
"Auwh...!"
Suara teriakan Chery dari dapur membuat Arjuna yang setelah selesai makan tadi masuk ke kamarnya kembali, mau tidak mau harus keluar kamar dan kembali ke dapur untuk melihat apa yang terjadi.
Arjuna menahan nafas lalu menghembuskannya dengan kasar, hanya memasak mie instan dan dapurnya terlihat seperti kapal pecah, sebuah panci teronggok di lantai, air memenuhi lantai, sementara sebungkus mie masih utuh di atas meja, entah kekacauan apa yang Chery lakukan di sana, hanya saja wanita itu terlihat memegangi punggung tangan kirinya yang terlihat memerah seperti melepuh.
"Apa yang terjadi, kenapa kau hancurkan dapur ku, hanya untuk memasak sebungkus mie instan?"
"Maaf, tadi pancinya tersenggol dan jatuh." Mata Chery berkaca-kaca antara takut dan menahan perih di punggung tangannya.
"Ckkk!" Arjuna berdecak kesal, lantas pergi begitu saja.
Air mata yang sedari tadi menggenang di matanya tak terasa menetes begitu saja, betapa saat ini dia sangat merindukan kehadiran Dion di sini, pria jadi-jadian itu pasti akan langsung panik dan heboh menolong dirinya, memastikan tak terjadi suatu yang buruk pada dirinya, mengobati lukanya, dan memeluknya, bukan seperti pria yang terlihat gagah nan tampan namun sikapnya tak gentleman dan tak berperasaan sama sekali itu, yang tega meninggalkan seorang wanita dalam keadaan kacau seperti dirinya begitu saja.
"Obati tangan mu dan jangan terus di pegangi seperti itu, bisa infeksi!" Arjuna menyodorkan salep luka bakar.
"Aku tak tau obat alergi apa yang biasa kau minum, aku hanya punya ini, dan ganti baju mu dengan ini, aku mencucinya tanpa pewangi pakaian." Sebotol obat anti alergi dan satu setel pakaian juga dia berikan pada Chery yang terdiam karena merasa malu telah berasumsi kalau Arjuna tak berprikemanusiaan, ternyata dalam sikap dingin dan cueknya dia bahkan bisa melihat ruam dan bentol-bentol di tangan dan lehernya.
__ADS_1
"Ah, terimakasih, kebetulan ini obat yang sama yang biasa aku minum," Chery langsung menyambar obat itu dan meminumnya segera, dia sudah tak kuat dengan rasa gatal di seluruh tubuhnya, saat memasak air tadi dia sibuk menggaruk tubuhnya yang terasa gatal akibat alerginya kambuh, sehingga menyebabkan panci berisi air mendidih itu jatuh dan mengenai punggung tangannya.
Arjuna menatap botol obat alergi itu, dia memang biasa membawanya kemana pun, karena tubuh Luna akan merah-merah dan bentol seperti yang di alami Chery sekarang ini jika terkena hawa dingin, dan hanya obat itu yang cocok dengannya.
Arjuna tersenyum sumir, "Apa kamu tak kedinginan di sana, Lun?"
"Kenapa, pak?" tanya Chery yang mendengar gumaman lirih Arjuna saat dia melewatinya namun ucapan pria itu rak begitu jelas di telinganya.
"Aku tak berbicara dengan mu!" sewot Arjuna, rasa kesalnya tiba-tiba muncul lagi saat mengingat Luna dan melihat wajah Chery dalam waktu yang bersamaan.
"Makan lah, jangan besar kepala, hari ini aku memasakan mu mie karena tak ingin kau membakar dapur ku nanti, setelah tadi kau buat dapur ku seperti kapal pecah seharusnya kau bertanggungjawab untuk membereskannya kembali!" semangkuk mie telah siap di hidangkan di atas meja.
Chery merutuki kebodohan dirinya, bahkan Arjuna hanya memerlukan waktu beberapa menit saja untuk memasak mie.
"Maaf sudah merepotkan mu,"
"Kau lebih dari sekedar merepotkan!" ketus Arjuna dan segera berbalik meninggalkan kembali Chery untuk makan sendirian.
