja memalingkan wajahnya ke arah pintu yang sengaja di buka lebar, berharap Tores datang mengantarkan Chery pulang, bahkan sejak tadi dia tak fokus dalam memeriksa laporan di tangannya.
Kesabaran pria itu akhirnya habis juga saat waktu menunjukan puluk setengah delapan malam dan Chery belum juga pulang.
"Aku harus menyusulnya, bukan karena aku cemas, tapi karena dia tak menghargai ku sebagai tuan rumah, dia sebagai tamu di rumah ini pergi sesuka hati tanpa tau waktu!" gerutu Arjuna menyangkal pada dirinya sendiri, menolak jika dirinya di anggap khawatir pada Chery, padahal tak ada yang perlu di yakinkan olehnya selain egonya sendiri.
__ADS_1
Bukankah menghawatirkan Chery bukan suatu dosa?
Arjuna mengambil jaket kulitnya di kamar dan memacu kendarannya menuju kantor, padahal ini hari minggu dimana dia seharusnya libur dari pekerjaannya.
Para anggotanya yang kebetulan sedang piket malam itu terlihat sangat terkejut dengan kedatangan atasannya yang jarang sekali datang ke kantor jika sedang libur begini.
Langkah Arjuna terhenti saat dia mendengar tawa lepas Chery dari ruangan tempat para anggotanya berkumpul kalau sedang piket. Arjuna berjalan diam-diam mengintip dari balik jendela ruangan itu, wajah Chery terlihat cerah ceria, dia terus bercanda dan bersendaa gurau dengan para anggotanya, mereka terlihat sangat akrab tanpa batasan, dengan embel-embel nama besar yang di sandangnya dan nama besar keluarganya, gadis itu tak sungkan untuk berbaur dengan para anggota yang pangkatnya jauh di bawahnya, tak terlihat ada jarak di antara mereka.
Berbeda dengan Luna yang hanya bisa bergaul dengan Fajar dan dirinya saja di kalangan teman sekantornya, membuat para anggota di bawah kepemimpinan Arjuna merasa sungkan dan tak berani mendekat dengan kekasih atasannya itu. Kepribadian Luna yang cenderung introvert itu bahkan membuat Arjuna selalu datang ke acara-acara besar kantornya sendirian karena Luna tak pernah mau berada di acara keramaian seperti itu.
'Ah, kenapa lagi-lagi aku membandingkannya dengan Luna? Apapun adanya Luna dia jelas yang terbaik dan tak akan pernah tergantikan oleh siapapun,' protesnya pada dirinya sendiri.
"Ndan, kenapa hanya berdiri di sini, masuklah, anda pasti hendak menjemput nona Chery, padahal kami sedang asik bercerita di sana," tegur salah seorang yang baru saja keluar dari ruangan itu dan mendapati Arjuna berdiri di sisi jendela melihat ke dalam ruangan secara diam-diam.
Sontak saja teguran anggotanya tadi mengalihkan perhatian orang-orang yang berada di dalam ruangan, mereka serempak menengok ke arah jendela, membuat ekspresi wajah Arjuna terlihat aneh, seperti seseorang yang tertangkap basah melakukan kesalahan.
"A-aku tidak menjemputnya, aku hanya ingin mengambil dokumen yang tertinggal di ruangan ku, dan jika kalian masih ingin mengobrol dengannya, silahkan saja, bahkan jika dia tak keberatan, kenapa kalian tak memintanya untuk menemani kalian piket sampai pagi!" Arjuna melengos dan bergegas melangkah meninggalkan tempat itu menuju ruangannya yang berada di seberang tempat kini Chery berkumpul dan bercengkerama dengan para anggotanya.
__ADS_1