
Panggung besar nan megah di dirikan di tengah stadion yang sengaja di sewa Hasan untuk kampanye terakhirnya sebagai usaha dalam memenangkan suara masyarakat untuk dirinya, terlihat sudah banyak simpatisannya berkumpul memenuhi stadion dengan kaos bergambar wajah Hasan yang tersenyum penuh pencitraan, sederet artis Ibukota memeriahkan acara dengan mendendangkan lagu dan yel-yel kemenangan.
Tibalah saat nya untuk Hasan berorasi menyampaikan aspirasi dan janji manisnya di depan para simpatisan yang selalu mengelu-elukan Hasan, seolah dia adalah pahlawan bangsa yang telah memberikan banyak kontribusi untuk negara, apalagi drama tentang peselingkuhan istrinya dan fitnah tentang penggelapan dana yang di lakuakan Sisak tanpa sepengetahuannya telah semakin meraih banyak simpati dan atensi masyarakat untuk dirinya, sehingga masyarakat tumpah ruah memenuhi stadion sepak bola terbesar di tanah air itu.
Namun tiba-tiba, segerombolan orang merangsek dan memaksa untuk berjalan ke arah panggung besar itu meski para pengawal dan petugas keamanan menghalangi langkah mereka.
"Hasan penipu!"
"Hasan pemakan uang anak yatim!"
__ADS_1
"Jangan pilih pemimpin yang tidak amanah dan korup!" teriak segerombolan orang itu saling bersahutan.
Hasan yang berada di tengah panggung dan di antara lautan manusia yang menjadikannya sebagai pusat perhatian satu-satunya di sana, membuatnya lebih berhati-hati dalam bertindak, meskipun dia sangat ingin mengusir dan memusnahkan segerombolan orang yang mengganggu acaranya itu, namun dia harus terlihat sabar dan bijaksana di hadapan para simpatisannya, karena kalau tidak, itu akan mempengaruhi nilainya di hadapan masyarakat yang mendukungnya itu.
"Ada apa ini, tolong jangan anarki, saya orang yang paling terbuka dan selalu siap jika di ajak berdiskusi, ayo kita bicarakan dengan baik-baik, boleh di sini, atau di tempat lain, saya pasti bersedia, apalagi ini mengenai uang titipan yang sebelumnya sudah saya jelaskan tentang kemana larinya uang itu."Hasan bersikap seolah manusia paling arif dan bijak sana di seluruh dunia, tutur katanya yang tertata lembut dan sopan seolah ingin menunjukkan betapa berkarismanya dia dan betapa layaknya dia di jadikan pemimpin bangsa yang selalu bisa menghadapi segala macam masalah dengan kepala dingin dan tanpa emosi.
Sebenarnya Hasan cukup terkejut dengan kehadiran Sean di sana, namun bukan Hasan jika dia tidak bisa mengendalikan suasana yang lumayan tegang ini,
"Ah, Tuan Sean Malik rupanya, pintu rumah dan kantor saya selalu terbuka 24 jam untuk anda, mengapa malah memilih beremu di acara se-ramai ini, ayo-ayo,,, Tuan Malik ini sudah sepeti kerabat sendiri bagi saya, jadi mari kita berdiskusi." Ujar Hasan seraya ingin menunjukkan pada masyarakat betapa dia masih bisa tetap bersikap baik pada orang-orang yang mengusiknya.
__ADS_1
"Masalah yang akan kita diskusikan menyangkut kepentingan orang banyak, jadi sudah selayaknya kita mendiskusikannya di depan orang banyak juga, agar tidak ada kesalah pahaman dan kekeliruan di kemudian hari, baik itu ternyata yang salah di pihak para klien saya, atau pihak anda, semuanya harus jelas dan terbuka." kata Sean dengan gaya bicara khasnya selalu tenang dan penuh percaya diri seperi biasanya saat dia sedang menjalankan tugasnya sebagai pengacara.
"Ucapan Anda seratus persen benar, saya setuju, semua harus di bicarakan di depan publik, agar semuanya menjadi terang benderang dan tidak ada lagi fitnah dan prasangka, namun bukankah saya sebelumnya sudah menjelaskan, kemana larinya uang itu, dan siapa yang menggelapkannya, bukannya saya juga sudah berjanji akan mengganti uang yang di gelapkan istri saya itu, hanya saja, saya ingin berusaha mencari keberadaannya dulu, agar semuanya jelas." Urai Hasan panjang lebar, mengembalikan uang yayasan yang sebetulnya dia pakai sendriri untuk bisnis hitamnya memang aga berat, namun itu sangat bisa dia lakukan jika mengulur waktu dengan alasan mencari keberadaan Siska, dan dia lebih memilih kehilangan uang untuk mengembalikan ke yayasan daripada dia harus kehilangan kepercayaan para pemilihnya.
"Bagaimana mungkin seorang suami tidak mengetahui keberadaan istrinya sendiri, apa anda benar-benar belum menemukannya sampai saat ini, atau hanya mengulur waktu saja?" Tuduh Sean.
"Oh ayolah tuan Sean, kami bukan pengantin baru seperti anda, jadi kami tidak selalu pergi kemana-berdua dan saling bertukar kabar setiap saat dimana keberadaan kami, saya rasa banyak para suami di sini juga yang seperti saya, tidak pernah mengekang keman aistrinya pergi karena kepercayaan, namun jika kepercayaan itu ternyata di khianati, mungkin nasib saya saja yang buruk karena bertemu dengan wanita yang salah." Elak Hasan.
"Lantas bagaimana jika saya bisa menghadirkan Nyonya Siska di sini dan membuktikan bahwa sebenarnya anda telah menyembunyikan keberadannya untuk di jadikan kambing hitam atas penggelapan uang yayasan yang anda lakukan? Anda sengaja melimpahkan kesalahan pada istri anda dan sengaja membuat Nyonya Siska seolah-olah hilang melarikan uang bersama pria lain, padahal andalah yang menyekapnya!" Tuduh Sean lagi yang sontak saja membuat Hasan tiba-tiba keluar keringat dingin dan wajahnya pucat seperti tidak di aliri darah.
__ADS_1