__ADS_1
Semangkuk mie intan yang bagai harta karun itu dengan sekejap saja telah pindah ke perutnya, kini badannya terasa lebih nyaman, dia segera ke dapur, menatap tempat cuci piring, dia tak pernah mencuci piring sebelumnya, hanya saja dia sering melihat Dion melakukan itu, jadi sedikit banyak dia lumayan tau caranya, "Ternyata tak seburuk yang aku pikir, ini mudah!" gumamnya saat baru saja selesai mencuci piring dan gelas yang baru saja dia gunakan, meski beberapa kali dia harus meringis karena menahan perih di punggung tangannya yang tak sengaja tersenggol atau terkena kucuran air keran.
Andai Dion tau Chery mencuci piring seperti itu dia pasti akan mengomel sepanjang hari, tiba-tiba Chery teringat kembali dengan asistennya itu, "Apa dia menghawatirkan ku saat ini?" hanya Dion yang dia punya dan peduli padanya, sementara Siska sang ibu satu-satunya orang tua dan keluarga yang dia miliki hanya akan peduli pada uang dan suami barunya di sepanjang hidupnya.
Waktu sudah menunjukkan pukul tiga dini hari, namun Chery masih duduk di ruang tamu menghadap jendela, melihat suasana malam yang gelap dan hujan yang tak kunjung reda, sungguh dirinya kini menyesali keputusannya untuk pergi terlebih dengan para kru ke lokasi, karena tak ingin satu pesawat dengan Rey dan Meta yang terbang di penerbangan selanjutnya, bahkan dia tak membicarakan itu dengan Dion karena asisten nya itu pasti tak mengizinkan dirinya untuk pergi bersama para kru, tapi Chery sungguh muak dan tak akan tahan jika harus berlama-lama satu ruangan yang sama dengan kedua orang itu, namun ternyata nasib malah membawanya ke situasi yang lebih parah dari sekedar satu pesawat dengan Rey dan Meta, kini dia harus satu rumah dengan pria jutek, dingin kasar dan ketus seperti Arjuna.
Oh, mungkin nenek moyangnya di masa lalu hidupnya banyak menyengsarakan orang, sehingga di masa kini dia harus menanggung karmanya, menderita sepanjang masa.
Tanpa di sadari, ada sesosok pria tinggi dan tampan memperhatikan punggung Chery yang asik menatap ke luar jendela.
Saat Chery melihat samar-samar siluet yang memperhatikannya, dia langsung membalikan badannya memastikan kalau yang berdiri di belakangnya itu adalah manusia, dan bukan hantu, dia kini berada di tengah hutan dan bukan mustahil jika rumah itu berhantu, pikirnya yang masih merasa paranoid karena beberapa bulan yang lalu baru saja menyelesaikan syuting film horor dan krunya banyak yang bercerita mendapati hal mistis di lokasi.
"Apa kau kelelawar? Kenapa tak tidur selarut ini?" Arjuna yang tertangkap basah sedang melihatnya langsung merubah mimik wajahnya ke mode jutek kembali, dia bahkan tak mengerti kenapa dirinya harus berhenti dan malah memandangi punggung gadis itu saat dirinya tadi hendak mengambil air minum.
Sepertu halnya Chery, Arjuna juga tak pernah bisa tidur nyenyak setelah kepergian Luna, dia selalu merasa kalau malam adalah waktu yang sangat menyiksa bagi dirinya, segala kesedihan dan bayangan tentang Luna berjejal mengisi benak dan pikirannya, rasa rindu yang hanya bisa terus dia tahan entah sampai kapan, seakan telah menjadi penyakit kronis yang terus menyakitinya dari waktu ke waktu.
Hidupnya selama ini selalu tergantung pada Luna, dalam segala hal, bahkan untuk pakaian dalamnya pun Luna yang biasanya membelikannya, selama ini bahkan Luna yang mengelola keuangannya, Arjuna yang sebenarnya serba bisa itu akan menjadi pria yak berdaya dan ketergantungan dalam segala hal jika itu di hadapan Luna, dia terlalu di manjakan oleh calon istrinya itu, sehingga saat dirinya di tinggal pergi seperti ini, jiwanya benar-benar kosong dan tak tau arah tujuan.
__ADS_1
Arjuna selalu berusaha kuat di hadapan semua orang, tegar dan tetap menunjukkan jiwa tangguhnya, namun seringkali dia menangis di kala sendirian di malam hari, menatap langit dan merayu Tuhan untuk meminta kekasihnya kembali, meski itu jelas mustahil.